
Zivannya tergelak saat pipi Raka menggembung berisi makanan tapi ikut mengobrol dengan mereka.
"adik Riki nggak ikut kak" pandang Zivannya, "mama nggak boleh. nanti kesepian" geleng Raka. "berarti pulang nanti onty langsung ke Surabaya dong nganter kakak" senyum Zivannya, Raka mengangguk senang,
"onty pulang 3 hari lagi bareng om Dimas sama om yang lain. kakak sama Uti sama Kakung dulu ya, onty Mentari dan om matahari juga nemenin kakak main" kata Zivannya, Raka menggeleng. "onty bawain apa kalo pulang dari hutan" kata Zivannya. "emang ada apa dihutan" tanya Raka, Zivannya berpikir sejenak. "ada buah-buahan yang kakak belum nyobain" kata Zivannya, Raka mengangguk. Langit mengusap pinggang Zivannya melihat Raka yang menurut pada Zivannya. Zivannya kembali menghampiri kasir dan membayar makanan yang keluarganya pesan.
"dek, besuk abang langsung pulang" kata matahari.
"kenapa bang, bukannya cuti, aku kira cuti" kerut kening Zivannya. "noh, nanya sama komandanku yang disebelahmu. kenapa nggak ngijinin anak buahnya cuti tiga bulan ini nemenin dia yang kesepian" lirik matahari. Zivannya menoleh menatap Langit yang terlihat datar.
"aaa.... Ok bang, nggak mau bangunin macan tidur" bisik Zivannya, matahari membisikkan sesuatu ke telinga mentari dan Zivannya. mereka tersenyum lebar, "makasih bang. ntar Zivannya pikirin, besuk Zi ketemu mas Rendi manajer lapangan. minta tambahan hari disini" angguk Zivannya, Langit segera membekap mulut Zivannya. matahari dan mentari tersenyum dan menghadap kedepan. Langit membulatkan matanya lebar melihat Zivannya yang tersenyum. "kebiasaan mu kak, suka nyiksa teman-teman dikesatuan saat nggak denger kabar dariku. sinyalnya susah tau, udah untung sesekali bisa ngirim chat" kata Zivannya, Langit tersenyum mengangguk.
"aku pulang 3 hari lagi, jadi besuk pulang aja sama bang matahari. jika aku denger yang nggak ngenakin ati, ya sudah kamu tau resikonya" pandang Zivannya, Langit mengangguk. Zivannya memejamkan matanya tertidur.
"ya elah dek, barusan masuk mobil udah tidur aja. kurang tidur pasti nih anak" liat Mentari.
"biarin istirahat kak, kasihan. kita langsung ke hotel aja kali ya, biar dia bisa mandi dan istirahat dulu, kita bisa keluar malam saat Raka tidur" kata bunda. mentari mengangguk, Langit menaruh kepala Zivannya dipangkuannya membiarkannya tidur, mengusap bahunya pelan.
__ADS_1
"yang, bangun" tepuk pipi Langit. Zivannya mengerjapkan matanya, segera duduk. "kita dimana" kucek mata Zivannya. "hotel, bunda mau istirahat dulu sebelum nanti malam keluar lagi" kata Langit membantu Zivannya turun, Zivannya memegang kedua bahu Langit erat. "kenapa, yang" refleks Langit merengkuh tubuh Zivannya. "aku kayaknya mau dapat bulananku kak" ringis Zivannya. "aishh... kenapa aku selalu bertemu saat kamu datang bulan sih, yang" pandang Langit. "itu berarti kamu diberi kesempatan untuk melihatku sakit dan berpikir beribu kali apabila mau menyakitiku" kata Zivannya. "kenapa aku mau menyakitimu, mendapatkanmu aja susah banget" gumam Langit.
"kenapa adek" tanya bunda, "mau dapet bund, sakit perutnya" sandar Zivannya di dinding. "bunda ambil baju dulu. kamu mau dimana" tanya bunda. "kamarku aja bund, biar Raka nggak terganggu" kata Langit. bunda mengangguk dan segera masuk kamar yang ada disebelahnya. Zivannya terbaring diranjang kamar, "dek mau ganti baju sekarang" datang bunda membawa baju ganti. Zivannya mengangguk dan beranjak kekamar mandi, Langit kembali membawa minuman hangat untuk Zivannya. "bunda istirahat saja, biar Langit yang menemani Zivannya. kemarin waktu tiba disini juga Zi begini" letak minuman Langit. bunda mengangguk tersenyum mengusap bahu Langit lembut keluar kamar. Zivannya keluar dan menuju tempat tidur, "yang, minum dulu jeruk hangat" sodor cup minuman Langit, Zivannya segera meminumnya dan berbaring ditempat tidur. "kak, aku ditinggal sendiri aja. hanya tidur, pergi temeni bunda dan ayah. aku nggak papa" pejam mata Zivannya, langit mengecup kening Zivannya lama. mengusap pipi yang terlihat lebih coklat sekarang.
"tidur yang nyenyak Zi, jangan kuatir aku disini" bisik Langit.
"apakah Zi sudah bangun" tanya Ayah, "sudah tapi tidur lagi, seharian dia akan seperti itu" kata bunda mengerti. Ayah mengangguk dan berbicara dengan Raka. Zivannya bergerak gelisah, Langit menoleh dan mendekat, "ma.... by.... ikut... adek....jangan lepas, Zi ikut... papa" gumam Zivannya. Langit mengusap wajah Zivannya, Zivannya membuka matanya perlahan. "kamu bermimpi tentang keluargamu" usap pipi Langit, "ini jam 3 malam. mau menemaniku kewajiban malam" senyum Langit, Zivannya mengangguk dan duduk, Langit menuju kamar mandi, melakukan kewajiban malamnya. Zivannya menatap Langit dalam sujud terakhirnya, mengusap air matanya yang selalu menetes. Langit memperhatikan Zivannya sesaat dan mengambil air putih mineral. "minum dulu Zi" sodor Langit. Zivannya meneguknya beberapa kali. "kamu tidak harus menjadi kuat saat kamu lemah, kamu tidak harus menjadi tegar saat dirimu rapuh" usap kepala Langit yang berdiri tegak disampingnya, Zivannya memejamkan matanya. "aku pingin ikut mereka, tapi mereka meninggalkanku" sesenggukan Zivannya, Langit meletakkan kepala diperutnya. "aku ingin ikut kak" usap airmata Zivannya menangis sesenggukan, Langit mengusap ubun-ubun kepala Zivannya pelan mengecupnya beberapa kali. "mereka tega meninggalkanku sendirian, aku hanya ingin ikut mereka pergi. hanya itu saja, bawa aku pergi" kata Zivannya. Langit memeluk tubuh Zivannya. "kenapa kamu ingin ikut mereka" bisik Langit. "aku tidak ingin sendiri" jawab Zivannya serak. "kamu tidak sendiri Zi, ada aku, keluarga Aga, keluargaku. kamu tidak sendiri" usap Langit menenangkan Zivannya hingga Zivannya lebih tenang.
"sudah waktunya aku melaksanakan kewajiban pagi" lihat waktu Langit, Zivannya menjauhkan tubuhnya dari Langit. beranjak kekamar mandi setelah Langit mensucikan dirinya, Zivannya membersihkan semua tubuhnya. "kamu mau makan Zi" tanya Langit. Zivannya menggeleng, kembali merebahkan dirinya di ranjang.
"sebulan lagi aku akan mengenalkan kedua orang tuaku kepadamu" kata Langit, Zivannya menoleh. "lebih tepatnya kedua orangtuaku datang berkunjung kerumah orang tua Aga yang juga orangtuamu sekarang" kata Langit. "setelah itu kamu harus bersiap kembali melakukan legalitas dokumen yang harus dipersiapkan untuk menjadi istri abdi negara lagi" kata Langit. Zivannya menggeleng. "aku lelah kak, kamu bisa memilih yang lebih baik dariku bukan" kata Zivannya menatap Langit. "tidak ada penolakan dan tidak ada kata tidak" tatap Langit tajam. "jangan terlalu banyak berpikir, apapun itu serahkan padaku" senyum Langit. Zivannya terdiam.
"kalian ini kenapa tidur disini. kan sudah ada kamar sendiri" pandang Ayah. "enakan ngumpul bareng gini yah, anget. kurang kakak sama adek nih" kata mentari. "iihhh... udah gede lho malu ama Raka" tepuk bahu ayah. Mentari memeluk bundanya erat yang sedang memeluk Raka. Langit duduk menatap keluarga itu. Matahari memejamkan mata dan tertidur disofa. Zivannya membuka pintu dan melangkah menuju tempat tidur bunda, ikut tidur. Langit menatap setiap gerakan Zivannya, merasa ada sesuatu yang akan terjadi. "udah baikan dek" longok mentari dari balik badan bunda. "udah mendingan kak, tadi ditemenin sama kak Langit, aku terjaga nggak ada orang, jadi aku kesini aja, ternyata pada ngumpul disini" kata Zivannya. "jangan berisik nanti Raka bangun, ini masih pagi" kata bunda, "tadi aku mimpi ketemu kak Aga Bund, mama, papa dan adek, mereka melepaskan tangan dan nggak mau ngajak aku" kata Zivannya pelan. bunda membuka matanya lebar. "mereka bilang apa" tanya bunda, Zivannya menggeleng.
bunda menatap ayah sesaat, "cahaya mereka menyilaukan mata bund, Zi nggak bisa lihat dengan jelas. hanya sosoknya yang Zi yakin itu mereka" kata Zivannya, bunda mengelus bahu Zivannya yang memeluk Raka.
"dek, mereka sudah jauh lebih bahagia daripada kita, bisakah kamu juga bahagia seperti yang mereka harapkan untuk kehidupan mu selanjutnya" tanya bunda, Zivannya membuka matanya pelan, "bisa bund" angguk Zivannya.
__ADS_1
"apakah kamu menyukai seseorang saat ini" tanya bunda, "nggak bund, Zi hanya mau sendiri" jawab Zivannya. Langit menghela nafasnya panjang, akhirnya perasaan nya tadi memang benar, pasti ada sesuatu yang nggak bener mengenai Zivannya.
"terus, Langit yang selalu ada untukmu" tanya bunda, Zivannya terdiam dan menggeleng. "dia terlalu baik denganku bund, aku nggak mau mengecewakan dia" kata Zivannya, "jika dia memilih dan menikahi gadis lain maka kamu akan ikhlas kan, tidak akan menyesal bukan" tanya bunda, Zivannya terdiam. "menyesal pasti ada bund, tapi untuk laki-laki baik seperti dia pasti akan dapat yang lebih baik dari Zivannya bund, jadi Zi akan berusaha ikhlas menerima nya. nanti juga akan tidak saling berjumpa lagi dalam jangka waktu yang lama. Zi hanya ingin sendiri saja" hembus nafas Zivannya berat. bunda melihat Langit, Langit menggeleng, menunjuk Zivannya yang tidak sadar akan keberadaannya diruangan itu. "kemarin dia cerita jika ada gadis yang menyukainya dan ingin jadi kekasihnya dek, kamu nggak papa" tanya bunda, Zivannya tersenyum.
"nggak papa bund, orangnya ganteng kok, kalo nggak ada yang suka sama dia pasti nggak normal gadis itu" kata Zivannya.
"berarti kamu suka sama dia kan dek" selidik mentari, "dikit kak" ceplos Zivannya, Langit tersenyum lebar. "kalo dibandingin sama cowok-cowok yang mendekatimu saat ini peluang dia berapa dek" timbrung matahari memeluk Mentari. "sempit, yang" pukul bahu mentari. matahari tidak memperdulikannya.
"nggak tau bang. Zivannya nggak peduli dengan mereka" pejam mata Zivannya. "dibandingin Yuda" tanya Matahari. "lebih kak Langit" jawab Zivannya, "kalo Regan, dosenmu yang selalu mencari alasan untuk dekat denganmu" tanya ayah ingin tau. "lebih kak Langit" jawab Zhivannya. "kalo sama teman kerjamu, kayaknya kemarin ada yang sedikit tidak suka lihat Langit" tanya bunda. "lebih kak Langit" jawab Zivannya. "trus kenapa kamu nggak nerima langit dek" kata Mentari. "karena aku nggak mau dia nanti seperti kak Aga kak" hembus nafas Zivannya menghapus airmatanya. bunda menatap Zivannya mengusap kepalanya. "apa karena sama-sama abdi negara dek" tanya bunda, Zivannya mengangguk menutup mukanya dengan punggung tangan.
"Zi nggak mau dia mengalami hal yang sama" kata Zivannya, "itu takdir dek, ayah baik-baik saja, Abang dan kak dirgantara juga baik-baik saja. tidak semua akan berakhir seperti pikiranmu" kata bunda lembut. "ya bund, Zi paham" angguk Zivannya.
"dengerin kata bunda, tidak ada yang mau suaminya atau anaknya akan celaka jika sedang bertugas. Tuhan menentukan takdir manusia, bunda kuat jika kamu kuat. bunda ikhlas jika kamu ikhlas" kata bunda, Zivannya manggut-manggut.
"Zi iklhas dan kuat bund, maafkan Zivannya membuat bunda kuatir terus" kata Zivannya, bunda menggeleng dan tersenyum. "tidak dek, darimu bunda belajar untuk kuat dan ikhlas. karena kamu aga jauh lebih bahagia dan sekarang biarkan Langit yang bahagia bersamamu. kamu mau kan" tanya bunda pelan, Zivannya terdiam lama, menghela nafasnya berat. "baik bund" jawab Zivannya pelan. Langit tersenyum lebar mendengar jawaban Zivannya yang pada akhirnya menyetujui untuk bersamanya.
"hai...hai...hai.... all readers, dukung terus karyaku ya... terimakasih.
__ADS_1
luv....luv.....luv.... U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak atas dukungannya selama ini...