Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 60


__ADS_3

"Ra" hubungi Zivannya.


"apa, udah kangen sama aku" tawa Rara. "pesen satu lagi dunk makannya" kata Zivannya.


"iya, bakso aja ya yang seger" kata Rara mengerti.


"siip, makasih ya" tutup Zivannya.


"emang siapa yang datang. tumben kamu bawa temen" tanya teman, Zivannya mengangguk dan melanjutkan diskusinya.


"udah dipesenin tinggal lanjut kekantin" kata Rara, mereka mengangguk dan menutup laptop masing-masing membereskan perlengkapannya.


Aga memasuki pelataran parkir motor kampus Zivannya, Zivannya melambaikan tangan melihat Aga dari kejauhan. Aga tersenyum menghampiri istrinya yang sedang makan bersama teman-temannya.


"hallo kak" salam Dimas dan Rara. Aga tersenyum mengangguk duduk disamping Zivannya.


"ini kak Aga, teman-teman yang tadi ngerjain tugas kelompok bersama" perkenalkan Zivannya. mereka tersenyum kepada Aga.


"hallo semua, ikutan nebeng Zi makan nih" senyum Aga menerima mangkuk bakso dari Zivannya.


"silahkan kak, jarang-jarang Zi mau gabung makan" jawab seseorang.


"wahhh... wahhh... ngadi-adi nih bocah, jarang-jarang gimana orang baru kali ini makan bareng. dia kan selesai kuliah langsung cus kerja" protes Rara.


"ya elah Ra, kamu sih kebanyakan ngelayap, kalo ngerjain tugas ke kedai Zivannya kita dapat separuh harga lho, trus numpang WiFi gratis" kata seseorang. Zivannya tersedak, Aga mengelus punggung Zivannya dan menyodorkan minum. Zivannya segera meminumnya, Rara memandang Zivannya lekat.


"sejak kapan aku nggak tau kamu sering ngerjain tugas aku nggak ada" tanya Rara.


"kan kemarin pas ditempat Zivannya udah bilang ke kak Aga, kamu ngelayap kita ngerjain tugas kadang kan kita satu kelompok, aku sering beda kan" pandang Dimas, Rara menghela nafasnya.


"maaf ya Zi, aku menikmati masa muda yang berbeda, janji deh akan lebih baik lagi" kata Rara. Zivannya manggut-manggut kepedasan.


"gimana nggak lebih baik, nanti dua semester kamu udah nggak ada Zi lho" ingatkan Dimas.


"haa... bukannya satu semester ya" kaget Rara, semester ini kita KKN, semester depan kuliah akhir dan mengulang kuliah yang nilainya jelek, semester berikutnya skripsi dan ngambil mata kuliah penutup" terang Dimas, Rara menghela nafasnya lagi.


"berarti aku nanti sendirian dong Zi, kalian berdua nggak ada" tanya Rara, Zivannya mengangguk.


"makan Ra, ngomong terus nggak habis-habis nih baksonya" isyarat Zivannya, Rara tersenyum.


"kamu mau ngabisin baksoku kan merah merona kuahnya" goda Rara, Zivannya tersenyum menggeleng.


"aku mau ganti makan rujak tuh tumben ada yang jual" kata Zivannya.


"mau kak" toleh Zivannya, Aga mengangguk. Zivannya beranjak dari tempat duduknya dan memesan tiga porsi rujak.


"banyak amat Zi" lihat Dimas.


"banyak orangnya dim, nanti kalo kurang berebut" jawab Zivannya.


"eh... aku tadi belum patungan" ingat Rara menatap Dimas.


"kan kamu tadi beli snack nya Ra jadi nggak usah" kata lainnya, Rara mengangguk.


"balik ke kesatuan atau pulang by" pandang Zivannya, Aga menghabiskan bakso dan meminum air mineral Zivannya.


"pulang" jawab Aga sesaat kemudian.


"ok, habis ini kayaknya udahan diskusinya. semakin panas soalnya, otaknya juga semakin menciut kalo gini" angguk Zivannya, Rara berdehem, Zivannya tersenyum.


"masih siang Zi, nanti malam kenapa" kata Rara. Zivannya tertawa.

__ADS_1


"dim, nanti malam mau kerumah nggak, kemarin kan nggak jadi. biar cepat selesai aja" ingat Zivannya.


"aku ikut, mau jam berapa" kata Rara, "ishh... ini mata kuliah lain Ra, kamu nggak ikut mata kuliah ini" kata Dimas, Rara manyun.


"tenang nanti kamu boleh datang" angguk Zivannya, Rara tersenyum. Aga menerima panggilan dari ponselnya, Zivannya mengangguk. Aga menjauh sebentar.


"kakakmu Zi, bukannya kamu anak tunggal ya" kata seorang teman, Zivannya mengangguk.


"iya, dulunya tunggal. tapi sekarang jadi anak nomer tiga" jawab Zivannya, ia mengkerutkan alisnya tanda tidak paham.


"yang, aku keluar sebentar" pamit Aga, Zivannya mengangguk dan memberi salam, Aga mencium kening Zivannya.


"langsung pulang" pesan Aga, Zivannya mengangguk. Aga pamit pada semuanya.


"Zivannya udah punya kekasih nih" senyum seseorang, Zivannya mengangguk.


"aduh, beritanya pasti heboh nih. banyak yang patah hati nanti" kata teman yang lain. "nggak harus ngasih toa kemana-mana dong, orang lain punya kekasih juga nggak koar-koar kemana-mana lho. giliran Zi punya seseorang kenapa heboh" kata Rara.


"kan jarang Ra liat Zi Deket sama cowok kecuali Dimas. lha kita tau kalo Dimas naksir berat sama kamu, nggak mungkin kan kita nikung Dimas dengan nembak kamu, untungnya ada Zivannya yang bagai oase dipadang pasir" kata teman yang lain lagi, Rara tertawa ngakak.


"aishh... nggak kuat aku kalo dengar peribahasamu" geleng-geleng kepala Rara. Dimas dan Zivannya hanya menggelengkan kepalanya tidak bisa berkata-kata.


menjelang sore, Zivannya beranjak dari tempat duduknya untuk pulang.


"pulang sekarang Zi" lihat Dimas pelan.


"he em... aku udah gerah dim" angguk Zivannya, Dimas membereskan buku-bukunya.


"kalo gitu aku juga pulang, Rara udah balik dari tadi. kita tinggal berdua nih" kata Dimas. Zivannya menoleh sekeliling perpustakaan dan mengangguk.


"iya, baru nyadar aku pada kemana anak-anak yang lainnya" usap tengkuk Zivannya melangkah keluar perpus. Dimas menunjuk jam yang ada didinding ruangan perpus kampus. Zivannya paham.


"tinggal ambil makanannya, ada yang lainnya nggak" tanya Zivannya menatap pemuda yang kemarin.


"ada, dua orang lagi kemarin dia dirumah singgah sedang sakit" katanya, Zivannya kembali masuk dan menambah dua porsi makan dan menunjuk mereka berdua yang akan mengambilnya, penjual makanan mengerti. Zivannya menyerahkan selembar uang untuk membeli obat. pemuda itu mengucapkan terima kasih dan mendoakan Zivannya yang segera melajukan motornya untuk pulang.


"pulang dek" tanya Stevia, Zivannya melepas helmetnya dan menaruhnya dilocker. "ah iya kak stev, udah pulang juga" tanya Zivannya membalikkan badannya.


"iya, mumpung bisa pulang lebih awal mau rebahan dirumah aja, kok nggak kliatan Bagaskara nya" tanya Stevia.


"masih kerja kak, aku pulang kuliah" senyum Zivannya berjalan kearah box ajaib.


"kalo pulang sore terus kayaknya Bagaskara" tanya Stevia menyeimbangkan langkahnya dengan Zivannya yang mengangguk mengiyakan pertanyaannya.


"oh iya Kaka lupa, kan kemarin kamu bilang Bagaskara sudah punya istri, kok nggak pernah kliatan ya istrinya, apa tinggal dilain kota" tanya Stevia penasaran, Zivannya tersenyum menatap Stevia. Zivannya akan membuka mulutnya untuk menjawab, namun box ajaib sudah sampai dilantai tempat unit apartementnya berada, Zivannya segera keluar dan berbalik menatap Stevia.


"istrinya Bagaskara itu aku kak" senyum Zivannya. Stevia menatap Zivannya tak percaya, untung saja box ajaib segera menutup, Zivannya menghembuskan nafasnya dan berjalan menuju unit apartementnya. menaruh sneakers di rak, mengambil air mineral sambil berjalan ke kamar untuk segera membersihkan badannya yang terasa lengket. tak lama berselang ponsel Zivannya berdering, Zivannya meraihnya dan melihat video call dari suaminya. memposisikan ponsel diatas meja kecil


"hallo by" lihat layar Zivannya.


"kamu udah pulang yang" lihat Aga.


"baru masuk rumah, mau mandi. tadi diperpus ngerjain tugas sama Dimas" jawab Zivannya masuk ke walk closet mengambil t-shirt dan joger pants.


"kamu mau kemana lagi" pandang Aga yang melihat aktifitas Zivannya didalam kamar mereka.


"nggak kemana-mana, mau tidur aja" lepas baju Zivannya dan memasukkan ke laundry box, berjalan ke bathroom tanpa pakaian sehelai pun. kebiasaan baru Zivannya setelah mengenal Aga, Aga terdiam dan menahan nafasnya berat, selang sesaat kemudian terdengar suara air mengalir tanda Zivannya sedang membersihkan dirinya, pintu kamar mandi tidak ditutupnya. Aga sesekali mengecek apakah Zivannya sudah selesai atau belum.


"aku kira udah kamu matikan ponselnya by" lihat Zivannya yang memakai handuk kecil. Aga mengusap mukanya melihat tubuh Zivannya.


"yang, kenapa kamu selalu menggodaku setiap kita jauh gini sih" kata Aga pelan, Zivannya tersadar dan tertawa lebar.

__ADS_1


"masa sih by, perasaan kalo kita video call pas mau tidur deh" kata Zivannya, Aga tertawa.


"ini juga kamu mau tidur kan sayangku" kata Aga, Zivannya memakai pakaiannya dan berbaring diranjang.


"jam berapa pulang by" tanya Zivannya.


"bentar lagi, ini melakukan pengintaian bentar, cuman ngecek aja" jawab Aga, Zivannya tersenyum.


"semangat suamiku, untuk mencari uang yang banyak. kita travelling bersama ke raja Ampat" seru Zivannya, aga tertawa terbahak bahak mendengar seruan istrinya.


"aku kira kamu mau minta ijin ke gunung kalo aku nyari duit banyak" goda Aga.


"kita nikmati berdua, karena kamu separuh nafasku sekarang" gombal Zivannya. Aga tertawa melihat istrinya yang selalu membuatnya tidak bisa berkata-kata, Zivannya menceritakan harinya dikampus hingga tertidur. Aga tersenyum dan mematikan panggilan videonya, menatap orang-orang yang berlalu lalang disekitar warung yang dia tongkrongi.


Aga bergegas melajukan motornya pulang untuk segera memeluk istrinya, dulu ia sering tidak pulang dan memilih tidur di kesatuan karena tidak ada yang menunggunya dirumah, setelah mengenal Zivannya ia selalu menyempatkan untuk bertemu dan memeluknya.


perasaan posesif yang timbul setelah memiliki Zivannya membuat Aga sedikit heran dengan wanita manapun yang dekat dengannya dulu hanya biasa saja, perasaan cemburu tidak pernah ada dalam kamusnya, melihat perempuan lain pun Aga hanya menatapnya sekilas tidak seperti saat dirinya melihat Zivannya.


gadis yang mampu membuatnya jungkir balik untuk mendapatkannya, gadis yang membuatnya harus merasakan sakit hati terlebih dahulu sebelum dia tahu besarnya cinta dan sayangnya pada seorang Zivannya. rambut yang diikat ekor kuda, mata yang kecil, tubuh yang tinggi proporsi namun mampu menembus sampai kerelung hatinya.


Aga telah sampai dibasement, bergegas naik melalui tangga karena lebih cepat menurutnya untuk bertemu dengan tulang bengkoknya, membuka password unitnya. tidak terdengar suara Zivannya, Aga segera membuka pintu kamar dan melihat istrinya tertidur dengan nyenyak, segera membersihkan dirinya dan merebahkan tubuhnya disamping istrinya dan memeluknya erat, mencium tengkuk Zivannya berulang kali hingga akhirnya tertidur.


malam hari, Zivannya mengerjapkan matanya, perutnya berbunyi minta diisi, dilihatnya wajah suaminya yang terlihat lelah dan tampan. Zivannya menelusuri wajah suaminya dengan jari telunjuknya. menggambar siluet wajah Aga dengan jarinya.


Aga tiba-tiba menggigit telunjuk Zivannya yang menjerit pelan terkejut. membuka matanya menatap istrinya yang cantik, menyesap telunjuk Zivannya.


"aku mau makan by, perutku minta diisi" geleng Zivannya, Aga melepas telunjuk Zivannya dari mulutnya.


"mau makan apa, setelah itu aku akan memakanmu" kata Aga pelan, Zivannya menjulurkan lidahnya, aga mencoba menarik dengan mulutnya, Zivannya keburu memasukkan lidahnya lagi.


"becanda aja nih paksu" jauh Zivannya.


"apaan tuh paksu" toleh Aga, "pak suami" jawab Zivannya turun dari ranjang, Aga tersenyum lebar mengikuti Zivannya, bel pintu terdengar berdenting, Aga berjalan melewati Zivannya, membuka pintu.


"taraaa...." tampak Rara. "eehh.... maaf pak komandan, aku kira bu komandan tadi yang buka pintu" cengir Rara, Zivannya melongokkan kepalanya dari belakang badan Aga.


"masuk Ra, anggap rumah sendiri" senyum Zivannya, Rara melihat sekeliling.


"laki banget ini mah" ceplos Rara sesaat setelah masuk, Dimas meletakkan makanan yang dibeli Rara dimeja pantry. Aga meminta Dimas untuk menaruh sofa ditepi dinding agar lebih luas, karena mereka berempat.


"maaf kak ganggu nih" kata Dimas merasa tidak enak.


"kita mau keluar tadinya, karena Zi laper. baru bangun" jawab aga menggeleng. Zivannya dan Rara membawa peralatan makan dan minum.


"untungnya ibu bendahara umum udah datang, jadi nggak mungkin kelaperan" kata Zivannya. Rara tertawa, "bakat jadi ibu pengurus komplek dong" buka bungkusan Rara, Zivannya menghirup bau masakan nasi Padang.


"menggugah selera" senyum Zivannya menatap bungkusan didepannya.


"laper Bu, jadi apapun didepan mata enak" sarkas Rara.


"suamiku didepanku nggak enak kalo dimakan, nggak kenyang tuh" geleng Zivannya spontan. Rara memukul bahu Zivannya pelan.


"enak artian lain Zi... kebiasaan" kesal Rara.


hai para readers...


dukung terus karyaku ini, beri dukungan yang banyak ya, apalah artinya diriku tanpa dukungan readers semua... ea...ea


..ea...


luv...luv...luv sekebon pisang goreng.. terimakasih sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2