Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 181


__ADS_3

"maksudnya" tanya Zivannya tidak mengerti, "jika kamu memanggilku selain hubby, sayang, honey. aku akan menghukum mu" kata Langit, Zivannya menghela nafasnya pelan. "kalo begitu abang, uda bolehkan" tergelak Zivannya senang. "yang" seru Langit tidak terima begitu saja. Zivannya menepuk punggung Langit keras, "panas, yang" ujar Langit meringis menegakkan punggungnya, Zivannya mengusap-usap punggung Langit.


"kan aku tidak memanggilmu kakak, bereskan masalahnya" kata Zivannya menaikkan bahunya sedikit, "kamu tahu bukan itu maksudku" kata Langit, Zivannya menghirup udara memejamkan matanya.


"ya, aku mengerti. benar-benar mengerti, hanya terkadang aku yang lupa" jawab Zivannya pada akhirnya.


"yang, aku lelah karena habis dipijat, jika aku tertidur saat berkendara akan sangat sulit nantinya. jadi kalo bisa pulang, aku ingin mengistirahatkan tubuh dan pikiranku agar lebih tenang. badanku benar-benar remuk" kata Zivannya, Langit tersenyum.


"mau aku buat lebih enak dan mengerang kesenangan, yang" goda Langit. Zivannya tersenyum, "sejak kapan kamu jadi begini sih, by" selidik Zivannya.


"hhmmm, sejak aku mengenalmu lebih dekat. saat merasa sulit menembus pertahananmu terkadang membuatku membayangkan jika kamu berada didalam dekapanku. alangkah romantisnya, hal-hal yang membuatku ingin menghentikan waktu jika saat itu tiba dan ternyata waktu malah berjalan cepat saat kita melakukan itu" kata Langit, Zivannya menggelengkan kepalanya mendengar perkataan Langit.


"kamu nggak merasa itu kekanak-kanakan, yang" toleh Langit, "tidak. itu hasrat laki-laki dan perempuan" jawab Zivannya, "yang bikin aku heran kenapa berbanding terbalik dengan sikap yang dingin, datar dan tidak ada respon berlebihan terhadap lawan jenis punya imajinasi yang tak terlihat" jawab Zivannya, Langit tergelak.


"karena aku menemukan takaran yang pas dari Tuhan langsung. jadi semuanya aku berikan hanya untukmu" jawab Langit.


"nggak usah berpikir macam-macam Zivannya Dewantara, aku tahu kamu pasti merasa tidak berharga untukku karena masa lalumu" toleh Langit, Zivannya mengangguk pelan menatap ke samping kanan.


"jika kamu tidak ditinggalkan selama-lamanya apa kamu akan melihatku" tanya Langit, Zivannya menggeleng.


"jika kamu tidak sendiri lagi apakah kamu akan melihat laki-laki lain" tanya Langit, Zivannya menggeleng pelan.


"bukan karena kamu sudah pernah melakukannya sedangkan aku belum, bukan karena kamu sudah lebih dulu bersama Aga sedangkan aku masih mencari jalanku untuk bertemu dengan perempuan yang benar-benar ibuku inginkan, yang" raih jemari Langit, Zivannya menggigit bibir bawahnya merasa tertekan.


"tuh kan, bibir nya digituin. bikin sakit, yang. tau nggak, nanti aku yang repot tidak bisa melepaskan hasrat" goda Langit melihat dari kaca spion, Zivannya tersenyum.


"nah gitukan lebih baik, kamu jauh lebih berharga untukku ketika mau menerimaku dengan segala kekurangan dan kelebihan diri kita masing-masing, kamu jauh lebih baik saat memilihku untuk menjadi pasangan halalmu karena kamu melihatku sebagai laki-laki yang bertanggung jawab membimbingmu dan mengajakmu menuju jalan Tuhan, bukankah begitu" tanya Langit. Zivannya mengangguk tersenyum.


"jika dilihat-lihat kenapa aku menaruh hati padamu ya, yang. parasmu memang cantik sih, tubuhmu juga termasuk idaman laki-laki, kelakuanmu juga nggak pernah buat laki-laki merasa tidak suka justru semakin gencar mendekatimu" kata Langit, Zivannya memukul kembali punggung Langit keras.


"yang, panas rasanya" tegak punggung Langit. "nggak lucu, yang" kata Zivannya. Langit tersenyum.

__ADS_1


"memang nggak lucu, kamu lihat aku sedang ngelawak apa, aku serius lho, yang. tidak lihat kalo tampangku serius begini" goda Langit dari kaca spion, Zivannya tergelak memeluk erat belakang tubuh Langit.


"nah, gitu dong. kan jadi enak kalo dipeluk begini" senyum-senyum Langit.


"modus, yang" manyun Zivannya, "lha, modus. kalo udah halal mah bukan modus, yang. kewajiban, ingat kewajiban nyenengin hati pasangannya, udah dapat pahala kan. gampang banget kalo mau dapat pahala setelah nikah" jawab langit, Zivannya menghela nafasnya dan kembali menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. "pulang, yang. aku ngantuk berat" kata Zivannya memejamkan matanya.


"siap, laksanakan" jawab Langit cepat melihat lalu lintas jalanan dan segera berbalik arah menuju rumah.


tiba di kota berikutnya


"by, aku akan menaruh semua cucian di laundry depan kompleks" tatap Zivannya saat akan pergi keluar, Langit meraih kunci motor. "ikut, sambil nyari sesuatu didepan" dahului Langit untuk mengeluarkan motornya, Zivannya segera menutup pintu dan naik motor dibelakang Langit, ia memberi isyarat dimana tempat untuk memasukkan pakaian kotor ditempat pencucian.


mereka segera membeli makanan ringan setelah Zivannya selesai urusannya. "makanan berat iya nggak, yang" toleh Langit. Zivannya menggeleng. "mau tidur, mumpung masih siang, aku ingin rebahan aja" manyun Zivannya, Langit mengangguk dan segera membayar makanan yang dibelinya.


"by" serah dompet kecil Zivannya, Langit menggeleng memperlihatkan dompetnya, Zivannya menanti didepan pintu masuk toko. "mau apa" toleh Langit, Zivannya menunjuk orang yang berjualan rujak buah, Langit segera menuju pedagang rujak untuk membeli keinginan istrinya, "ayo, udah" angguk Langit, Zivannya segera menaiki motor dan Langit melajukan motor dengan sedikit cepat.


"mau diruang tengah aja, yang" tanya Langit menuju dapur, Zivannya mengangguk meraih air minum. Langit meletakkan alas tidur agar Zivannya segera merebahkan dirinya. Zivannya memeluk Langit sesaat, "makasih by, luv U more" senyum Zivannya merebahkan dirinya dengan sempurna diruang tengah sambil memejamkan matanya lega. "aahh, nikmat mana lagi yang mau kamu dustakan" gumam Zivannya merasa nyaman dengan posisi tidurnya, Langit tidak menyia-nyiakan untuk menyentuh tubuh istrinya, Zivannya membuka matanya merasakan beban tubuh Langit yang berada diatasnya.


"yang" panggil Langit, Zivannya membuka kedua bola matanya menatap suaminya sayu, "mau disini apa didalam aja" senyum Langit menggoda Zivannya yang selalu luluh jika disentuhnya.


"turun, by. ayo istirahat dulu. aku mau tidur" geleng Zivannya pelan berusaha menggeser tubuh Langit.


Langit mengusap rambut Zivannya dan mulai melakukan penyerangan, Zivannya mencengkeram bahu Langit saat suaminya memberikan sentuhan yang membuatnya terlena, ia mengerang pelan akibat sentuhan fisik yang membuat mereka saling candu. Langit meraba setiap inci tubuh istrinya yang dijaga dengan baik, Langit melakukan penyatuan setelah istrinya beberapa kali menjerit pelan merasakan sensasi kenikmatan duniawi. Langit menggeram panjang setelah menuntaskan tugasnya sebagai suami.


mereka terkapar dengan nafas yang memburu dan tubuh yang penuh dengan peluh kenikmatan. Langit meraih tubuh istrinya dan memeluknya erat, mengecup keningnya beberapa kali sambil mengatur nafas menormalkan kinerja jantung nya. Zivannya menelusupkan kepalanya diceruk leher suaminya merasakan kenyamanan hingga tertidur pulas, Langit mendengar deru nafas Zivannya yang teratur, bergerak pelan melihat istrinya yang tertidur, ia tertawa kecil. "benar-benar kamu, yang. bikin aku nggak bisa jauh, kamu selalu bikin kuatir aku tau nggak, bikin hatiku sering nggak menentu. kalo liat gini bikin aku pingin nambah ronde lagi. kamu malah udah di alam mimpi. kecup kening Langit setelah melihat kondisi mereka berdua yang tanpa sehelai benang pun. Langit menatap langit-langit ruang tengah sesaat. menaruh kepala istrinya pelan ke alas tidur, ia bergerak pelan beranjak menuju ke dalam ruangan pribadinya untuk membersihkan dirinya dengan cepat dan segera mengambil cover bed untuk menutupi tubuh istrinya yang sudah terlelap, ia mengambil tissue basah untuk membersihkan bagian sensitif istrinya dan memakainya underwear. "untung sayang, yang. nggak tau kalo nggak sayang gimana" senyum Langit menatap istrinya. "semoga segera Tuhan berikan anugerah terbesar didalam sini" usap-usap Langit diperut Zivannya dan mengecupnya berulangkali. dipakaikannya t-shirt gede jika istrinya tidur dengan pelan. memberikan tanda cinta disekitar benda kenyal candunya, Langit tersenyum melihat karyanya yang tercetak jelas ditubuh putih bersih istrinya, ia segera menutup tubuh Zivannya dengan cover bed, beranjak untuk membuat coklat hangat agar merilekskan pikiran dan tubuhnya sebelum menemani istrinya terlelap di alam mimpi.


Zivannya bergerak pelan berbalik menatap Langit yang masih tertidur dengan lelap setelah melakukan perjalanan jauh dan aktifitas siang yang mengasikkan tadi.


"by, bangun. kenapa gelap" sentuh rambut Zivannya, Langit berdehem pelan merapatkan tubuh istrinya agar tidak bergerak, Zivannya kembali memejamkan matanya karena kelelahan.


Baskara mengetuk dengan keras pintu rumah dinas Langit hingga membuatnya bergerak pelan karena mendengar kegaduhan didepan, ia melihat sekeliling dan melihat istrinya yang masih bergelung dengan cover bed yang menutupi seluruh tubuhnya Langit mengusap pelan tubuh istrinya yang terbalut didalamnya, ia beranjak pelan menuju pintu depan.

__ADS_1


"pagi, ndan. maaf mengganggu, ini sudah jam 5, kita harus datang sebelum jam 8" kata Baskara menunduk hormat saat Langit membuka pintu rumah dinasnya, langit mengangguk dan masuk kedalam.


Baskara mengecek kendaraan dinas yang akan dipakai mereka nantinya dan beberapa berkas yang harus dilihat oleh Langit saat dalam perjalanan menuju markas besar. Langit mengusap kepala Zivannya agar terbangun.


"yang, kita harus menghadiri upacara kenegaraan pagi ini, Baskara sudah menunggu didepan" ucap Langit pelan, Zivannya segera membuka matanya dan menoleh dengan cepat. "oh, Tuhan. apa kita telat" duduk Zivannya segera, Langit menggeleng, Zivannya segera melipat cover bed nya dan menyusul suaminya menuju ruangan pribadinya.


"aku membersihkan diri diluar, kamu disini aja, yang" ambil bathrobe Langit, Zivannya mengangguk sambil melepas t-shirt dan underwear nya sebelum masuk kedalam bathroom, Langit melihat kelakuan istrinya hanya bisa menahan nafas dan berlalu keluar dari kamar mereka menuju bathroom yang ada diluar. Zivannya segera membersihkan dirinya. bergegas memakai pakaian dinas untuk mendampingi suaminya, Langit masuk dan melihat istrinya sedang memakai pakaiannya, Zivannya memperlihatkan pakaian dinas suaminya dan membantunya.


"yang, rambutmu aku keringkan" lihat Langit, Zivannya mengangguk dan duduk dengan tenang saat Langit mengeringkan rambutnya. "penjelasan detailnya akan disampaikan oleh Baskara nanti di kendaraan, yang" lihat Langit di kaca cermin depan Zivannya, "Ok" jawab Zivannya merapikan polesan parasnya yang membuatnya terlihat makin cantik. "sudah, yang. aku akan menemui Baskara dan memakai alas kaki" tatap Langit dari kaca cermin besar yang ada didepan mereka. ia mengecup pelan kepala Zivannya dan mengecup bibir istrinya intens, Zivannya tersenyum memulas bibirnya kembali agar terlihat tidak pucat.


"pagi kak Bas" senyum Zivannya saat ke depan sambil membawa secangkir coklat panas untuk Langit. "apa kamu sudah selesai, yang" tatap Langit melihat penampilan istrinya, "sudah, tinggal menutup pintu aja" angguk Zivannya mengangguk, Langit menyodorkan cangkir coklat buatan istrinya di bibir Zivannya yang segera menyesapnya. "aahh, bikin anget" senyum Zivannya lega, Langit tersenyum lebar menghabiskan dengan segera.


Baskara menanti dengan setia komandan dan istrinya kali ini. setelah sekian minggu tidak melihat mereka berdua ada rasa kehilangan yang sangat terasa dihari-hari yang dilaluinya. setelah keduanya masuk, ia segera menjelaskan semua hal yang berkaitan dengan acara nanti, Zivannya menanyakan beberapa hal yang berkaitan dengan dimana nanti dirinya akan berada, bagaimana nanti dirinya akan bersikap. Baskara menjelaskan dengan sabar.


"akan ada Indira yang tetap mendampingi ibu nantinya" kata Baskara. Zivannya membuka matanya lebar, "benarkah. akan sangat melegakan jika ada yang lebih mengerti ada disamping" senyum Zivannya, Langit menyodorkan makanan kecil ke mulut istrinya agar berhenti mengobrol dengan Baskara, Zivannya mengunyah dengan cepat karena lapar.


"makasih, kak. sudah membeli cemilan pagi" senyum Zivannya, Langit menutup mulut istrinya agar tidak tersenyum lama.


"yang" tatap Zivannya datar, Langit nyengir melepasnya. "jika aku menampakkan muka jutek, maka akan banyak orang yang benci. mau" tanya Zivannya pelan, Langit menggeleng. Zivannya menghela nafasnya mencium pipi kanan suaminya pelan, Langit tersenyum mengusap pipi istrinya. Baskara hanya diam melihat keromantisan komandan mudanya itu.


"akan ada waktunya Bas" toleh Langit, Baskara mengangguk pasrah melihat mereka berdua. mobil menepi sebentar dan Indira segera naik.


"hello mbak" senyum Zivannya melambaikan tangan, Indira menunduk hormat tersenyum ceria melihat Zivannya yang menyapanya.


"aku akan berada dimana nanti mbak" tanya Zivannya langsung.


"nanti akan saya dampingi bu, akan ada petugas yang akan mengarahkan ibu nantinya. jangan tegang bu, rileks. ambil nafas panjang, everything will be Ok. seperti biasanya bu, siap" motivasi Indira, Zivannya tertawa bersemangat.


"Hai.... Hai....Hai.... all readers, terimakasih telah berkunjung ke karyaku.


Luv.... Luv.... Luv.... U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak semuanya.

__ADS_1


stay healthy all


__ADS_2