Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 188


__ADS_3

Zivannya menatap layar ponselnya yang sepi tidak ada notifikasi dari suaminya, Langit tidak menghubunginya selama tiga hari ini, pikirannya sudah tidak karuan. hatinya seakan-akan ingin meledak, bayangan kepergian Aga yang saat sedang bertugas dulu, membayangi benaknya.


hujan deras yang mengguyur ibukota membuat suasana menjadi tambah syahdu, ia menghela nafas beberapa kali sambil menatap jendela besar yang memperlihatkan tetesan hujan jatuh mengenai atap. ia sedang sendirian karena ayah dan bunda sedang bepergian lagi, walau bunda merasa berat meninggalkan Zivannya sendirian dirumah namun Zivannya mengatakan tidak apa-apa karena dirumah masih ada mbok dan mbak Marni yang menemani jadi dia tidak merasa sendirian.


ia beranjak untuk mengambil segelas air putih di dapur, "let's see twins, apa yang bisa kita makan" gumam Zivannya mengusap perutnya yang sudah tampak bulat, kedua anaknya bergerak pelan merespon perkataan dan sentuhan Zivannya, ia tersenyum lebar sambil melihat isi box pendingin. diambilnya dua buah box bening berisi salad buah dan cake moist, ia mengambil nampan dan meletakkan segelas air putih dan kedua box bening diatasnya dan membawanya menuju ruang tengah sambil menonton drama korea. Zivannya mendudukkan tubuhnya di sofa panjang menghadap TV. beberapa kali ia menyeka airmata melihat tragedi dalam drama yang ia tonton kali ini. "jangan pergi sun hoo" gumam Zivannya menatap layar TV serius, ponselnya berdering pelan, ia melihat layar ponselnya dan segera menjawabnya.


"yang" salam Langit serak.


"kenapa, apa hubby baik-baik saja" tanya Zivannya bergegas karena kuatir. Langit tertawa pelan mendengar suara istrinya itu.


"aku baik-baik saja, yang. jangan kuatir karena sinyal disini susah jadi aku baru bisa menghubungimu saat ini" jawab Langit pelan.


Zivannya menghembuskan nafasnya lega mendengar perkataan Langit.


"aku berusaha untuk segera menghubungimu saat ada koneksi" jawab Langit.


"aku benar-benar merindukanmu, yang" kata Langit, Zivannya tertawa pelan .


"me too" jawab Zivannya, Langit tergelak.


"wanna hug you tight" kata Langit.


"hhmmm, just go home safe, Ok" kata Zivannya.


"tentu, yang. bagaiman twins. apa mereka merindukan ayah mereka" tanya Langit.


"mereka tau jika ayahnya sedang jauh untuk mengemban tugas jadi menurut" kata Zivannya, Langit tersenyum lebar.


"abang dan kakak baik-baik saja disini, bekerja sambil menyelam menikmati hidden spot-spot disini" cerita Langit.


"syukurlah kalau mereka juga baik-baik saja, aku senang mereka selalu berbulan madu" senyum lebar Zivannya.


"kamu belum tidur, yang. ini sudah jam berapa, kenapa kamu belum istirahat. apakah mengerjakan kerjaan dari Rara hingga kamu lupa untuk istirahat" tanya Langit.


"aku tidak bisa tidur, yang. kerjaan dari rara audah selesai kemarin. jika tidak ada kesibukan dari Rara mungkin aku kembali dengan pikiran yang tidak-tidak" hembus nafas Zivannya, Langit terdiam lama.


"maafkan aku, yang. karena tidak ada sinyal disini" kata Langit.


"tidak apa, aku mengerti. it's Ok karena hubby sekarang sudah menghubungiku saat ini" senyum Zivannya.


"Ok, yang. sepertinya kami harus segera berkumpul kembali. aku kabari jika nanti ada kesempatan lain" kata Langit.


"baik, hati-hati selama jauh dariku. luv U, by" salam Zivannya.


"luv U most, yang" senyum Langit menutup panggilannya.


Zivannya menatap ponselnya yang kembali meredup, ia tersenyum lebar setelah mengetahui kabar suaminya yang baik-baik saja. ia melihat perputaran waktu di dinding sudah menunjukkan pukul satu malam, ia segera membereskan tempat makannya dan mematikan TV untuk berangkat tidur.


pagi hari


Zivannya masih setia tidur setelah melakukan kewajiban paginya tadi, rasa kantuk yang luar biasa menyerangnya tadi pagi membuatnya masih terlelap. mbok dan mbak Marni tidak membangunkannya dan membiarkannya karena tahu pasti Zivannya tidak tidur hingga dini hari tadi.


Langit keluar dari mobil dinas yang mengantarnya pulang kerumah keluarga Triastomo setelah pesawat yang membawa mereka mendarat di bandara. ia mengangguk saat ajudannya meninggalkan halaman rumah.


ia melangkah tegap menuju pintu samping dari garasi dan segera masuk.


"lho, den Langit sudah pulang. non dek masih tidur dikamar karena tadi malam tidak bisa tidur" lihat mbok terkejut dengan kedatangan Langit yang tiba-tiba. Langit mengangguk tersenyum melepas sepatu dinasnya dan menaruh ditempat nya. "saya tahu mbok, terimakasih banyak telah menjaga Zi selama saya tidak ada" tatap Langit, mbok tersenyum.


"apa aden dibuatkan kopi hitam" tanya mbok sebelum Langit masuk ke dalam ruangan pribadinya, Langit menoleh dan menggeleng.


"tidak usah mbok, saya mau istirahat dulu saja, sebelum Zivannya bangun" jawab Langit membuka pintu, mbok mengangguk mengerti.

__ADS_1


Langit meletakkan ransel dan tas jinjingnya disamping sofa, melihat istrinya tidur terlelap dengan perut yang sudah membulat, ia tersenyum segera masuk kedalam bathroom untuk membersihkan dirinya sebelum menyusul istrinya tidur.


ia berbaring disamping Zivannya pelan agar tidak mengganggu tidurnya, ia mengecup kening dan perut Zivannya sebelum memejamkan matanya tidur karena kelelahan.


Zivannya bergerak pelan serasa ada yang berada disebelahnya mendengar deru nafas teratur seseorang. ia mengerjapkan netranya, menajamkan penglihatannya melihat paras Langit yang tidur kelelahan, ia tersenyum mengusap paras suami yang dirindukannya beberapa hari belakangan ini.


"sudah lega, yang. suamimu memang tampan kan" tanya Langit tanpa membuka netra nya, Zivannya tertawa kecil menjauh dari suaminya.


Langit menarik tubuh Zivannya untuk mendekat padanya, "jangan jauh-jauh dari ku, yang. sudah lebih dari lima hari aku tidak bisa memelukmu setiap saat" kata Langit membuka netranya dan menatap lembut paras istrinya itu. Zivannya tersenyum menyembunyikan parasnya diceruk leher Langit.


"kenapa tidak bilang kalo mau pulang tadi malam" pejam mata Zivannya kembali.


"tergantung komandan memberi perintah, yang. kita tinggal mengikutinya. tadi malam tidak ada rencana untuk pulang tapi karena ada pertemuan dengan pemimpin negara nanti malam maka komandan memutuskan untuk pulang dinihari tadi" kecup rambut Langit, Zivannya semakin menduselkan kepalanya di pelukan Langit.


"apa kamu baik-baik saja, yang" tanya Langit, Zivannya mengangguk pelan.


"apa kamu tidak bisa tidur" tanya Langit, Zivannya mengangguk tersenyum.


"aroma tubuhmu membuatku tenang, by" jawab Zivannya. Langit mempererat pelukannya.


"hhmm, aku tau. makanya aku cepat pulang begitu komandan memberi perintah" kata Langit.


Zivannya mengecup leher Langit. "yang" geram Langit menanggapi ulah istrinya yang menggodanya. Zivannya tertawa pelan setelah menggoda.


"nanti malam ikut menemani komandan" tanya Zivannya


"tidak" jawab Langit


Zivannya memejamkan matanya menghirup aroma tubuh Langit yang menenangkan. Langit menciumi ubun-ubun kepala istrinya yang dirindukannya selama jauh darinya. ia mengusap pelan perut Zivannya yang membulat sempurna.


"baik-baik anak-anak ayah didalam sana, jaga ibun agar tidak kesakitan" gumam Langit pelan. Zivannya tersenyum lebar.


Langit beralih mengusap kedua benda kenyal candunya, ia bertambah senang karena ukuran tubuh istrinya itu bertambah besar karena membawa sumber kehidupan buat kedua anaknya nanti.


"kamu semakin hot, yang" desah nafas Langit kasar, Zivannya tersenyum.


"bukannya tambah gendut" tanya Zivannya.


"semakin berisi, hanya perutmu yang semakin membesar" jawab Langit menangkup paras istrinya agar menatapnya, Zivannya membuka netranya tersenyum, Langit mencium bibir istrinya dengan lembut, lama kelamaan menjadi semakin intens dengan kedua tangannya meraba bagian-bagian tubuh istrinya yang sensitif membuatnya candu saat jauh darinya, Zivannya mengerang pelan menikmati sentuhan Langit yang dirindukannya.


"aku benar-benar tidak bisa jauh dari mu, yang" bisik Langit ditelinga Zivannya. Zivannya melenguh pelan ketika Langit melakukan sentuhan yang memabukkan. ia mencengkeram rambut Langit saat menghisap sumber kehidupan baby mereka nanti.


"aahh, by" gumam Zivannya, Langit memberi banyak tanda cinta disekitar benda kenyal istrinya. mereka saling mengerang saat keduanya memberikan sentuhan yang membuat mereka melayang dalam lautan kerinduan.


Langit mendesis ketika Zivannya memberikan sentuhan yang membuatnya melayang, ia meremas pelan benda kenyal candunya saat Zivannya bermain dengan bagian sensitif nya, ia segera memasuki istrinya, dengan beberapa kali hentakan Zivannya memanggil namanya, Langit mengusap paras istrinya yang terlihat menggemaskan.


"U looks beautiful, yang "tatap Langit berkabut, Zivannya membuka matanya pelan menatap Langit yang mempercepat gerakannya hingga mereka mencapai kenikmatan berdua. Langit menahan tubuhnya dengan kedua tangan saat penyatuan mereka, mengusap perut Zivannya. mengecup kening istrinya sebelum bergeser ke sebelah.


"nggak jadi tidur by" toleh Zivannya, Langit tersenyum memejamkan matanya mendengar suara istrinya, "olahraga ini lebih penting, yang. agar aku tidak gila" jawab Langit, Zivannya mengusap paras tampan Langit.


"beri aku waktu, yang agar bernafas dulu" senyum Langit.


"kenapa" kerut Zivannya tidak paham maksud suaminya. Langit menoleh menatap Zivannya yang memandangnya tidak mengerti.


Langit mengusap benda kenyal istrinya yang semakin menantang, "aku akan membuatmu mengerang kembali sebagai balasan selama seminggu ini aku menahannya" senyum Langit, Zivannya membulatkan netranya mendengar perkataan Langit.


"apa kamu tidak lelah, by. selama beberapa hari tidak tidur dengan baik" tanya Zivannya tidak percaya.


"justru dengan begini aku me recharge diriku, yang. hanya kamu yang membuatku menginginkan lebih dan lebih" senyum Langit menarik tangan istrinya agar merapat dengan tubuhnya.


"semakin kesini, semakin aku tidak bisa jauh darimu, yang. aku semakin bergantung kepadamu. jika nanti mereka keluar, aku tidak tahu apakah bisa berbagi dengan mereka mengenai dirimu" kecup pucuk hidung Langit menatap Zivannya lekat.

__ADS_1


"aku benar-benar merindukanmu, yang" hela nafas Langit tidak berdaya, Zivannya mencium lembut bibir Langit sesudahnya dan semakin menuntut untuk melakukan kegiatan lebih. Langit merespon dengan cepat apa yang di inginkan Zivannya, ia membiarkan istrinya melakukan berbagai gaya yang membuatnya beberapa kali mengerang menahan sesuatu yang memabukkan. hingga mereka kembali merasakan kenikmatan dunia bersama-sama kembali. Langit meraih tubuh istrinya sesaat kemudian dan membawanya kedalam bathroom untuk bersama-sama membersihkan tubuhnya. ia dengan telaten membantu istrinya menggosok bagian belakang tubuh istrinya sesekali mengusap benda kenyal candunya hingga membuat istrinya itu menginginkannya kembali. Langit tertawa dan tentu saja meladeni permintaan istrinya dengan senang hati.


dibawah. guyuran air hangat mereka bercumbu dengan teriakan Zivannya dan erangan Langit pada akhirnya.


mereka keluar dari ruangan pribadi setelah membersihkan tubuhnya. Zivannya segera duduk di meja makan menanti Langit yang mengambil air mineral untuk istrinya. Marni segera menghidangkan makan siang dan minuman untuk kedua majikannya tersebut.


"makasih mbak" senyum Zivannya saat semua sudah diletakkan diatas meja. Zivannya mengambil makan siangnya, Langit menarik piring yang sudah diisi oleh Zivannya dan segera menyuapi istrinya yang terlihat kelaparan akibat aktifitas mereka berdua tadi.


"apa kelaparan, yang" senyum Langit melihat pipi istrinya menggembung mengunyah makanannya, Zivannya mengangguk tersenyum.


Langit dengan telaten menyuapi istrinya bergantian dengannya.


"setelah ini tidur kembali, yang. agar tubuhmu kembali segar" tatap Langit. Zivannya menatap Langit lekat.


"nanti yang ada malah nggak bisa tidur lagi" kerucut mulut Zivannya, Langit tersenyum menggeleng.


"tidak, aku akan menemanimu tidur beneran" jawab Langit.


"tapi entah malam nanti" jawab Langit tanpa melihat istrinya, Zivannya membuka netranya semakin besar mendengar jawaban Langit, mereka saling menatap satu sama lain dan akhirnya tertawa pelan bersama.


"kamu tambah hot dengan badan seperti ini, yang. nggak tau kenapa" pandang Langit, Zivannya mengendikkan bahu tidak dapat menjawabnya.


sebulan lebih


"hubby" seru Zivannya, Langit yang mendengar suara istrinya segera berlari menghampirinya, "ada apa" tanya Langit memegang bahu Zivannya.


"ada air yang keluar dari bawah" tatap Zivannya pelan, Langit melihat kaki istrinya yang terlihat basah.


"kamu tidak berasa kencing" tanya Langit memastikan.


"masak, aku tidak berasa mau buang air kecil, by" kerut Zivannya.


"kenapa dek" datang bunda cepat setelah Marni memberitahunya.


"ada air merembes keluar bund, kak Langit bilang aku yang tidak sadar buang air kecil" toleh Zivannya, bunda tersenyum menatap keduanya.


"air ketubanmu pecah dek, sebentar lagi kamu akan melihat kedua jagoanmu. ayo kita berangkat kerumah sakit, Lang, ambil tas perlengkapan adek. bunda tunggu di mobil, mbok, ikut Langit ngambil baju ganti sekalian ********** dikamar" kata bunda menuntun tangan Zivannya agar berjalan pelan kearah luar.


"gimana bund" datang Mentari tergesa-gesa dari dalam ruang pribadinya.


"adek akan melahirkan, air ketubannya sudah pecah. bantu bunda untuk mengganti underwear nya" kata bunda, Mentari segera mengangguk dan membantu Zivannya yang tengah melepas underwear pants nya. mbok datang membawa perlengkapan baju Zivannya, ia membersihkan bagian bawah yang sudah basah dengan air kran yang ada dibelakang.


Langit berlari mendekat dan membantu melepas baju istrinya.


"masih kuat berjalan dek" tatap bunda, Zivannya meringis mengangguk merasakan nyeri dan rasa panas menjalar dipunggung nya. Langit segera mengangkat tubuh Zivannya dan berlari menuju mobil.


ayah sudah siap dibelakang kemudi, mereka segera masuk dan mobil melaju ke klinik terdekat. Zivannya sesekali meringis dan mencengkeram lengan Langit menahan rasa nyeri.


"bund, perut Zi mules banget" ringis Zivannya tertahan.


"bentar lagi sampai dek, tunggu sebentar lagi ya cucu-cucu uti" usap bunda, Mentari menatap cemas kearah Zivannya.


Langit menguatkan istrinya membisikkan kebesaran Tuhan. Zivannya mengikuti suara Langit dengan sesekali meringis menahan nyeri dipunggung.


tiba di klinik Langit segera membawa istrinya keruang bersalin.


Hai.... Hai... Hai.... all readers terimakasih telah berkunjung ke karyaku.


sekedar mengingatkan bahwa karyaku ini akan segera tamat.


Luv... Luv.... Luv.... U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak semuanya.

__ADS_1


stay healthy all....


__ADS_2