
mereka tiba di gedung tempat wisuda Zivannya, gedung yang menghadap ke selatan dengan pemandangan indah gunung dibelakangnya. dari jauh sudah terlihat kemegahan gedung utama yang menjadi kebanggaan universitasnya. Zivannya keluar dari dalam mobil, memandang kedepan dimana para mahasiswa yang akan wisuda hari ini berkumpul bersama, keluarganya sudah berjalan terlalu jauh dan berbeda pintu masuk dengannya, Zivannya menghela nafasnya berat heels yang tidak seberapa tinggi membuatnya kesulitan dalam melangkah, tidak tahu bagaimana dia akan sampai kepintu masuk. tiba-tiba sebuah tangan sudah memegang jemarinya untuk membantunya melangkah, Rara nyengir menoleh menatap Zivannya yang terkejut, "nggak usah ngerasa senang banget gitu dong Zi biasa aja liatin cewek cantik gini" sarkas Rara, Zivannya menghembuskan nafas dan mengangguk. "iya, saking cantiknya sampai nggak kliatan dari kemarin. sibuk ngurusin Dimas aja" angguk Zivannya, Rara tertawa pelan. "he em, lihat kan dia disana. sedang menunggumu untuk masuk bersama karena tahu kamu akan kesulitan melangkah, gadis cantik" senyum Rara. Zivannya menatap kearah pandangan Rara, Dimas tersenyum melihat kehadiran dua sahabat baiknya. "aku serahkan Zi padamu dim jangan sampai lecet" serah Rara, Zivannya dan Dimas menyentil kening Rara bersamaan. "kebanyakan liat drakor nih anak selama dirumah" kata Dimas, Rara manyun. "aku tunggu didepan nanti guys. sedih banget nggak bareng kalian wisudanya" lihat Rara mengerucutkan mulutnya. Zivannya ikut mengerucutkan mulutnya. "kebanyakan keluar malam sih" kata Zivannya, Dimas membantu Zivannya melangkah masuk. "iya, sama kamu dan dimas" sarkas Rara Zivannya memberi tanda V dengan dua jarinya.
Langit mengabadikan moments Zivannya diam-diam, tersenyum melihat ekspresi Zivannya dalam berbagai angle. langit segera menuju kedua kakak Zivannya yang menunggu diluar, dilihatnya seorang pemuda sudah berada disana sedang berbincang dengan mentari dan Valerie. Yuda juga ikut hadir dalam wisuda Zivannya hari ini, Langit segera mendekat dan memberi salam.
"langsung kesini da" tanya Langit, Yuda mengangguk, menyodorkan minuman panas, langit menerimanya dan segera meneguknya. "kalian keluar dari jalan masuk perumahan. aku baru aja masuk, langsung kesini, ngeliat kak mentari dan kak Valerie disini" jawab Yuda, Langit mengangguk.
"apa Zi sudah masuk kedalam" tanya Yuda. "sudah. tadi dibantu oleh Rara diluar dan Dimas saat didalam. dia kesusahan memakai heels" angguk Langit, Yuda tersenyum.
"anak itu tidak berubah, dengan kak Aga pun heels hanya dibawa tidak dipake" hembus nafas Yuda pelan, Langit mengerutkan keningnya sesaat dan terdiam.
mereka dapat melihat jalannya acara wisuda Zivannya dari layar yang dipasang diluar ruangan, giliran Zivannya dipanggil untuk maju dan mendapat kesempatan memindahkan tali topi toga oleh rektor. Zivannya menghela nafasnya dan berjalan pelan untuk kedepan. Regan berada didepan dan membantu Zivannya untuk menaiki mimbar yang lebih tinggi, dosen muda itu selalu mencari kesempatan untuk mendekati Zivannya, terlebih lagi dia tau jika Zivannya sudah melewati masa berkabungnya setelah kepergian suaminya dalam bertugas, Zivannya berusaha menghindari pertolongan Regan secara halus, dengan bantuan Dimas, Zivannya dapat melaluinya. Langit mengepalkan tangannya melihat dari layar, mentari melihatnya dengan seksama, dia tahu bahwa Langit menyukai Zivannya adiknya, tapi apakah Zi mau membuka hatinya lagi setelah kepergian adiknya itu yang masih menjadi tanda tanya, karena sekarang Zi lebih memilih untuk menghindari laki-laki yang bukan keluarganya.
prosesi wisuda hampir selesai, keluarga yang berada diluar mulai bersiap menyambut kedatangan para wisudawan, pintu utama sudah dibuka dan satu persatu mahasiswa keluar dengan tertib mengikuti aturan. kehebohan nampak dideretan mahasiswa teknik tempat Zivannya. mereka bersorak Sorai meneriakkan yel kegembiraan khas prodi mereka, Zivannya tersenyum kecil saat teman-temannya berteriak kegirangan, dia satu diantara tiga perempuan yang wisuda dari tehnik sipil kesempatan kali ini. Langit mendekat dan memberikan paper bag berisi sneakers hitamnya, Zivannya berusaha melepas heels yang ditali erat, Langit menunduk untuk melepas tali heels Zivannya dan membantunya memakai sneakers nya, Zivannya memegang bahu Langit agar tidak jatuh, seketika langit tersenyum lebar. pertama kalinya Zivannya menyentuhnya dengan penuh kesadaran. langit telah selesai memakaikan sneakers Zivannya. "makasih kak" angguk Zivannya bergabung kembali dengan yang lain, langit memasukkan heels Zivannya kedalam paperbag dan melangkah pergi kembali dengan teman-temannya untuk mengabadikan moments sebelum berkumpul bersama keluarganya, Zivannya mengabadikan dengan baik momentsnya kali ini dengan Rara, Dimas dan teman-temannya.
Zivannya memeluk keluarganya dan mendapat rangkaian makanan ringan dari Yuda, Raka dan Riki bersemangat untuk mengambilnya, Zivannya tertawa kecil melihat kedua ponakannya berbagi dengan teman-teman yang baru dikenalnya. mereka mengabadikan moments kebersamaan mereka saat ini, Zivannya mengambil moment dengan ponsel dirinya sendiri, Rara mendekat dan mengatakan akan pergi dengan keluarga Dimas dulu baru nanti akan kerumah Zivannya. Zivannya mengangguk dan mengangkat alisnya keatas dan kebawah menggoda Rara. Rara tertawa kecil, "nanti aku ceritakan detailnya. kamu juga harus bahagia, jangan kasih kendor mas Regan" kedip mata Rara. Zivannya menggelengkan kepalanya kuat-kuat, merasa tidak ada yang harus dijelaskan, mereka berkeliling kampus untuk mengabadikan moments Zivannya selesai kuliah. "bund, lapar" kata Mentari, bunda mengangguk" ayo kak, dek kita makan dulu sudah siang, dekat sini aja kali ya" pandang bunda, Zivannya memberi tahu sebuah tempat yang nyaman, Langit segera melajukan mobilnya menuju tempat yang dikatakan Zivannya, Yuda mengikuti dari belakang. Ayah menatap langit dan Yuda yang ingin mendekati Zivannya, namun ayah tidak bisa memaksa Zivannya untuk hal itu. ayah sepenuhnya menyerahkan semuanya kepada Zivannya yang tahu mana yang terbaik untuk hidupnya.
"bund, yah, kak. Zivannya minta ijin akan menjenguk mama jika sudah selesai urusan kampus nantinya. kemarin Zi dapat tawaran untuk magang di luar Jawa. bolehkah Zivannya pergi" makan Zivannya tenang, bunda menatap Zivannya lekat, "kamu tega ninggalin bunda dek" tatap bunda, Zivannya menggeleng. "berapa bulan kamu magang dek" tanya ayah. "tiga bulan yah, setelah itu Zivannya pulang" jawab Zivannya. "dengan siapa dek" tanya Mentari.
"kemarin Dimas yang mendapat project ini kak, sebelumnya kak Aga juga tahu" kata Zivannya berhenti seketika dan menghirup udara dengan cepat. "Dimas sudah lama mengatakannya tapi Zi tidak tertarik karena saat itu kak Aga mau menjaga perbatasan dan Zi hanya ingin segera menyelesaikan tugas akhir dan menyusul kak Aga disana. jadi kami tidak membahasnya lagi" minum jeruk hangat Zivannya.
__ADS_1
"tapi kemarin Dimas dan Zi membahasnya lagi dan masih ada tempat untuk satu orang disana, Zi bilang ingin minta ijin dulu sama ayah dan bunda baru Zi bisa memutuskan untuk berangkat atau tidak" kata Zivannya pelan.
"berangkat kapan dek" tanya ayah, Zivannya tersenyum menatap Ayahnya, "masih dua bulan lagi yah official nya. tapi dua minggu sebelumnya disarankan untuk segera berangkat" kata Zivannya, ayah memandang bunda. "nanti bunda bahas dengan kakak dan abangmu dulu dek. kalo ayah mah setuju aja, sesuai dengan keinginanmu. tapi bunda masih berat untuk melepasmu dek, apalagi kamu sendirian ditanah orang. perempuan lagi" kata bunda menyuapi Riki. "kalo ada yang nemenin bund" celutuk Valerie. Yuda menatap dengan cepat melihat kearah bunda sedangkan Langit hanya diam dan mendengarkan tanpa bermaksud mencampuri kehidupan Zivannya. dia tidak ingin orang lebih menilainya terlalu posesif ketimbang rasional, padahal jika saat ini dia dimintai pendapat apa Zivannya boleh magang ato tidak maka jawabannya adalah tidak dan akan langsung membawa Zivannya pulang.
"aishhh.... anak ini, kebiasaan kayak Aga sih. apa-apa dadakan, tiba-tiba punya rencana langsung aja jalan" hembus nafas bunda.
Dirgantara menghubungi istrinya. "kebetulan pa, adek mau minta ijin magang ke Kalimantan" senyum Valerie, Dirgantara berhenti bekerja dan memandang istrinya sesaat.
"mana adek" tanya dirgantara, Valerie menaruh ponselnya didekat Raka, "kemana dan sama siapa kesana dek" tanya Dirgantara menopang dagunya dengan tangan diatas meja kerjanya. Zivannya melambaikan tangannya membentuk tanda V dengan kedua jarinya.
"sebenarnya udah lama kak rencana magangnya, diberikan kepada mahasiswa yang mau dan punya nilai cukup. waktu itu ada kak Aga juga. tapi Zi nggak mau, nah sekarang mumpung masih ada kesempatan Zi pingin mencobanya" kata Zivannya. mentari meletakkan ponselnya disisi yang lain dari dirgantara.
Ayah tertawa tertahan melihat kekonyolan mereka bertiga, "adek mau pergi lho bang" kata Dirgantara, matahari menatap Zivannya cepat. "mau kemana, sama siapa, berapa lama" tanya matahari.
"ke Kalimantan, magang selama tiga bulan sama Dimas" Zivannya hormat sambil nyengir.
"aissshhh....dosen muda itu ikut nggak" kata matahari.
"ihhh.... siapa lagi tuh. banyak banget dek gebetanmu, kok kakak nggak tau" tanya Dirgantara julid. Zivannya menutup mukanya dengan kesal.
__ADS_1
"nggak dan bukan" jawab Zivannya cepat. Dirgantara dan Matahari tertawa lebar. "aahhh.... lega tuh dua orang disitu denger omonganmu dek" tawa Dirgantara, Zivannya mengerutkan keningnya sesaat. "siapa" tanya Zivannya menatap kedua kakaknya tidak sadar dengan kehadiran Langit dan Yuda. "selain ayah tentu saja dek" kata matahari, Zivannya terhenyak kaget dan menyadari ada dua orang pria yang bukan keluarganya berada diantara mereka.
"aaahhhh.... Zi lupa" kata Zivannya malu menyadari kebodohannya melupakan dua pemuda ini.
"vote aja deh yang" kata Mentari selesai makan, melihat Zivannya yang diberondong banyak pertanyaan, Zivannya mengacungkan ibu jarinya berterima kasih kepada Mentari.
"ya" ucap Valerie.
"ya" ucap Ayah.
"tidak" kata bunda.
"ya" kata Mentari.
"tidak" geleng dirgantara.
"ya"ucap Zivannya, bunda memandang Zivannya yang nyengir melihat ibu negara menurunkan titahnya. "bang, pikir baik-baik sebelum memutuskan, mau tidur diluar atau didalam" pandang bunda menopang kedua tangannya dimeja makan rumah makan. mereka serempak tertawa lebar mendengar ucapan bunda yang sudah tidak bisa dibantah.
hai... hai... hai... all readers, dukung terus karyaku agar bisa selalu update.
__ADS_1
luv...luv...luv... U all readers. terimakasih banyak atas dukungannya...