
Langit menghentikan laju kendaraannya disebuah kedai kopi kecil. Zivannya turun dan melepas helmetnya, "kita ngopi dulu, yang" pandang Langit, Zivannya meregangkan tubuhnya dengan cepat. "aku minta kopi susu aja, by" pandang Zivannya. Langit mengangguk dan memesan pesanan istrinya. dikedai itu ada lima orang bapak-bapak yang sedang berbincang sambil meminum kopinya "baru pulang dinas mas" senyum bapak-bapak duduk tidak jauh dari mereka, "siap pak" senyum Langit mengangguk "dinas dimana" tanya bapak-bapak yang lain sambil merokok. "Jakarta pak, ini dari Surabaya mau ke Malang menengok ibu dirumah sendirian. karena dinas jadi nggak bisa nemenin ibu setiap saat pak" angguk Langit.
ibu penjaga kedai segera memberikan pesanan mereka. "makasih bu" senyum Zivannya mengambil cangkir berisi kopi susu panas pesanannya "pesen mie kuah juga, by" pandang Zivannya saat ibu itu kembali dengan membawakan pesanan Langit, "buat kamu, yang" angguk Langit, Zivannya tersenyum lebar segera menyeruput kuah panas mie yang menggugah selera sambil mendengarkan perbincangan Langit dan beberapa bapak-bapak yang sedang seru-serunya. "by, nggak habis. mienya double" sodor Zivannya, Langit mengangguk segera mengambil mangkuk mie nya.
"kalo masih pengantin baru apa-apa terasa indah" tawa bapak yang satu, Langit tersenyum mengangguk, "doakan bisa sampai seperti bapak dan ibu yang selalu rukun apapun keadaannya" angguk Langit. "iya, nak. semoga kalian selalu bersama dalam keadaan apapun. karena hakekat pernikahan adalah saling menjaga, saling merasa dan saling mengayomi satu sama lain" angguk bapak melihat Langit dan Zivannya. Langit mengangguk mengerti. "tadinya saya kira baru pulang sama adeknya" kata bapak yang lain. Langit tertawa, "iya pak, adek yang ketemu saat sudah sama-sama besar karena pernikahan" angguk Langit.
"lha mbaknya seperti anak yang masih sekolah" tawa bapak itu. Zivannya tersenyum mengelus kaki Langit bagian atas. "siap pak, banyak yang bilang kalo dia masih anak sekolah. komandan tertinggi saya juga bilang begitu kemarin saat ketemu" manggut-manggut Langit menghabiskan mie istrinya. Zivannya segera menyerahkan air mineral botol untuk diminum suaminya.
"udah lama nikahnya" tanya bapak itu, "belum pak, belum ada dua minggu" jawab Langit, mereka tertawa. "waaahhh...... berarti baru menggebu-gebu inih....." tawa bapaknya. "maunya langsung gass..... pak nggak dikasih rem. tapi ini malah istri baru dapat jatah. yaa..... terpaksa harus tiarap dulu pak" senyum Langit. mereka yang mendengarnya tertawa terbahak-bahak. Zivannya hanya bisa menutup mulutnya bertopang dagu menutupi rasa malunya.
"bapak rasa kalian masih terlalu muda untuk menikah" tanya bapak yang lain. "saya 25 dan dia 22 pak" geleng Langit. "masih muda itu, biasanya sekarang diumur 25 keatas baru memikirkan untuk menikah karena lebih senang untuk menghabiskan masa muda sampai puas" kata bapak. "sudah puas pak jadi perjaka, takutnya dia malah udah memilih laki-laki lain yang banyak ngantri" senyum Langit, mereka tertawa terbahak bahak. "lha mas nya pasti banyak yang pada ngantri juga, orang ganteng banget gitu" kata ibu penjaga. Langit dan Zivannya saling pandang dan tersenyum.
"sayangnya ketampanan saya nggak ngaruh bu buat istri saya pada awal nya, kedua kakak laki-lakinya juga nggak kalah dengan saya" senyum Langit mengusap kepala Zivannya. "walah..... apa keluarganya juga abdi negara nak" tanya ibu itu, "kebetulan yang mengenalkan saya kakak keduanya yang satu kesatuan dengan saya, kakak pertamanya di dinas di Surabaya" angguk Langit. "woalah..... begitu rupanya" tawa ibu itu manggut-manggut. "keluarga abdi negara semuanya tho...." senyum bapak yang lain. "kebetulan pak, karena yang bukan keluarga abdi negara belum pas dihati, ketemu dia pertama kali merasa hati saya langsung tenang, belum tahu juga kalau dia keluarga abdi negara" angguk Langit.
"lha tadi katanya dikenalkan oleh kakak laki-laki nomer dua" tanya bapak. "siap pak, saya sudah bertemu tidak sengaja saat dibandara waktu sama-sama akan menuju Jogja pak" angguk Langit. "lha kan satu kesatuan dengan kakaknya" tanya bapak lagi. "siap pak, itu setelah saya pindah tugas ke Jakarta dan bertemu dengan kakak laki-laki nya, saat saya dan kakaknya ada tugas ke Jogja berdua baru saya dikenalin ke istri saya ini karena dia kuliah disana pak" senyum Langit.
"woalah begitu rupanya, memang benar ya kalo sudah jodoh nggak akan kemana" senyum bapak itu, Langit tersenyum mengangguk. "lama juga pak baru ketemu dia lagi lebih dari tiga bulan dari tidak sengaja bertemu itu sampai saya bertemu saat di Jogja bersama kakaknya, jadi saya tidak berharap lebih selama itu. kakaknya juga tidak tahu kalau kami tidak sengaja bertemu sebelumnya, anaknya suka ngilang pak" tawa Langit, mereka tertawa.
__ADS_1
"mbaknya pasti langsung menerima" tanya bapak yang lain. Langit dan Zivannya tersenyum lebar saling berpandangan. "tidak pak, saya menunggu dia lebih dari setahun untuk membuka pintu hatinya untuk saya. sampai sekarangpun jika ditanya maka dia akan memilih untuk sendiri dan menjauh dari saya" tatap Langit mengusap kepala istrinya kembali. "weleh...... saya kira langsung pada cocok dan suka, sama-sama ganteng dan cantik, pasti anaknya besuk juga sama dengan ayah dan ibunya" kata ibu, Langit tertawa mengamini doa ibunya. "dia yang susah bu, kalo saya maunya bat..... bet.....sat..... set....." kata Langit, mereka tertawa kembali.
"berapa semuanya bu" tanya Zivannya beranjak dari duduknya, ibu itu menghitung semua pesanan mereka berdua. "sekalian sama punya bapak-bapak yang lain bu" senyum Zivannya. "nggak usah nak, malah ngrepotin" geleng salah seorang bapak. "nggak papa pak, masih bisa kalo buat ngopi bareng mah" senyum Zivannya. ibu itu tertawa sambil menghitung pesanan bapak-bapak itu sebelumnya. Zivannya memberikan uang kepada ibu penjaga kedai. Langit segera beranjak dari duduknya seraya pamitan kepada bapak-bapak yang lain.
Zivannya memakai helmetnya dibantu Langit "ready, yang" toleh Langit, Zivannya memberi tanda Ok dengan jemarinya. motor segera melaju dengan cepat menembus sore yang menenangkan jiwa, Zivannya mempererat pelukannya membuat Langit tersenyum dan melajukan motornya lebih cepat. "by, main bola tuh nonton bentar" kata Zivannya menepuk bahu suaminya. Langit memperlambat laju motor dan menepi. "jika kamu punya anak kemungkinan suka main bola, yang" turun Langit. Zivannya tersenyum melepas helmetnya dan duduk dipinggir lapangan bersama orang-orang yang telah lebih dulu datang.
"bentar yang, ada panggilan dari Baskara" lihat Langit, Zivannya mengangguk memperhatikan permainan bola, "Selasa ada pertemuan dengan jenderal, yang. jadi kita harus pulang setidaknya senin malam atau selasa pagi sekalian" pandang Langit, "kakak atau harus denganku" tanya Zivannya melihat suaminya. "berdua lah, yang. ada panglima juga, kita mendampingi komandan juga ibu" kata Langit. Zivannya menghela nafasnya panjang. "semangat, yang" acak rambut Langit. Zivannya menatap kembali mereka yang sedang bermain bola.
"ayo, lanjut perjalanan" pandang Langit. baru setengah jam disini" toleh Zivannya, Langit beranjak dari tempatnya, mau tidak mau Zivannya segera berdiri dan mengikuti suaminya. "kelamaan lihat laki-laki lain kamu, yang" pakaikan helmet Langit. "aissshhh..... kebangetan ahhh.... kak, liat permainannya aja. kenapa sampai lihat wajahnya" cemberut Zivannya. "lha, beneran" kata Zivannya, Langit meraih jemari Zivannya melingkarkan dipinggang nya. "pegangan, yang. aku nggak mau kamu kenapa-kenapa" tutup visor helmet Langit segera melajukan motor lebih cepat.
pagi hari keadaan sudah ramai oleh orang-orang yang ada, Zivannya mendengar keramaian diluar kamar, suara tawa beberapa orang yang sedang bekerja terdengar membahana. ia melihat waktu yang ada diponselnya, baru jam 6 pagi, Zivannya menaikan cover bednya hingga seluruh tubuhnya tidak terlihat. sebuah tangan melingkar menempel sempurna memeluknya dari belakang. "hhhmmmm...... tidur lagi, yang. biarin aja mereka, ibu juga tahu jika kita kurang tidur" kata Langit, Zivannya memukul punggung tangan Langit pelan, "tapi kenapa harus gini tangannya kak" erang Zivannya. "kenapa, hanya aku yang boleh" mainkan Langit. Zivannya menjauhkan tangan Langit dari bagian benda kenyalnya. "Satria Langit" kesal Zivannya, Langit menutup mulut Zivannya dengan tangan kanannya. "ishhh... jangan keras-keras, yang. kalau beneran nggak papa. lha ini nggak bisa ngapa-ngapain" kata Langit. Zivannya tertawa lebar. "udah ah.... lepas nggak enak sama yang lain" kata Zivannya, Langit mengeratkan pelukannya.
"kenapa harus disaat gini sih, yang. dapat periodenya bikin kepala sakit tau nggak" desah Langit, Zivannya mengelus rambut suaminya. "jangan begitu, itu karena kodrat perempuan agar kami bisa melahirkan. bersyukur jika masih bisa dapat periode dengan teratur. maka kemungkinan melahirkan akan besar" senyum Zivannya, Langit menghela nafasnya berat. "udah ah kak, nggak enak nih badan, banyak darahnya yang keluar" kata Zivannya duduk, Langit meremas benda candunya. "habis kamu, yang. jika selesai nanti" geram Langit, Zivannya tertawa kecil. "yang rugi kamu juga kak, nggak akan bisa ngapa-ngapain lagi jika aku kamu habisi" julurkan lidah Zivannya keluar kamar.
Langit tertawa mendengar perkataan istrinya yang terkesan membuatnya terlihat membuat istrinya tidak nyaman. Langit duduk disamping ibunya setelah selesai membersihkan dirinya. "Zi, mana bu" tanya Langit. "kayaknya berada didepan. sedang menerima panggilan dari seseorang" kata ibu Danti. Langit melihat kearah pintu depan yang terbuka lebar, dilihatnya Zivannya sedang mondar-mandir sesekali mengangguk menerima panggilan di ponselnya segera ia beranjak untuk lebih dekat dengan istrinya dengan menyapa beberapa orang yang dijumpainya dijalan.
ia mengusap kepala istrinya yang segera menoleh tersenyum melihat suaminya yang sudah segar. "bunda" pandang Zivannya. Langit mengangguk meminum kopi hitam Zivannya yang ada di meja kecil. Zivannya menutup ponselnya segera, besuk pagi-pagi mereka akan sampai disini dan langsung kesini dulu" kata Zivannya, Langit mengangguk. beberapa tetangga yang melihat mereka tersenyum simpul. Zivannya tersenyum menundukkan kepalanya seraya menjauhkan tubuh Langit yang menempel terus padanya.
__ADS_1
Langit mengangguk menyapa para tetangga yang datang silih berganti menemui ibunya yang berada didalam. Zivannya segera meninggalkan Langit dan menyapa para tetangga yang menemui ibu Danti. Langit menggelengkan kepalanya melihat kesibukan istrinya yang lebih dari dirinya saat bertugas. "ya... Tuhan. istriku itu terlalu ramah sama orang" hembus nafas Langit, Zivannya menjulurkan lidahnya melihat Langit yang sedang berbicara sendirian.
tiba-tiba sebuah motor memasuki halaman, seorang gadis turun dan melihat Langit, "selamat Lang, semoga bahagia" senyum Sari menyalami Langit. "terimakasih Sari, semoga kamu juga segera menemukan laki-laki yang terbaik untuk mu" angguk Langit. "tentu, aku sedang berusaha mencarinya" senyum Sari lebar. Langit mengangguk, "ibu sedang ada didalam bersama istriku. ayo, kita kedalam untuk menemui mereka" kata Langit, sari mengangguk melangkah mengikuti Langit untuk kedalam. Zivannya berada disamping ibu Danti menemui beberapa tetangga yang datang berkunjung. Langit terlihat memasuki rumah bersama Sari, mereka menoleh seketika.
"ibu, yang.... Sari datang untuk bertemu dengan kalian, kebetulan aku tadi sedang berada di luar dan kamu meninggalkan ku sendirian" kata Langit mengusap pipi istrinya. beberapa ibu tetangga itu tersenyum melihat Langit memperlakukan istrinya yang sangat romantis. Sari melihatnya dalam diam, serasa ada yang mengiris sembilu di hatinya. Sari memberi salam kepada ibu Danti dan Zivannya setelahnya. "apa kalian sendirian" tanya Sari tidak melihat keluarga Zivannya dirumah Langit. "iya, tadi malam kami dari Surabaya kesini. keluargaku besuk pagi baru perjalanan kesini karena menunggu abang dan kakakku dari luar Jawa mereka belum lama dinas disana" senyum Zivannya. Sari mengangguk. "apakah yang dulu ikut kalian makan soto" tanya Sari, "aaahhhh..... iya.... benar, aku lupa jika kita pernah bertemu sebelumnya" angguk-angguk Zivannya teringat, Sari tersenyum.
"ayo diminum ibu-ibu, nak Sari. ada makanan juga" senyum ibu Danti mempersilahkan ibu-ibu untuk menikmati yang dihidangkan oleh dua orang tetangga yang membantu, Zivannya tersenyum melihat ibu-ibu itu. "asalnya dari mana istrinya Langit bu" tanya seorang ibu yang datang. "dari Jakarta bu, karena kedua orangtuanya menetap disana, tapi anak saya ini sekolah di Jogja jadi jarang pulang" senyum ibu. "ketemu dengan mas Langit saat pulang di Jakarta berarti bu" tanya yang lain. "malah di Jogja saat Langit sedang ada urusan dinas ke Jogja ternyata tidak disangka abangnya Zivannya ini satu kesatuan dengan Langit setelah Langit pulang dari tugas di luar selama dua tahun" senyum ibu Danti. "dia anak bungsu ibu-ibu. jadi kedua kakak laki-lakinya terlalu ketat dalam menjaganya" kata ibu Danti tersenyum.
"baru ini melihat istrinya mas Langit, cantik banget, imut, serasi banget" senyum ibu yang lain. Zivannya mengangguk tersenyum malu. "udah jodohnya bu, walau jauh dan nggak saling tahu sebelumnya kalau Tuhan merestui dan jadi jodohnya akhirnya ketemu juga kan bu" senyum ibu Danti, mereka tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "yang" panggil Langit, Zivannya menoleh seketika. "makan dulu" isyarat Langit, Zivannya mengangguk dan mengundurkan diri sebentar mendekati Langit.
"nggak gini juga kak. malu kan diliat ibu-ibu lainnya" pandang Zivannya, Langit menggeleng dan membawa Zivannya duduk. "malu kalo aku memanggil istri orang lain. kenapa harus malu kalo menyuapi istri sendiri" jawab Langit makan bergantian dengan menyuapi Zivannya. "kan bisa kalo nggak banyak orang kak" pandang Zivannya. "tidak" jawab Langit tegas, Zivannya terdiam mendengar ucapan suaminya yang sudah tidak bisa diganggu gugat lagi jika begitu. "sukanya maksa" majukan bibir Zivannya. "kamu kalo nggak dipaksa nggak akan nurut, yang. terkadang kamu terlalu menjaga perasaan orang lain dari pada perasaanmu sendiri" suapi Langit, Zivannya terdiam mengunyah makanannya. seseorang membawakan teh panas kehadapan mereka. "makasih bu, malah ngrepotin. biar saya mengambilnya nanti" senyum Zivannya merasa tidak enak. ibu itu tersenyum melihat mereka berdua dan segera kembali ke belakang.
hai..... hai..... hai..... all readers terimakasih telah berkunjung ke karyaku. terimakasih banyak telah mendukung karyaku ini.
luv...... luv..... luv...... U all readers sekebon pisang goreng terimakasih banyak semuanya
stay healthy all.
__ADS_1