
mendung menggelayut, menampakkan warna kelabu seperti sedang bersedih melihat manusia yang ada dibawahnya tidak menghargai tempat yang mereka tinggali. Zivannya mendongak menatap keatas seperti mengetahui kesedihan yang awan rasakan saat ini "kenapa, yang" kecup rambut Langit saat mendapati istrinya melihat dari jendela besar depan teras. "hanya menatap kesunyian yang membuatku teringat akan gunung" hela nafas Zivannya panjang, Langit menaruh dagunya di atas kepala Zivannya.
"aku akan ke negara sakura selama sebulan, yang" hembus nafas Langit. Zivannya menegang sesaat. "yang, aku baru tahu tadi saat komandan memberitahu" kata Langit memeluk tubuh Zivannya agar tidak bereaksi terlalu lama, "aku pasti akan kembali dengan selamat, doakan aku selalu, jangan lepaskan pintamu" pejamkan mata Langit. Zivannya mengurai pelukan suaminya. "yang" cekal tangan Langit menahan tubuh Zivannya agar tidak menghindar.
"aku melaksanakan tugas negara, kamu pasti mengerti kan" dekati Langit. "tidak, aku tidak mau mengerti dan tidak mau mendengarnya" kata Zivannya mencoba melepaskan cekalan tangan suaminya dan berjalan masuk kedalam kamar untuk merebahkan dirinya, Langit menyusul Zivannya untuk membujuknya. ia mengerti bagaimana perasaan istrinya saat ini jika disuruh memilih maka dia tidak akan sanggup untuk memilih salah satu, di satu sisi adalah panggilan jiwanya dan di satu sisi adalah belahan hatinya.
Langit membuka pelan ruangan pribadi mereka berdua, tubuh Zivannya tidak bergerak untuk melihat suaminya, ia memeluk tubuh Zivannya dari belakang. mereka saling diam tanpa ada yang memulai pembicaraan. Langit menciumi tengkuk Zivannya, melingkarkan lengan tangannya diperut istrinya dan mengusapnya lembut hingga terdengar suara tangisan Zivannya yang membuat hatinya bagai teriris sembilu. ia membiarkan istrinya untuk mengeluarkan isi hatinya agar merasa lebih tenang untuk kemudian mereka berbicara, Zivannya akhirnya tertidur dengan sendirinya setelah lama menangis di dalam pelukan Langit.
Langit mencoba memejamkan matanya menyusul istrinya yang lebih dulu terlelap, Zivannya membuka matanya pelan melihat tangan Langit yang melingkar sempurna diperutnya yang datar. ia mencoba menyingkirkan tangan suaminya agar dapat beranjak ke kamar mandi, "jangan coba-coba pergi, yang" gumam Langit, Zivannya melepaskan tangan Langit pelan dan segera beranjak menuju kamar mandi, "yang" duduk Langit bersandar di dinding melihat kemunculan Zivannya masuk kembali kedalam, Zivannya mengikat rambutnya model bun, kembali masuk kedalam cover bed yang nyaman apalagi ditambah dengan suasana malam yang diguyur oleh rintik hujan yang membuat orang bermalas-malasan dirumah.
Langit mengusap rambut istrinya yang hanya diam dan memejamkan matanya tanpa menanggapi ucapannya sama sekali, "kita tidur lagi aja, yang" kata Langit meraih pinggang istrinya agar lebih dekat. Zivannya membuka matanya menatap Langit sesaat dan mulai memejamkan matanya kembali, Langit tersenyum menatap Zivannya yang masih tidak mau membuka mulutnya berbicara kepadanya, ia mengecup pelan bibir istrinya beberapa kali, Zivannya membuka matanya dengan cepat menatap tajam Langit, "jangan siksa dirimu dengan pikiran yang macam-macam, itu sama artinya dengan kamu membuatku tersiksa juga karena kita adalah satu" tatap Langit tersenyum. Zivannya kembali menutup matanya tidak menanggapi ucapan Langit.
"hanya sebulan, yang. aku akan setiap saat mengabari dirimu, kamu tahu aku juga berat meninggalkan mu sendiri disini apalagi kita juga baru saja menikah" usap pipi Langit menatap istrinya yang masih menutup mata nya. "apalagi sangat lama perjuanganku untuk mendapatkan mu, aku tidak ingin kita begini tapi ini tanggung jawab ku kepada panggilan hati ku" hela nafas Langit mengusap bibir istrinya. Zivannya meneteskan airmata nya tanpa diminta, Langit mengusapnya dengan cepat.
__ADS_1
"bisakah kita menyelesaikan hal ini bersama tanpa berlarut-larut, tidak baik hanya diam dan membuat satu sama lain merasa seperti orang lain" kata Langit lemah, Zivannya membuka matanya menatap suaminya lekat sambil meneteskan airmata nya lebih deras. "aku tidak ingin kamu pergi, by" kata Zivannya pada akhirnya, Langit mengangguk meraih tissue yang berada disamping ranjang mereka dan menghapus airmata Zivannya.
"aku tahu, yang. aku tahu, aku juga tidak ingin meninggalkan mu sendiri juga. aku ingin kamu tetap selalu ada disampingku" kata Langit, Zivannya menangis dalam dekapan Langit. "aku juga merasa tidak sanggup untuk jauh darimu, aku menyayangi mu sepenuhnya, aku mencintaimu dengan segenap jiwaku, kamu percaya kan" hela nafas Langit, Zivannya mengangguk sambil menangis. Langit menjauhkan dirinya agar dapat menatap istrinya, menghapus airmata nya dengan lembut.
"ini hanya sementara, yang. kamu harus kuat dan menerima suamimu adalah abdi negara, disaat aku dibutuhkan maka kamu harus mengerti" pandang Langit, Zivannya mengangguk pelan. "kamu bisa menyusul ku kesana dan kita bisa bertemu saat waktunya terkondisikan" pandang Langit, Zivannya mengangguk kembali. Langit kembali membawa istrinya kedalam dekapannya mengelus punggungnya agar dapat tenang kembali.
"dirimu juga bisa naik gunung selama aku pergi" hibur Langit, Zivannya tertawa kecil dalam tangisnya, Langit tersenyum lebar mengecup kening Zivannya. "denger boleh naik gunung baru tertawa" goda Langit, Zivannya menggeleng. "aku akan menunggumu pulang saja, by. aku sebisa mungkin akan tinggal dirumah saat kamu pergi" jawab Zivannya terbata-bata karena sesenggukan, Langit tersenyum mengusap bibir istrinya.
"terimakasih karena kamu begitu mengkuatirkan ku, yang. terimakasih kamu mengerti aku yang tidak bisa memilih antara panggilan jiwa dan belahan jiwa" kata Langit, Zivannya tertawa menatap Langit, "pulang dengan selamat by, kabari aku setiap saat ketika kamu ada waktu" kata Zivannya, " pasti, yang. aku akan membuatmu tetap melihatku setiap hari" angguk Langit antusias, " 4 hari lagi aku harus berangkat, yang. dari Surabaya" kata Langit. "apa, kenapa cepat sekali" tanya Zivannya kaget. "semuanya telah disiapkan jauh-jauh hari karena semua negara mengirim perwakilan kesana, jadi kita harus siap kapanpun ditugaskan" senyum Langit, Zivannya menatapnya kesal. Langit tertawa lebar melihat ekspresi wajah Zivannya yang imut.
Langit membuat Zivannya menjadi alas tidur hidupnya, "aahh, aku tidak bisa memelukmu seperti ini sebulan nanti, yang" hirup aroma tubuh Langit. "sesak by, kalo begini" pukul punggung tangan Zivannya karena Langit mengunci tubuhnya," biarin selama selama belum berangkat kamu akan ke enakan setiap malam" kata Langit menyusupkan tangannya kebalik t-shirt Zivannya dan meremas benda kenyal candunya, Zivannya berteriak pelan akibat perbuatan suaminya.
Langit tersenyum dan semakin intens untuk memberikan Zivannya serangan malam hari, "bisakah jika tidur hanya memakai t-shirt aja dan underwear bawah" bisik Langit ditelinga istrinya, "buat apa" kata Zivannya menahan hasratnya akibat perlakuan Langit, "aku ingin melihatmu seperti itu" jawab Langit menyapu punggung istrinya dengan ciuman yang menggelora. Zivannya mengerang pelan saat Langit memberikan sentuhan yang memabukkan, Langit tersenyum melihat istrinya yang sudah terlihat siap untuk diajaknya bertempur malam ini. "yang" usap bibir Langit menahan tubuhnya yang berada diatas istrinya, Zivannya membuka matanya pelan.
__ADS_1
"aku mencintaimu sampai akhir nanti" senyum Langit. Zivannya mengangguk menyentuh paras suaminya dengan kedua tangannya. "aku mencintaimu dengan segenap hati dan ragaku Satria Langit Dewantara" senyum Zivannya sayu. Langit tersenyum lebar memberikan sentuhan kepada benda kenyal candunya yang membuat Zivannya menggigit bibir bawahnya untuk tidak menjerit, Langit tergelak melihat ekspresi Zivannya menggodanya. ia segera menanggalkan semua pakaian yang melekat ditubuhnya dan istrinya, Langit memberikan kenikmatan duniawi kepada istrinya yang terlihat sangat mempesona. "aku benar-benar mencintaimu dengan segenap jiwaku, yang" bisik Langit menggigit pelan telinga istrinya. Zivannya meraih wajah suaminya untuk memberikan ciuman panjang penuh dengan hasrat yang menggelora, Langit membalikkan posisi mereka, memberikan kesempatan Zivannya untuk membuatnya lebih menggelora.
Zivannya kembali mengikat rambutnya yang sudah terlihat berantakan akibat permainan mereka yang saling memanjakan satu sama lainnya, Zivannya menggoda Langit hingga membuatnya menggeram panjang menikmati sentuhan istrinya yang memabukkan. "yang" pandang Langit sayu menahan tubuh istrinya yang bergerak dengan irama yang memabukkan, Zivannya melihat suaminya yang menahan sesuatu untuk jangan keluar sekarang. "kenapa" goda Zivannya memainkan jemarinya di dada suaminya yang terlihat semakin tampan. Langit membuka matanya menatap istrinya yang terlihat mempesona. "kamu berani menggodaku begini, yang. rasakan pembalasan ku" kata Langit mengganti posisi hingga dirinya berada diatas dan membuat Zivannya beberapa kali menjerit melampiaskan keindahan duniawi yang diberikan oleh suaminya. Langit semakin mempercepat permainannya hingga mereka ambruk bersamaan dalam indahnya kenikmatan berdua.
Langit mengatur nafasnya yang terlihat memburu, "aku ingin setiap malam sebelum berangkat untuk seperti ini, yang" elus kepala Langit mengusap pipi Zivannya yang berada disampingnya, Zivannya mengangguk dan membersihkan bagian tubuh mereka, Langit segera menaikkan cover bed hingga menutupi sebagian besar tubuh istrinya dan dirinya yang tanpa memakai pakaian apapun, Langit memeluk tubuh istrinya dari belakang setelah aktifitas malam mereka yang menggelora.
"yang" usap kepala Langit, "hhmm" geliat Zivannya pelan, "aku akan berangkat dinas dulu, jika kamu sudah benar-benar tidak lelah. kekesatuan ya" kecupi rambut Langit, Zivannya menaikkan cover bed nya hingga menutupi seluruh tubuhnya, membuat Langit tergelak melihat tingkah istrinya.
"jangan lupa nanti malam kita juga akan kembali bertempur" goda Langit tepat ditelinga istrinya dan menepuk pelan pantat istrinya, Zivannya berdehem kembali. Langit tertawa kecil keluar dari rumah dinas dan menguncinya sesaat setelah keluar agar istrinya bisa tidur dengan nyenyak. Langit melajukan motornya ke kesatuan yang jaraknya tidak terlalu jauh karena berada di lingkungan yang sama, Zivannya kembali tertidur hingga siang hari.
Langit menghubungi Zivannya namun tidak ada jawaban. "maaf by, aku sedang membersihkan diri tadi" kata Zivannya setelah selesai dari kamar mandi dan melihat ponselnya yang terdapat beberapa kali panggilan dari suaminya. "tidak apa, yang. apakah kamu baik-baik saja" pandang Langit yang melihat Zivannya sedang berganti pakaian. Zivannya mengangguk dari kejauhan. Langit menatap dengan intens kelakuan istrinya itu, hal yang nanti akan dirindukannya saat nanti jauh darinya selama bertugas di negara orang. Zivannya merapikan parasnya dengan aplikasi sederhana, "mau dibawain apa, yang" seru Zivannya memakai sneakers nya. "ntar aja, kita makan keluar bersama" jawab Langit, Zivannya meraih ponselnya mengunci pintu rumah dan segera mengendarai motor Langit, "nggak usah dimatiin" kata Langit, Zivannya meletakkan ponsel di tempat yang telah disediakan Langit di bagian motornya.
Zivannya menyapa beberapa penghuni rumah dinas lainnya saat berpapasan dengan nya di jalan. "bu" seru seseorang, Zivannya menghentikan laju motornya dan menepi dipinggir. seorang istri abdi negara itu segera mendekat dan berbincang dengan Zivannya sebentar, Zivannya menganggukkan kepala tersenyum. "baiklah bu, terimakasih atas waktunya. nanti kita akan kerumah ibu" katanya mohon diri. Zivannya mengangguk tersenyum dan segera melajukan motornya pelan menuju kesatuan Langit.
__ADS_1
"siang bu" salam penjaga kesatuan di depan saat melihat Zivannya yang mengendarai motor masuk dan tersenyum menyapa mereka. Zivannya melepaskan helmetnya dan merapikan pakaiannya sebelum melangkah menuju bangunan kesatuan suaminya. selama dalam perjalanan, Zivannya menyapa para abdi negara yang kebetulan berpapasan dengannya di koridor menuju ruangan Langit.