
"habis makan kita beneran nonton kan, yang" pandang Langit, Zhivannya menghela nafasnya dalam, "emang kakak beneran mau nonton" topang dagu Zivannya, Langit menganggukkan kepala "kenapa, apa aku terlihat tidak serius mengajakmu nonton" senyum Langit, "wajahmu mengatakannya begitu kak" angguk Zivannya, Langit menahan tawanya karena ada ditempat umum. Zivannya melihat ekspresi Langit yang lucu, "kenapa takut untuk tersenyum" goda Zivannya, Langit menatap kekasihnya lekat. "aku takut membuat perempuan lain terpikat ketampananku jika aku selalu tersenyum ditempat umum" jawab Langit menggoda balik, Zivannya memutar bola matanya jengah menatap Langit yang senyum-senyum menatapnya balik.
pesanan makanan mereka datang, Zivannya dan Langit segera menikmati makanan mereka, seperti biasanya Langit akan melarang Zivannya untuk makan sendiri dengan berbagai alasan yang membuat Zivannya tidak bisa berkata-kata, "berangkat Senin pagi aja ya, yang" suapi Langit menatap kekasihnya, "kenapa nggak Minggu sore aja, kak" tanya Zivannya, "kita habiskan weekend ini hanya berdua" geleng Langit, "lha kan setelah menikah juga akan selalu menghabiskan waktu berdua kak" minum kopi Zivannya, "kurangi minum kopi hitam, yang. ganti dengan coklatku" pandang Langit. Zivannya mengerucutkan bibirnya, menggelengkan kepalanya. "kurang kuat aromanya kak" jawab Zivannya. "lebih banyak air putih jika dirumah" Rajuk Zivannya, Langit menggeleng.
"berapa hari kamu disana, yang" tanya Langit, "mungkin 4 hari. jika boleh itu dengan waktu perjalanan pulang, jika waktunya memungkinkan aku mau langsung menuju kerumah mama untuk bertemu dengan om Hadi" jawab Zivannya, "berarti kita ketemu di bandara untuk bersama-sama menuju kesana" kunyah Langit, "bisa begitu. jika tidak maka kakak bisa menyusul ku disana, nanti akan aku jemput jika kakak memakai kereta atau mode transportasi lainnya" jawab Zivannya. "apa yang paling cepat untuk sampai kesana" tanya Langit, "kereta, tapi biasanya aku naik travel dari daerah tempatku kuliah agar sampai didepan rumah" senyum Zivannya. "apakah dari tempatmu kerumah om Hadi jauh, naik apa selama kita disana" tanya Langit. "hmmmm..... let's see... ada angkot... angkot.... angkot, ada mobil Yuda, ada motor Yuda, ada motor om Hadi" ingat-ingat Zivannya. "apa kamu pernah meminjam kendaraan mereka" pandang Langit, Zivannya tersenyum menggelengkan kepalanya. "aku lebih suka naik kendaraan umum daripada merepotkan orang lain" jawab Zivannya, Langit mengangguk mengerti.
"kalo begitu kita sewa mobil aja selama disana. jadi tidak merepotkan orang lain" kata Langit datar. Zivannya manggut-manggut. "itu juga solusi terbaik, gampang kalo udah sampai sana. jalanpun juga bisa" kata Zivannya, Langit tersenyum. "seringkah dulu jalan" tanya Langit. Zivannya mengangguk, "karena angkot dulu tidak sebanyak sekarang, seringnya pulang jalan kaki karena angkot selalu penuh" jawab Zivannya. "masa yang ngangenin, saat awal-awal sekolah masih semangat begitu kelas 9 berakhir. malas untuk berangkat" tawa Zivannya kecil. Langit tersenyum mengelus rambut Zivannya pelan, mereka mengobrol hingga tidak terasa makanan sudah mereka habiskan.
Zivannya segera membayar pesanan makanan mereka, dilihatnya Langit sedang mengobrol dengan seorang laki-laki dan perempuan yang sedang melintas, Zivannya tersenyum pada kasir setelah selesai melakukan pembayaran, menghampiri Langit yang sudah berada diluar tenant makanan, "yang. kenalin ini teman saat bang Matahari dan aku melakukan misi perdamaian dunia" senyum Langit memeluk pinggang Zivannya. Zivannya tersenyum membalas salam mereka, "aku kira kamu masih asyik sendiri Lang" goda laki-laki itu "sudah ketemu yang cocok. nggak usah nunggu lama" tawa Langit. "pantesan gerak cepat, masih sekolah udah dipepet aja" tawanya, Zivannya tersenyum. "dia sudah selesai kuliah jadi aman" senyum Langit menatap Zivannya. mereka tertawa lebar. "kalian mau kemana, kita mau menonton diatas. apa mau ikut" kata Langit, mereka menggeleng. "kami juga bersama dengan keluarga, Lang. bawa anak-anak kecil tidak nyaman untuk membawa mereka menonton" geleng laki-laki itu, Langit tersenyum mengangguk. mereka kembali berpisah untuk menuju keperluan masing-masing.
Langit memberi penjelasan tentang teman-temannya tadi, dimana bang Matahari juga mengenal mereka, Zivannya mengangguk mengerti. Langit memperlihatkan beberapa film yang akan diputar jam itu, Zivannya menunjuk sebuah film yang bertema misi penyelamatan, Langit mengangguk dan mengajak Zivannya untuk membeli tiket dalam antrian. "hmmm.... begini rasanya jika menghabiskan sabtu malam bersama dengan kekasih" gumam Langit melingkarkan tangannya diperut dan menyandarkan dagu dikepala Zivannya yang berada didepannya mengantri tiket nonton, "kak, mau beli Snack ringan nggak selama nonton" tanya Zivannya, Langit menggesekkan dagunya, "nonton aja, yang. nikmati hanya dengan menonton, lagian kita barusan makan" jawab Langit, Zivannya mengangguk. tiba giliran mereka untuk membeli tiket, Zivannya memberikan pembayaran digital untuk membayar tiket. mereka segera berjalan untuk menuju kedalam bioskop, Langit tidak melepaskan genggaman tangannya, dia tidak peduli orang lain melihatnya sambil senyum-senyum.
__ADS_1
"ngapain menghubungi saat aku nge date, Bas" lihat ponsel Langit memastikan siapa yang menghubunginya, Langit menatap Zhivannya sesaat saat menerima panggilan. Langit meremas jemari Zivannya pelan, Zivannya segera menoleh menatap Langit, menunggu disamping Langit yang sedang serius menerima panggilan.
"ya, baik. Ok.... ketemu disana, aku dengan Zivannya" jawab Langit. Zivannya menatap sekitar melihat sesuatu yang membuatnya tertarik. "yang" toleh Langit. "hmmm..." palingan wajah Zivannya saat asyik menatap poster film. "maaf, kita harus pulang sekarang, kita akan berangkat ke Jawa tengah sekarang" kata Langit melangkah dengan cepat, Zivannya ikut melangkah dengan cepat mengikuti langkah Langit yang lebar dan tergesa-gesa. "kak...." panggil Zivannya namun Langit tidak menyahuti nya, segera bergegas menuruni tangga berjalan yang membawa mereka menuju tempat memarkir kendaraan.
"kak..." ulangi Zivannya memanggil Langit yang diam seribu bahasa. "Satria Langit" panggil Zivannya kembali karena Langit tidak merespon panggilannya. "hmmmm.... " toleh Langit tersadar jika ada Zivannya yang dari tadi tergesa-gesa mengikuti langkahnya yang lebar tanpa tahu apa-apa. "maaf.... yang.... maaf.... aku tidak mendengarmu" berhenti Langit menatap Zhivannya mengelus pipinya. Zivannya menoleh dan mendapati sepasang muda-mudi yang sedang melangkah didekat mereka. Zivannya mendekati dan menawarkan tiket nonton bioskop yang tadi dibelinya. mereka menerimanya dengan senang hati atas tiket nonton yang diberikan Zhivannya. Langit menunggu kekasihnya selesai, "katakan ada apa" silang tangan Zivannya di dadanya. Langit menghela nafasnya panjang, memegang kedua pundak Zivannya. "terjadi insiden. Suprapto terluka dan saat dilarikan kerumah sakit dia sudah tidak bisa diselamatkan" tatap Langit, Zivannya membelalakkan matanya seakan tidak percaya apa yang didengar barusan. seketika tubuh Zivannya hilang keseimbangan dan terhuyung kebelakang, Langit segera memegang dengan erat tubuh kekasihnya agar tidak terjatuh.
"yang" guncang Langit agar Zivannya tersadar. "hmmmm..... " pandang Zivannya linglung, Langit menatap Zhivannya takut. "kita pulang sekarang" tatap Zivannya lekat, Langit mengangguk dan memapah Zivannya yang terlihat shock. Langit membereskan safety riding Zivannya yang terdiam membisu, "yang, ayo naik" kata Langit menyentuh tangan Zivannya, Zivannya mengangguk dan segera naik memeluk erat Langit dari belakang. Langit menoleh menatap kekasihnya dan menyentuh punggung tangan kekasihnya yang melingkar erat diperutnya, segera melesat pergi meninggalkan bangunan pusat keramaian. Langit melajukan motor diatas rata-rata menuju rumah keluarga Triastomo karena jaraknya lebih dekat. Zivannya tersadar saat Langit menyentuh bagian atas kakinya saat sudah sampai digarasi rumah. "kita pakai mobilku aja kak, lebih cepat. siapkan mobilnya, aku akan menyiapkan keperluan kita selama disana" kata Zivannya sebelum masuk kedalam rumah. Langit mengangguk menerima pembagian tugas dari Zivannya.
"lho non dek pulang" terkejut mbok dari dapur melihat Zivannya yang masuk tergesa-gesa. "mbok, tolong siapin jahe panas dan coklat panas ya.. jika ada makanan kecil tolong siapin juga. Zi sama kak Langit akan keluar kota beberapa hari" lalu Zivannya menatap mbok sambil mengeluarkan tas jinjing besar coklat tua, mbok mengangguk dan segera keluar dari kamar.
Langit meraih tengkuk Zivannya dan mencium lembut bibir kekasihnya lama, menyatukan kening keduanya memeluk tubuh Zivannya erat. "siap, kita akan berangkat sekarang. ijin untuk berangkat, siap.... siap..." kata Langit menutup panggilan menghembuskan nafas panjang menatap Zivannya, "yang, maafkan aku jika aku punya salah" pandang Langit. Zivannya menatap Langit, "kita akan saling memaafkan jika melakukan kesalahan. tetap bersamaku kak, kita akan selalu bersama" kata Zivannya, Langit mengangguk mengiyakan perkataan Zivannya kembali memeluk kekasihnya itu erat, mencium kembali bibirnya yang memabukkan. "ijinkan aku menggenggam tanganmu selalu, yang. aku benar-benar menyayangi mu" kata Langit, Zivannya mengangguk mengelus pipi Langit.
__ADS_1
"ganti dengan joger kak, biar selama perjalanan merasa nyaman karena perjalanan yang lumayan. aku akan menyiapkan sepatumu" pandang Zivannya. Langit mengangguk segera ke bathroom kamar untuk membersihkan dirinya dan mengganti pakaiannya, Langit membawa tas jinjing masuk kedalam bagasi mobil, Zivannya menata 3 kotak sepatu kedalam bagasi. mbok datang membawa paperbag berisi permintaan Zivannya, Langit mengangguk dan berpamitan dengan mbok untuk keluar kota sekarang. mbok melepas kepergian dua anak majikannya keluar halaman rumah.
"yang, kita akan bareng dengan Baskara. apa kamu keberatan" tanya Langit, "nope" geleng Zivannya, Langit melakukan panggilan kepada Baskara. "itu dia orangnya" isyarat Langit melihat Baskara sudah menunggu diluar gedung apartement nya, Zivannya mengangguk saat Langit menepikan mobil ditempat yang aman. Baskara berjalan mendekat dengan menenteng tas jinjingnya. Zivannya keluar untuk berpindah tempat dan menyalami Baskara bersama Langit, "kamu yang mengemudi Bas" tukar tempat duduk Langit. "bos.... aku tidak begitu mahir mengendarai mobil ini" geleng Baskara. "haaa..... yang benar aja Bas" pandang Langit tidak percaya. Baskara tersenyum mengangguk, "ini diluar daya beli ku bos" kata Baskara, Langit kembali kebalik kemudi.
"kita switch saat tiba diperbatasan lewat tol lebih menghemat waktu" pandang Zivannya, Langit menatap reflektor mirror. "kamu tidur dulu, yang. nanti akan aku bangunin saat kita switch" kata Langit, "hmmm...." pejam mata Zivannya. "ayah udah dikabarin belum" ingat Zivannya. "abang dan kakakmu juga sudah diberitahu" jawab Langit, Zhivannya menyandarkan tubuhnya kesamping body mobil. Langit melajukan mobil dengan cepat, Zivannya tidak terganggu dengan pembicaraan dan laju mobil yang melaju di atas rata-rata.
"yang" tepuk pipi Langit pelan membangunkan kekasihnya. Zivannya membuka matanya perlahan menyesuaikan dengan keadaan. "masuk rest area kak" tanya Zivannya melihat sekitar. "hmmm..... "senyum Langit membantu Zivannya untuk keluar, Zivannya meregangkan tubuhnya yang letih. "aaahhh.... jahe ku kak" pandang Zivannya ingat pemberian mbok. "mau ke toilet dulu nggak, yang" usap kepala Langit, Zivannya mengangguk dan mengikuti langkah Langit, Baskara membeli beberapa minuman dan makanan kecil sambil menunggu mereka berdua. "jam berapa om" pandangan Zivannya, "jam 11 malam" lihat Baskara di jam tangannya, Zivannya meraih tempat minum jahe panasnya yang dikeluarkan Langit dari dalam mobil. "aku lupa tadi mbok menyiapkan bekal dan kak Langit tidak bilang jika om Bas ikut, baru dijalan bilangnya. jadi hanya menyiapkan dua minuman" pandang Zivannya, Baskara tersenyum mengangguk. "nggak apa-apa Zi, santai aja. kita tadi terburu-buru menyiapkan segala sesuatunya" kata Baskara. "he em, dia tadi sempet shock saat diberitahu saat di mall" pandang Langit. Zivannya terdiam sesaat. "kita bergerak lagi kak, ngejar waktu" pandang Zivannya menenteng tempat minumnya berjalan kedalam mobil, kedua laki-laki itu saling berpandangan melihat tingkah Zivannya, melangkah menyusul.
"udah siap kak" toleh Zivannya melihat mereka berdua. "hmmm..." angguk Langit, "ndan, kok aku nggak yakin ya" tanya Baskara, Zivannya menoleh kebelakang tersenyum smirk, memainkan sudut alisnya memberikan tatapan mengintimidasi Baskara. "ya Tuhan.... selamatkan kami dalam perjalanan ini" tengadah Baskara keatas. Zivannya tersenyum lebar mendengar doa Baskara dan mengamininya segera, Zivannya segera melajukan mobil sesuai kecepatan yang diperbolehkan di jalan tol. "kak, alamat lengkapnya, kita akan memasuki Jawa tengah" tatap Zhivannya kedepan tanpa menoleh, Langit dan Baskara segera mencari peta digital lokasi rumah keluarga Suprapto, "ini jam 3 pagi, kita langsung kesana dulu mengecek semua nya atau mau nyari penginapan dulu" toleh Zivannya menepikan mobil. "kita kesana untuk melihat persiapan dan jika tidak jauh dari situ ada penginapan maka akan kita kesana" kata Langit, Zivannya mengangguk meminum jahenya yang masih dalam keadaan hangat. "let's see, this area not far from here" lihat Zivannya di map digital Langit dan melihat sekitar yang sepi dan sedikit gelap. seseorang mengetuk kaca mobil pelan, Zivannya menoleh kaget sesaat, menekan tombol kaca Baskara, "ada yang bisa dibantu mas" tanyanya sopan. "iya mas, kita mau kerumah Suprapto. apa tahu rumahnya" angguk Baskara sopan. "yang tentara kan, mau dibawa ke peristirahatan terakhir hari ini" tanya nya mengangguk. "iya, mas. benar, kami temannya mau kesana" senyum Baskara menganggukkan kepalanya. "kalo begitu mari saya antar" kata nya lagi. Baskara dan Langit segera keluar mengikuti langkah pemuda itu kerumah Suprapto yang ternyata tidak jauh dari tempat mereka berhenti, Zivannya dengan pelan mengendarai mobilnya mengikuti langkah mereka kesana.
hai..... hai..... hai..... all readers, terimakasih banyak telah berkunjung ke karyaku, terimakasih banyak atas dukungannya terhadap karyaku ini.
__ADS_1
luv..... luv.... luv..... U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak atas semua nya..
stay healthy all