Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 69


__ADS_3

Zivannya dijemput oleh Matahari dan Mentari dibandara karena kebetulan hari ini mentari sedang berada diluar rumah dan dekat dengan bandara maka mereka dapat dengan cepat menjemput Zivannya, Zivannya segera menyampaikan pesan Aga kepada kedua kakaknya, dari bandara mereka langsung pulang agar Zivannya dapat membersihkan diri dan istirahat dengan cukup.


"dek, makan gih. bunda udah masak" buka Mentari, Zivannya mengangguk dan berjalan keluar kamar mengikuti langkah Mentari.


"mbok buatin jahe hangat untukmu dek" sodor gelas bunda, Zivannya tersenyum dan segera meminumnya selagi hangat. "ayah mana bund, nggak kelihatan" tanya Zivannya melihat sekitar. bunda mengisyaratkan dengan dagunya, Zivannya melihat ayah, matahari dan dua orang pemuda sedang terlibat pembicaraan sesuatu yang penting.


"dek, kamu udah 5 hari lho dirumah. nggak kemana-mana gitu" tanya mentari mengambil makanan.


"bunda emang ada acara" tanya Zivannya, bunda menggeleng. "bunda rasanya berat banget ninggalin rumah dek, nggak tau kenapa. pinginnya kita ngumpul aja gitu, tapi Aga baru dinas kan, jadi nggak bisa, Dirgantara ada kegiatan yang menyita waktu" kata bunda.


"bunda mungkin kecapekan jadi harus istirahat dirumah biar badannya lebih nyaman" pandang Mentari, Zivannya mengiyakan.


"mungkin kak, tapi perasaan bunda kok nggak enak ya belakangan ini. semenjak adek pulang. bunda kayak ngerasa ada yang berbeda" kata bunda.


"nggak biasanya juga adek bisa lama tinggal dirumah sambil ngerjain tugas akhirnya. biasanya harus pembimbingan tatap muka" kata Mentari. Zivannya makan sambil mendengarkan obrolan mereka yang lebih banyak menggosipkan beberapa hal.


selama lebih dari dua minggu Zivannya memilih tinggal dirumah kedua orang tua Aga, jika ayah dan bundanya ada acara keluar rumah pasti Zivannya harus ikut. karena bunda tidak tenang meninggalkan Zivannya sendirian dirumah padahal biasanya juga tidak apa-apa jika orang tuanya bepergian. Zivannya lebih memilih tinggal dirumah walau hanya sekedar nonton TV, ngobrol dengan orang rumah, ikut mbok ngobrol dengan tetangga yang lain atau untuk berkeliling kompleks saat pagi hari hanya untuk sekedar lari pagi atau jalan pagi.


Zivannya berjalan pelan saat meninggalkan bandara sekembalinya dari mengunjungi kedua orang tua suaminya yang seperti kedua orangtuanya sendiri. mereka memperlakukan anak dan menantu mereka sama tidak ada yang dibedakan hingga membuat Zivannya betah untuk berlama-lama disana, Zivannya juga sudah terbiasa dengan keadaan tanpa Aga disisinya dan tanpa kabar darinya. seiring berjalannya waktu Zivannya menyadari betapa berat perjuangan seorang istri yang ditinggal suaminya menjadi abdi negara yang menempatkan bangsa dan negaranya nomor satu dihatinya. Zivannya seperti kembali dimasa dia menjadi anak kuliahan yang tidak memiliki siapa-siapa, kemana-mana selalu sendiri dan sendiri. Zivannya mengulas senyum samar mengingat kenangannya bersama Aga yang sesaat kemarin, mengingat betapa dia menyia-nyiakan kesempatannya selalu bersama Aga saat dia masih bisa berada di sisinya.


Rara memeluk Zivannya erat saat mereka bertemu, mobil melaju meninggalkan bandara menuju rumah Zivannya yang sudah lama tidak ditempati.


"lama banget Zi, hampir sebulan kamu pergi. nanti kamu pergi lagi kerumah mama mu" sungut Rara, Zivannya menoleh dan tersenyum. "dapat salam dari kak Aga buat kamu dan Dimas, dia juga minta maaf jika banyak salah dan khilaf" sampaikan pesan Aga untuk Rara dan Dimas. "bagaimana keadaan pak komandan disana, baik-baik aja kan" toleh Rara, Zivannya mengangguk. "baik, lebih kurus tapi berotot dan hitam" kata Zivannya, Rara tertawa.


"kebanyakan main di luar sih pak komandan jadi sering terkena sinar matahari" sarkas Rara, Zivannya tersenyum. "aku lega dia baik-baik saja. tidak mengapa dia menjadi hitam, asalkan dia masih sehat dan tidak terjadi apa-apa" jawab Zivannya pelan.


"kapan lagi kamu akan menemuinya Zi" tanya Dimas, Zivannya menggeleng. "aku tidak tau dim, kayaknya itu terakhir kalinya aku menemui kak Aga. menunggu dia pulang atau kabar darinya" jawab Zivannya lemah, Dimas mengerutkan keningnya melihat wajah Zivannya dari kaca spion.

__ADS_1


"tugas akhirmu masih jalan kan Zi" alihkan perhatian Dimas, "ya" jawab Zivannya.


"kamu kenapa Zi, tidak terlihat begitu bersemangat" tanya Rara heran melihat sikap Zivannya yang terlihat lemah. Zivannya menggelengkan kepalanya, "aku merasa lemas Ra, seperti mau pingsan" kata Zivannya cepat. Rara menoleh kebelakang yang melihat Zivannya seperti orang yang setengah sadar, "dim, kerumah sakit. cepat" seru Rara panik. Dimas segera melajukan mobilnya dengan cepat menuju rumah sakit terdekat, sesampainya disana Zivannya segera ditangani oleh dokter jaga. Rara dan Dimas bernafas lega karena Zivannya hanya kecapekan dan anemia, hingga harus diberi penambah cairan vitamin yang dimasukkan melalui jarum suntik di tangannya. Zivannya tidur seharian, Rara dan Dimas yang menjaga sahabatnya selama Zivannya dirumah sakit, tidak ada yang diberitahu jika Zivannya mengalami kejadian itu dan harus dirawat tiga hari untuk masa pemulihan.


"syukurlah akhirnya pulang" hembus nafas Zivannya menatap pintu rumahnya yang dibuka Dimas. Rara menaruh tas ransel Zivannya dipojok ruangan tengah.


"aku mandi dulu. kalian pesan makanan aja"kata Zivannya sebelum berlalu masuk kedalam kamarnya.


"aku kira kemarin kamu udah berisi Zi, melihat mu kemarin baru pertama kalinya begitu. aku panik banget" kata Rara menyodorkan makanan. Zivannya tersenyum dan memakan makanannya.


"dim, project yang kamu bilang dulu masih berlaku nggak" tanya Zivannya tiba-tiba. Dimas menatap Zivannya sesaat. "nanti aku tanyakan manager project nya apakah masih bisa memasukkan orang atau nggak, kenapa.. siapa yang mau kamu rekomendasikan" kerut Dimas mengunyah makanannya. "aku" jawab Zivannya singkat. Rara akan mengucap sesuatu tapi Dimas menggelengkan kepalanya. "baik, nanti akan aku tanyakan" angguk Dimas.


"Zi, nanti malam kita kecafe baru yuk. ada menu baru" kata Rara, Zivannya mengangguk.


"selama di Jakarta kamu juga ngerjain tugasmu Zi" tanya Rara, Zivannya mengangguk tanpa mengalihkan perhatiannya pada layar laptopnya. "kuliah sepi lho Zi, biasanya kamu ada di sampingku tapi sekarang nggak ada kamu rasanya hampa" gumam Rara, Zivannya tersenyum. "ketemu anak-anak baru nggak tanya Zivannya. "ya dong, keren-keren lho sekarang. banyak yang cakep" antusias Rara, Dimas mengetuk kening Rara dengan pensil warna. Rara mengerucutkan mulutnya.


"aisshhh.... bener lho Zi, besuk ikut kuliah. jangan bohong" tunjuk Rara didepan wajah Zivannya. Zivannya menganggukkan kepalanya.


"besuk aku mau nyerahin bab ini ke dosen. udah mau ke bab akhir nih, moga diberi kelancaran, biar bisa wisuda bareng Dimas" senyum Zivannya, Rara mengerucutkan bibirnya lagi.


"kadang-kadang aku ngerasa seperti orang ketiga diantara kalian berdua" pandang Rara, Zivannya menoleh dan memeluk Rara dari samping.


"aahhh... malah aku yang ngerasa selalu merepotkan kalian saat kalian sedang berdua aja" goyang ke kanan-kiri Zivannya. Rara tertawa ngakak. "Dimas serasa dikelilingi bidadari kalo jalan" canda Rara, Dimas menyentil kening Rara lagi.


"dimassss ..." kesal Rara, Zivannya menghela nafas panjang dan beranjak dari duduknya menuju pantry untuk mengambil buah-buahan. "Ra, jalan sekarang aja yuk, mumpung masih sore. besuk kan harus kuliah. jangan terlalu malam pulangnya" kata Zhivannya.


"baiklah, yuk kita pergi" kata Rara, Zivannya mengangguk, Dimas mengunci pintu. "boleh nggak pake mobilku aja dan aku yang didepan. kangen pingin megang" senyum Zivannya, Dimas mengangguk dan mengeluarkan mobil Rara keluar dari halaman depan agar Zivannya bisa mengeluarkan mobilnya terlebih dahulu. Zivannya membiarkan mesin menyala sebelum mereka berangkat main. "mobilmu bawa pulang aja Ra, biar pake mobil kak Aga aja. Dimas nanti bawa motor sendiri kesini setelah kita pulang kata Zivannya.

__ADS_1


"besuk pagi aja aku kesini nya, nanti setelah kita nongkrong, aku dianter pulang duluan. kalian berdua disini nggak papa kan" tanya Dimas, Rara mengangguk. Dimas mengendarai mobil Rara duluan dan menunggu mereka dirumah Rara nanti, Zivannya melihat jalanan yang biasanya dia lalui saat kerumah Rara, ke kesatuan suaminya, ke kampus untuk kuliah, ke kedai untuk bekerja. Zivannya mengusap airmatanya yang turun tiba-tiba.


"kenapa Zi" sentuh bahu Rara pelan, Zivannya menggelengkan kepalanya. "aku lagi melow Ra, feel this heart out of body " jawab Zivannya. Rara mengelus bahu Zivannya lembut. "kamu adalah sahabatku yang kuat Zi, sahabatku yang disakiti banyak orang tapi tetap tegar, ditinggal mama tercinta selamanya masih bisa tersenyum walau hatimu menangis, sekarang saat suamimu sedang bertugas kamu dengan tegak melaluinya dengan sabar. You know it's Zi, Everything will be beautiful in its time" pandang Rara, Zivannya mengangguk dan menghapus airmatanya cepat. mereka tiba didepan rumah Rara, Dimas segera masuk duduk dibelakang dengan dua gadis itu berada didepan.


"jika akan wisuda, aku harus kembali ke Jakarta dulu guys. makanya aku nanya ke Dimas tadi ada kerjaan nggak, jika tidak setelah wisuda aku harus pulang ke Jakarta dan mencari pekerjaan di sana. itu titah mutlak ibu yang melahirkan suamiku dan sekarang menjadi ibuku yang teramat sayang kepadaku, malah melebihi mama over protective nya" hembus nafas Zivannya, Rara tertawa.


"aku terkadang iri lho Zi padamu, teramat sangat iri malah. kamu punya mama yang menyayangimu. punya bunda yang menyayangimu juga. punya keluarga baru yang always support you. suami yang sangat mencintaimu. tentu saja dua temanmu ini yang selalu ada untukmu" kata Rara, Zivannya tersenyum. "setiap orang punya ujiannya masing-masing Ra, kamu melihatku bahagia, karena aku sudah kehilangan papa dan adikku dalam rentang waktu yang tidak lama, aku juga kehilangan mama yang selalu mensupport ku dalam keadaan dibawah sekalipun. aku harus bekerja, berusaha untuk membantu mama agar tidak terbebani dengan biaya sekolahku. terkadang kamu tidak melihat hal itu bukan. karena kesedihan dan keterpurukan hanya bisa dirasakan oleh orang itu saja. tapi ketika datang kebaikan dan kebahagiaan maka orang lain akan dapat dengan mudah melihatnya" belok kanan Zivannya.


"aaahhh.... maafkan aku Zi, terkadang aku hanya merasa kasih sayang saja yang tampak dimataku" sesal Rara. Zivannya menoleh.


"it's Ok Ra, itu makanya kita lebih bisa saling memahami sebagai dua orang yang berbeda jalan hidup. terkadang itu lebih berarti kan saat kita sedang berada dalam posisi terpuruk" angguk-angguk Zivannya.


"kalian terlalu terbawa perasaan girls, kita sedang dalam fase girls zone kah" condong tubuh Dimas ditengah keduanya. kedua gadis itu menoleh dan tersenyum lebar.


"that's right dim, we are int the girls zone right now. apa kamu keberatan" toleh Zivannya. Dimas mengangkat bahunya, "terkadang kalian terlalu jauh berpikir, just do and then see what next" kata Dimas.


"itu bedanya kita denganmu" kata Rara, Zivannya menghentikan mobilnya didepan cafe yang mereka tuju. "disini" celingukan Dimas. Zivannya mengangguk. Rara menunjuk dengan dagunya untuk duduk disebelah sana yang masih kosong. Zivannya menunjuk dengan telunjuknya untuk memastikan pilihan Rara. Rara mengangguk dan menuju kasir untuk memesan beberapa menu, Dimas mengikuti Rara memesan makanan.


Zivannya duduk melihat sekeliling cafe yang terlihat rame buat ngumpul bareng teman dan orang terkasih.


"hai....hai...hai.... all readers.


terimakasih tetap setia menemaniku untuk selalu update chapter terbaru.


dukung terus karyaku agar selalu menemanimu yaa....


nantikan terus chapter-chapter selanjutnya yang pasti seru... bikin deg-degan.... bikin nangis... bikin kesel.... hehehehe...

__ADS_1


dukung terus yaa.... terimakasih banyak...


__ADS_2