
mereka berjalan meninggalkan salah satu tenant yang baru saja mereka masuki tadi, "Langit" lambai seseorang. Langit menoleh melihat seorang gadis berjalan cepat kearahnya, "aku liat-liat disana dulu kak" lepas jemari Zivannya. Langit menggenggam erat jemari Zivannya tidak memperbolehkannya pergi dari situ, "jangan menghindar, yang. aku tidak akan meninggalkan kamu sendirian" senyum Langit. "tumben kamu keluar" senyumnya sesaat setelah tiba didekat mereka berdua, langit mengangguk. "aku sedang mengajak kekasihku jalan. katanya bosen dirumah" jawab Langit. gadis itu tampak terkejut sesaat setelah mendengar perkataan langit.
"kamu sudah mempunyai kekasih, aku kira dia adikmu karena dia terlihat sangat imut" jawabnya memandang Zivannya lekat. "memang, karena itu sainganku untuk mendapatkannya nggak sedikit" sarkas Langit. Zivannya menggigit bibir bawahnya pelan. gadis itu terlihat salah tingkah atas sarkasme Langit kepadanya. "maaf, aku tidak bermaksud begitu Lang" jawabnya sesaat kemudian. "aku bersama dengan yang lainnya, apakah kamu mau bergabung" isyarat dagu gadis itu.
"tidak, terimakasih. wanitaku ingin pulang karena sudah larut, kita ketemu besuk saat kumpul bareng" geleng Langit. gadis itu mengangguk dan melambaikan tangan saat Langit dan Zivannya beranjak menjauh. "dia salah satu temanku. ya, memang aku sedikit kasar kepadanya agar dia sadar dan berhenti untuk melihatku" cerita Langit tanpa Zivannya minta. "dia terlihat sangat menyukaimu, yang" senyum Zivannya, Langit tersenyum merengkuh bahu Zivannya. "pesonaku memang tidak diragukan lagi kan" tatap Langit, mereka tertawa pelan.
"kita makan dulu atau langsung pulang" tanya Langit. "kan abis makan kak, makan terus nih bawaannya kalo jalan" toleh Zivannya, "ya mungkin kamu lapar, yang. sudah keliling kan dan tadi juga menguras energi mu" senyum smirk Langit, Zivannya memutar bola matanya jengah. "yang, kesana bentar" isyarat dagu Langit, Zivannya menoleh melihat yang diisyaratkan Langit. "tidak, nggak usah macam-macam. pulang sekarang" geleng Zivannya, Langit tersenyum, mengangkat tubuh Zivannya. masuk ke tenant perhiasan. "bisa lihat cincin pernikahan" kata Langit menurunkan Zivannya, penjaga segera memperlihatkan model cincin. Zivannya memandang Langit kesal, Langit menunjuk sebuah cincin yang bermata berlian banyak. "ini aja, yang" lihat Langit. Zivannya mengusap keningnya yang tidak gatal. "kak, pulang" bisik Zivannya, Langit memandang Zivannya lama. hanya helaan nafas yang bisa dilakukannya ketika melihat Langit, Zivannya menunjuk sepasang cincin yang mempunyai desain sederhana tanpa mengalihkan pandangannya pada Langit. penjaga segera mengambilkannya, Langit menatap kedua cincin itu sesaat. "desain ini baru saja keluar, belum ada yang melihatnya selain anda berdua" kata penjaga. Langit menatap Zivannya dan memakaikan cincin itu dilingkar jari manis kiri Zivannya, "terlihat cantik" senyum Langit, Zivannya mengeluarkan kartu untuk membayarnya. "makasih kak, silahkan berkunjung kembali" senyum penjaga setelah mereka selesai bertransaksi, "belanjaan uang nggak semudah membalikkan telapak tangan kak, jangan menghamburkan uang untuk membeli sesuatu yang tak penting" pandang Zivannya. "ini penting loh, yang. kamu mau aku terus kuatir saat kamu jauh dariku" usap punggung Langit.
"aku bisa menjaga diriku sendiri kak, jangan kuatir berlebihan. aku bukan anak perempuan yang bisa di injak-injak semaunya" kata Zivannya. Langit mengangguk menenangkan Zivannya.
"kok kesannya jadi aku yang kesal sih" geleng kepala Zivannya mempercepat jalannya meninggalkan Langit, Langit tertawa lebar melihat Zivannya yang uring-uringan.
mereka dalam perjalanan pulang saat melintas di jalanan yang ramai. "kenapa kak" kata Zivannya pias mencengkeram pinggang Langit. "tenang, yang" kata langit tegas. "aku takut kamu kenapa-kenapa" kata Zivannya. "ok, kita akan baik-baik saja Zi, mungkin ada sesuatu. nggak usah takut" toleh Langit. Zivannya memejamkan matanya daripada melihat yang terjadi, "mending putar balik aja kak" peluk Zivannya erat dari belakang, Langit tersenyum mengusap tangan Zivannya yang berada dibagian atas kakinya. Langit berjalan pelan melintasi keramaian. Zivannya mendengar Langit berbicara dengan seseorang mengenai keramaian. "mereka sedang melakukan penyitaan lahan, yang. jadi pemilik lahan sedang bersitegang dengan juru sita" kata Langit. Zivannya membuka matanya merenggangkan duduknya dengan Langit. "kenapa" toleh Langit. "pulang aja, nggak usah kemana-mana. aku beneran takut" rajuk Zivannya. "isshhh... sama orang aja takut, sama yang nggak kliatan pas di gunung biasa aja" kata Langit melaju lebih cepat. "beda kak, manusia bisa melakukan dan menghalalkan banyak cara untuk mencapai tujuannya sedangkan mereka yang nggak kliatan menakutkan juga sih, tapi mereka tidak akan nampak dengan sembarang orang" jawab Zivannya, Langit tersenyum.
tiba dirumah, Zivannya meminta Langit untuk memasukkan motor ke garasi. Zivannya membunyikan bel untuk memanggil mbok dan mbak Marni. "pulang non dek" senyum mbok. Zivannya tersenyum mengangguk menyalami mbok. "bunda belum pulang mbok" tanya Zivannya "belum non dek, masih minggu depan. lha katanya non dek mau pulang minggu depan juga, mau naik gunung" kata mbok. "kak Langit nanti nginep sini mbok, tuh orangnya" isyarat Zivannya. mbok menoleh cepat. "ehh... den Langit, pantesan non dek pulang" senyum mbok. Langit tertawa, "saya paksa pulang mbok. kalo nggak dipaksa mau naik gunung lagi, nggak inget kalo tubuhnya juga butuh istirahat" kata Langit.
"iya, den. mbok buatin coklat panas ya den sebentar. mau nginep sini kan den. mau disiapin kamar atau mau diruang tengah aja" tanya mbok. diruang tengah aja mbok lebih enak" angguk Langit. mbok berlalu menuju ke belakang.
__ADS_1
Zivannya keluar dari kamarnya, "mbok mana kak" tanya Zivannya, duduk di kursi makan. "ada dibelakang buat minuman" jawab Langit, Zivannya beranjak mau kebelakang. "kemana yang" tanya Langit. "aku mau ke dapur buat mie rebus instan" kata Zivannya. "aku mau" senyum-senyum Langit. "buat sendiri kak" pandang Zivannya. Langit memandang Zivannya lama, "ya, kalo nggak enak nggak boleh protes" kata Zivannya berlalu.
"non dek baru di dapur den" datang mbok menaruh coklat panas didepan Langit. "iya mbok, sekalian tadi aku juga minta" angguk langit. "kak, keatas aja liat malam" kata Zivannya agak keras. Langit beranjak membawa minumannya. "sini aku bawain" taruh mug coklat di baki, disampingnya mangkuk besar mie rebus buatan Zivannya.
"lain kali jangan teriak-teriak, kalo manggil dekati orangnya" pandang Langit, Zivannya mengangguk.
"maaf kak" kata Zivannya, Langit memberi isyarat Zivannya untuk mendekat, Zivannya mendekat kearah Langit yang segera mencium bibirnya sekilas. "sering-sering melakukan kesalahan biar aku bisa sering-sering menciummu" bisik Langit menaiki tangga ke teras atas. Zivannya memandang Langit dengan pandangan yang nggak tau lagi harus bagaimana. Zivannya menghela nafasnya dan menggeleng pelan. Zivannya berbalik turun untuk menuju kamarnya. merebahkan badannya di ranjang yang dulu menjadi tempat peraduannya bersama Aga. Zivannya menitikkan airmatanya dan tertidur dengan cepat. Langit mengusap kepala Zivannya berulangkali. Zivannya menggeliat dan membuka matanya lebar. "nggak sopan, ditinggal tidur lagi" kata Langit. Zivannya menatap Langit yang berada disampingnya. "ngantuk kak" kucek mata Zivannya. Langit meraih tangan Zivannya agar tidak mengusap matanya.
"makan mie rebus instannya" bangunkan Langit membawanya keluar menuju ruang tengah. "siapa tadi yang mau mie rebus dan membuatnya" pandang Langit. Zivannya menyandarkan kepalanya Kedinding belakangnya. "habisin kak, aku temenin" pejam mata Zivannya. langit memakan mienya dan mencium bibir Zivannya memasukkann mie kedalam mulut kekasihnya Zivannya membuka matanya cepat. "satria Langit" kata Zivannya cepat. Langit tersenyum lebar. "aku makan.... aku makan...." ambil mangkuk besar dari tangan Langit, memakan dengan tenang mie rebusnya. "jangan lupa suamimu belum makan mie nya, yang" kata Langit, Zivannya menyuapi langit dengan cepat. Langit tertawa lebar mengetukkan keningnya kekening Zivannya.
"luv U more baby" kata Langit, Zivannya meminum coklat panas Langit.
"kenapa nangis, yang" tanya Langit. "teringat mama dan kak Aga" jawab Zivannya cepat. langit langit mengusap kepala Zivannya lembut. "kamu belum pernah mengenalkan ku pada mamamu lho, yang" pandang Langit. "abis naik gunung aja kak, kakak bisa ambil waktu saat weekend. akan aku kenalkan ke mama dan keluarga papa" jawab Zivannya. "ketemu Yuda dong" kata Langit. "ketemu Bima juga, laki-laki yang membuatku mempunyai teman seperti Yuda dan kalian berdua selalu mempermasalahkan hal itu, nggak kak aga nggak kak Langit" pandang Zivannya.
Langit tertawa, "insting laki-laki mungkin karena apa yang menjadi miliknya akan di ganggu" kata Langit. Zivannya menatap Langit, "kalian yang datang belakangan daripada Yuda. harusnya yang merasa terganggu dia kan. bukan kalian, kenapa kalian yang kebakaran jenggot coba" pandang Zivannya.
"karena dia tahu tidak bisa melewati garis itu" kata langit tegas. Zivannya menghembuskan nafas panjang. "dia mau mengikutiku ketika terakhir kali kita bertemu. itu bisa aku pertimbangkan" kata Zivannya tanpa sadar. Langit memandang Zivannya lama. "kamu ingin membuat kami saling baku hantam" tanya Langit, "kenapa.... kenapa ada baku hantam. toh perasaan tidak bisa dipaksakan. jika aku lebih memilih Yuda daripada kakak. dimana salahnya" tanya Zivannya. Langit menghembuskan nafasnya melihat Zivannya sudah mulai beradu argumen lagi dengannya. "salah, karena kamu memaksanya untuk ikut denganmu sementara keluarganya tidak bisa menerima mu, kenapa bukan kamu saja yang ikut dengannya. kamu hanya seorang perempuan yang akan ikut dengannya jika kalian menikah. apa kamu berpikir sejauh itu. apa keluarganya juga menginginkan dirimu" pandang Langit menyilangkan tangannya didadanya.
__ADS_1
"aku tau dan aku sadar, makanya aku nggak pernah melihatnya seperti dia melihatku" jawab Zivannya.
"nah kan, makanya kamu hanya untukku" senyum-senyum Langit. Zivannya memutar bola matanya kesal.
"kamu jadi berangkat besuk kamis, yang" tanya Langit. "kayaknya iya kak. tapi nanti lihat situasi, jika Soni memberitahuku maka berangkat, jika tidak ada perubahan rencana" angguk Zivannya.
"jika kekasihnya mengijinkannya naik, maka dia akan naik. setelah lulus baru kali ini aku naik lagi dengan Soni. kemarin dengan anak satu fakultas, sama anak arsitek kampus lain dan dengan anak kampus Jakarta" jawab Zivannya.
"kebanyakan main kamu, yang" sentil kening Langit.
"memang, biar anak-anakku tidak hanya berada dengan satu lingkungan. agar mereka membuka matanya bahwa perjalanan hidup tidak akan pernah berhenti di satu titik saja, ada banyak titik yang dapat kita lalui jika yang satu tertutup maka akan ada titik lain yang terbuka" jawab Zivannya panjang. langit tersenyum lebar.
"luv U more baby" usap kepala Langit, Zivannya menatap Langit heran.
"aku selalu melihatmu lebih dari wanita lain" senyum Langit, karena perjalanan hidup kita nggak selamanya mulus dan lancar kak. penderitaan dan kepahitan akan membuat kita semakin kuat" hembus nafas Zivannya.
hai.... hai.... hai..... all readers terus dukung karyaku ya, agar tambah semangat untuk terus menulis.
__ADS_1
luv....luv...luv... U all readers sekebon pisang goreng.
stay healthy all readers terimakasih banyak sebelumnya.