Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 163


__ADS_3

Zivannya memeluk suaminya saat pesawat sudah siap untuk berangkat "hati-hati, by. jaga diri jangan sampai sakit hanya karena kurang istirahat" tatap Zivannya, Langit mengangguk mengecup ubun-ubun rambut istrinya. "hati-hati, yang. jangan terlalu lama pergi" pesan Langit "iya...." angguk Zivannya melambaikan tangannya melihat Langit berjalan menjauh "mau kemana nih" senyum-senyum Rara "hhmmmm..... rendevous malam" jalan Zivannya, Rara tertawa mengikuti langkah sahabatnya "disini aja nongki nya" tunjuk Zivannya melihat jalanan legendaris yang masih tetap ramai walau waktu menuju dini hari, ia duduk di kursi yang terdapat disepanjang jalan menatap sekeliling masih banyak anak muda sedang bergerombol dan bersenang-senang "mahasiswa muda yang masih bersemangat kuliah" lihat Rara, Zivannya menatap mereka sesaat "udah lama tidak berdua begini" tatap Rara, Zivannya mengangguk tersenyum. "biasanya berempat dengan dua laki-laki yang telah pergi menjauh dari kehidupan kita" tengadah Zivannya melihat birunya langit yang cerah malam itu.


"aku tidak membayangkan kehidupan ku seperti ini, bayangan menikah sekali seumur hidup seperti kedua orangtuaku tidak berlaku untuk ku" gumam Zivannya "karena Tuhan memberimu dua laki-laki yang mencintaimu dengan sepenuh hati menerima kekurangan dan kelebihan mu" topang kepala Rara menghadap sahabatnya "yaa....ada banyak laki-laki yang menerima kelebihan ku tapi tidak kekuranganku" gumam Zivannya "bagaimana jika aku tidak bisa memiliki baby Ra..... apa aku akan ditinggal lagi" pandang Zivannya cepat sesaat setelah itu terlintas dipikirannya, Rara menoleh menatap sahabatnya


"jangan berpikir yang tidak-tidak Zi, nggak usah mendahului Tuhan berencana atas hidup kita umatnya berserah diri dan berdoa karena ada banyak orang yang mencintaimu apa adanya" kata Rara menggenggam jemari Zivannya erat memberi semangat untuk hidupnya, Zivannya mendesah panjang menutup parasnya dengan kedua tangannya "yaa..... Tuhan..... ampuni hamba mu ini" resah Zivannya, Rara menatap Zivannya dalam-dalam.


"mau jalan Zi sambil nyari makanan kecil, laper nih udah tengah malam" cengir Rara Zivannya tertawa melihat Rara "baiklah kita jalan dulu nemu makan apa kita makan" anjak Zivannya "hallo" salam Zivannya


"aku udah sampai rumah dinas, yang" masuk kedalam Langit melihat istrinya "kamu masih belum pulang, yang. dimana" lihat Langit seksama


"masih jalan di jalan bersejarah kak" jawab Zivannya


"mau pulang jam berapa" pandang Langit lekat


"paling bentar lagi ini baru makan dipinggir jalan berdua" perlihatkan Zivannya kearah Rara dan suasana sekitar mereka berdua


"nggak ada yang jagain, yang" desah Langit melihat mereka, Zivannya tertawa pelan


"mau ada laki-laki lain yang jagain begitu maunya" naik turunkan alis Zivannya, Langit segera muncul di layar ponselnya melihat istrinya yang sedang menyuap makanannya


"emang ada laki-laki lain" tatap Langit, Zivannya segera menggeleng menatap layar ponselnya juga


"tidak ada by, enakan berdua gini seperti biasanya nunggu dia punya pasangan jadi bisa jalan berempat lagi" jawab Zivannya Rara menepuk bahu Zivannya pelan


"Bagaskara aja" seru Langit

__ADS_1


"nggak mau" jawab Rara cepat menyahuti seruan Langit


"dia udah berusaha menjadi laki-laki yang selalu ada dan setia lho" minum Langit


"kalau komandan jadi mak comblangnya mas Bagaskara lagi aku hubungin nih mas Regan biar kesini" ancam Rara


"silahkan aja, ntar aku bawa langsung Zivannya nggak boleh ketemuan lagi" angguk Langit, Zivannya tertawa lebar.


"ketemu lawannya nih" pandang Zivannya kearah keduanya.


"suamimu itu nggak bisa liat istrinya jauh" dengus Rara kesal, Zivannya tertawa.


"masak ya jauh terus Ra, gimana bikin anaknya nanti" pandang Langit, Rara bersungut-sungut mendengar ucapan Langit


"udah ah kak, malah jadi bahas yang nggak-nggak sih ama jomblo ntar nggak ada pelampiasannya malah susah" jawab Zivannya, Rara menepuk bahu Zivannya keras, Zivannya tertawa lebar.


"he em..... biar enak kalo jalan berdua" angguk-angguk Zivannya menyuap makanannya dengan tenang. Langit tersenyum melihat istrinya yang terlihat lebih ceria.


"hati-hati kalo pulang nanti, yang. aku menunggumu pulang dengan selamat" rebahan Langit, Zivannya menatap suaminya melambaikan tangan dan mematikan hubungan komunikasi mereka.


"komandan terlalu lelah" geleng kepala Rara, Zivannya meminum teh panasnya "jam berapa besuk kita ketemuan dengan teman-teman" tanya Zivannya mungkin jam 10 an" selesai makan Rara, "kalo gitu pulang aja, biar bisa istirahat cukup besuk kita ada janji" kata Zivannya, Rara mengangguk dan beranjak dari duduknya membayar makanan mereka.


pagi hari


Zivannya kembali mengunjungi makam Aga, berdoa dengan tenang. ia melihat pusara terakhir suaminya sebelum mereka berpisah untuk selamanya, Zivannya menitikkan air mata dengan deras mengusap batu yang bertuliskan nama suaminya hingga akhirnya dia kembali dapat menguasai dirinya dan pelan-pelan beranjak meninggalkan tempat peristirahatan terakhir Aga.

__ADS_1


"darimana, yang" tatap Langit melihat istrinya yang terlihat tidak baik-baik saja, parasnya yang memerah seperti habis menangis terlihat jelas "dari tempat kak Aga, by" tutup paras Zivannya meredam emosinya. Langit duduk dan melihat Zivannya untuk mendengarkannya. "yang....." panggil Langit setelah sekian lama mereka diam, badan Zivannya terlihat bergoyang dengan keras saat dia menangis kembali. Langit memanggilnya. "maafkan aku, by..... maaf...." buka tangan Zivannya dari parasnya dan meraih tissue untuk menghapus airmatanya yang turun dengan sendirinya. "tidak apa, apa kamu bisa mengatasinya sendirian saat ini" tatap Langit tenang.


Zivannya mengangguk menutup matanya agar tidak lagi mengeluarkan airmatanya. "aku baik-baik saja hanya merasa sedang runtuh duniaku" jawab Zivannya, Langit menatap Zivannya "mau pulang" tanya Langit, Zivannya mengangguk. "ntar jika selesai ketemu dengan yang lain aku akan langsung naik kereta pulang" angguk Zivannya, Langit mengangguk "kabari jika akan sampai jadi aku bisa segera menjemputmu" jawab Langit, Zivannya mengangguk tanpa mau melihat suaminya yang sekarang "yang.... lihat aku dulu" tatap Langit di layar ponselnya, Zivannya menggeleng karena nanti akan tambah menangis lebih kencang.


"kamu akan membuatku kuatir jika tidak melihatku" ujar Langit, Zivannya membuka matanya melihat suaminya. "aku titip hatimu agar baik-baik saja, yang" pandang Langit, Zivannya mengangguk menghapus airmatanya yang terus meluncur turun "jika sampai biarkan aku memeluk mu agar meringankan hatimu" senyum Langit, Zivannya mengangguk tersenyum.


"Zi, kita berangkat sekarang" keluar Rara dari kamar mandi, Zivannya mengangguk menatap dari kaca cermin besar "bisakah kamu memakai pakaian ini aja Zi" serahkan paperbag Rara di atas nakas, Zivannya menoleh dan meraih paperbag itu, "aku sudah menyiapkan nya lama saat melihat pakaian itu aku memikirkan mu" senyum Rara. Zivannya mengeluarkan pakaian itu dan menatap Rara, "U look beautiful when dressing like that" pandang Rara, Zivannya segera memakai pakaian itu dan bergaya didepan Rara, mereka tertawa lebar. "jadi pulang hari ini, nggak mau tinggal lebih lama lagi" senyum-senyum Rara, Zivannya memeluk sahabatnya lama.


"pinginnya tetap disini aja sendiri menjalani hidup dengan tenang, terasa sangat berat untuk pergi dari rumah ini tapi aku harus memenuhi kewajiban ku sebagai istri Langit sekarang, mengikuti jalan takdirku yang lain, Ra" tatap Zivannya menghela nafasnya berat. Rara mengangguk "jika ada waktu aku akan menemui mu agar otakku tetap ditempatnya" kata Rara sarkas, mereka tertawa pelan "baik, aku tunggu kamu ikut di kegiatan ibu-ibu kesatuan" goda Zivannya, "Zivannya jelek" seru Rara kesal, mereka tertawa lebar sembari membereskan rumah sebelum mereka pergi untuk waktu yang lama. Zivannya menatap rumah yang dulu dia tinggali dengan Aga setelah mereka menikah, penuh dengan kenangan yang tak terlupakan, memori yang tidak akan pernah hilang.


"Zi mau beli oleh-oleh apa" tanya Rara, "seperti biasanya sekarang tambah banyak malah" senyum Zivannya menatap sahabatnya, Rara tertawa pelan. "ekspedisi aja kan" tanya Rara, "tentu saja iya, masak enggak. tangan ntar penuh bawaan kalo pulang, nggak healing tapi pening nanti" kata Zivannya, mereka tersenyum saling menatap. mereka segera ke pusat oleh-oleh yang biasa mereka datangi.


"Ra, apa Dimas menghubungimu" tatap Zivannya, Rara mengangguk "tentu saja Zi, dia mengucapkan selamat atas wisudaku kemarin, sakit di hati pasti ada tapi mungkin ini jalan yang terbaik baik kita daripada kita malah tersakiti kembali oleh kedua orangtuaku. aku juga meminta maaf padanya atas segalanya" hembus nafas Rara. "yang sabar ya Ra...." kata Zivannya meniru film animasi anak-anak yang suka ditonton oleh Raka dan Riki. Rara tergelak mendengarnya " Iyo.... Iyo..... wis...." jawab Rara yang akhirnya tertawa bersama.


"kenapa lambat datangnya" sapa seseorang, "macet lho.... nggak hanya Jakarta aja sekarang yang macet, Jogja ikutan macet" duduk Rara meminum jeruk dingin yang sudah dipesan sebelumnya, "mau langsung abadikan moments dulu baru makan kan" seru seseorang lain yang berada diujung ruangan, "yooo...... udah formasi lengkap ini, jangan ada yang kemana-mana" seru seorang teman perempuan. mereka segera mengambil posisi untuk mengabadikan moments bersama satu angkatan dengan berbagai pose dan baju yang telah disiapkan oleh studio.


Zivannya terlihat lebih ceria daripada tadi pagi, ternyata bertemu dengan teman-temannya membuatnya lebih menghargai hidup untuk tidak terpuruk melihat jalan hidupnya hingga saat ini. Rara tertawa saat melihat yang lain melakukan hal-hal yang heboh dan tidak di prediksi sebelumnya. beberapa kali melakukan photo shoot untuk mengabadikan kelulusan mereka.


"sampai jumpa lagi teman-teman, jangan lupa masih ada grup kuliah jika ada kejadian apapun itu saling mengabari, setidaknya kita masih bisa menjalin persaudaraan karena beberapa tahun kita berbagi kesusahan dan kesukaran saat mengerjakan tugas" seru Niko. mereka tertawa lebar, "siap.... jadi jika ada yang berbahagia maka kita ikut merasa bahagia" seru yang lain. "jika ada yang ke Jakarta jangan lupa kabari Zivannya, siapa tau dapat jodoh abdi negara" kata teman perempuan mereka, "siap ....." seru mereka serempak, Zivannya tersenyum lebar. "banyak kandidat nya yang paling penting saling cinta aja" kata Zivannya pelan, mereka bersorak gembira "iya.... kalo ditinggal tugas lama jangan nangis aja" kata Rara, mereka sontak gaduh.


"kayaknya udah ada yang nyangkut sama abdi negara nih" goda seseorang, "pergi satu datang seribu" seru Niko. "dasar kalian suka nggosip aja" tawa Rara, mereka tertawa lebar.


"makan yuk, udah siang banget. cacing diperut ku pada demo minta di isi" pandang Zivannya. "kamu itu kurus lho, tapi makannya banyak juga. aku makannya udah dikurangin banyak tapi nggak kurus juga" pandang Niko, "makanya cepetan nikah biar diurus sama istrimu" bisik Rara. "berat Ra.... harus nyari maharnya dulu" Hela nafas Niko. "makanya besuk kita cari yang banyak ya Ko" senyum smirk Rara, Niko memutar bola matanya mendengar perkataan Rara. "iya, kita bekerja dengan giat bagai seekor kuda" semangat Niko, "ogah, mending manusia aja daripada kuda" geleng seseorang, Niko memukul bahunya keras merasa tidak sependapat, mereka tertawa melihat Niko.


hai ..... hai ..... hai ..... all readers, terimakasih telah berkunjung ke karyaku. terimakasih banyak atas dukungannya selama ini.

__ADS_1


luv ..... luv ..... luv .... U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak semuanya.


stay healthy all


__ADS_2