
Surabaya
Zivannya sudah kembali sampai diperbatasan malang dan Surabaya, Rara tertidur pulas disampingnya, Zivannya mengikuti irama lagu yang diputar oleh aplikasi musik melalui ponselnya. seorang abdi negara melihatnya saat berkendara dengan seorang temannya. mengetuk pintu setelah memastikan bahwa itu mobil Dirgantara sebelum mengetuk pelan kaca mobil.
Zivannya terlonjak kaget ketika terdengar kaca diketuk seorang pemuda memakai baju dinas abdi negara, Zivannya membuka kaca setelah memastikan bahwa pemuda itu adalah Arka, "hai....ganteng" salam Zivannya tersenyum, Arka tertawa lebar membuka visor helmetnya melihat Zivannya yang tersenyum cantik. "hai sangat cantik, di Surabaya kah, komandan sedang ke Jakarta kan" tanya Arka, Zivannya menggeleng. "menepi disana dulu, aku didepanmu" kata Arka, Zivannya mengangguk dan menutup kaca kembali, mengikuti kendaraan roda dua yang dipakai Arka dan temannya.
"hallo, ka" salam Zivannya, "hallo Zi. bersama siapa" tanya Arka membuka helmetnya. "tuh ibu bendahara umum, baru tidur setelah semalam begadang" senyum Zivannya memperlihatkan Rara yang tertidur pulas. Arka tersenyum melihat Rara. "kenalkan ini temanku Yuda" kata Arka, "aahhh... Zi" senyum Zivannya, Yuda tersenyum.
"Zivannya adalah adik bungsu komandan Dirgantara, dia tinggal di Jakarta bersama ayah dan bundanya" jelaskan Arka kepada Yuda, yang sedikit terkejut setelah mengetahui identitas Zivannya. "mau kemana" tanya Arka, "mau pulang ketempat kak Dirgantara dari Malang" jawab Zivannya, "kamu bawa sendiri" tanya Arka menatap Zivannya yang mengangguk pelan.
"kemarin siang sampai Surabaya, kakak parkir inap dibandara" jawab Zivannya. "berarti komandan Dirgantara masih di Jakarta" tanya Arka. "tidak, kakak kemarin siang sudah pulang bersama kami dan kami langsung pinjam mobilnya untuk ke Malang sebentar" jawab Zivannya, Arka tersenyum.
"mau makan bersama kita, ini udah jam 11.40" lihat jam Arka, Zivannya tersenyum mengangguk. "ayo, biar aku yang bawa mobilnya, Yuda akan mengikuti kita dari belakang" kata Arka menatap Yuda yang menganggukkan kepalanya segera menuju kendaraan dinas nya dan mulai mengikuti mobil yang dikendarai Arka. "kenapa tidak memberitahuku kalo kamu ada di Surabaya Zi" tanya Arka menatap reflektor mirror. "aku langsung ke Malang mengantar ibunya kak Langit pulang. ini rencana nanti sore sudah balik ke Jakarta karena abang dan kakak Mentari pindah tugas ke luar Jawa, ayah dan bunda akan menemani mereka sebentar" kata Zivannya, "kamu juga ikut" tanya Arka, "iya. bisa nggak boleh kemana-mana lagi kalo nggak ikut" senyum Zivannya. Arka tersenyum menatap Zivannya dari kaca mirror.
"jadi kamu akan lama disana" tanya Arka, "lumayan. ngikut bunda aja, aku dan ayah hanya penggembira" kata Zivannya. Arka tersenyum lebar, "lama nggak ke Surabaya dong nanti" tanya Arka. "hmmmm bisa jadi ka, bulan depan Rara wisuda, jadi nemenin dia dulu" jawab Zivannya. Arka mengangguk.
mereka tiba dirumah makan langganan Arka dan teman-temannya. "Ra" usap bahu Zivannya pelan. Rara membuka matanya melihat Arka disamping dan Zivannya dibelakang. "ehh.... kita sampai mana" kaget Rara mendapati Arka di mobil yang sama dengan mereka berdua."turun dulu, kita makan ditraktir Arka" senyum Zivannya, "asik...." semangat Rara turun dari mobil. mereka berjalan ke arah rumah makan "oh ya, kenalin Ra. ini Yuda temannya Arka. tadi juga dikenalin" pandang Zivannya, Rara tersenyum mengangguk, "nama yang sama dengan sahabat baik Zivannya yang ada dikota kelahirannya" kata Rara. "aaahh... ngomong-ngomong soal Yuda. sebelum berangkat kemarin dia menghubungiku, besuk aku pulang abis dari tempat bang Matahari dan kak Mentari" tepuk kening Zivannya ingat. "aku langsung pulang. badanku remuk kalo bepergian terus menerus" geleng Rara. "Ok, berarti aku langsung dari Jakarta" angguk Zivannya. Rara memberi tanda Ok dengan jemarinya.
"kita makan apa nih" pandang Rara bersemangat melihat makanan yang ter display menggoda selera. "hmmm.... kemana-mana selalu ditraktir nih, uangnya kagak laku" gumam Zivannya mengambil makanan yang mau dia coba. "padahal dulu waktu kuliah, nyari duitnya harus jaga kedai dulu" senyum Rara memandang Zivannya. Zivannya tertawa mengangguk. perjuangan yang penuh dengan keringat" kata Zivannya.
Rara mengangguk duduk untuk memulai makan. "dibawa kesana dulu buk, untuk dihitung" tepuk Zivannya, Rara menoleh dan tertawa pelan. "maaf, nggak tau" anjak Rara mengikuti Zivannya dan Arka.
"jam berapa kalian pulang" tanya Arka, "penerbangan terakhir aja" pandang Rara, "Ok" angguk Zivannya. "berarti sekitar jam 9 malam" tambah kerupuk Arka. "sekitar itu" kata Rara mengendikkan bahu tanpa suara.
__ADS_1
"bayarnya nanti ato sekarang" tanya Zivannya. "nanti, dengan kertas kecil ini jadi pengingat tadi kita makan apa aja. jika nanti ada tambahan akan gampang mengingatnya" jawab Arka, Zivannya mengangguk dan berjalan untuk duduk di meja yang tidak banyak orang disekelilingnya. "ntar aku antar ke bandaranya" kata Arka. "deket ka, nggak nyampe sejam" kata Rara mengunyah makanannya. Arka tertawa mengangguk.
"Yuda jarang terlihat di rumah dinas kakak" tanya Zivannya, "karena belum lama di pindah tugaskan" jawab Yuda, "ohhh... emangnya ditugasin dimana kemarin" tanya Rara. "Kalimantan" jawab Yuda. "kemarin 3 bulan lebih Zivannya kerja disana, tapi didekat hutan. ya kan Zi" terkejut Rara, "oh ya" kata Yuda. Rara manggut-manggut mantap. "tapi, walau saat itu mengetahuinya juga nggak akan dia kenali" ingat Rara seketika. "kenapa" kerut Yuda. "karena dia tidak bisa melihat laki-laki lain, setelah kepergian laki-laki yang tidak akan pernah kembali lagi" jawab Rara. Arka terdiam menatap Zivannya yang tenang-tenang saja.
"apakah sebegitu patah hatinya karena laki-laki" tanya Yuda minum. Rara menoleh menatap Yuda sesaat. "iya, jika kita sangat-sangat mencintainya dan tidak ada kata perpisahan karena maut yang memisahkan" jawab Rara sarkas. Yuda terkejut dan sedikit menyesal. "maaf, aku turut berduka cita" kata Yuda cepat. Zivannya tersenyum menggeleng, "it's Ok, da. kita harus berdamai dengan keadaan kan" kata Zivannya mengerti bahwa Yuda tidak bermaksud begitu kepadanya.
Rara menoleh, "sering kesini ka" tanya Rara, Arka mengangguk. "lumayan sering Ra, dengan teman-teman. karena cocok dan tidak mahal" kata Arka. "aisshhh.... the best banget kalo itu mah" tawa Rara, Arka tertawa mengangguk. "kapan-kapan main kejogja. ada banyak tempat yang bisa kita rekomendasikan" kata Rara antusias, "aahhh lupa... Zivannya tidak tinggal disana lagi, sekarang jadi orang Jakarta" tepuk kening Rara. Zivannya mengerucutkan bibirnya, "iya. puas kan Ra" minum Zivannya. Rara tergelak mengangguk dan memberi tanda dengan jemarinya.
"kan dia datang saat wisuda mu nanti" tanya Arka. "tentu, tapi pawangnya ngebolehin nggak kalo lama" senyum Rara. "aaahhh... itu bukan perkara yang mudah" senyum Arka mengerti, Rara manggut-manggut. Zivannya tersenyum, "boleh, orangnya ngebolehin" angguk Zivannya. Dirgantara menghubungi Zivannya, "udah sampai rumah belum, dek. kenapa belum kasih kabar" pandang Dirgantara. Zivannya memperlihatkan keadaan sekitarnya.
"ahhh.... ketemu Arka ternyata" mengerti Dirgantara. "siang, komandan" salam Arka. "siang, kamu diluar tadi" tanya Dirgantara, "iya komandan dengan Yuda, ketemu Zivannya di lampu merah. saya kira tadi salah liat tapi kok familiar dengan mobilnya" angguk Arka, Dirgantara tertawa. "ditraktir Arka lagi kak, jadi nggak enak hati" kata Zivannya. "utuh dong duit Langit" goda Dirgantara. Zivannya tertawa. "udah aku habisin tapi nggak habis-habis" jawab Zivannya.
"baguslah kalo Langit kerja keras agar adekku nggak kekurangan" kata Dirgantara. "pulang jam berapa" pandang Dirgantara, "habis ini langsung pulang kak, ikut penerbangan jam terakhir Rara yang beliin tiketnya" perlihatkan Zivannya ke arah Rara. "aishhh... gratisan melulu sih dek" tawa Dirgantara, Zivannya dan Rara tertawa. "mumpung pawangnya nggak ikut kak, kalo ikut nggak berani" bergidik Rara, Dirgantara tertawa.
"padahal dia udah gede, naik gunung aja berkali-kali masak kemanapun harus dijaga" hembus nafas Dirgantara. "kalo nggak dijaga, kamu tau sendiri hukumannya jenderal Triastomo" kata Dirgantara, Rara mengangguk.
"kakak mau terus curhat apa aku pulang" kata Zivannya memandang Dirgantara yang tergelak. "siap, pulang aja. nggak pake protes" tutup Dirgantara sebelum Zivannya menjawab. "kebiasaan kalo ngobrol nggak bisa berhenti" pandang layar ponsel Zivannya yang sudah hitam. "satu komandan baru menghubungi, berarti masih ada 3 komandan dan satu ibu negara" kata Rara, "bang Matahari ada dirumah. besuk pagi kita akan berangkat kan. ayah sudah memberi perintah ke kakak jadi aman" senyum Zivannya.
"kenapa sekarang jadi ribet sih Zi kalo mau kemana-mana" tanya Rara menghela nafasnya. Zivannya tertawa, "karena mereka tidak mau melihatku sendirian dan tidak melihat siapa-siapa lagi, apa kamu senang melihatku seperti itu" sentuh punggung tangan Zivannya. "tidak, aku tidak mau melihatmu terpuruk seperti itu lagi. mengerikan tau nggak, serasa nggak ada jiwa bersemayam diragamu" pandang Rara menggeleng menggenggam kuat jemari Zivannya. Zivannya tersenyum memeluk sahabatnya, "mereka adalah keluargaku sekarang, kamu dan Dimas adalah teman terbaikku selamanya" ujar Zivannya, Rara tersenyum mengangguk.
"kenapa kalian jadi melow gini didepan cowok-cowok ganteng" goda Arka, Zivannya dan Rara saling berpandangan tersenyum. "nggak ngaruh dengan paras seseorang, jika hati sudah menjatuhkan pilihan maka dia akan mencintai dengan sepenuh hati" kata Rara, Zivannya melakukan hi five dengan Rara. "sayangnya aku mencintai nya dengan sepenuh hati dan belum bisa berpaling" senyum Arka menatap Zivannya, Rara tersenyum.
"lepaskan apa yang harus kamu lepaskan maka kamu akan merasa kedamaian" senyum Zivannya menatap Arka. "itu yang dikatakan kak Langit saat kak Aga pergi" kata Zivannya lagi. "apa kamu mendengarkannya waktu itu" tatap Arka, "tidak. karena aku tidak bisa melihat siapapun kecuali ayah dan bunda, semuanya terlihat hitam dan tidak tampak" geleng Zivannya. "apa dia selalu berada disisimu" tanya Arka, Zivannya menggeleng, "aku tidak tau, ka. aku selalu ditemani ayah dan bunda. terkadang kedua kakakku harus menyentuh kepalaku saat mengatakan sesuatu padaku" kata Zivannya. Yuda memandang Zivannya lekat dan merasa berbeda, dia memandang Arka dan Zivannya bergantian.
__ADS_1
"butuh waktu berapa tahun kamu menerima Langit" tanya Arka, Zivannya tersenyum. "lumayan lama hingga aku sadar dia ada disekitarku, sampai sekarang pun jika aku boleh memilih. maka aku akan memilih untuk sendiri, kak Langit pun tau dengan jawabanku sampai sekarang, hanya saja ketika aku terpuruk dia yang berada disampingku tanpa kata" kata Zivannya.
"ketika aku sering berteriak, ketika aku sering terdiam dalam kesunyian, ketika aku merasa ingin melepaskan diri dari dunia, ketika aku harus lama bertemu psikolog untuk melepaskan kak Aga" senyum Zivannya. "dan disini kita sekarang, ngobrol dengan tenang tanpa rasa sakit" senyum Zivannya meminum sampai habis.
"karena tadi komandan Dirgantara sudah memberi titah dari jenderal Triastomo, maka kita akan ketemu nanti sore, semangat untuk bekerja" pandang Zivannya. "hmmmm.... baiklah, aku akan segera datang setelah selesai dinas nanti dan kita akan ngobrol lagi" kata Arka tersenyum melangkah menuju kasir. "tapi jika boleh memilih, daripada ngobrol mending aku riding aja" kata Zivannya, Arka tertawa. "aku lupa Zi, kamu suka olahraga ekstrim" kata Arka, Zivannya menggeleng.
"aku hanya anak rumahan, anak seorang guru sekolah yang ada didaerah. keadaan yang memaksa ku untuk menjadi sedikit lebih kuat dan tangguh" jawab Zivannya. "tidak ada yang istimewa dariku, hanya seorang anak perempuan yang berkali-kali kehilangan orang-orang yang dicintai tanpa syarat" kata Zivannya tegas.
"itu yang membuatmu semakin menarik Zi, kamu tidak perlu menunjukkan apapun karena kamu tidak termasuk mereka" jawab Arka, Zivannya tertawa satir. "karena aku tidak bisa seperti mereka maksudmu" tawa Zivannya, Arka tersenyum.
"sampai jumpa kembali Yuda, maafkan jika pertemuan kita yang pertama ini membuatmu merasa tidak nyaman. kapan-kapan kita bertemu lagi disuasana yang lebih baik" salam Zivannya, Yuda tersenyum mengangguk. "pasti, Zi" angguk Yuda. Zivannya melambaikan tangan melajukan mobil dengan sedikit lebih cepat.
Zivannya masuk ke kompleks perumahan dinas Dirgantara menepi menghentikan mobil Dirgantara tepat digarasi samping rumah, "kak" ketuk Zivannya. tak lama Valerie membuka kunci rumah, "dah sampai dek" tanya Valerie menerima salam dari Zivannya dan Rara, "iya kak, ketemu Arka dijalan dan mentraktir makan jadi siang banget sampai sini" angguk Zivannya. "kedua krucil tidur" kata Valerie, Zivannya mengangguk dan merebahkan diri di ruang tengah. "kak, tidur dulu" kata Zivannya memejamkan mata segera.
"dia yang pulang pergi berada dibalik kemudi, biar lebih cepat katanya" ujar Rara, "kamu ikut nganter Mentari, Ra" tanya Valerie, "iya, kak" angguk Rara.
"habis itu katanya dia mau ketempat keluarga papanya meminta restu dan mengundang mereka ke Jakarta dan mengunjungi peristirahatan terakhir keluarganya" jawab Rara, "aduh beneran dia tuh, badannya apa kuat" kata Valerie. "kuat kak, tenang aja. jika nanti akan dapat periode nya maka akan berhenti dengan sendirinya" senyum Rara. "hmmmm...." lihat Valerie. "abis itu dia pulang" tanya Valerie, Rara menggeleng. "setelah itu akan ke Jogja untuk mengunjungi kak Aga" jawab Rara
"anak itu, terlalu memaksa tubuhnya" ujar Valerie. "karena waktunya juga tinggal sebentar lagi kan kak, makanya dia berusaha untuk menyelesaikan semua sebelum pernikahan" topang dagu Rara melihat Zivannya yang sudah tertidur.
hai..... hai..., hai.... all readers terimakasih telah berkunjung ke karyaku. terimakasih banyak atas dukungannya kepada Langit dan Zivannya...
luv..... luv.... luv..... U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak semuanya.
__ADS_1
stay healthy all