Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 94


__ADS_3

Zivannya memukul bahu Langit pelan, "nggak lucu kak, jika nggak keluar sekarang, aku nggak mau keluar lagi" pandang Zivannya. Langit menghembuskan nafasnya. "baiklah. aku akan melakukannya nanti, tidak ada penolakan" kata Langit. "apanya" pandang Zivannya, Langit nyengir.


"kita cari makan dimana, yang" tanya Langit meraih kunci mobil. "makan mie ayam aja yuk, kayaknya enak nih seger" bayangin Zivannya keluar dari kamar setelah berganti baju. memakai rok panjang dan kemeja.


"kan aku bilang jangan cantik-cantik kan, yang" kata Langit. Zivannya mengecup pipi Langit pelan.


"udah dari sana nya begini kak, mau pake apa aja nggak akan ngaruh" tepuk pipi Zivannya pelan, Langit mendengus pelan. "kamu aja pake begitu juga udah tampan. masak mau jalan, aku jelek kamu ganteng" senyum Zivannya. Langit tertawa pelan menutup pintu rumah, Zivannya membuka pintu pagar lebar, mobil keluar halaman. Zivannya menutup kembali, "ready honey" senyum Langit memakaikan seat belt Zivannya. mobil melaju meninggalkan rumah. "kak kenapa waktu aku nitip sama bang matahari kartu kecilmu, kamu nggak mau" toleh Zivannya, Langit mengelus rambut Zivannya pelan. "aku sudah memberikannya padamu, pantang aku ambil kembali" geleng Langit. "lha kalo kita nggak terus, kerja kerasmu selama ini aku yang nikmati dong" kata Zivannya santai. "kasihan istri dan anakmu kan" kata Zivannya. Langit tertawa, "memangnya siapa calon istriku" toleh Langit sebentar. "aku" hembus nafas Zivannya terjebak perkataannya sendiri.


"nah itu tau" elus pipi Langit.


"tanganmu itu lho kak, jangan sentuh-sentuh terus" halau Zivannya, Langit tertawa. "memangnya kamu disentuh laki-laki lain" acak rambut Langit. "ishh... nggak. tapi nggak gini juga" lepas ikatan Zivannya, Langit tersenyum.


"yang, aku mau nanya" kata Langit. "apa" toleh Zivannya. "sejak aku kenal kamu, banyak laki-laki yang mendekatimu, tapi nggak ada yang kamu sentuh secara sengaja" kata Langit. "hanya aku yang melakukannya" lanjutLangit.


"masa" kerut Zivannya. "iya, aku pingin nanya lama banget tapi selalu lupa" toleh Langit. "entah kak, aku tidak pernah memperhatikannya" angkat bahu Zivannya.


"tidak... tidak... kamu memang tidak pernah membiarkan laki-laki menyentuhmu jika kamu tidak mengijinkannya" kata Langit, Zivannya menoleh. "jadi dari awal kamu sudah memilihku untuk menata hidup lagi kan, kenapa aku nggak berpikir sejauh itu dulu. sebanyak apapun kamu menghindar, sejauh apapun kamu mengelak. aku adalah orang yang kamu inginkan" senyum Langit.


"cihh... kepedean" senyum Zivannya, Langit menoleh. "beneran kan, yang" tanya Langit. Zivannya menatap kedepan. "benar" jawab Zivannya lirih.


Langit menoleh cepat, "sejauh apapun aku menghindar ataupun menjauh. akhirnya akan kembali lagi kepadamu" angguk Zivannya, Langit mengusap bahu Zhivannya.


"semenyedihkan banget kan aku kak" tawa Zivannya sumbang. Langit menepikan mobilnya.


"tidak, kamu adalah orang yang pandai menyembunyikan perasaan. aku aja sampai sering kesal dibuatmu" hadap Langit, Zivannya tertawa pelan. "tapi itu bagus, karena kamu tidak membuka hati untuk laki-laki lain" kata Langit. "tidak juga kak, kemarin-kemarin aku sempat berpikir untuk membuka hatiku kepada Yuda, karena aku sudah terbiasa dengannya" pejam mata Zivannya, Langit mencium bibir Zivannya lembut. "apa yang kamu katakan" pandang Langit, Zivannya membuka matanya. "jangan berpikir yang bukan-bukan" geleng Langit. "jalan kak, kita nanti kesorean" jawab Zivannya. "biarin aja, nggak usah makan aja. kalo mikir Yuda" kata Langit melajukan mobilnya kembali. "kan aku bilang kepikiran, yang. bukan aku melakukannya" toleh Zivannya, Langit menoleh "sejak kapan kamu punya pikiran seperti itu" toleh Langit kesal. "sejak kita nggak bertemu kemarin" geleng Zivannya. "apa" toleh Langit kembali. Zivannya tersenyum, "aku kira itu pilihan yang terbaik daripada aku dengan yang lain" jawab Zivannya. Langit mengumpat kesal


"sana kak" isyarat dagu Zivannya melihat penjual mie ayam yang rame. Langit turun dan mengikuti langkah Zivannya yang terlebih dulu memesan dua mangkuk mie dan minuman. "yang, duduk sana" sentuh Langit, Zivannya keluar dan melihat banyak pasangan yang duduk lesehan. "mau disana" tanya Zivannya, langit mengangguk. mereka duduk menunggu pesanan.


"kak" serah Zivannya, Langit mengambil. Zivannya mulai memakan mie nya. "sering kesini, yang" tanya Langit. "pernah tapi nggak sering. pindah-pindah aja lokasinya bertiga dengan Dimas dan Rara" jawab Zivannya, "kamu milih mana jika aku pindah tugas" tanya Langit.


"aku ikut kemana aja, asal bersama" jawab Zivannya, Langit mengangguk tersenyum mengelus kepala Zivannya. "yang apa kamu mau ikut pulang kerumah ibu" tanya Langit. Zivannya menoleh.


"nggak, aku nggak mau berhadapan dengan penggemar setiamu" geleng Zivannya. Langit tertawa, "apa sebegitunya" tanya Langit. "tidak juga sih kak, aku lebih baik menghindar daripada terlibat masalah" geleng Zivannya pelan.

__ADS_1


"masalah apa" kerut Langit tidak paham.


"perasaan perempuan akan sangat terluka dan merasa tidak nyaman jika ada orang lain yang merebut perhatian laki-laki yang disukainya" jawab Zivannya. "apa kamu juga merasa begitu, yang" tanya Langit, Zivannya mengangguk.


"padahal aku yang sering merasa kesal dengan penggemarmu" kata Langit, "kamu hanya merasa tidak rela jika kamu kalah dengan uang lain. pada dasarnya laki-laki tidak mau merasa tersaingi oleh pria lain kan" pandang Zivannya. Langit tertawa mengangguk, "karena dia sudah menentukan gadis yang tepat" jawab Langit. Zivannya meminum jeruk hangatnya sampai habis. "pedas yang" tanya Langit kuatir, Zivannya menggeleng "sedikit, tapi enak" senyum Zivannya. Langit mengusap mulut Zivannya yang belepotan.


"hallo Ra" salam Zivannya. "aku share lokasinya" angguk Zivannya minum teh Langit.


"Rara mau kesini kak" chat Zivannya sebentar.


"ngapain" tanya Langit, Zivannya tersenyum. "mau hangout bareng, Dimas baru pergi keluar kota karena kerjaan. anak itu mengumpulkan pundi-pundi uang untuk segera menikahi pujaan hatinya Rara" kata Zivannya. "terus aku juga harus segera menikahi gadisku" tatap Langit. Zivannya memutar bola matanya kesal.


"besuk kita pulang, yang" kata Langit. "kita..kakak aja yang pulang duluan. dirumah, nggak ada orang. mending Zi disini dulu. nanti kalo udah pada pulang. Zi akan pulang" pandang Zivannya.


"tuh kan... "kata Langit menatap Zhivannya. "minggu depan aja kak, abang dan kakak sudah datang. kemungkinan week end kak val juga pada datang" kata Zivannya.


"kan ada aku, yang. aku nggak bisa ngliat kamu kalo pulang kerja" pandang Langit memelas, "kakak berangkat pagi pulang petang. selama itu aku sama siapa kak, mau aku keluyuran setiap hari" pandang Zivannya, "kamu mau berapa hari disini" hela nafas Langit. "seminggu lebih" senyum Zivannya, "lebihnya berapa hari, yang" pandang Langit lekat. seminggu" jawab Zivannya.


"pilihan mu nggak ada baiknya" manyun Zivannya.


"besuk ikut pulang atau Minggu depan nggak boleh naik gunung" senyum Langit, Zivannya menoleh. "ikut pulang" jawab Zivannya akhirnya. "lihatkan, enak kan ngikut suami" senyum Langit. Zivannya menghela nafasnya berat menatap jalanan yang mulai padat. Rara melambaikan tangannya melihat Zivannya yang tersenyum lebar membalasnya


"kamu baik-baik aja kan Zi, nggak diapa-apain kak Langit kan" pandang Rara memutar badan Zivannya.


"emangnya aku apain Ra" tanya Langit datar, Rara nyengir. "kirain kamu langsung angkut pulang ke Jakarta kak" duduk Rara sambil memanggil penjual untuk memesan mie lagi. "sama es jeruk dua lagi" kata Zivannya, "kamu haus Zi, nggak dikasih minum sama cowok ganteng sebelahmu" lirik Rara. Langit tersenyum menatap Zivannya.


"dia besuk akan ikut pulang ke Jakarta, karena minggu depan dia ijin mau naik gunung lagi" pandang Langit melihat Zivannya.


"terpaksa, jika tidak lebih kejam hukumannya" jawab Zivannya menatap Langit kesal, Rara tertawa lebar. "aku senang liat Zivannya gini, terasa lebih hidup. jika tidak ada yang membuatnya kesal maka hidup akan datar" kata Rara, berarti kamu setuju kan Zi dipingit" kata Langit. "apa" toleh Zivannya dan Rara berbarengan. "kenapa bisa" kerut Rara, "biarin Langit ngomong apa. kita bahas yang lain" geleng Zivannya menutup mulut Langit dengan kedua tangannya. kedua gadis itu terlibat obrolan hangat yang seru. "bulan depan aku akan mulai sidang Zi" makan mie Rara. "kasih tanggalnya, nanti aku usahain untuk pulang kesini menemanimu saat sidang nanti" senyum Zivannya.


"harus dong, Dimas juga udah pulang dari kerja nya. kita bertiga ngumpul lagi dikampus dalam suasana beda" senyum Rara. "it's that oke with U kak" tanya Rara. langit menatap Zivannya, "nanti aku ikut deh, pingin liat kampusnya Zi dulu" kata Langit. "bilang aja kak, nggak ngebolehin Regan dekat Zivannya" sarkas Rara. Langit tersenyum mengusap rambut Zivannya, "dia tidak akan pernah membiarkan orang lain berada dihatinya selain aku saat ini" kata Langit, Rara tertawa lebar sedangkan Zivannya memutar bola matanya panas.


"hallo son" salam Zivannya melihat id caller di ponselnya, ponsel Langit mendapat notifikasi. Langit melihatnya dan tersenyum, memperlihatkan notifikasi tersebut pada Zivannya, Zivannya menerima panggilan dari Soni.

__ADS_1


Zivannya meraih ponsel Langit, melihat semua chat yang dia punya dengan semua temannya.


"aku hubungi besuk Kamis, jika bisa aku langsung kesana. kita ketemu disana aja, gimana" tanya Zivannya menatap Langit.


"oke, nggak papa. malam ini kayaknya aku harus balik ke Jakarta dulu, kakakku jemput suruh pulang" angguk Zivannya.


langit tersenyum, "kakak tersayangnya" celutuk Rara,


"itu Rara" tawa Zivannya.


"makasih son, see U " tutup Zivannya.


"kenapa nggak bilang kalo kamu udah punya kekasih dan dia menjemputmu untuk pulang" tanya Langit.


"kami berteman bukan membicarakan hal pribadi, nggak suka memperlihatkan hubungan kepada orang lain yang tidak mengenal kita dengan baik. hanya akan menimbulkan fitnah kak" senyum Zivannya, Langit meminum es jeruk Zivannya.


"naik kemana" tanya Rara, "rencananya di Jawa Timur" jawab Zivannya. Langit menoleh, sekalian aku antar, yang" senyum Langit. Rara berdehem mendengar panggilan Langit.


mereka berpisah setelah makan dan nongkrong lama dilapangan basket kampus.


Zivannya menutup pagar setelah mobil masuk kedalam garasi, membuka pintu rumah, Langit mengikuti langkah Zivannya. masuk kedalam kamar mandi.


"mau kopi hitam" tawar Zivannya, Langit menggeleng. "aku sudah banyak minum tadi, kita nonton TV aja jawab Langit. Zivannya mengangguk dan mengganti pakaiannya dengan t-shirt dan joger panjang. mereka duduk menonton acara TV. Langit meraih jemari Zivannya yang tidak jauh darinya.


Zivannya terdiam lama menatap Langit, Zivannya mengulurkan tangannya meraih kepala Langit, mencium lembut bibir Langit yang terpaku dengan perlakuan Zivannya, segera memeluk gadis pujaannya erat. Langit mengabsen setiap inci mulut kekasihnya, mengurai rambut Zivannya hingga lepas tergerai. "U looks beautiful sweetie" bisik Langit. Zivannya tersenyum. "do I" goda Zivannya, Langit tertawa mengusap bibir kekasihnya yang penuh dengan jejak mereka. Langit menyesap pundak Zivannya yang terbuka. "aahhh...." erang Zivannya pelan, "sakit, yang" tanya Langit mengusapnya. "kenapa harus meninggalkan tanda merah gini sih kak" pandang Zivannya. Langit tersenyum. "pingin kayak yang lain, yang. tandanya kamu nggak boleh liat cowok lain" garuk tengkuk Langit yang tidak gatal. Zivannya tertawa kecil, melingkarkan tangannya di leher Langit. "berarti aku juga boleh melakukannya agar kamu tidak dilirik cewek lain" naik turunkan alis Zivannya. langit tergelak mencium pundak Zivannya yang satu. "tentu dengan senang hati asal dibawah perut" goda Langit, mereka tertawa lebar.


"kamu bahagia, yang." ikat rambut Langit asal. Zivannya tersenyum "jadi lebih berwarna. umurku hampir genap 22 sebentar lagi. tidak ingin bermain-main lagi" angguk Zivannya. Langit menaikkan t shirt Zivannya sedikit keatas. mengusap perut Zivannya yang rata. "aku tidak bermain-main denganmu, aku ingin kamu memahami dan mengerti bahwa dihatiku hanya ada satu gadis yaitu kamu" tatap Langit, Zivannya mengangguk menangkup wajah Langit dengan kedua tangannya. mencium bibirnya lembut. Langit membuka matanya dan melihat Zivannya dengan sayu. "luv U ibu dari anak-anakku" senyum langit, Zivannya membuka matanya, luv U ayah dari anak-anakku" senyum Zivannya, Langit merebahkan tubuh Zivannya sambil membuka t-shirtnya dan Zivannya.


hai....hai...hai....all readers terimakasih atas dukungannya selama ini.


luv...luv...luv.... all sekebon pisang goreng...


terimakasih banyak semuanya...

__ADS_1


__ADS_2