Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 98


__ADS_3

mereka mengobrol hingga Zivannya tertidur, Langit membenarkan posisi Zivannya yang tertidur lelap dan segera mematikan lampu ruang tengah beranjak tidur disamping Zivannya.


pagi hari


Zivannya mengerjapkan matanya melihat orang-orang rumah sudah mulai beraktifitas, jam masih menunjukkan pukul 4.45 pagi, Zivannya berjalan pelan menuju kamar, melaksanakan kewajiban paginya. kembali tidur di ranjangnya yang hangat.


Langit melihat Zivannya yang kembali ke kamar. mengecup rambutnya. "yang, bangun dulu, siapin coklat panas" bisik Langit. Zivannya bergerak pelan. "kan biasanya mbok yang buatin" kata Zivannya serak. "kan kamu istriku, yang. kenapa jadi mbok yang nyiapin" kata Langit. Zivannya menatap Langit beranjak dari ranjangnya "berangkat jam berapa" jalan Zivannya. "6 pagi. hari ini aku ingin membuat yang lain olahraga pagi" kata Langit, Zivannya melangkah keluar kamar di ikuti Langit. "den mau dibuatin coklat panas sekarang" dekati mbok.


"biar Zi yang buatin mbok, makasih banyak" sentuh bahu Zivannya. "nanti mau dibuatin apa non" tanya mbok. "mau kepasar nggak mbok, ikut ya" toleh Zivannya bersemangat.


"kan ada den Langit non dek" lihat mbok.


"ishhh.... jam 6 kak Langit udah berangkat. nggak ada orang dirumah" kata Zivannya mengibaskan tangannya.


Langit mengikuti kemana Zivannya pergi. Zivannya mengambil mug dan menuangkan coklat, merebus air agar panas dipanci kecil. "mau makan roti kak, Zi panggangin" lihat Zivannya, Langit mengangguk. Zivannya mengambil dua lembar roti dari box pendingin dan memanggangnya di toaster. Zivannya melakukan semuanya dengan cepat, menyodorkan piring kecil berisi roti panggang dan segelas mug coklat panas untuk Langit dimeja makan.


"pulang jam berapa kak" tanya Zivannya duduk mengoleskan selai coklat ke roti. "jam 4. sampai sini paling jam 5-6" jawab Langit, Zivannya menyerahkan roti. Langit segera memakan rotinya, "buatin makan siang ya.... yang, anter ke kesatuan" kata Langit. "hmmmm..." dehem Zivannya, "jam berapa mau kesana" tanya Langit. "jam 1 lebih kak" pandang Zivannya, Langit mengangguk.


"baiklah aku bisa menunggu hingga jam satu" kata Langit. Zivannya memandang Langit lama, "aku usahakan lebih cepat sampai" balas Zivannya. Langit memberi tanda Ok dengan jarinya.


"aku berangkat, yang" anjak Langit setelah selesai memakan sarapannya. Zivannya beranjak mengikuti langkah Langit keluar dari rumah. "jangan keluyuran kemana-mana" balik badan Langit sebelum menaiki motornya. Zivannya mengangguk mencium punggung tangan Langit yang disambut dengan dicium keningnya oleh Langit. Zivannya melambaikan tangannya sesaat saat Langit melajukan motornya keluar halaman keluarga Triastomo.


"non dek, mbok diantar Marni kepasar ya, non dek istirahat dirumah dulu, kan baru pulang dari jauh" hampiri mbok.


"mbok, nanti buatin makan siang untuk kak Langit ya, minta dianterin makanan" senyum Zivannya.


"siap non dek, nanti mbok bikinin buat berdua" senyum mbok. Zivannya mengangguk dan memberi isyarat dengan jemari tangannya kemudian masuk ke dalam kamar untuk tidur kembali.


jam 11 siang Zivannya bangun dan segera membersihkan dirinya untuk mengantar makan siang Langit, seperti yang diminta kekasihnya itu saat berangkat. mengenakan cardigan panjang, celana kain dan t-shirt, sneakers putih, rambut diikat ekor kuda membuatnya seperti anak kuliahan yang baru saja masuk kuliah.

__ADS_1


mbok memberikan tempat makan untuk dibawa Zivannya ke tempat Langit. "makasih banyak mbok" senyum Zivannya mencium punggung tangan mbok sebelum keluar rumah. Zivannya menaruh paperbag berisi pakaian untuk menghadiri acara Langit nanti dikursi belakang bersebelahan dengan box makan siang Langit, Zivannya segera melajukan mobilnya keluar halaman dan ikut melaju antri di jalanan ibu kota Jakarta yang padat. Zivannya mendengarkan musik sambil menyanyikannya pelan mengusir kebosanan selama perjalanan. waktu menunjukkan pukul 12.40 saat Zivannya sampai di pos jaga depan. "permisi pak, mau ketemu satria Langit" senyum Zivannya.


"mau ngapain dek, kalo mau ngirim sesuatu titipkan sini saja. nanti kami sampaikan" jawab tegas tentara jaga.


"oh, gitu ya kak, baik. sebentar saya ambilkan dulu" angguk Zivannya tersenyum, bertepatan dengan ponselnya yang berdering karena Langit menghubunginya.


"dimana, yang" tanya Langit.


"didepan pos jaga kak, suruh nitiipin aja disini katanya" jalan Zivannya kemobil.


"tunggu disitu jangan kemana-mana" tutup Langit tergesa-gesa keluar dari ruangannya dan berlari keluar. Zivannya menatap ponselnya menghembuskan nafasnya panjang membuka pintu belakang untuk mengambil paper bag makan siang Langit, menutup pintu dan menaruh paperbag di pagar tembok pembatas jaga. Langit berlari menuju Zivannya, "kasihkan" isyarat tangan Langit mengatur nafas. petugas jaga memberi hormat kepada Langit. Zivannya mengambil kembali paperbag yang ditaruhnya dan memberikannya kepada Langit. "aku bilang untuk tunggu aku" pandang Langit. Zivannya mencium punggung tangan Langit setelah mendekatinya. Zivannya nyengir, "aku pulang kak, itu masakan mbok" kata Zivannya, Langit meraih kunci mobil dan menyuruh Zivannya untuk segera masuk. "ingat, jika dia datang suruh masuk. hanya dia" tatap tajam Langit ke petugas jaga. "siap ndan" serentak mereka bertiga. Langit mengangguk dan masuk kedalam mobil di ikuti Zivannya. "kenapa" tanya Langit menoleh, Zivannya menggeleng "terlalu tajam" kata Zivannya spontan, Langit mengusap bahu Zivannya pelan. "aku hanya lembut denganmu" senyum Langit. Zivannya menghalau tangan Langit. "ish kak di kesatuanmu lho" kata Zivannya.


"lha terus kenapa" tanya Langit heran, "nggak baik jika dilihat orang" turun Zivannya. Langit tersenyum dan turun mengikuti Zivannya. "kamu udah makan, yang" tanya Langit, Zivannya menggeleng. "tadi kesini sehabis mandi, disiapin mbok trus langsung aja" jawab Zivannya, Langit meraih jemari Zivannya.


"ini pertama kalinya kamu kesini kan" tanya Langit.


"tidak, aku sering kesini dengan kak Mentari untuk menemui bang Matahari" jawab Zivannya. "belum pernah keruanganku kan" pandang Langit.


"nggak ikut makan siang ndan" lintas seseorang menyapa Langit. "udah dianterin" angkat paperbag Langit. orang itu tersenyum melihat mereka berdua mengangguk dan berlalu.


"ini ruanganku, yang" buka pintu Langit, Zivannya masuk mengucapkan salam. Langit menjawab salamnya dan duduk dikursi menaruh paperbag berisi makanan dimeja kerjanya. Zhivannya mengeluarkan box tempat makan dan bottle coklat panas. "duduk, yang" kata Langit.


"bentar, kak. aku siapin dulu makan siangmu" kata Zivannya melipat rapi paperbag, menata box makan siang Langit, menyiapkan sendok dan meletakkan bottle tidak jauh dari jangkauan Langit.


"selamat makan komandan. semoga sesuai dengan selera komandan" senyum Zivannya. Langit meraih pinggang Zivannya agar merapat padanya. "kita makan berdua, kamu duduk disini dan aku disini" kata Langit mendudukkan Zivannya dikursi nya, Langit mulai menyuapi Zivannya. "laper" senyum Langit menyuap makanan kemulutnya, Zivannya mengunyah dan mengangguk. "yang buatin coklatnya siapa" tanya Langit, Zhivannya mengangkat jari telunjuknya ke atas. Langit mengusap kepala Zivannya. "mau pulang kerumah atau mau kerumahku aja" tanya Langit sembari makan. "mana aja boleh, yang deket aja. aku udah bawa pakaian ganti kita" jawab Zhivannya, Langit manggut-manggut. "ini diubah jam enam sore di xx" kata Langit memperlihatkan ponselnya pada Zivannya yang menganggukkan kepalanya. "kalo begitu kita dirumah dinas aja, kamu nggak mandi lagi kan" tanya Langit, Zivannya menggeleng.


mereka sampai dirumah dinas Langit dengan mengendarai kendaraan sendiri-sendiri. Langit memarkir motornya disamping rumah didalam garasi. Zivannya menghentikan mobilnya dibelakang motor Langit.


Langit membuka pintu belakang mobil Zivannya untuk mengambil paperbag pakaian yang dibawa Zivannya. "kak, nanti aku memakai sneakers ini" lepas sepatu Zhivannya. Langit mengangguk membuka kunci pintu. Zivannya melepas cardigan panjangnya dan tiduran diruang tengah sambil menonton TV kecil Langit.

__ADS_1


"yang" panggil Langit melihat dari pintu kamar, Zivannya menoleh dan menghampiri Langit. "kenapa kak" tanya Zivannya.


"siapin bajunya" kata Langit, Zivannya menghela nafas menghembuskannya pelan. "kan udah diatas ranjang kak" tunjuk Zivannya dari pintu, Langit menoleh tersenyum menarik tangan Zivannya agar masuk. Langit mencium bibir Zivannya lembut, "jangan jauh-jauh" satukan kening Langit, Zhivannya melingkarkan lengannya keleher Langit menyatukan bibir mereka pelan, mengabsen setiap inci bibir Langit dengan lembut. Langit membalas perlakuan Zivannya yang segera melingkarkan kedua kakinya seperti koala. Langit menahan badan Zivannya agar tidak jatuh dan membawanya ke ranjang dan melempar pakaian yang telah disiapkan Zivannya.


"do U want it, honey" sayu Langit menatap Zhivannya yang tersenyum tipis mengecup leher Langit pelan. turun menuju dadanya yang bidang, memberi tanda merah samar. Zivannya mengecup pelan belakang kuping Langit.


"apa aku tidak terlihat menggoda untukmu, yang" bisik Zivannya seksi. Langit menggeram pelan memejamkan matanya sesaat mendengar Zivannya yang membuatnya terbang.


Langit merebahkan Zivannya mencium bibirnya intens hingga Zivannya beberapa kali meminta Langit menjauh untuk mengambil nafas. Langit menahan tangan Zivannya keatas kepalanya dengan satu tangan dan menolak keinginannya.


"kamu yang memintanya Zi, kamu yang membuatku kehilangan kendali" bisik Langit ditelinga Zivannya dan menggigitnya pelan yang membuat Zivannya mendesah pelan.


"udah kak, maafkan aku, nanti kita telat ke acaranya. jangan biarkan mereka menunggu kita lama" erang Zivannya menahan badan Langit yang berada diatasnya.


"kamu membangunkan macan tidur Zi" gusar Langit, Zivannya tersenyum nyengir. Langit mengusap bibir Zivannya. "aishhh Zi... biarkan sebentar" sugar rambut Langit menatap Zhivannya yang terlihat mempesona. "kak... ayolah... nanti badanku remuk kalo sekarang, malah nggak bisa menemanimu" pandang Zivannya serius. Langit menatap Zivannya kesal merebahkan badannya diatas tubuh Zivannya. "kamu memang pandai menyiksaku, yang" hembus nafas Langit dibergulir disamping Zivannya. "makanya kak, jangan suka membuat anak orang banyak olah raga fisik kalo sedang marah" bisik Zivannya bangun, Langit menahan pinggang Zivannya agar tidak pergi.


"aku tidak melakukannya Zi, aku juga ikut dalam kegiatan fisik itu" kata Langit tidak mau disalahkan, Zivannya mengangguk tanda tidak mau berdebat lagi.


"ayo, yang. kita harus berangkat. jika terlambat tidak akan baik" jawab Zivannya mengelus perut Langit yang terlihat menggoda. Langit memandang Zivannya kesal.


"sebentar, yang" tarik Langit membuat Zivannya berada diatasnya. "ayo kak, nanti bisa diselesain saat pulang" pandang Zivannya. Langit menarik kepala Zivannya agar turun dan menciumnya lembut. "kamu memang bisa membuatku panas dingin tau nggak, yang" hembus nafas Langit mengusap bibir Zivannya yang penuh dengan jejak mereka berdua.


"seperti kamu yang nggak bisa dibantah saat sudah berkata. itu juga menyiksaku kak" senyum Zivannya menatap Langit. mereka tertawa bersama. "baiklah... kamu memang selalu benar sayangku. aku yang selalu lupa jika kamu sudah memilihku" angguk Langit menyelipkan anak rambut Zivannya ke belakang. "kenapa" kerut Zivannya tidak mengerti. "jika kamu nggak ditekan dan dipojokkan. maka kamu akan berada di zona nyaman mu, yang. dan nggak akan mau keluar dari sana. sekarang aku sedikit lega melihatmu bisa memandangku seperti ini" jawab Langit. Zivannya manggut-manggut.


"memang benar kak, terimakasih sudah memberiku kebahagiaan lagi. terimakasih sudah menarik ku dari sudut yang membuatku nyaman setelah ditinggal kak Aga. aku akui itu, aku memang tidak menginginkan laki-laki lain menggantikan posisinya" pandang Zivannya, Langit tersenyum mengangguk mendengar penjelasan Zivannya.


hai.....hai....hai....all readers. selalu dukung terus karyaku ini ya agar aku tambah semangat menyelesaikan jalan ceritanya.


terimakasih banyak atas dukungannya selama ini...

__ADS_1


luv....luv...luv.... U all readers sekebon pisang goreng dan secangkir kopi hitam panas yang pahit namun ada manis-manisnya disetiap sesapannya...


terimakasih banyak atas dukungannya all readers... stay healthy all...


__ADS_2