
Langit menyerahkan tanda pengenalnya dan istrinya, penjaga depan mengangguk dan segera memproses permintaan Langit. "hallo kak, heem. Terimakasih atas pengertiannya, sampaikan kepada kak Dirgantara, besuk aku pulang" kata Zivannya menatap Langit yang membawanya masuk kedalam box ajaib untuk menuju kelantai tempat kamar yang mereka book.
"kak Valerie tertawa sebelum aku ngomong apa-apa" hela nafas Zivannya, Langit mengangguk tersenyum. Beberapa abdi negara seperti Langit tampak memasuki box ajaib sepertinya dan memberi hormat sebelum mereka masuk, Langit menganggukkan kepalanya dan membiarkan mereka masuk. Langit merapatkan tubuh istrinya, sehingga para abdi negara yang baru datang bisa masuk.
"siang ndan" salam mereka, Langit menundukkan kepalanya sedikit. Ponsel Zivannya bergetar ada panggilan dari bunda. Zivannya menyerahkannya pada Langit agar menjawabnya. "iya bund, Langit baru saja sampai. Zivannya yang menjemput. Besuk kita akan ke Jogja, dia meninggalkan kendaraannya di bandara kemarin" jawab Langit.
"baik, nanti akan Langit ingatkan. Bunda sudah ke Lombok" angguk Langit, Zivannya menatap suaminya mengangguk.
"baik, hati-hati bund, salam buat ayah" tutup Langit. "mereka sudah berangkat tadi pagi, lupa mengabari mu dulu" kata Langit, Zivannya mengangguk. Mereka keluar box ajaib karena telah sampai dilantai yang mereka tuju.
"selamat bersenang-senang" toleh Langit sebelum pintu box tertutup. "siap ndan" salam mereka serempak bersemangat. Zivannya tersenyum menepuk bahu Langit, Langit tersenyum menggenggam jemari tangan istrinya melangkah menuju kamar hotel yang akan mereka tempati.
"yang, aku akan membersihkan badan dulu" buka baju dinas Langit menyerahkannya kepada Zivannya yang kemudian melipatnya dengan rapi meraih tas jinjing Langit yang berisi pakaian sehari-hari. Mengambil paper bag yang ia selipkan disisi tas jika sewaktu-waktu membutuhkan untuk membungkus pakaian kotor. Zivannya menyalakan pendingin ruangan dan mengecek beberapa sudut ruangan.
"sudah kamu cek, yang" tanya Langit setelah keluar dari bathroom. Zivannya mengangguk. Langit mengecek sekali lagi keadaan ruangan yang mereka pakai. "clear" angguk Langit menyalakan TV, Zivannya bergantian ke kamar mandi untuk membasuh parasnya. "yang" panggil Langit menyerahkan air mineral yang sudah setengah isinya, Zivannya meneguknya hingga sisa setengahnya. Langit meraih tubuh istrinya dan membawanya ke ranjang, Zivannya reflek melingkarkan kedua tangannya di leher suaminya
"habis kamu, yang" senyum Langit mengusap pipi istrinya, Zivannya berdehem menutup parasnya malu. Langit tertawa melihat ekspresi Zivannya yang bersemu merah.
"kenapa, yang. Kamu takut terhadap suamimu yang akan melahap mu" buka kancing baju Langit, Zivannya membuka matanya mengangguk. Langit mencium lembut bibir Zivannya yang lama dia rindukan, Zivannya bereaksi dengan cepat membalas Langit. "hhmm, sebegitu inginnya, yang" senyum senang Langit, Zivannya tergelak berusaha melepaskan diri dari Kungkungan Langit yang berada diatasnya.
"nggak usah kemana-mana. waktumu sudah lebih dari tiga minggu kemana-mana, itu sudah cukup bagiku untuk membiarkanmu terbang keluar dari genggaman tangan ku" usap rambut Langit. Zivannya meraih kedua pipi Langit membawanya mendekat dan mendekatkan bibirnya dengan penuh gelora, Langit membalas dengan penuh kekuatan, mereka saling memberi dan menerima, saling berbagi dan menumpahkan rasa rindu yang membuncah di hati setelah sebulan tidak saling bertemu dan hanya memandang melalui layar ponsel.
beberapa kali Zivannya menggeram dan berteriak saat mencapai sesuatu. Langit menyatukan kening mengecup lembut bibir istrinya. "kamu tahu, yang. betapa aku tersiksa saat tugas kali ini dan hal itu membuat terlihat semakin cantik saat jauh" gumam Langit. "ditambah lagi kalo pergi hingga larut malam bersama laki-laki lain" dengus Langit, Zivannya membuka matanya.
"nggak sendirian by" usap rambut Zivannya, Langit mengendikkan bahu kanannya. "aku hanya melihatmu bukan mereka" dengus Langit, Zivannya tersenyum mengecup kedua bola mata suaminya.
"aku hanya memilikimu di hati dan pikiranku, aku hanya mencintaimu didalam dada dan jiwaku, aku menyayangimu dengan segenap kasih dan rinduku" jawab Zivannya. Langit tersenyum manis mengangguk menatap paras istrinya yang tidak tergantikan.
__ADS_1
"selain tugas negara hanya ada kamu disini" tepuk dada kanan Langit, Zivannya menaikkan alis kirinya tanda tidak mengerti. "ibu ada disebelah mana, yang" kata Zivannya mencoba menggeser tubuh Langit yang berada diatasnya. Langit mendekap tubuh istrinya dan membalikkan tubuh mereka hingga Zivannya menjerit pelan saking terkejut.
"kenapa nggak bilang-bilang, kak. aku benar-benar takut jatuh" pias Zivannya, Langit tersenyum menggenggam erat candunya yang berada didepannya. mereka memulai kembali aktifitas yang membuat mereka mengeluarkan keringat dan suara-suara yang tidak terdengar oleh siapa-siapa.
"yang, kamu mau makan apa" rapikan t-shirt Langit, Zivannya meraih bahu suaminya untuk berdiri. "kenapa, yang" lihat Langit meraih kedua bahu istrinya agar tegak berdiri. "kakiku lemas, by. bisakah hanya kamu yang membelinya dan membawanya kesini. takutnya jika aku keluar nanti malah akan membuat yang lain memandangku aneh dan membuatku tidak nyaman" tatap Zivannya. Langit membuka matanya lebar-lebar melihat istrinya yang sedikit gemetar menahan tubuhnya yang sedang berdiri disamping tempat tidur.
"maafkan aku, yang. maafkan aku. tidak melihatmu sampai begini, kamu berbaring saja dulu, aku akan segera kembali" ujar Langit meletakkan tubuh istrinya kembali di ranjang, Langit bergegas keluar setelah meletakkan air mineral botol disebelah istrinya dan bergegas keluar dari dalam kamar, Zivannya menghembuskan nafas menutup mata nya dan menutup cover bed hingga tubuhnya terbenam. Langit menuju ke depan hotel dan melihat penjual makanan berderet rapi disebelah. Langit bergegas menghampiri tenda-tenda penjual makanan dan menenteng beberapa makanan untuk istri tercinta nya.
"Langit kan" papasan seseorang saat berjalan berseberangan dengan Langit. Langit melirik sekilas dan bergegas berjalan kembali agar istrinya tidak kelaparan karena perbuatannya yang tidak berhenti membuat tubuh istrinya kekurangan asupan makanan. box ajaib segera membawanya menuju kamar. "yang, bangun dulu makan, ini ada jeruk hangat untukmu" buka cover Langit mengusap paras istrinya agar membuka matanya, Zivannya membuka pelan matanya dan segera duduk untuk meminum jeruk hangat yang dibeli suaminya. Langit menyuapi istrinya dengan makanan sedikit berat agar tidak menggigil, melanjutkan dengan makanan berat. "apakah merasa lebih baik, Zi" usap rambut Langit, Zivannya yang memejamkan matanya bersandar di dinding mengangguk mengunyah makanan pelan. mereka telah selesai makan dan mengistirahatkan tubuh.
"kak" gerak Zivannya pelan. "kenapa" keryit mata Langit menatap istrinya.
"aku ingin buang air kecil tapi terasa sakit" ringis Zivannya, Langit membuka kedua matanya cepat dan mengangkat tubuh istrinya menuju bathroom.
"apakah masih terasa sakit" pandang Langit jongkok didepan Zivannya, istrinya mengangguk pelan menahan nyeri, menekan bahu Langit menyalurkan kesakitan nya. setelah selesai, Langit kembali membersihkan tubuh istrinya dan dirinya agar merasa segar.
terdengar ketukan di pintu kamar, Zivannya kembali duduk sedangkan Langit segera mendekati pintu dan membukanya, Valerie tersenyum segera masuk melihat Zivannya yang duduk ditepian ranjang. Dirgantara menatap tajam kearah Langit yang memberi hormat kepadanya. Dirgantara meletakkan paper bag makanan di atas meja, segera duduk menatap Zivannya yang melambaikan tangan kepadanya, Valerie mendekat dan mengeluarkan box kecil dari dalam saku gaunnya.
"pake ini dulu dek, biar bisa jalan dan merasa adem saat di oles. kita sarapan setelah itu. anak-anak sudah berangkat sekolah, kakakmu sudah nggak sabar ingin melihat keadaanmu" tepuk bahu Valerie tersenyum. Langit menghela nafasnya dan membantu istrinya untuk ke bathroom.
"nggak usah lebay, pa. mereka sudah lama tidak bertemu jadi wajar kalo sampai begitu. apa papa tidak ingat dulu juga main srudak-sruduk begitu, apa ayah juga marah melihat aku seperti adek" senyum Valerie memeluk suaminya dari samping.
"kok aku lupa ya ma" toleh Dirgantara, Valerie mengerucutkan mulutnya. "kamu keenakan pa, yang sakit kan aku. jadi mana ingat kalo begitu" lirik Valerie, Dirgantara tergelak mendengar sarkasme istrinya.
"tapi kan kita sama-sama enak kan ma" naik turunkan alis mata Dirgantara, "bukan berarti harus dihajar terus kan pa, yang rugi kan kalian pada akhirnya karena tidak bisa enak bersama dalam jangka waktu lama" tatap Valerie mengambil makanan dari dalam paper bag dan menatanya dimeja.
Langit dan Zivannya keluar dari dalam bathroom, Valerie tersenyum melambaikan tangan agar mereka juga segera duduk bersama untuk makan pagi.
__ADS_1
"darimana kakak tahu kami disini" tanya Zivannya, Valerie mengerucutkan mulutnya ke arah Langit. "tadi aku mengirim pesan ke kak Val menanyakan obat untuk mengurangi rasa sakit mu" tatap Langit menyuapi istrinya, Dirgantara melirik sekilas Langit yang menyebabkan Zivannya kesakitan.
"sudah mendingan kan dek" tanya Valerie memakan sarapannya, Zivannya mengangguk pelan.
"tidak apa, itu lumrah terjadi karena kalian terlalu lama berpisah, dulu juga kak Dirgantara begitu saat tugas diluar Jawa, lama tidak bertemu dan berakhir sama dengan kalian" senyum Valerie, Dirgantara tersedak saat mendengar istrinya bercerita mengenai mereka dulu, Valerie segera menyodorkan air mineral yang ada di meja.
"ayah dan bunda juga seperti kami saat ini, memberikan bantuan yang sama dengan kami lakukan saat ini" angguk Valerie.
"apakah ayah marah kak" tatap Zivannya, Valerie menggeleng. "ayah hanya tersenyum maklum karena kami masih muda dan baru saja menikah. bunda yang memberitahu kami berdua apa saja yang harus dilakukan untuk mengurangi rasa nyeri" jawab Valerie lugas, Langit sedikit menundukkan pandangannya saat memandang kakak perempuan pertama Zivannya bercerita.
"tidak ada yang salah dengan aktifitas menguras energi seperti itu, hanya harus ada jeda agar tidak membuat salah satunya tidak nyaman. belajar dari pengalaman bukan" senyum Valerie, Zivannya mengangguk tersenyum malu.
"terimakasih kak sudah datang dan membuat Zi merasa senang sekali" angguk-angguk Zivannya. Valerie menaik turunkan alis mata nya. "jadi, apakah seru kemarin" tanya Valerie antusias. Zivannya mengangguk pelan. "seru kak, berbagai gaya" jawab Zivannya.
"kalian" seru Dirgantara dan Langit bersamaan. Valerie dan Zivannya menatap suaminya sesaat. "jangan bercerita didepan kami, saat tidak ada kami kalian boleh mengobrol dengan terbuka" Hela nafas Dirgantara.
"kenapa memangnya, cuman cerita aja. kan nggak praktek, jadi nggak masalah kan" tatap Valerie.
"tapi ma, malu kan sama adek. jadi tau pake jurus apa aja" bisik Dirgantara. "Langit pasti juga jago pa, nggak usah diajari juga udah naluri menerkam dengan berbagai gaya" kata Valerie, Langit tersedak mendengar ucapan Valerie yang to the point.
"siapa tau, dengan berbagi pengalaman kita juga bisa meniru gaya baru mereka" kata Valerie, Dirgantara dan Langit kembali tersedak mendengar perkataan Valerie. Zivannya tergelak dan ber hi five dengan kakak perempuan pertama nya itu.
"skak mat" ujar Zivannya menirukan bentuk pistol dengan jemarinya.
Hai... Hai..... Hai... all readers. terimakasih selalu setia menanti kelanjutan cerita Zivannya dan Langit.
Luv.... Luv.... Luv.... U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih semuanya.
__ADS_1
stay healthy all