Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 90


__ADS_3

Zivannya memejamkan matanya yang terasa berat dan akhirnya tertidur, Mentari yang berada disampingnya melihat dengan seksama keadaan Zivannya yang banyak terdapat luka lecet. matahari segera memeluk Mentari, menenangkan istrinya yang terlihat shock melihat kejadian tadi. "dia tidak apa-apa, yang. Zi lebih kuat dari yang kita kira" kecup ubun-ubun rambut Matahari, mentari memeluk suaminya erat.


"aku takut dia kenapa-kenapa tadi, aku nggak siap jika nanti dia nyusul Aga" jawab mentari bergetar. matahari mengusap-usap punggung istrinya. menenangkan batinnya. "it's oke, yang. kita semua akan menjaganya. hmmm... aku nggak tau nanti apa yang akan dilakukan ayah dan kak dirgantara" kecup ubun-ubun rambut matahari berulang kali. mentari menghela nafasnya panjang.


"jika aku nunggu dulu waktu dia bayar, pasti nggak akan kejadian kan, yang" kata Mentari, Matahari menggeleng. "itu udah takdirnya, sebaik apapun kita berandai-andai, Tuhan yang menentukan" tenangkan matahari.


Langit bergegas masuk kedalam rumah. melihat Zivannya tertidur sambil duduk bersandar ditembok, dengan bantal yang berada disisi kanan dan kirinya. "baru aja tidur" kata mentari, Langit mengangguk dan duduk menghadap Zhivannya.


"aku tidak bisa membayangkan apa nanti yang akan dilakukan ayah dan kak Dirgantara" gumam Langit memandang Zivannya yang mengalami luka lecet dibeberapa bagian tubuhnya. "kenapa kalian mengkhawatirkan hal yang sama, bukan keadaan adek yang sedang terluka" tanya mentari.


"keadaan Zi sudah baik-baik saja kak, tinggal pemulihan, selanjutnya adalah menerima hukuman dari jenderal dan kakak tertua" pandang Langit, mentari semakin erat memeluk suaminya. "maafkan kami, yang. karena kami kalian jadi tersiksa" kata mentari menatap suaminya. matahari mengecup kening istrinya. "tidak, yang. kita akan baik-baik saja. yang paling menderita adalah Zivannya, badannya penuh luka" lihat Matahari.


Zivannya bergerak pelan, membuka matanya menatap mereka bertiga, "lepas hoodienya kak" kata Zivannya. Langit bergerak dengan cepat menghampiri Zivannya. mengeluarkan secara perlahan tangan Zivannya satu persatu dari lengan Hoodie.


"aahhh...." ringis Zivannya, Langit menghentikan sesaat. menarik Hoodie keatas melewati kepala Zivannya dengan pelan.


"t-shirtnya iya juga nggak, dengan senang hati" senyum Langit, mentari memukul punggung Langit keras, "aaauuuu.... ishhh... becanda kak, serius amat" kata Langit merasakan panas dipunggungnya akibat tangan Mentari.


"aku nggak ikutan ndan" angkat tangan matahari. Zhivannya tertawa, "rasain" jawab Zivannya cepat. "mau diapakan Hoodie nya" tanya Langit. "buang aja" pandang Zivannya. "tunggu diliat bunda dulu, lupa ada ibu negara utama" toleh Matahari, mentari mengangguk, melipat Hoodie Zivannya yang sudah kotor dan tidak berbentuk.


Jeansnya mau diganti dek" tanya Mentari. "aku punya joger kecil" pandang Langit beranjak dari duduknya, masuk kedalam kamar. "hadiah dari seorang teman" kata Langit. "perempuan" gumam Mentari, Langit mengangguk. "it's oke, dari siapapun asal ikhlas jadi berkah" angguk Zivannya beranjak dengan pelan sambil meringis. Mentari mengikuti Zivannya, Langit ingin mengikuti juga, "mau kemana" pandang Mentari galak, Langit mengangkat tangan menjauh "lupa kak" senyum Langit. matahari tertawa lebar melihat Langit yang mencari-cari kesempatan dengan Zivannya


"perempuan kalo udah keluar tanduknya serem ya bang" kata Langit menoleh.


"banget... tidak pernah salah" tambah Matahari, Langit mengangguk. Zivannya dan mentari keluar dari kamar setelah mengganti celana jeans Zivannya. "ibu akan pulang jam 1 siang. apa masih mau nunggu" tanya Langit. Zivannya duduk dikursi mengangguk. "iyalah, tunggu ibu dulu, nggak enakkan kalo langsung pergi" geleng Zivannya, Langit mengangguk.


jam 1 lebih, Langit menjemput ibunya disekolah. Zivannya, mentari dan Matahari sedang beristirahat diruang tengah saat mereka semua datang, ibu mempersilahkan mereka untuk masuk. Langit tersenyum menatap mereka berdua yang sedang mengobrol dan matahari yang terlihat sudah tidur dengan lelap saking capeknya.


"nak Zi, ada yang mau bertemu" datang ibu Danti tersenyum. Langit membantu Zivannya untuk berdiri dan melangkah kedepan. mereka berdiri melihat Zivannya yang berjalan tertatih dibantu Langit.

__ADS_1


"beliau berdua adalah orang tua dan anak yang membawa motor tadi" senyum ibu duduk, Zivannya mengangguk dan duduk disamping ibu dan Langit. kedua orangtua anak itu lantas meminta maaf atas perlakuan anak mereka yang menyebabkan kecelakaan dan membuat Zivannya terluka.


Zivannya tersenyum menerima permintaan maaf dari kedua orang tua itu, menanyakan keadaan anak yang ada didepannya yang selalu tertunduk tanpa berani menatapnya.


Zivannya tersenyum lebar, menatap Langit untuk membantunya mendekati anak itu. Langit meraih kedua bahu Zivannya lembut dan mendekatkannya kepada anak laki-laki itu. "hai, dek. nama kakak Zivannya. apa badanmu ada yang sakit juga" senyum Zivannya mengelus kepala anak itu. "tidak kak" geleng anak itu cepat sambil menunduk.


"syukurlah, kakak juga tidak apa-apa. hanya luka kecil bentar lagi sembuh, tambah gede kan nggak boleh cengeng" elus kepala Zivannya. "maaf ya kak" kata anak itu. "iya, kakak juga minta maaf. karena tidak melihatmu waktu kamu berbelok tiba-tiba. jadi kakak tidak bisa menghindar, maafin kakak juga" angguk Zivannya tersenyum mengelus kepala anak itu.


"dompet Zi mana kak" tanya Zivannya berbisik kepada Langit. Langit memberikan dompet kecil Zivannya yang berada dikantong celananya.


"besuk lagi, jika tidak perlu. jangan mengendarai motor lagi dek, akan lebih mengerikan jika kamu yang mengalami luka, ingat jika kamu terluka maka yang sedih adalah kedua orang tuamu yang ada disebelahmu, bukan teman-temanmu yang melihat kamu hebat diatas motor. tidak hanya dirimu saja yang terluka. tapi perasaan kedua orang tua yang menyayangimu juga akan terluka" angkat dagu Zivannya tersenyum. anak itu menatap Zivannya dan mengangguk.


"kakak hanya luka kecil, nanti ditiup juga pasti sembuh. nah... kewajibanmu sekarang adalah, ajak kedua orang tuamu makan ice cream, agar hati mereka dingin. oke..." pandang Zhivannya.


"oke kak" angguk nya, Zivannya tersenyum mengusap kepala dan pipi bocah itu lembut.


"nah ini untuk beli tiga buah ice cream. janji bahagiakan ayah dan ibumu ya dek, jangan buat mereka sedih lagi" lipat uang Zivannya ditangan bocah itu sambil tersenyum. anak itu memandang Zivannya lekat.


Zivannya tersenyum dan mengangguk mempersilahkan mereka untuk segera membeli ice cream, Zivannya senang karena anak itu tidak sedih lagi, tidak tertekan lagi karena kejadian itu.


Langit menatap ibunya yang tersenyum lebar melihat Zivannya yang menyelesaikan masalah dengan kebaikan dan kelembutan. Zivannya meringis kesakitan kala mereka sudah tidak lagi kelihatan, "sudah kuatnya" pegang bahu Langit kuat, Zivannya nyengir memperlihatkan deretan giginya yang terawat. "mau pamer pasta gigi" pandang Langit lekat. Zivannya mengerucutkan bibirnya. "mau dicium tuh bibir didepan ibu" tanya Langit datar, Zivannya menutup mulutnya cepat menggunakan tangan kirinya dan menggeleng kuat.


ibu tertawa melihat tingkah mereka yang lucu dan menggelikan. "udah ah Lang... jangan goda Zivannya lagi, kasihan dia" tepuk bahu ibu pelan. Zivannya melepaskan tangannya dan tersenyum menatap ibu Danti. "Bu... Zi sekalian mohon ijin untuk pulang dulu, karena besuk abang matahari dan kak Langit kembali bertugas, kemarin menjemput Zivannya" kata Zivannya. ibu mengangguk mengusap pipi Zivannya. "baiklah nak, jika ada kesempatan kemarilah. temani ibu" angguk ibu Danti.


"pasti Bu, Zi minta maaf jika Zi dan kedua kakak Zi banyak salah selama disini dan merepotkan ibu juga" senyum Zivannya. ibu tertawa mengangguk memeluk Zivannya spontan, lupa jika Zivannya banyak luka lecet. Zivannya hanya meringis menahan perih.


"Bu, Zi penuh luka lecet" senyum Langit mengusap bahu ibunya, "ahh iya... ibu lupa" lepas ibu segera, Zivannya tersenyum lebar. "tidak apa bu, lama-lama sudah tidak sakit lagi" geleng Zivannya, Langit menekan bahu Zivannya yang lecet. Zivannya melebarkan matanya. "sakit kak" desis Zivannya, Langit memajukan bibirnya mengejek.


Zhivannya melepas pegangan tangannya dan berjalan pelan kedalam. "nah lho Lang, Zi ngambek tuh" tepuk bahu ibu pelan, Langit tersenyum dan meraih pundak ibunya untuk menyusul Zivannya.

__ADS_1


"jam 2 dek" lihat ponsel mentari, Zivannya mengangguk dan duduk dikursi, "kakak mau setelah kewajiban sore atau sekarang" tanya Zivannya. "sekarang nggak papa dek, kan bisa liat kota sekalian" jawab Mentari, Zivannya memberi tanda Ok dengan ibu jarinya.


Langit dan ibu menyusul masuk. "mau berangkat sekarang kak" tanya Langit. "he em, nanti kita bisa sering berhenti ngliat pemandangan" kata Mentari, Langit mengangguk masuk kedalam kamar.


"pake ini" kata Langit memakaikan Hoodie. "hadiah lagi" tanya Zivannya, Langit mengangguk tersenyum, Mentari tertawa tertahan. "aku nggak minta, yang. mereka yang memberikan nya dengan suka hati" pandang Langit, "ya...ya...ya..." putar bola mata Zivannya jengah, Langit mengusap-usap kepala Zivannya lembut.


"aku hanya memberikannya padamu, agar tidak ada yang merasa sakit hati" kata Langit, Zivannya mengangguk dan memakainya pelan. "ada sepatu nggak" tanya Zivannya melihat Langit. Langit nyengir, "udah aku kasihkan teman dikesatuan, yang" garuk kepala Langit, mentari tertawa terpingkal-pingkal mendengar penuturan Langit yang polos kepada Zivannya.


"apalagi kak" pandang Zivannya menopang dagu dimeja. Langit mengambil kemeja, jam tangan, t-shirt, celana, topi, kacamata dan tas ransel.


"barang-barang ini mau kamu apakan kak" tanya Zivannya. "aku simpan, yang. jika ada yang mau maka akan aku berikan" kata Langit, "tidak kamu pakai" tatap Zivannya, Langit menggeleng, "aku menerimanya karena nggak tau siapa yang memberi" jawab Langit. "lha kamu memberi mereka harapan karena menerimanya" kata Zivannya nggak ngerti. "kebanyakan dititipkan kepada teman dikesatuan, yang. kalo kamu nggak percaya sama aku, tanya sama bang matahari. mereka nitip untuk diberikan kepadaku" jawab Langit meraih jemari Zivannya, "ya nanti aku tanyakan" angguk Zhivannya, mentari tertawa lebar.


"seneng banget kak ngliat aku menderita" kata Langit lirih, mentari menjulurkan lidahnya mengejek Langit.


matahari terbangun dan melihat Langit yang sedang diinterogasi mentari dan Zivannya. "ada apa" duduk matahari. mentari menoleh, "komandanmu mendapat banyak hadiah dari fansnya dan memberikannya kepada adek" jawab Mentari. "he em, banyak banget. tuh dikesatuan masih banyak dibagi sama yang lain" angguk Matahari.


"kamu dapet nggak, yang" tanya Mentari. "kadang, karena mengira masih sendirian" kata Matahari keceplosan. membuka matanya lebar menatap istrinya yang tersenyum mengerikan.


Langit tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Matahari. "tuh kan, bukan salah kita jika pada memberi tanpa dikasih nama atau cuman dititipkan" bela diri Langit.


Zivannya beranjak. "mau pulang nggak kak" tanya Zivannya, mentari menghela nafasnya panjang dan beranjak dari duduknya. "aku siap-siap dulu" angguk mentari menuju kamar mandi.


"yang" ikuti Matahari. "aku mau kekamar mandi bang, mau siap-siap pulang" pandang mentari datar. matahari tau jika istrinya marah, segera membujuknya.


Langit menatap Zivannya. "kamu marah, yang" sentuh bahu Langit. Zivannya menggeleng. "tidak kak, itu bukan hal yang penting. kamu bisa melakukan apapun keinginanmu" jawab Zivannya, Langit mendesah panjang mulai memahami bagaimana susahnya membujuk perempuan.


hai....hai...hai.... all readers... terus dukung karyaku ya agar aku selalu semangat untuk terus melanjutkan menulis. terimakasih banyak atas dukungannya selama ini...


luv....luv....luv.... U all readers sekebon pisang goreng. tetap jalani hari-hari dengan hal-hal positif ya readers. stay healthy...

__ADS_1


terimakasih banyak atas dukungannya selama ini terhadap karyaku....


__ADS_2