
"sabar bro.... nggak usah buru-buru nanti kesedak" pandang Zivannya yang belum sempat berhenti ngomong, Aga sudah tersedak duluan, ia segera meminum air putih gelas yang disodorkan Zivannya.
"jadi.... kapan kalian akan menikah" tanya mama menaik turunkan alisnya sambil menatap keduanya, kali ini Zivannya yang tersedak makanannya sendiri, menepuk-nepuk dadanya berulangkali agar makanannya segera turun, meminum air putih gelas sekali teguk.
"mmmm... mungkin besuk malam abis petang, nunggu kak Dirgantara dan bang Matahari datang, Aga tadi udah hubungi Aris untuk meminta tolong ma" angguk Aga sambil tersenyum, Zivannya menyemburkan air putih yang baru saja masuk ke mulutnya, hingga t-shirtnya basah.
"ishh... Zi.... jorok, sana ganti masuk angin nanti" pandang mama melihat Zivannya dan segera beranjak dari tempat duduknya karena sudah selesai sarapan. Zivannya mengelap mulutnya dengan t-shirt nya yang sudah basah sambil menatap Aga tajam.
"apa... ha.... kamu mau apa... kamu mau terus menggodaku dengan keadaan basah gitu, underwear mu tercetak jelas tau nggak" senyum Aga tak menggubris pandangan Zivannya yang terlihat menyala karena marah. dengan sekali sentak, Zivannya mendorong kursinya agar segera beranjak dari situ, menutup pintu kamarnya segera setelah masuk ke kamar.
Zivannya melepas t-shirt yang basah melemparnya ke keranjang pakaian kotor. menenggelamkan wajah dan tubuhnya diranjang dan berteriak keras diatas bantal. perasaan kesal dan marah tampak jelas diraut mukanya yang memerah, perasaan yang menyesakkan dadanya. seperti boneka yang hanya bisa digerakkan oleh pemiliknya, tidak bisa berkata apa-apa lagi untuk membalikkan keadaan, tiba-tiba Aga masuk dan sudah berada diatasnya menindih tubuhnya yang sedang tengkurap.
"Bagaskara Triastomo" teriak Zivannya kesal bukan main, Aga mencium punggung Zivannya yang hanya berbalut underwear hitam.
"pelankan suaramu, aku nggak mau mama mendengar teriakan amarahmu, aku lebih memilih untuk mengatakannya dengan tenang" bisik Aga menekan intonasi, Zivannya terdiam.
"bagus honey... jika ada hal yang mau kamu bahas denganku, katakan dengan kepala dingin, aku tidak ingin calon mama dari anak-anakku mengedepankan emosi saat menyelesaikan masalah, kenapa akhir-akhir ini kamu sering kehilangan kesabaran dan ketenangan mu" kecup pipi Aga berulang-kali. Zivannya tersentak, seketika tersadar kenapa akhir-akhir ini dia sering kehilangan ketenangan saat menyelesaikan sesuatu.
selalu dengan perasaan yang meledak-ledak saat membahas sesuatu. apalagi jika itu perihal mama dan menyangkut hubungannya dengan Aga, Zivannya menghirup nafas panjang dan menghembuskannya dengan cepat hingga beberapa kali.
"kita bicara tapi tidak dengan posisi seperti ini kak" kata Zivannya ketika keadaannya lebih tenang, tubuh Aga segera bergeser kesamping Zivannya. "dengarkan aku baik-baik honey.." kata Aga berbaring miring menghadap Zivannya.
"apapun yang terjadi kamu harus kuat dan siap menghadapinya. apapun itu, emosi sesaat hanya akan membuatmu tambah berpikir pendek dan akan membunuhmu perlahan tanpa kamu sadari" usap rambut Aga.
"mama yang meminta dan menginginkan kita menikah saat mama dirumah sakit besuk malam, aku tidak bisa berkata tidak, walau aku mampu untuk mengatakan belum saatnya"
"apa kamu juga akan mengatakan tidak dengan kondisi mama seperti itu sayang" tanya Aga mengelus pipi Zivannya yang sudah meneteskan airmata, Zivannya menggeleng kuat-kuat.
"see.... apa aku salah menuruti kemauan mama juga" tanya Aga kemudian, Zivannya menggeleng kembali. Aga merengkuh tubuh Zivannya dan mencium ubun-ubun kepala Zivannya.
"mama juga berharap sembuh Zi, jika pun akhirnya tidak seperti yang kita harapkan, kita sudah memberi yang terbaik dan yang kita bisa, berlapang dada dengan akhir yang apapun itu hasilnya akan jauh lebih berharga buat mama. jangan bebani pikiran mama dengan sifatmu yang tidak ikhlas dan rela seperti itu" kata Aga pelan, Zivannya mengangguk pelan menghapus airmatanya. Zivannya mulai terlihat tenang dan berpikir dengan jernih, Aga lega melihat Zivannya yang sudah membaik.
"kamu ingin mengenakan baju apa ketika akad nanti" tanya Aga memberi pilihan pada Zivannya.
"baju putih aja kak, gamis putih dengan kerudung putih" kata Zivannya akhirnya. Aga mengangguk dan tersenyum.
__ADS_1
"kalo begitu, hanya dengan kemeja putih sudah bisa bersanding denganmu, aku sudah meminta ijin kepada komandanku, beliau mengerti dan memberi kelonggaran. walau nanti mendapat hukuman juga, setelah itu kita harus tetap melalui prosedur yang sudah berjalan" kata Aga, Zivannya mengangguk.
"kita cari baju putih untukmu kan sekarang, sebelum kita mengantar mama kerumah sakit" kata Aga.
"aku ada kak, nggak usah beli lagi" geleng Zivannya. Aga menggeleng menatap Zivannya.
"kita nggak akan mengulang moment itu lagi Zi, kita beri moments yang terbaik untuk mama" kata Aga, Zivannya mengangguk membenarkan omongan Aga barusan.
"baiklah kalo begitu, kita akan membeli untuk persiapan besuk malam" angguk Zivannya bangun dari tidurannya.
"satu lagi Zi" cekal tangan Aga agar Zivannya tetap duduk.
"hmmm, mau ngomong apalagi, waktunya udah semakin siang kak" toleh Zivannya, Aga melingkarkan tangannya dipinggang Zivannya dan menariknya dalam pangkuannya. Zivannya membelalakkan matanya lebar tanda tau arah maksud Aga. Zivannya melingkarkan tangannya keleher Aga, mencium lembut bibir Aga yang membalasnya dengan cepat, mereka saling meresapi apa yang mereka rasakan, Aga perlahan melepaskan kaitan underwear Zivannya dari depan, tanpa menghentikan pagutannya. Aga menurunkan bibirnya untuk menciumi leher Zivannya semakin turun kebawah hingga di dua benda kenyal kesukaannya, Zivannya meremas rambut cepak Aga merasakan sensasi yang diciptakan oleh Aga.
"ahhh.... "desah Zivannya saat Aga bagai bayi yang baru lahir. Aga memberi beberapa kecupan yang meninggalkan tanda di dua benda kenyal Zivannya, Aga menatap Zivannya yang terlihat menggairahkan dengan menggigit bibir bawahnya yang tipis. Aga memeluk tubuh Zivannya dan mengaitkan kembali underwear Zivannya, Zivannya terlihat lemas sesaat karena perlakuan Aga tadi.
"apa kamu menikmati Zi" bisik Aga serak, Zivannya mengangguk pelan dipundak Aga. "apa kamu menginginkannya lagi Zi" tanya Aga lagi, Zivannya mengangguk yang membuat Aga tertawa pelan mendengar jawaban Zivannya yang terakhir.
"kamu mau menggodaku sampai kapan Zi" tepuk punggung Aga pelan. Zivannya seketika membuka matanya dan duduk dengan tegak. "aku tertidur sebentar" berdiri Zivannya membuka lemari pakaiannya untuk mengambil kemeja dan rok terusan kain warna coklat khaki, segera memakainya didepan Aga.
"makasih juga lho kak, akhir-akhir ini membuat badanku panas dingin dan pegal-pegal" balas Zivannya. Aga tertawa pelan dan membuka pintu setelah Zivannya selesai memakai bajunya.
"mama, mau ikut keluar dulu apa dirumah aja" tanya Zivannya merapikan tempat makannya tadi sebelum berganti baju.
"kalian sendiri aja ya, mama mau membereskan pakaian yang akan mama bawa" kata mama tersenyum.
"baiklah, Aga dan Zi keluar sebentar" kata Aga mencium punggung tangan mama Ranti. Zivannya memeluk mamanya sesaat sebelum keluar dari rumah.
"apa kak Dirgantara dan bang Matahari akan kesini kak" tanya Zivannya, Aga mengangguk membuka pintu mobil. Aga melajukan mobil menuju mall yang ada di kota Zivannya, membeli beberapa keperluan untuk akad nanti.
Zivannya dan Aga mengantar mama kerumah sakit sehabis kewajiban siang, mama menggenggam tangan Zivannya yang sedikit berkeringat, "tidak apa-apa Zi, doakan mama baik-baik saja" tepuk mama Ranti menekan kekhawatiran Zivannya.
"selalu ma, doa Zi selalu untuk kebaikan mama dan papa" senyum Zivannya menahan airmatanya, mama tersenyum mengangguk.
tiba dirumah sakit, mereka menuju kamar inap mama yang hanya ditempati oleh mama saja, setelah selesai mengurus admistrasi, Aga menyusul Zivannya dan mama kekamar rawat inap pasien.
__ADS_1
"nanti malam Aga dan Zi yang akan menemani mama disini" duduk Aga disofa panjang, mama mengangguk dan segera berganti pakaian, dokter datang setelah diberitahu oleh perawat dan segera melakukan pemeriksaan, mama Ranti dibawa kedalam ruangan lain untuk dilakukan CT scan secara menyeluruh.
Zivannya menanti diluar ruangan bersama Aga, berjalan-jalan dibeberapa bangsal, taman dan kantin. pemeriksaan mama Ranti memakan waktu yang lama, hingga kewajiban malam tiba, mama belum juga kembali kedalam ruang rawat pasien. Zivannya telah membersihkan dirinya, bergantian dengan Aga.
"Zi, apa kamu mau tidur dulu" tanya Aga melihat Zivannya yang mulai berbaring disofa, Zivannya mengangguk dan segera terlelap saking lelahnya. Aga duduk dikursi sudut menatap Zivannya yang tertidur. terdengar pintu kamar ruang pasien terbuka lebar, mama didorong masuk, Aga berdiri mendekati mama Ranti yang sedang dipindahkan ketempat tidur pasien didalam ruangan.
"pasien baru selesai melakukan beberapa prosedur pemeriksaan, masih dalam tahap pemulihan karena sempat dilakukan pembiusan. jadi biarkan beliau istirahat dengan tenang, adiknya juga sudah tidur, anda juga harus istirahat" senyum perawat sedikit menjelaskan sambil menatap Aga yang terlihat mempesona kaum perempuan. Aga mengangguk memperhatikan tubuh mama Zivannya yang terlihat tidur dengan nyenyak, mengecek tubuhnya dan segera menyelimuti mama Ranti dengan cepat, tanpa sedikitpun melihat perawat itu.
"kalau begitu saya permisi, jika ada apa-apa tekan tombol disamping tempat tidur pasien untuk memudahkan kami segera melakukan pertolongan" Senyum perawat yang tidak pernah hilang, Aga mengangguk. perawat segera keluar ruangan.
Aga meredupkan lampu kamar rawat inap mama, membuka balkon dan menatap langit yang terlihat cerah, bulan berbentuk bulat sempurna, angin sedikit kencang sehingga hawa panas malam hari sedikit tertepis.
"hallo yah" salam Aga.
"iya, Aga mengabari kak Dirgantara dan bang Matahari aja dulu" jawab Aga.
"iya, Aga tahu. terimakasih atas pengertiannya yah. iya... Aga akan jaga Zi, bund..." senyum Aga.
"mereka sudah tidur, kami dirumah sakit sekarang. mama Ranti baru saja kembali keruangan setelah pemeriksaan dari tadi siang saat kita masuk" angguk Aga.
"Aga juga harus kembali bertugas besuk, jadi Zi yang akan menjaga sendirian" kata Aga.
"kalo memungkinkan biar Aga beritahu teman baiknya untuk menemaninya disini, perempuan bund... " tawa Aga.
"baiklah, jaga kesehatan Ayah dan bunda. jangan terlalu lama kalo pergi-pergi" senyum Aga berpamitan. Aga terdiam menatap keadaan sekitar yang terlihat tenang tak ada badai, ia menghembuskan nafasnya panjang sebelum melangkah masuk kedalam ruangan rawat inap mama Ranti.
hai hai hai... para readers, love you all sekebon pisang, biar bisa dibuat pisang goreng yang banyak hehehehehe..
selamat menikmati cerita kedua kalang di sini. jadi mohon maaf jika ada banyak kesalahan dalam merangkai kata dan kalimat.
ciehhh... udah kayak mau tampil dikondangan aja nih hahahaha...
dukung yaaa... karya kedua ku.
love...love...love all sekebon pisang biar bisa bikin pisang goreng banyak..
__ADS_1
thanks a lot pisang sekebon...😘