Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 45


__ADS_3

hmmm... enak" senyum Zivannya menghabiskan makanannya dalam waktu singkat, Aga tertawa melihat tingkah laku Zivannya yang nggak ada jaim-jaimnya sebagai perempuan.


"by, bolehkah aku naik gunung seperti biasanya" tanya Zivannya tiba-tiba. Aga terdiam sejenak. "apa kamu berencana dalam waktu dekat ini mau naik" tatap Aga, Zivannya menggeleng.


"tidak, aku tau tubuhku belum siap untuk naik. hanya bertanya" tatap Zivannya. "boleh asalkan tidak mendadak" angguk Aga, Zivannya mengangguk.


"kita pulang sekarang yang, kamu habis perjalanan jauh, aku belum mandi" kata Aga, Zivannya beranjak dari tempat duduknya menuju kasir.


"by kurang" beri kode Zivannya dari kasir, Aga mendekat dan memberikan dompetnya. Zivannya mengambil selembar uang, menyerahkannya pada penjaga kasir setelah selesai ia menghampiri Aga yang menunggunya didepan pintu masuk, "kenapa bisa kurang yang, apa uangnya sudah kosong" usap kepala Aga, "tidak, tadi aku mengambil seperlunya untuk bahan bakar dan makan dijalan, hanya tersisa 100 ribu dan kartunya ada di dalam dashboard" kata Zivannya tersenyum, Aga menghela nafasnya panjang.


"jika kamu dijalan dan tidak ada orang yang membantu gimana yang" tanya Aga meraih jemari Zivannya.


"hmmm sering kalo itu by, tinggal jalan dan meminta tumpangan orang" senyum Zivannya.


"sebegitunya" toleh Aga cepat. "hmmm... saat naik gunung kadang seperti itu, kita udah patungan, jika ada apa-apa memang bawa uang ekstra. tapi nggak setiap saat rencana yang kita susun berjalan sesuai rencana" angguk Zivannya.


"sekarang aku tidak akan membiarkanmu seperti itu lagi. jadi selalu bawa sedikit uang ekstra jika akan bepergian" buka pintu mobil Aga. Zivannya mengangguk dan masuk kedalam. Aga membantu Zivannya memakai seat belt nya, mengecup bibir Zivannya sekilas. mereka segera meninggalkan cafe.


"****" berhenti Aga tiba-tiba saat akan keluar halaman parkir, Zivannya terhuyung kedepan dan terantuk kaca depan karena Aga mengerem mendadak.


"maaf yang, refleks karena tiba-tiba adayang berhenti didepan kita" usap kening Aga, segera keluar. seorang wanita tiba-tiba keluar dengan tergesa-gesa.


"Bagaskara" serunya marah dengan wajah yang memerah menahan kekesalan hatinya. Zivannya mencoba mengingat wanita itu yang pernah dilihatnya, menatap lurus kedepan melihat drama apa yang akan terjadi didepannya. Aga terlihat melangkah menuju wanita itu.


"kenapa kamu selalu menghindariku ga, kenapa... apa kurangnya diriku" teriaknya kesal. Aga menghela nafasnya panjang, menoleh kearah Zivannya dan memberi isyarat untuknya agar turun sebentar dari mobil. Zivannya melepas seat belt nya yang tidak mau terbuka. Zivannya mengangkat tangannya tanda menyerah, Aga mengangguk mengerti dan mencoba meredakan amarah gadis yang menghadang jalannya.


"please biarkan aku keluar sebentar, suamiku membutuhkanku saat ini" gumam Zivannya mencoba untuk melepaskan seat beltnya dan akhirnya berhasil dibukanya, Zivannya segera bergeser tempat duduk dibelakang kemudi untuk memindahkan posisi mobil yang menghalangi jalan keluar dari cafe yang baru saja mereka datangi ke tepi jalan yang tidak terlalu padat, Zivannya segera keluar dan menghampiri suaminya.


"gimana by" tanya Zivannya pelan. "masih ingat dengan uler keket" pandang Aga tersenyum, Zivannya membelalakkan matanya lebar mendengar ucapan Aga. "dia," bisik Zivannya pelan, Aga mengangguk.


"ini udah jam 11 malam lho by... nggak enak jika didengar orang" bisik Zivannya. "dia yang memulai yang, kayak orang hilang akal. perempuan ini memang benar-benar nggak tau malu, kenal dekat aja nggak apalagi jalan dengannya, benar-benar nih..." pandang Aga, Zivannya menghela nafasnya panjang. wanita itu mendekati Zivannya hendak menampar wajahnya,

__ADS_1


"jangan dekati Bagaskara, masih ada cowok lainkan, kenapa kamu harus mendekatinya. aku inget, kamu yang malam itu makan mie dengan Bagaskara kan... aku kira kamu hanya angin lalu baginya, karena lama tidak melihatmu disekitarnya, tapi ternyata masih menempel padanya. apa kamu tau... kamu nggak pantas untuknya dengan dandanan kayak gini, jeans Kumal sobek-sobek, t-shirt murahan, kemeja yang standard banget" katanya pedas. Zivannya menangkap tangan kanan wanita itu yang ingin menamparnya.


"jaga perilakunya kak, kalo anda nggak sopan saya juga bisa lebih nggak sopan" cengkeram tangan Zivannya melepaskan tangan wanita itu dengan sekali hempasan.


"kak, mau pulang sekarang apa nggak... aku nggak mau jadi orang yang memalukan diri sendiri. biarkan dia membuat dirinya sendiri nggak punya harga diri... atau kamu mau menemaninya dan mengantarkannya pulang" pandang Zivannya dengan kilatan marah dimatanya, Aga segera menarik tangan Zivannya untuk pergi dari situ. perempuan itu berteriak memanggil Aga untuk kembali.


"oh Gosh.. so stupid" tutup muka Zivannya menahan kekesalannya. Aga segera melajukan mobilnya cepat pergi dari situ. selama perjalanan Zivannya lebih banyak diam menutup matanya sambil melipat tangannya didada, Aga sesekali melirik Zivannya yang terlihat tenang, tersenyum menatap istrinya yang terlihat semakin cantik. mobil memasuki parkir basement apartement Aga, Zivannya mengambil tas ransel yang dibawanya dari jok belakang, Aga berjalan mengikutinya sambil tersenyum. box ajaib membawa mereka kelantai atas dimana apartement Aga berada, Aga segera menekan password kamarnya, Zivannya tidak mengeluarkan sepatah katapun sejak mereka menjauh dari uler keket itu, ia segera melepas sneakers yang dipakainya dan meletakkannya disamping pintu masuk, melepaskan ranselnya, kemeja, t-shirt, jeans belel dan underwear nya kedalam box laundry disudut ruangan tidur Aga.


Aga yang melihatnya dari ruang tengah hanya bisa terpaku menatap tubuh Zivannya tanpa sehelai benang menutupi lekuk tubuhnya yang putih bersih dan kecil, Aga meremas rambutnya frustasi, menahan hasratnya yang menggebu untuk menyentuh Zivannya, dirinya juga tahu jika Zivannya sekarang sedang dalam mode singa betina. Aga hanya bisa mondar mandir sambil mengusap rahangnya beberapa kali menunggu Zivannya. Zivannya segera masuk kedalam bathroom Aga, menekan kran, berdiri dibawah shower air hangat, meredam kekesalan hatinya tadi, menghela nafasnya berat, segera menyelesaikan mandinya. Zivannya segera keluar dari bathroom. Aga yang menunggunya segera bergantian masuk untuk membersihkan dirinya juga.


Zivannya memakai t-shirt yang besar dan underwear. merebahkan dirinya diranjang Aga yang nyaman dengan bau tubuh Aga yang tertinggal disana, membuatnya rileks dan segera dapat memejamkan matanya yang sudah minta untuk ditutup, Aga keluar dan melihat Zivannya yang tertidur dengan nyenyak, tersenyum dan menghela nafasnya panjang mematikan lampu kamar dan menyalakan pendingin ruangan. berbaring disamping Zivannya dan memeluk tubuh yang sangat dirindukannya selama ini. mengecup rambut Zivannya yang masih sedikit basah.


"jangan pergi dariku yang.... selalu bersamaku sampai akhir" gumam Aga menyusul Zivannya yang telah lebih dulu terlelap.


Zivannya merasa ada yang memberatkan punggungnya. Zivannya meraih ponsel yang ada dibawah bantalnya, melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 4 pagi., Zivannya memejamkan matanya sebentar sebelum sudut dan bangun.


"sebentar lagi yang" peluk Aga menahan tubuh Zivannya yang hendak bangun, Zivannya mencoba melepaskan tangan Aga yang berada di pinggangnya.


"by, mau kewajiban pagi" kata Zivannya, Aga membuka matanya dan menatap Zivannya. "jam berapa" kata Aga pelan. "kurang dari 10 menit" ucap Zivannya duduk, Aga menaruh kepalanya dibagian atas kaki Zivannya. "kita siap-siap yuk" elus kepala Zivannya, Aga mengangguk.


"hmmm...."dehem Zivannya, Aga tertawa kecil mencium leher Zivannya dan menelusupkan tangannya dibawah t-shirt, "aku merindukan tubuhmu Zi" kata Aga serak. Zivannya membuka matanya pelan, "kamu hanya merindukan tubuhku" tanya Zivannya. Aga meremas benda kenyal candunya, Zivannya mendesah pelan, "kamu" senyum Aga memainkan benda kenyal Zivannya, Aga melepaskan t-shirt Zivannya dan melihat Zivannya yang hanya memakai underwear pantsnya, "wow...."pandang Aga melihat istrinya, Zivannya meraih bantal dan menutup badannya. "malu by" kata Zivannya dengan pipi yang memerah. Aga tertawa dan melepas t-shirt dan boxernya, membuka bantal yang menutupi tubuh istrinya yang terlihat menggoda "aku menginginkanmu Zivannya Fritscha" pandang Aga mengelus pipi Zivannya. Zivannya mengangguk pelan. Aga menunduk dan mencium bibir Zivannya lembut, refleks Zivannya melingkarkan lengan tangannya dileher Aga. mereka saling bertukar Saliva, memberi sentuhan dan sentuhan yang saling memabukkan. Zivannya meremas rambut cepak Aga, menggigit bibir bawahnya menahan diri. "yang" pandang Aga, Zivannya membuka matanya menatap Aga yang menyatukan keningnya.


"jika kamu mau berteriak, lakukan, jangan gigit bibirmu." senyum Aga, Zivannya tersenyum sayu mencium bibir Aga lebih intens, bergerak turun keleher, dada bidang Aga, perut Aga yang rata. Aga menggeram pelan merasakan sensasi yang memabukkan yang dilakukan Zivannya.Aga meraih tubuh Zivannya dan memberinya banyak tanda cinta disemua bagian tubuh Zivannya. "hubby" rintih Zivannya menahan gejolak. Aga membenamkan dirinya pelan, Zivannya berteriak.


"apa sakit yang" elus pipi Aga, Zivannya meringis pelan. "aku akan melakukannya perlahan" raih jemari Aga menautkan kekuatan. Zivannya mendesah kesakitan saat Aga membenamkan dirinya dalam-dalam. "aaahhhh.... teriak Aga akhirnya. Zivannya meneteskan air mata. Aga mengusap bulir air mata yang keluar dari sudut mata Zivannya.


"kamu menyesal yang" pandang Aga, Zivannya menggeleng, "apakah sakit" tanya Aga tersenyum. Zivannya mengangguk pelan, Aga tertawa pelan, mencium lembut kedua mata Zivannya.


"nanti lama-lama akan terasa tidak sakit lagi"goda Aga, Zivannya tertawa kecil mendengar ucapan Aga, hingga Aga melepaskan diri dari Zivannya pelan-pelan. "wow... yang" perlihatkan Aga, Zivannya terdiam menutup matanya. Aga tersenyum mencium kening Zivannya.


"aku akan membersihkan diri sebentar. jangan bergerak kemana-mana nanti aku akan membawamu untuk membersihkan diri" kata Aga, Zivannya mengangguk, Aga menutup tubuh istrinya dengan cover bed. berjalan menuju bathroom, bergegas untuk melakukan mandi wajibnya. Aga meraih tubuh Zivannya ke bathroom. "merasa lebih nyaman yang" taruh Aga dalam bathtub. Zivannya tersenyum mengusap pipi Aga. "makasih by, lebih baik. tidak terasa begitu nyeri lagi" angguk Zivannya. Aga mencium bibir Zivannya.

__ADS_1


"aku ingin melakukannya lagi dan lagi yang" pandang Aga, Zivannya membelalakkan matanya tidak percaya. Aga mengusap rambut Zivannya.


"aku akan menunggumu saat sudah tidak sakit lagi" angguk Aga. "yang, aku hanya milikmu tidak ada wanita lain. jangan pernah meragukanku sebagai laki-lakimu dan kamu hanya milikku satu-satunya. aku juga tidak akan meragukanmu sebagai wanitaku" pandang Aga, Zivannya mengangguk.


"aku tau by, kita jalani bersama dengan saling percaya dan terbuka, kamu sudah mengatakannya berulang-ulang by, aku beruntung memilikimu sebagai imamku" senyum Zivannya. "aku juga beruntung memilikimu sebagai istriku yang" pandang Aga.


"aku akan memesan sarapan, nanti jika aku pergi kamu bisa kembali tidur dan beristirahat" anjak Aga, Zivannya mengangguk, menenggelamkan tubuhnya lama dalam bathtub yang diberi sabun aromaterapi. Zivannya bergegas menyelesaikan mandi wajibnya dan menghampiri Aga yang sudah berpakaian rapi, "dah datang pesanannya by" duduk Zivannya pelan. "apa masih sakit yang" tanya Aga melihat Zivannya yang sesekali meringis saat bergerak sedikit. "he em"angguk Zivannya meminum air putih yang disodorkan Aga.


"aku pesan nasi uduk telur, agar perutmu terisi dengan kenyang dan bisa tidur nyenyak" senyum Aga. Zivannya menatap Aga lama.


"iya, aku tau karena aku kan... kamu tidak bisa tidur lagi tadi" tawa Aga.


"tapi yang, jika kamu tadi nggak bilang tidur lagi. aku nggak tau sampai kapan akan menahannya. serius... tadi malam aku benar-benar susah menahannya saat aku melihat kamu mau mandi" cerita Aga, Zivannya tersedak. "pelan-pelan Zi, nggak usah kaget gitu. kan aku suamimu sah secara agama dan negara, jadi sah-sah aja jika aku melihatmu begitu" senyum Aga sambil memakan sarapannya.


"oh ya yang, besuk kamu mau kekampus dulu atau mau ke kedinasanku dulu untuk mulai sidang" tanya Aga, Zivannya menoleh. "udah mulai emangnya by" tanya Zivannya.


"daftar dulu berdua yang, sesuai prosedur" kata Aga, Zivannya mengangguk.


"kedinasan dulu aja kak, setelah itu baru kekampus" angguk Zivannya. "emang kamu bisa jalan" goda Aga, Zivannya tertawa kecil. "sebisa mungkin by, sebisa mungkin. nanti aku minta tolong petugas kepolisian untuk mengangkatku jika aku pingsan" ujar Zivannya. Aga tertawa. "baik, kita lihat siapa petugas yang berani menyentuhmu dihadapanku" tatap Aga. mereka tertawa dan mengobrol selama sarapan.


"yang aku berangkat, kamu tidur lagi. jika ada apa-apa hubungi aku." kecup kening Aga, Zivannya mengangguk, mencium punggung tangan Aga dan kedua pipinya. "bonus untukmu komandanku yang paling tampan dan mempesona" senyum Zivannya, Aga tertawa memeluk Zivannya erat. "aku senang kamu melakukannya yang, lakukan itu setiap saat bersamaku... hmmm.... bisa kan" tatap Aga. "malu by" kata Zivannya "kamu kan melakukannya karena suamimu, untuk suamimu, menyenangkan suamimu. kamu akan mendapatkan pahala bukan" naik turunkan alis Aga, Zivannya terdiam.


"berangkat by, nanti telat" dorong Zivannya agar Aga pergi.


hai hai hai... para readers, love you all sekebon pisang, biar bisa dibuat pisang goreng yang banyak hehehehehe..


selamat menikmati cerita kedua kalang di sini. jadi mohon maaf jika ada banyak kesalahan dalam merangkai kata dan kalimat.


ciehhh... udah kayak mau tampil dikondangan aja nih hahahaha...


dukung yaaa... karya kedua ku.

__ADS_1


love...love...love all sekebon pisang biar bisa bikin pisang goreng banyak..


thanks a lot pisang sekebon...😘


__ADS_2