
mobil bergerak menjauh dari hotel, "mau langsung ke bandara aja" toleh Valerie, "he em, kelamaan ninggalin makin banyak argo parkirnya bisa buat beliin Snack Raka dan Riki" kata Zivannya, Valerie tersenyum mengangguk.
"berarti mereka pulang sekolah nggak ketemu lagi nanti dek" kata Valerie, Zivannya menoleh. "maaf kak. ntar beli snack buat mereka dulu aja" cengir Zivannya, Valerie tersenyum.
"baru sibuk kejar setoran ma, biar cepat goal" kata Dirgantara, "ya, ya,ya. siapa tau dapat dua langsung" angguk Valerie, Langit segera mengamini doa Valerie. "main amin aja, jagain yang bener adekku" lirik Dirgantara.
"siap kak" hormat Langit, Dirgantara melirik cepat. "siap apanya, sampai jalan aja susah gitu" gumam Dirgantara pelan. "itu karena saking semangatnya njagain kak, jadi kelupaan kalo jadinya sudah jalan" kata Langit pelan. Dirgantara menatap Langit yang juga menatapnya, mereka tertawa terbahak-bahak berdua.
"kalian berdua kalo tidak berhenti, tidak akan dapat tidur dikamar" pandang Valerie kesal. Langit dan Dirgantara segera terdiam mendengar perkataan Valerie. "maaf bu negara" jawab Langit dan Dirgantara serempak. Valerie memutar bola matanya jengah, sedang Zivannya menyandarkan kepalanya melihat jalan yang mereka lalui dari balik kaca mobil.
"dek sudah sampai bandara" tepuk bahu Valerie pelan karena Zivannya hanya termenung memandang deretan orang-orang yang lalu lalang. Zivannya menoleh mengangguk dan segera keluar dari dalam mobil. "jangan lupa kak, titipan untuk Raka dan Riki, maafkan onty karena harus ke Jogja sebentar bersama om Langit" kata Zivannya memeluk Valerie.
"tentu saja dek, nggak akan lupa, mereka pasti melonjak-lonjak kesenangan dapat banyak banget begitu, orang yang kemarin aja belum habis. mereka biasa bawa ke sekolah dan berbagi dengan yang lainnya" kata Valerie, Zivannya tertawa renyah mendengar ucapan Valerie. "ternyata mereka ingat dengan perlakuan keluarga Triastomo saat berbagi kebaikan dengan yang lain" kata Zivannya, Valerie tersenyum lebar.
"terimakasih kak, selalu memberi yang terbaik untuk kita berdua. semoga segera bertemu kembali" peluk Zivannya kepada Valerie, "sama-sama dek, kita adalah keluarga sudah seharusnya memberi yang terbaik" senyum Valerie, Dirgantara memeluk Zivannya mengusap punggung nya pelan. Langit memberi salam kepada Valerie dan Dirgantara.
"jaga diri baik-baik kalian berdua, ayah dan bunda baru pergi jalan-jalan. jadi jangan ada laporan yang membuat mereka pulang dengan cepat" tatap Dirgantara, Langit memberi tanda Ok dengan jemarinya. Zivannya melambaikan tangan sebelum benar-benar melangkah menuju kedalam bandara.
"jam berapa sekarang kak" tanya Zivannya menoleh melihat suaminya yang mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya.
"11" perlihatkan layar ponsel Langit, Zivannya mengangguk melangkah menuju loket penggantian tiket.
"yang, masih ada waktu nggak" tanya Langit melihat sekitar. "hanya setengah jam, kak. kita berangkat setelah itu" jawab Zivannya. Langit menunjuk kearah merchant yang menawarkan coklat panas, Zivannya mengangguk mengikuti langkah Langit yang sudah menggenggam erat jemarinya.
"mau pesan apa kak" senyum penjaga merchant ramah, Zivannya memesan coklat panas sedang, Langit menunjuk beberapa roti kecil untuk dipesan juga, Zivannya mengambilnya.
"yang, mau apa lagi" tanya Langit, Zivannya menggeleng pelan meletakkan ditempat pembayaran.
"sesampai disana aja kak, hanya sebentar perjalanannya" jawab Zivannya, Langit mengelus kepala istrinya mengangguk. para penjaga senyum-senyum sendiri melihat perlakuan romantis Langit kepada Zivannya.
__ADS_1
"apa mau hang out dulu nanti sebelum pulang kerumah" tanya Langit mendorong bahu Zivannya agar berjalan didepannya, istrinya mengangguk mengiyakan. "tentu, kali ini hanya kita berdua. tanpa Rara apalagi Dimas kali ini" hela nafas Zivannya.
"ada aku yang sekarang menemanimu" kecup rambut Langit, Zivannya tersenyum manis. "nggak usah tebar pesona juga, yang" tutup mulut Langit, Zivannya melepaskan bekapan tangan suaminya. "mau bayar dulu, kebiasaan" toleh Zivannya kesal. Langit tertawa pelan, penjaga hanya bisa melihat kelakuan mereka berdua yang terlihat mesra tanpa bisa berkata apa-apa.
"ini kak, pesanannya. terimakasih sudah berkunjung kemari, ditunggu kedatangannya kembali" salam penjaga merchant yang melayani mereka. Zivannya tersenyum mengangguk melihat penjaga. Langit meraih pesanannya dan menyodorkan coklat panas pesanannya tadi ke mulut istrinya. Zivannya menyeruput pelan coklat panas Langit.
"not too sweet right" tatap Zivannya, Langit segera menyeruputnya. "pas kan" tanya Zivannya, Langit mengangguk mengusap bibir Zivannya yang ada bekas coklat. "sweet" sesap ibu jemari tangan Langit yang ada bekas coklat dari bibir Zivannya tadi. Zivannya menepuk bahu suaminya yang tergelak senang menggoda istrinya. mereka melangkah dan duduk diruang tunggu karena waktu masih 10 menit lagi. Zivannya mematikan ponselnya dan Langit, segera memasukkan kedalam tas ranselnya. Langit menyerahkan dompetnya kepada Zivannya yang segera menaruh ditempat barang penting lainnya didalam ransel. Zivannya memakan roti kecil yang ada didalam box. Langit meraih jemari Zivannya dan menggigit rotinya sekali tangkap, Zivannya menggembungkan pipinya tanda tidak terima, Langit tersenyum mengusap kepala Zivannya.
"kak, apa mau kerumah ibu" tanya Zivannya menyodorkan roti kecil ke mulut Langit. ia mengunyah sembari mengangguk mengiyakan "rute terakhir" senyum Langit, Zivannya tersenyum memakai topi menyembunyikan parasnya yang terlihat sangat lelah.
"kita berangkat, yang" usap kaki bagian atas Langit, Zivannya membuka matanya melihat pengumuman keberangkatan pesawat ke Jogja. "rotinya masukin ransel dulu" lihat Langit meraih ransel Zivannya dan memasukkan box roti kedalamnya. ia segera merengkuh pinggang istrinya agar tidak limbung karena pening. Zivannya segera duduk setelah Langit membawanya ditempat duduknya. "yang" raih kepala Langit agar istrinya menyandarkan kepalanya ke bahunya. Zivannya segera terlelap dalam tidur saking lelahnya. Langit mengecup rambut Zivannya sambil tersenyum mendapati istrinya sudah dalam mimpi indahnya. "kamu pasti kurang tidur saat aku nggak ada" bisik Langit.
Langit mengusap bahu Zivannya lama, berbisik jika mereka sudah sampai Jogja, Zivannya membuka matanya dan berjalan mengikuti langkah suaminya keluar dari kabin. dimana kamu letakkan tanda parkirnya, yang" toleh Langit, Zivannya meminta Langit untuk duduk sebentar di kursi yang tersedia, ia segera meminta ranselnya untuk melihat dimana dia meletakkan tanda parkir mobil beserta kuncinya dan menyerahkannya kepada Langit.
"kak, kepalaku pening" tatap Zivannya, Langit berdiri didepan Zivannya dan memijit kepalanya yang bersandar di dadanya. "aku papah aja ya, yang" tatap Langit, Zivannya mendongak menatap suaminya menggeleng pelan.
"jalan pelan aja, sampai mobil langsung tidur" geleng Zivannya, Langit membantu istrinya untuk berdiri dan berjalan dengan pelan. "yang mau beli obat apa" tanya Langit, "just sleep, by" kata Zivannya pelan. "aish, jadi nggak bisa ngapa-ngapain nih" gumam Langit. "besuk kan bisa kak, nggak harus setiap saat kamu hajar habis" kesal Zivannya. Langit tertawa pelan mengusap bahu Zivannya berulang-kali.
"berarti kamu sangat-sangat merindukanku kan, sangat mencintaiku kan, tidak bisa tidur jika tidak aku peluk bukan" cecar Langit senang. Zivannya menatap paras suaminya bergegas berjalan meninggalkan Langit yang tertawa lebar, Zivannya berbelok ke arah kiri ketika sekilas mengingat letak parkir mobilnya. Langit mengikuti langkah istrinya tidak terlalu jauh.
"hallo, kak. mau kenalan boleh" dekati seorang gadis, Langit menatap punggung istrinya sambil memperlihatkan cincin nikah yang berada ditangan kirinya. kedua gadis yang mendekatinya sedikit terkejut dengan sikap Langit, Zivannya segera menoleh seperti mengerti. "kenapa" senyum Zivannya, kedua gadis itu menoleh melihat Zivannya seperti teman mereka karena terlihat imut.
"kami hanya ingin mengenal kakak ini saja, apakah dia abdi negara" tanya salah satu gadis itu, Zivannya mengangguk tersenyum. "tentu saja, Langit Dewantara, Zivannya Dewantara" salam Zivannya.
"aku Dini dan ini Lita, kami hanya mau berkenalan saja kak, apakah boleh" tanya Dini, Zivannya tersenyum manis dan mengangguk.
"tentu saja boleh, maafkan kak Langit karena tidak terbiasa dekat dengan perempuan selain keluarganya. dia baru saja kembali dari tugas di negeri Sakura kemarin, makanya dia hanya ingin bersama dengan orang terdekatnya" jelaskan Zivannya, Dini dan Lita tersenyum mengangguk.
"maafkan kami kak, kami hanya ingin berkenalan melihat kakak tadi. silahkan jika ingin meneruskan perjalanan, maafkan kami jika mengganggu kenyamanan kakak berdua" salam Dini, Zivannya tersenyum lebar dan melambaikan tangannya meneruskan langkahnya bersama suaminya.
__ADS_1
"aku hanya memperlihat ini saja" isyarat jemari Langit, Zivannya tertawa pelan.
"makanya mereka tidak bisa berkata-kata apa-apa lagi tadi. jangan begitu kak, mereka melihatmu karena kakak good looking sehingga mereka mau berkenalan" kata Zivannya meraih jemari tangan Langit.
"aku tidak suka bersinggungan dengan perempuan selain dirimu" geleng Langit tegas, Zivannya menghela nafasnya pelan. "itu salah satu yang membuatku dulu tidak ingin mengenalmu lebih jauh kak" lepas tautan jemari Zivannya pelan, Langit menahan pergerakan jemari Zivannya.
"aku tidak ingin gadisku terluka karena aku dekat dengan gadis lain secara tidak sengaja, aku juga tidak ingin gadisku didekati laki-laki lain. itu membuatku sangat-sangat tidak nyaman dan membuatku ingin menghabisinya" jawab Langit.
"sebelum bertemu denganmu, gadismu sudah bersama dengan mereka mengarungi waktu" jawab Zivannya. Langit mengendikkan bahunya setelah mendengar jawaban istrinya selesai.
"aku tau dan akan aku hapus ingatan waktu dengan mereka saat bersamaku" tatap Langit, Zivannya tersenyum menanggapi perkataan suaminya.
"janji jangan lari atau pergi lagi" tatap Langit, Zivannya mengangguk memberi cross finger kepada Langit. "janji tidak akan menyembunyikan apapun dariku" kata Langit, Zivannya mengangguk memberi tanda Ok dengan jemarinya.
"jadi Zivannya Dewantara sepenuhnya" tatap Langit, Zivannya terdiam melihat Langit lekat. "apakah selama ini aku tidak sepenuh hati menjadi Zivannya Dewantara" tanya Zivannya pelan, Langit menggeleng meraih jemari tangan Zivannya satunya.
"terkadang, kamu seperti ingin terbang jauh dari sisiku, yang. apakah kamu tidak mau memberiku kesempatan menjadi Langit Dewantara suami tercinta Zivannya Dewantara" tatap Langit, Zivannya terdiam menggigit bibir bawahnya spontan. Langit mengusap bibir bawah belahan jiwa nya itu.
"maafkan aku, kak. jika itu ada dipikiran mu tapi sejak kita sah menjadi suami istri, aku telah menempatkan mu dihati dengan ikhlas dan tulus" jawab Zivannya cepat, Langit tersenyum memeluk tubuh Zivannya dan mengecup kening nya. "aku tahu, kamu adalah jiwaku yang telah kembali" angguk Langit melihat mobil istrinya diantara deretan mobil lain dan segera membuka fitur pengaman mobil, Zivannya menanti Langit menyalakan mesin dan mengecek semua bagian kendaraan sebelum dirinya duduk dan memejamkan matanya karena lelah. Langit mengelus rambutnya dan melajukan mobil menuju pintu keluar parkir. Langit memberikan sejumlah nominal pembayaran parkir karena sudah dua hari berada disana. Zivannya terlihat tidak terusik dengan apapun yang dilakukannya.
Langit melihat pemandangan siang sepanjang melalui jalan, banyak sekali mahasiswa yang bergerombol menikmati waktunya disela-sela kuliah. "apa kamu juga sering meluangkan waktu bersama teman kuliah seperti mereka, yang" gumam Langit menoleh sekilas, Zivannya tidak mendengar apa yang dikatakan Langit.
sesampainya dirumah, Zivannya langsung membuka matanya seperti sudah tahu jika sampai. ia segera membuka kunci gerbang dan membukanya lebar agar mobil dapat masuk dan segera menutupnya kembali setelah nya.
ia segera mengambil kunci yang diletakkan disudut rumah membuka semua penutup tirai agar udara dan matahari membuat rumah nyaman untuk ditempati. ia segera membasuh diri setelah bepergian dan kembali tidur diranjang empuknya. Langit yang melihat kelakuan istrinya hanya bisa menggelengkan kepalanya, ia segera meletakkan bawaan di sudut kursi dan membersihkan diri mengganti pakaiannya dengan pakaian rumah.
Hai ..... Hai .... Hai..... all readers, terimakasih telah mengunjungi karyaku dan menantikan kelanjutan series Langit dan Zivannya.
Luv .... Luv .... Luv ..... U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak semuanya.
__ADS_1
maaf lama tidak update dengan cepat karena sedang sakit.
stay healthy all