Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 21


__ADS_3

"nggak selamanya mama menemani kan Zi, jika ada seseorang yang menjagamu mama lebih tenang" senyum mama Zivannya memeluk mamanya hingga tertidur. mama Zivannya mengusap airmatanya melihat Zivannya disampingnya.


"maafkan mama Zi, mungkin waktu mama tidak lama lagi. mama berharap kamu hidup bahagia dan lebih baik dengan Aga" kata mama mengusap punggung Zivannya. mama terduduk sambil memegang dadanya yang terasa semakin sakit.


"hallo ga, tolong mama sebentar" hubungi mama Zivannya. tak lama suara ketukan kamar terdengar. mama membuka pintu dan melihat Aga yang datang.


"mama mau minta tolong antar kerumah sakit sebentar" kata mama menutup kamar, Aga mengangguk dan memberi jalan untuk mama Ranti berjalan.


"Zi baru saja tidur, anak itu kecapekan, jika sudah tidur agak lama bangunnya. mama belum memberitahu mama sakit" kata mama Ranti pelan, Aga mengangguk mengerti.


"kita keruang sakit S" kata mama, sesaat setelah mereka berdua menaiki taksi menuju rumah sakit. Aga menemani mama Zivannya selama pemeriksaan dan mendengarkan dengan seksama penjelasan dokter yang selama ini rutin memeriksa kesehatan mama Zivannya, memberikan resep obat agar sebisa mungkin penyakitnya tidak menyebar dengan cepat.


ketika kembali menuju hotel, mama Ranti berpesan agar jangan memberitahu Zivannya apapun, karena tidak mau Zivannya tambah terpuruk. Aga pun mengiyakan permintaan mama Ranti yang sudah menceritakan semuanya saat pertama kali mereka bertemu, menjadi salah satu alasan mengapa Aga segera meminang Zivannya walau Zivannya belum sepenuhnya menerimanya.


hari telah beranjak malam, ketika mama Zivannya dan Aga kembali ke hotel. keluarga Aga sudah berjalan-jalan menikmati suasana kota kelahiran Zivannya.


"mama dari mana, kenapa nggak bangunin Zi" buka pintu Zivannya lebar, memberi jalan mama dan Aga segera masuk.


"tadi hanya cari angin disekitar dengan Aga, kamu kalo sudah tidur susah di banguninnya. jadi mama minta Aga menemani" sentil kening mama, Zivannya mengusap keningnya.


"Zi, mama pulang aja. pingin istirahat dikamar mama, nggak bisa tidur kalo disini" sentuh bahu mama, Zivannya menatap Aga.


"baik ma, Zi juga mau pulang" angguk Zivannya membereskan perlengkapannya.


"tidak, kamu kan harus nemenin nak Aga keliling kota, besuk dia sudah harus pulang. kalian mengantar mama pulang aja, setelah itu ajak nak Aga menikmati malam dikota kelahiranmu Zi, kapan lagi coba" kata mama Ranti. Zivannya menatap Aga sesaat.


"baiklah ma, kita antar mama pulang dulu, nanti kita keliling naik motor" angguk Zivannya menenteng paperbag berisi kebaya yang tadi mereka pakai, Aga mengambil alih bawaan Zivannya, beriringan keluar dari kamar hotel dan menaiki taksi menuju kerumah Zivannya.


"mama istirahat dulu ya, kalian lanjut mengobrol. mama tidak apa-apa ditinggal sendirian. sudah biasa" senyum mama, Aga tersenyum. Zivannya menutup pintu kamar mamanya pelan.


"ada apa dengan mama kak, kelihatan sedih" tanya Zivannya berlalu mengambilkan minuman buat Aga.


"mungkin kecapekan Zi" minum Aga cepat. Zivannya menelisik raut muka Aga.


"jadi jalan-jalan nggak" tanya Aga menghindari tatapan Zivannya.


"dirumah aja deh kak, aku nemeni mama, besuk pagi-pagi kakak kesini, baru kita jalan, balik kehotel pake motornya mama aja" geleng Zivannya.


"baiklah, kalo begitu aku balik dulu, kamu istirahat lagi aja, besuk pagi aku kesini. besuk aku pulang jam 2 siang" anjak Aga dari tempat duduknya. Zivannya mengantar langkah Aga keluar rumah.


"motornya kak" tunjuk Zivannya.


"kayak punyamu Zi" kata Aga melihat motor mamanya. Zivannya mengangguk dan mendorong Aga agar segera pergi dari rumahnya.


"kamu nggak laper Zi" tanya Aga menatap Zivannya.


"laper banget kak, pingin makan abis ini" kata Zivannya, Aga tertawa pelan.


"udah, ayo. kita cari makan dulu, emangnya kamu aja yang laper. aku juga laper, nggak enak sama mama kalo kamu kelaperan" isyarat dagu Aga, Zivannya segera membonceng dibelakang.

__ADS_1


"paling dekat dan paling enak" toleh Aga, Zivannya menunjuk ke arah kiri rumahnya.


"pecel ayam aja kak, butuh asupan nasi yang banyak" kata Zivannya menunjuk warung pecel lele yang berada lumayan jauh dari rumah Zivannya.


"ok" laju Aga sedikit lebih cepat, tiba ditempat Zivannya segera memesan dua porsi pecel ayam dan bebek, dua gelas jeruk panas untuk mereka berdua.


"rame juga Zi" lihat sekitar Aga, "buat tongkrongan anak-anak muda kampung kak, ini letaknya ditengah-tengah dua kampung" jawab Zivannya juga memperhatikan sekitar.


pesanan mereka tidak lama datang, ditemani keheningan malam mereka menyantap makanan dengan tenang.


jalan terlihat sedikit rame karena banyak muda-mudi yang keluar.


"kapan kita akan menikah Zi, kamu harus ikut beberapa sidang sebelum kita resmi" kata Aga, Zivannya menoleh cepat.


"ribet banget kak, hanya bilang sah aja udah cukup kan" Zivannya santai. Aga memandang Zivannya lekat.


"mulutmu itu lemes banget sih Zi, kebanyakan main sama Rara sih" kata Aga santai, Zivannya nyengir.


"sebelum jadi istri abdi negara ada beberapa prosedur yang harus dipersiapkan terlebih dahulu. besuk kita urus surat perizinannya di wilayahmu. baru nanti aku bawa ke dinas" kata Aga.


"makan dulu kak, nggak usah mikir yang begituan, masih jauh. tunggu Zi lulus dulu" pandang Zivannya.


"ishhh... anak ini udah mau mundur sebelum berperang" kata Aga pelan.


"Zi, rumah Aris dimana, bisakah kau mengantarku kesana" ingat Aga. Zivannya mengangguk dan menyuruh Aga untuk diam makan.


"kita jadi kerumah kak Aris kak" duduk Zivannya dimotor.


"malam kak Aris, maaf mengganggu malam-malam, ini kak Aga minta diantar kesini" senyum Zivannya. Aris membuka pintu rumah lebar dan tersenyum.


"silahkan masuk Zi, ndan" persilahkan Aris. mereka masuk kedalam.


"ada yang bisa saya bantu ndan" duduk Aris. Aga tersenyum.


"berkas proses nikah" jawab Aga, Aris mengangguk.


"bapak kebetulan petugas dikelurahan ndan, akan saya tanyakan sebentar" kata Aris pamit masuk, tidak lama keluar bersama bapaknya.


"malam pak, maaf mengganggu waktu istirahatnya" sapa Aga sopan.


"nggak papa nak Aga dan nak Zivannya. saya maklum" senyum bapak Aris.


"besuk saya bisa bantu urus surat-surat yang diperlukan untuk berkas pernikahan. besuk pagi sebelum saya berangkat ke kelurahan tolong diantarkan surat penting terlampir" kata bapak Aris, Aga mengangguk.


"baik pak, besuk pagi-pagi saya akan mampir kemari untuk melengkapi berkasnya. saya berharap bapak dapat membantu kami berdua untuk mengurus berkas pernikahan" angguk Aga.


"pasti nak Aga, saya akan bantu sampai selesai, saya juga banyak dibantu oleh papa dan mama nak Zivannya. jadi sebisa mungkin saya membalas jasa-jasa beliau berdua" kata bapak Aris. Aga mengangguk dan tersenyum.


"kalo begitu kami permisi, sekali lagi mohon maaf bila mengganggu waktunya" kata Aga pamitan kepada bapak dan Aris yang tersenyum.

__ADS_1


"selamat malam ndan, salam buat keluarga" kata Aris. Aga mengangguk dan segera pamit pulang.


"Zi, aku langsung balik kehotel aja, besuk pagi-pagi aku kesini" pamit Aga mencium kening Zivannya berlalu pergi. Zivannya segera menutup pintu rumah dan tidur.


pagi hari


"Zi" ketuk mama, Zivannya membuka pintu.


"kewajiban pagi kan ma" kata Zivannya menatap mamanya yang sudah terlihat rapi. mama mengangguk. Zivannya segera mempersiapkan diri dan bersama mamanya berangkat untuk melaksanakan kewajiban paginya.


"tadi malam jadi pergi Zi" tanya mama sambil meminum teh panas manisnya. Zivannya menggeleng.


"kita cuman makan pecel ayam di pengkolan kampung ma, trus kerumah kak Aris, kak Aga meminta tolong untuk mengurus surat-surat kelengkapan pernikahan" jawab Zivannya.


"kamu udah menyiapkan berkasnya Zi" tanya mama, Zivannya menggeleng.


"mama udah menyiapkan semuanya, ada didalam lemari kaca, map biru" isyarat dagu mama, Zivannya menatap mamanya.


"mama memang meletakkan semua surat penting dilemari kaca Zi, jangan lebay" senyum mama.


"mama niat banget punya menantu" pandang Zivannya.


"Aga anak yang baik dan dari keluarga baik-baik Zi" kata mama.


"apa kita juga bukan orang baik ma" peluk Zivannya.


"ish.... nih anak, main gelendotan aja. berat tau" tepuk punggung mama.


"biarin. Zivannya kangen mama, maafin Zi ma. jadi semakin sedikit waktu untuk bersama mama semenjak Zi kuliah" kata Zivannya. mama mengusap-usap punggung Zivannya," mama selalu mendukungmu untuk melakukan yang terbaik sebisa mungkin Zi, kamu tidak harus minta maaf. kita harus bisa melakukan semuanya dengan hati yang ikhlas. jalani kewajibanmu kepada Tuhan. jika kau dekat dengannya dengan menjalankan perintahnya seberat apapun ujian yang dia berikan. maka kamu akan lulus dengan nilai yang memuaskan" kata mama, Zivannya mengangguk.


"janji pada mama, apapun yang terjadi, kamu harus semakin tegar, jangan mengeluh apalagi menyalahkan Tuhan mengenai apapun. kita tidak tahu apa yang akan terjadi kemudian, diam dan tawaduk" kata mama.


"mama menyayangimu Zi, mama ngomong begini karena sekarang kamu jauh diperantauan. mama tidak bisa setiap saat melihatmu dan memberimu pertolongan karena jarak. jadi sebisa mungkin jaga dirimu baik-baik" kata mama.


"Zi juga sangat menyayangi mama dan papa" senyum Zivannya.


"jika papamu ada mungkin dia akan menggelitik perutmu karena lebay" tawa mama, Zivannya tersenyum kecil.


"tapi sebenarnya papa saat ini menatap kita dan memeluk kita berdua dengan senyumnya yang khas" usap punggung mama menitikkan air mata pelan. Zivannya mengangguk dan berkaca-kaca.


"papa orang yang baik, surga adalah balasan untuknya" kata Zivannya. mama mengangguk mengiyakan.


hai hai hai... para readers, love you all sekebon pisang, biar bisa dibuat pisang goreng yang banyak hehehehehe..


selamat menikmati cerita kedua kalang di sini. jadi mohon maaf jika ada banyak kesalahan dalam merangkai kata dan kalimat.


ciehhh... udah kayak mau tampil dikondangan aja nih hahahaha...


dukung yaaa... karya kedua ku.

__ADS_1


love...love...love all sekebon pisang biar bisa bikin pisang goreng banyak..


thanks a lot pisang sekebon...😘


__ADS_2