
Langit tersenyum dalam tidur, hatinya terasa sangat ringan setelah mendengar jawaban Zhivannya bahwa mereka akan melangkah bersama dan saling setia. Langit memeluk tubuh Zivannya yang sudah terlelap. mereka tidur hingga terdengar ketukan di pintu. Langit mengerjapkan matanya menatap sekitar, Zivannya terlihat masih tertidur dengan pulas. beranjak untuk membuka pintu rumah.
"ada apa, kenapa kalian datang pagi-pagi" tanya Langit, Rara melangkah masuk. "ini udah sore kak, lihat tuh udah jam berapa" tunjuk Rara di dinding. Langit menoleh dan membuka matanya lebar, "udah jam 3" terkejut Langit, bergegas kebathroom yang ada dikamar Zivannya. Rara menggelengkan kepalanya, Zivannya bergerak dan duduk bersandar. "jam berapa" tanya Zivannya.
"tidur jam berapa kalian" duduk Rara didekat Zivannya menyodorkan gelas air mineral. Zivannya menerimanya dan segera meminumnya. "habis kewajiban pagi" tutup mata Zivannya. "ini udah jam 3 sore" jawab Rara, Zivannya membuka matanya cepat. "kewajiban siangku" kata Zivannya beranjak dari tidurnya. bertepatan dengan Langit yang membuka pintu kamar, Zivannya segera masuk dan melaksanakan kewajiban siangnya dan sorenya yang tidak lama lagi.
"aku mandi dulu" kata Langit, Dimas mengangguk dan menonton televisi setelah Langit membereskan alas tempat tidur dirinya dan Zivannya tadi pagi. Rara meletakkan makanan didepan Dimas sambil menunggu dua orang itu membersihkan dirinya.
"kamu sadar nggak sih Dim, kak Aga dan kak Langit seperti satu tipe" makan Rara menatap Dimas, "aku juga berpikir begitu" angguk Dimas. "seperti hanya punya satu laki-laki saja. hanya saja kak Langit lebih mengerikan menurutku, tatapannya lebih mengintimidasi dan tidak bisa dibantah. apa karena dia dari kesatuan yang berbeda jadi membentuk karakter yang berbeda pula" tanya Rara, "bisa jadi, yang" angguk Dimas.
Rara menyuapi Dimas, "untung aku punya kamu yang mengerti diriku" peluk Rara, Dimas tersenyum mengelus punggung Rara. Zivannya keluar dengan keadaan lebih segar sehabis mandi, menuju kedapur untuk membuat minuman coklat untuk Langit.
"beli apa" duduk Zivannya meletakkan nampan berisi minuman yang berbeda-beda, Rara mengisyaratkan dengan dagunya makanan yang ada didepan mereka, Zivannya meraih satu dan memakannya dengan pelan. "Zi, kita harus beli baju untuk sidang besuk" kata Rara, Zivannya menggeleng. "aku punya, hanya memakainya sekali saat sidang tugas akhir Ra, apa mau pake itu aja cuma sebentar kok sidangnya, buang uang kalo hanya sebentar" pandang Rara. "tapi pakaian itu aku pake juga saat menerima kabar kak Aga terluka" kata Zivannya, Rara mengangguk pelan. "jika kamu mau membeli akan tetap aku temani, tenang aja" senyum Zivannya mengerti, Langit terlihat mendekat dan menghampiri tempat mereka duduk.
Zivannya mengambil coklat panas untuk Langit, "makasih, yang" senyum Langit menyesap coklat panasnya. "Rara membeli makanan ringan saat kesini" dekatkan Zivannya, Langit mengangguk mengambil makanan yang sudah di gigit Zivannya. "kak" pandang Zivannya, Langit tersenyum memakannya dengan cepat. Rara menahan senyumnya melihat mereka berdua yang terlihat romantis, Zivannya mengambil beberapa makanan kecil memberikannya pada Langit yang segera menyuapi Zivannya dan memakan sisanya.
"kemana kita hari ini" tanya Rara. "pantai" senyum Zivannya, Langit menggeleng. "kondisimu baru kurang istirahat, yang" kata Langit, "nggak ada hubungannya kan kita cuma tinggal duduk sudah sampai pantai" pandang Zivannya, Langit menatap Zivannya dan menghembuskan nafasnya. "baiklah. kita berangkat, jaraknya juga nggak terlalu jauh" kata Langit, Zivannya mengendikkan bahunya.
"nggak usah, ketempat yang dekat aja, nanti malam kakak pulang. takut nggak keburu" kata Zivannya segera beranjak dari tempat duduknya, Langit segera memeluk tubuh Zivannya dari belakang. "nggak gitu juga, yang" kata Langit pelan. "iya, kita jalan ke yang dekat aja. biar lebih banyak waktunya. ayo jalan, jangan gini" kata Zivannya menepuk punggung tangan Langit. Langit menggeleng di pundak Zivannya.
"apa kamu tidak suka, aku nggak mau kamu memendam sesuatu" kata Langit merajuk, Zivannya menghela nafasnya panjang. "aku nggak apa-apa, yang. ayo, ah... kita ke mall yang deket aja, nonton bioskop. ngabisin waktu bersama, besuk pagi atau nanti malam kamu harus pulang" jawab Zivannya mencoba melepaskan pelukan Langit. Rara beranjak dan membereskan makanan yang tersisa. "kita berangkat sekarang" keluar rumah Rara diikuti oleh Dimas yang membawa makanan yang masih ada. Zivannya berbalik menghadap Langit, "kak, aku tidak kesal justru mendengarkan apa yang kamu katakan, jadi jangan bersikap seperti itu saat ada orang lain, kamu adalah imamku dan aku nggak mau kamu terlihat menuruti ku hanya karena aku tidak suka" tangkup pipi Zivannya.
"aku nggak mau melihatmu sedih, yang. jika aku melarangmu itu karena aku mengkhawatirkan dirimu" pandang Langit lekat, Zivannya mengecup bibir kekasihnya pelan. "aku tau kak, mari kita belajar untuk memahami satu sama lain, aku tau ini nggak mudah. tapi kita harus selalu mengutarakan yang kita pikirkan agar setiap perkataan dapat diterima oleh kita" angguk Zivannya, Langit tersenyum mencium bibir kekasihnya lama. Zivannya memukul dada Langit pelan. Langit melepaskan tautan bibirnya dan mengusap pelan jejak mereka berdua. "kebiasaan nggak nafas kalo begini" satukan kening Langit. Zivannya menekan dadanya yang berdebar kencang. "kebiasaan nggak liat tempat sih kak, ada Rara dan Dimas yang menunggu" kata Zivannya menatap Langit yang tersenyum lebar. mereka segera keluar dari rumah.
"udah manja-manja nya" toleh Rara melihat kursi belakang tempat Zivannya duduk, Zivannya mengangguk tersenyum, Langit menautkan jemari Zivannya dengannya. "kita cari makan dulu nggak" tanya Dimas. "boleh Dim, aku lapar" kata Langit, Zivannya tersenyum, "karena seharian tidur jadi lupa makan" pandang Zivannya.
__ADS_1
"seperti kamu nggak sih, yang. kalo pulang mendaki, seharian bisa tidur nyenyak" pandang Langit yang mendapat anggukan kepala Zivannya. mereka mencari tempat yang nyaman untuk makan. "kita duduk disana aja, yang" toleh Langit melihat beberapa bangku yang kosong menghadap ke area luar. Zivannya mengikuti langkah Langit, Rara melihat-lihat sekitar.
"kenapa kita nggak pernah kesini" tanya Rara. "karena kamu sukanya kedai tengah kota" kata Dimas, Rara menggerutu pelan. Zivannya terdiam lama melihat hamparan hijau yang memanjakan mata, Langit mengusap punggung kekasihnya pelan, Zivannya menoleh dan tersenyum. "mereka sering berdebat gitu" lihat Langit, Zivannya mengangguk. "cat and mouse, tapi aku menyukai mereka" senyum Zivannya menatap keduanya yang sedang seru, "kamu kapan baliknya, yang" tanya Langit menopang dagunya menatap wajah Zivannya.
"tergantung ayah dan bunda, kak. pulangnya kapan" kata Zivannya menatap hamparan hijau, Langit mengelus kaki Zivannya bagian atas, "kalo aku jauh, tanganmu ngapain kak" toleh Zivannya. Langit tertawa pelan, "nyari yang bisa dielus" jawab Langit, Zivannya mengangguk. "baguslah, jadi tanganmu nggak mati gaya" senyum Zivannya, Langit tergelak mengusap-usap punggung Zivannya. "aku bukan laki-laki penebar pesona" senyum Langit. "aku tau" senyum Zivannya, minuman mereka datang, Zivannya meminum segera jeruk dingin yang dipesan Rara. Langit menerima panggilan dari ponselnya.
"hallo, kenapa" tanya Langit.
"aku pulang besuk pagi langsung ke kesatuan" jawab Langit cepat.
"pindahkan ke video, kita meeting" kata Langit menjauhkan ponselnya.
"sore ndan" salam mereka, Langit mengangguk memberi salam hormat, seseorang menyampaikan informasi kepada Langit, Zivannya mendekati Rara dan Dimas yang sedang asyik mengabadikan moments. Langit sesekali menatap Zivannya yang sedang bercanda dengan kedua teman baiknya, tertawa lebar dengan Rara mendengar ekspresi Dimas yang menirukan sesuatu, pesanan makanan datang, Zivannya bergegas mendekat dan menaruh makanan agak jauh dari Langit yang sedang koordinasi dengan teman-teman kesatuannya.
Langit menghela nafasnya panjang, menatap makanannya yang menggugah selera namun masih harus koordinasi dengan anggotanya.
"siap ndan, ada di Semarang mengkondisikan keadaan" kata salah satu dari mereka. Langit menoleh menatap Zivannya.
"yang, Semarang dekat sini nggak" tanya Langit. anggotanya terkejut mendengar perkataan Langit yang memanggil seseorang.
"nggak, mungkin sekitar 3 jam an dari sini" geleng Zivannya.
"share lokasinya sekarang, nanti aku kesana" kata Langit menatap layar ponselnya.
"siap ndan, ditunggu kedatangannya" jawab anggotanya.
__ADS_1
"aku kesana dengan seseorang, jadi kondisikan semuanya dengan baik" kata Langit, "siap" jawab anggotanya.
"ada lagi" tanya Langit. seorang anggotanya yang lain memberikan laporan yang ditunggu Langit, "baiklah, sedikit berubah memang, tapi masih bisa ditolerir. sesegera mungkin aku akan kesana, jangan kemana-mana sebelum aku datang" kata Langit menutup panggilan videonya.
"nggak jadi nonton bioskop nih" Hela nafas Rara, Zivannya tersenyum. "maaf ya Ra, kalo kak Langit pulang dinas, kita hangout sepuasnya. Ok" kata Zivannya, Rara mengangguk tertawa. "pake mobilku aja ke sananya, masih ada mobil satu lagi dirumah, atau mau pake motor kesananya" tanya Rara. "enak naik apa kesananya dan paling cepat" tanya Langit, "sama aja sih kak, kalo naik motor bisa nyelinap, agak memangkas waktu" jawab Dimas sembari makan. Langit menatap Zivannya. "enak naik motor kak, bisa riding" cengir Zivannya, Langit mengangguk.
"baiklah, berarti habis ini kerumahku, ngambil motornya Dimas ato nanti kalo berubah pikiran bisa pake mobil, begitu kan. sudah cukup jelas" tanya Rara memandang mereka bertiga, Zivannya mengangguk menerima suapan Langit. "pulang nanti kita langsung kerumah dan berangkat bandara dong" tanya Zivannya teringat, Langit mengangguk. "kalo gitu kita pulang kerumah, sekalian ngambil baju, besuk kita langsung ke bandara aja" toleh Zivannya, Langit mengangguk menyuapi Zivannya.
Rara tersenyum lebar melihat sahabatnya, "kenapa, Ra" tanya Zivannya mengerutkan keningnya sesaat, Rara menggeleng. "aku senang jika kamu sudah ketemu pawangnya gini" kata Rara. "jadi kalo nggak ada pawangnya kamu nggak mau main sama aku gitu" tanya Zivannya, Rara mengerucutkan mulutnya. "ishh... makan bu, biar agak gemukan dikit" kata Rara melihat Zivannya sebal, Zivannya meminum jeruk dinginnya dengan sekali teguk.
"kalo gitu, cepetan makannya ini hampir jam 4, sampai ke sana bisa kemalaman" kata Zivannya, Langit mengangguk dengan cepat memakan habis makanannya. Rara menghembuskan nafasnya. "ishh.. ibu komandan jadi ribet gini" kata Rara, Zivannya tertawa kecil. "iya, ya. kenapa jadi aku yang ribet sih, perasaan itu wewenang nya pak komandan deh, bukan aku. bentar... bentar..." hirup udara Zivannya sambil memejamkan mata menghadap hamparan hijau.
"aahhh.... harus jauh-jauh dari komandan-komandan nih healingnya" rentang tangan Zivannya keatas.
"Zivannya Fritscha Dewantara" kata Langit pelan, Zivannya membalikkan badan, nyengir memberi tanda damai dengan jarinya. "kenapa, ada apa" dekati Zivannya, Langit menatap Zhivannya, "pulang" cengir Zivannya memeluk Langit yang segera tersenyum senang mengusap-usap punggung Zivannya, Rara tertawa cekikikan melihat Zivannya yang merajuk. "komandan mana lagi" pandang Langit, "Satria Langit Dewantara, komandan korps marinir kesatuan angkatan laut" hormat Zivannya, Langit tergelak memeluk Zivannya erat. Dimas dan Rara tertawa lebar, mereka tertawa dan bercanda bersama.
Zivannya membayar pesanan mereka di kasir, mobil melaju cepat menuju rumah Zivannya kembali, "kalian tunggu bentar, aku ambil pakaian bentar" pandang Zivannya. Rara memberi tanda Ok dengan jarinya. "yang lama biar kita lumutan disini" kata Rara sarkas, Zivannya tertawa kecil mengangguk segera melangkah keluar mobil. Zivannya mengemasi pakaian Langit yang masih bersih. "yang, kamu nggak bawa baju ganti juga" pandang Langit.
"bawa ndan, udah aku siapin dua" kata Zivannya spontan. Langit menepuk pantat Zivannya, "isshhh... jangan begitu nanti didepan teman-teman mu" ingatkan Zivannya mengerucutkan bibirnya.
Langit tersenyum mengelus pipi Zivannya yang tampak sibuk mengemasi semuanya. "dah semua" ingat-ingat Zivannya, Langit menahan tangan Zivannya dan menarik kedekapannya, "belum semuanya, yang. hatimu belum kamu masukkin kedalam hatiku" pandang Langit lekat, Zivannya mengelus rambut Langit, "kamu sudah memiliki hatiku, kak. you already have" pandang Zivannya sayu. Langit memajukan bibirnya menyentuh bibir Zivannya, mereka saling menyesap dan saling mengabsen setiap detail nya. tangan Langit menyusup dibalik t-shirt Zivannya dan mengusap benda kenyal candunya, Zivannya mengusap punggung Langit saat merasakan sensasi yang menggetarkan akibat perlakuan Langit. "kak, mereka menunggu" gigit bibir bawah Zivannya menahan getaran dalam dirinya. Langit meninggalkan banyak jejak cinta dibagian dalam, mencium Zivannya dengan intens. "jangan lama-lama pulangnya" peluk Langit, Zivannya berdehem pelan.
hai.... hai.... hai.., all readers, dukung terus karyaku. terimakasih sudah berkunjung membaca.
luv..... luv.... luv U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak semuanya.
__ADS_1
stay healthy all..