Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 103


__ADS_3

Langit memarkir mobil, membantu Zivannya membawa ranselnya. Zivannya meraih paperbag yang berisi bekalnya. "kak, itu teman-teman yang tadi ke rumah" lihat Zivannya mengisyaratkan dengan dagunya, Langit menoleh. "berarti aku hanya sampai sini, yang" kata Langit di gate keberangkatan, Zivannya mengangguk. Langit menurunkan ransel Zivannya.


Zivannya meraih kotak berisi roti bekalnya memakannya dengan lahap dan cepat. meminum coklat panasnya. "nggak habis" serahkan Zivannya. Langit mengangguk, meminumnya dan kembali memasukkannya kedalam paperbag. Langit mengelap bibir Zivannya lembut. "aku berangkat kak, akan ngasih kabar kalo ada sinyal" kata Zhivannya melepas topi mencium tangan Langit yang mencium kening Zivannya dan kedua pipinya.


"hati-hati dijalan, yang. aku menunggu kabarmu kapanpun" elus pipi Langit tersenyum. Zivannya memakai topi dan mengangguk mengangkat ranselnya kepunggung, melambaikan tangan dan masuk untuk check in. Langit melihat Zhivannya sampai tidak terlihat lagi. melangkahkan kaki kembali menuju mobil sambil memegang erat paperbag bekal Zivannya menuju kesatuan.


Zivannya melambaikan tangan kearah gerombolan anak muda yang juga melambaikan tangannya. "udah sampai Zi" sapa Aji memperkenalkan ke empat temannya yang lain. Zivannya tersenyum menyalami ke empat teman Aji. "diantar kakakmu" tanya Aji, Zivannya duduk mengangguk melepas ransel gunungnya ditaruh disamping.


Zivannya membuka ponselnya, "kebanyakan udah sampai di Jatim nih" perlihatkan Zivannya. Aji mendekat dan melihat ponsel Zivannya. "anak kampus yang lain udah mau berangkat menuju kesana juga" kata teman Aji, Sean. "berarti kita masih bisa bareng yang lain ketemu di sana dan berangkat ke base awal" senyum Zivannya.


"apa kamu sering mendaki Zi" tanya Sean, Zivannya menggeleng. "tidak hanya kalo ada teman yang mengajak saja. hanya beberapa kali ikut" jawab Zivannya. "taon berapa ngampus" tanya Aji. Zivannya tersenyum lebar. "aku udah lulus mau setahun ini" jawab Zivannya. "becanda... serius Zi... aku kira kamu masih taon awal" kaget Sean, Zivannya mengangguk.


"makanya harus diantar kemana-mana sama kakak. maklum anak bungsu. harus laporan" tawa Zivannya pelan. "takut kalo kamu ilang sama cowok" celutuk yang lain. mereka tertawa, "takut kalo aku nyulik cowok dibawa pulang tepatnya, karena akan diajak olahraga sama kedua kakak dan ayahku" senyum Zivannya meralat ucapannya. "apa semuanya abdi negara" tanya Aji. Zivannya mengangguk tersenyum sambil menulis chat.


"hallo bund" salam Zivannya.


"iya, ini Zivannya nunggu pesawat. kak Langit yang ngantar trus balik lagi ke kesatuan" jawab Zivannya.


"pulang kamis, Zi pulang minggu malam mungkin, liat keadaan nanti bund" angguk Zivannya.


"salam buat ayah, iya, bunda dan ayah juga hati-hati" angguk Zivannya mematikan panggilan telepon dari bundanya.


"aku sedang chat dengan teman yang lain" kata Zivannya. "kampusmu udah pada berangkat kan kemarin" tanya Aji.


"he em, mereka naik kereta. kemarin sebenernya bareng mereka dari sana, disuruh pulang dulu dan harus berangkat dari rumah" hembus nafas Zivannya. "sabar, anak gadis memang lebih protektif njagainnya" kata Sean, Zivannya tertawa pelan. "apa kamu juga seorang kakak" selidik Zivannya. Sean menganggukkan kepalanya. "yang sabar ya jadi kakak" goda Zivannya, Sean tertawa ngakak.


pengumuman pesawat yang akan mereka naiki sudah memanggil, mereka bergegas menaikkan ransel kedalam bagasi dan berjalan menuju lorong.

__ADS_1


"ini kali pertama naik gunung pake pesawat" gumam Zivannya memandang awan yang berarak dan bergerombol seperti sekumpulan bocah yang sedang asik bermain, sebagian berada disebelah sana dan sebagian berada disebelah sini. bermain dengan riang dan gembira tanpa beban. Zivannya mengingat masa kecilnya yang hidup dalam kesederhanaan. mereka bertiga, papa, mama dan dirinya yang penuh dengan tawa dan canda. tidak terasa airmata jatuh menetes, Zivannya buru-buru mengusapnya memejamkan mata selama perjalanan yang tidak sebentar.


tiba di bandara Surabaya. mereka segera berkumpul setelah mengambil ransel dari bagasi. "kita langsung kesana aja" kata Aji, Zivannya mengangguk,


"hallo kak" salam Zivannya mendengar panggilan dari ponselnya.


"Arka sudah menjemputmu dek. dia yang akan mengantarmu" kata Dirgantara, Zivannya menepuk bahu Aji pelan memberi isyarat untuk menunggu sebentar.


"makasih kak, aku cari Arka sekarang" kata Zivannya.


"hati-hati dek, jaga diri. pendakian kali ini panjang, jangan memaksa diri" pesan Dirgantara.


"siap ndan" tawa Zivannya. Dirgantara tertawa menutup panggilannya.


"kakakku meminta temannya menjemput kita di bandara dan akan mengantar kita sampai titik kumpul" pandang Zivannya. "wahhh.... bener-bener kamu Zi anak gadis bungsu yang disayang" geleng kepala Sean. Zivannya tertawa kecil, melangkah keluar mencari keberadaan Arka.


Arka melambaikan tangannya melihat ke arah Zivannya yang tersenyum. mereka berenam mendekat ke arah Arka.


"kenalin, ini teman-teman dari kampus x Jakarta yang ikutan naik dan kebetulan pesawat kita sama" kata Zivannya. Arka mengangguk tersenyum menyalami mereka satu persatu.


"baiklah, mari kita berangkat" pandang Arka lekat. Zivannya tersenyum mengangguk mengikuti langkah Arka menuju mobil Dirgantara. "kak Dirgantara bener-bener deh, nyusahin kamu aja ka, buat jemput segala. jadi nggak enak hati aku nya, kan bisa pake bis kesananya" geleng kepala Zivannya nggak enak hati.


Arka tertawa, "justru nanti dia tambah kena omelan ibu negara dan wejangan ibu jenderal jika berani mengabaikanmu" senyum Arka, Zivannya tersenyum lebar. "ah iya, lupa aku kalo ada kak Valerie yang siap menerkam" tepuk kening Zivannya, Arka tertawa lebar.


"gimana kabarmu Zi, apakah baik-baik saja" tanya Arka, Zivannya mengangguk "seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja" kata Zivannya, "kalo fisik sih oke, entah kalo hati" kata Arka pelan. Zivannya tertawa kecil, "nggak ada masalah dengan keduanya, masih relatif aman terkendali" jawab Zivannya.


mereka sudah sampai dimobil dan segera masuk. "kita langsung berangkat atau cari makan dulu" tanya Arka. "berangkat aja Zi, nanti kita makan bareng disana agar tidak terlalu malam sampai sana" kata Sean, Zivannya dan Arka mengangguk saling berpandangan.

__ADS_1


"diantar sapa tadi Zi atau bareng dengan mereka semua" tanya Arka. "diantar kak Langit" jawab Zivannya, Arka mengangguk pelan. "apa dia masih terus maju" toleh Arka, Zivannya mengangguk. Arka tersenyum melihat anggukan Zivannya, dia memilih untuk menjadi teman baik Zivannya karena ibunya menginginkan dirinya menikahi seorang gadis dan bukan dengan status yang melekat di diri Zivannya, Arka sudah meminta ijin untuk mengejar Zivannya tapi ibunya tidak memberi restu baginya karena status Zivannya yang pernah menikah dengan putra jenderal Triastomo dan sekarang menjadi putri keluarga itu, Arka merasa tidak berdaya dan meminta maaf kepada Dirgantara yang memberinya kesempatan untuk mengejar Zhivannya.


untungnya, Zivannya adalah seorang gadis yang selalu bersikap bersahabat sehingga menganggap hal itu biasa. Zivannya mengerti akan alasan itu dan malah menganggapnya dan memperlakukan nya sebagai seorang teman baik hingga sekarang. belakangan dia juga tahu bahwa ternyata tidak hanya dirinya atau Langit saja yang sebenarnya mengejar Zivannya selama rentang waktu itu, hanya karena takdir yang membuat Zivannya harus berpisah selamanya dengan putera bungsu keluarga Triastomo hingga membuat Zivannya memiliki status barunya.


Arka menghela nafasnya panjang mengingat penolakan ibunya yang belum pernah melihat Zivannya dan memutuskan harus mundur. padahal itu juga bukan kemauan Zivannya untuk menjadi seseorang dengan status baru seperti itu.


"apa dia tau kalo aku menjemputmu Zi" tanya Arka, Zivannya tersenyum memperlihatkan chatnya dengan Langit yang mengatakan untuk Arka hati-hati membawa mobilnya, Arka tertawa pelan mengangguk.


karena menggunakan kendaraan pribadi perjalanan hanya memakan waktu dua jam lebih untuk sampai di titik kumpul pendakian. Zivannya segera keluar dari kendaraan untuk menghirup udara segar dan melakukan peregangan setelah duduk lama selama penerbangan dilanjutkan duduk di dalam kendaraan.


Aji dan yang lain menyampaikan terimakasih kepada Arka yang mengantar mereka sampai titik kumpul, "Zi, kita kesana dulu" tunjuk Aji ke para pendaki yang lain, Zivannya tersenyum mengangguk. "baik. nanti aku kesana" angguk Zivannya. Aji mengangguk berjalan menjauh dari Zivannya dan Arka.


"makasih banyak, Ka. aku tidak tahu harus ngomong apa" senyum Zivannya. Arka tertawa, "tidak masalah Zi, aku senang membantu kak Dirgantara dan kamu" geleng Arka. Zivannya mengangguk. "kalo begitu kita ketemu lagi nanti, hati-hati dijalan, kali ini kamu kembali sendirian" pandang Zivannya menjabat tangan Arka, Arka tersenyum menerima uluran tangan Zivannya.


"hati-hati juga selama pendakian Zi, aku menunggu kabar darimu lagi" jawab Arka, Zivannya tersenyum mengangguk dan melambaikan tangan untuk bergabung dengan yang lain. Arka segera melajukan mobilnya pergi meninggalkan Zivannya dan teman-temannya sesama pendaki kembali ke kesatuannya.


Zivannya berkenalan dengan teman-teman yang ikut pendakian kali ini selain teman yang sudah biasa bertemu dengannya, Soni teman baik mendakinya tersenyum melihat kedatangan Zhivannya. total pendaki yang ikut kalo ini adalah 16 orang pendaki dengan 4 perempuan didalamnya termasuk Zivannya, dengan rentang usia yang beragam. mereka saling berkoordinasi dan mengenal lebih dalam satu dengan yang lainnya agar terjalin komunikasi dan pertemanan yang baik diantara sesama mereka. mereka menginap didekat base awal bersama, semua hal yang berkaitan dengan pendakian mereka bagi bersama, sama rasa sama rata.


Zivannya tidur tepat waktu sebelum pendakian dimulai besuk setelah kewajiban Jum'at bagi laki-laki. Zivannya, Dita, Silvia dan Santi adalah empat perempuan yang ikut pendakian kali ini. Dita ikut bersama kekasih nya yang sesama pencinta alam masih kuliah dari Jawa timur, sedangkan Silvia sudah menikah dan bersama suaminya yang juga sama-sama pencinta alam. sedangkan Santi masih sendiri seperti Zivannya yang memang menyukai alam.


hari keberangkatan untuk mendaki telah tiba, mereka bersiap-siap untuk melakukan pendakian, perjalanan panjang akan segera dimulai. mereka berdoa bersama, pengecekan peralatan yang dibawa dan diberi pengarahan sebelum mulai berjalan.


Zivannya bersama yang lain bergerak pelan setelah kewajiban Jum'at selesai dilakukan. mereka membagi menjadi dua kelompok, agar dengan mudah mengecek teman satu teamnya dan saling mengingatkan dengan team satunya lagi. perjalanan beraspal yang dilalui diawal dengan melihat pemandangan perkebunan warga yang terlihat asri, hingga akhirnya tiba di kaki gunung Semeru, perjalanan masih terbilang cukup menguras energi ketika mulai memasuki hutan menggantikan keindahan perkebunan warga dan mulai terasa dingin, namun hal itu terbayar dengan melihat keindahan Ranu Kumbolo yang tidak ada duanya, keindahan danau yang membuat kita terpana dan terkesima. team Zivannya bermalam disana. karena hari juga sudah malam. puluhan tenda telah didirikan sebelum mereka, karena memang keindahan Ranu Kumbolo yang memanjakan mata. pagi hari saat kabut mulai menghilang pemandangan danau Ranu Kumbolo terlihat mengagumkan, walau hawa dingin yang menusuk kulit tapi semuanya terbayar dengan keindahan sang pencipta.


tengah hari mereka kembali melakukan perjalanan yang lebih panjang lagi, trek yang semakin menanjak dengan jurang yang terkadang menemani langkah kaki mereka tidak menyurutkan mereka untuk terus melangkah. perjalanan sesekali berhenti untuk mengambil nafas dan memberi waktu istirahat bagi teman-teman yang merasa lelah. berbagi segala hal adalah yang membuat Zivannya merasa nyaman saat naik, semua orang memiliki empati terhadap satu sama lain.


hai.... hai.... hai.... all readers, dukung terus karyaku ya. terimakasih banyak atas dukungannya.

__ADS_1


luv....luv....luv... U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak atas dukungannya selama ini.


stay healthy all... terimakasih banyak semua.


__ADS_2