
Zivannya melambaikan tangannya saat kedua kakaknya perlahan meninggalkan halaman rumah keluarga Langit. "sepi banget" kata Zivannya, Langit mengangkat tubuh Zivannya untuk dibawa masuk, Zivannya menjerit pelan memukul bahu Langit. "turunin kak, malu diliat orang" kata Zivannya, Langit segera masuk. "udah gede masih dipanggul aja" manyun Zivannya menatap Langit.
Langit mengecup kening Zivannya, aku mandi dulu, yang. abis itu kita berangkat naik kereta" kata Langit. "lha kita kan beda" seru Zivannya, Langit memberi tanda Ok dengan jemarinya. Zivannya melihat ibu Langit yang keluar dari kamar. "mau berangkat sekarang nak" tanya ibu, Zivannya mendekat. "kak Langit bilang gitu bu, sama-sama naik kereta, saya kejogja kak langit ke Jakarta. sahabat saya mau sidang akhir. saya mau menemani nya seperti dulu dia menemani saya, mumpung saya masih bisa menemaninya untuk saat ini bu" kata Zivannya, ibu mengangguk mengelus bahu Zivannya.
"tentu, sampaikan salam ibu kepadanya. aaahhh.... rumah kembali sepi" kata ibu, Zivannya tersenyum, "mama saya juga sering bilang begitu saat saya akan pulang lagi belajar. rasanya nggak tega buat ninggalin mama saat itu. tapi beliau selalu memberikan semangat dan tiba-tiba sering muncul suruh jemput distasiun kereta" kata Zivannya tersenyum mengingat mamanya, ibu tersenyum. "setiap orang tua pasti akan memberikan yang terbaik untuk anaknya nak" kata ibu minum, Zivannya mengangguk. "sampai sakit pun beliau sembunyikan dari saya, agar saya tidak merasa bersalah. tapi justru membuat saya merasa sangat-sangat bersalah mementingkan keinginan untuk belajar tanpa menemani mama" kata Zivannya pelan.
"kamu sudah membuktikannya dengan belajar giat dan lulus dengan cepat" kata ibu, Zivannya tersenyum. "tapi mama saya dan suami saya tidak bisa melihat kelulusan saya dan itu sudah nggak ada artinya, tahun itu benar-benar tahun yang membuat saya terpuruk dan jatuh" kata Zivannya pelan. "sampai ada seseorang yang memperhatikanmu tidak pernah kamu lihat" acak rambut Langit duduk disamping Zivannya. "kebaikan yang tulus dari seorang pemuda tampan" kata Langit menyombongkan dirinya. "maaf kak, aku tidak bisa melihat waktu itu kak, tidak akan bisa" topang dagu Zivannya memandang Langit. "ya, aku tau. makanya butuh waktu lama untuk menaklukan hatimu. walau nggak sedikit saingannya" senyum Langit.
"apakah ada yang kamu sukai selain Langit, nak Zi" tanya ibu Danti, Langit segera menutup mulut Zivannya agar tidak berkata apa-apa. "sampai sekarang hanya ada Langit bu" senyum lebar Langit menatap ibunya.
"trus kenapa mulutnya Zivannya kamu tutupi. apakah kamu masih takut kalo dia tidak mau denganmu" tanya ibu Danti. Langit nyengir menyingkirkan tangannya dari wajah Zivannya. "saya belum bisa membuka hati untuk orang lain bu, dengan kak Aga sekalipun, suami saya yang pergi lebih dulu juga membutuhkan waktu yang lama untuk mendapatkan saya, hal itu juga membuatnya uring-uringan seperti kak Langit, ditambah lagi saya sebenarnya tidak mau mempunyai pendamping seorang abdi negara lagi. itu menimbulkan rasa sesak dan sakit dihati saat mengingat mereka akan bertugas di daerah konflik" cerita Zivannya.
"lalu kenapa kamu memutuskan memilih bersama Langit" tanya ibu lebih lanjut. "itu.... karena hanya dia yang ada dan mengulurkan tangannya disaat saya sedang terpuruk. sebenarnya saya jarang bertemu dengan kak Langit, malah dari saya sekolah ada seorang teman yang melihat saya lebih dari seorang teman. saya berpikir untuk bersamanya saja karena sudah mengetahui mengenai kehidupan saya, status saya dan dia bisa menerimanya tanpa syarat" kata Zivannya, Langit mendengus pelan.
"apa kamu juga melihatnya lebih dari seorang teman" tanya ibu Langit, Zivannya tersenyum menggeleng. "bagi saya hal itu sudah tidak penting lagi kan bu, status saya di masyarakat juga tidak dipandang baik. walau saya ditinggal pergi selamanya tapi status saya semua orang pasti akan mencibirnya" senyum Zivannya.
__ADS_1
"Ayah Triastomo tidak pernah memaksa saya untuk kembali bersama seseorang, tapi bunda yang tidak bisa melihat saya menyia-nyiakan kesempatan dan masa muda saya. selama saya menikah itu pun hanya beberapa bulan saja kita benar-benar bersama, selebihnya kita sering berjauhan. karena mama sakit, pernikahan di rumah sakit hingga mama sampai diperistirahatan terakhir, saya KKN, sampai dia ditugaskan diperbatasan hingga saat saya sidang akhir mendapat kabar bahwa dia terluka. hidup saya seperti berhenti disaat itu" kata Zivannya.
ibu mengangguk mengerti perasaan itu seperti yang terjadi padanya saat mendengar kepergian anak dan suaminya dan mendapatkan Langit secara tidak sengaja. "ibu tahu bagaimana rasanya nak Zivannya. bagaimana itu mempengaruhi kehidupan selanjutnya bukan" kata ibu lembut, Zivannya mengangguk pelan.
"sangat bu, sampai kedua teman saya tidak berani meninggalkan saya sendirian saat itu, sungguh tahun yang membuat saya tidak bisa bernafas hingga bunda membawa saya ke seorang psikolog untuk membantu saya tidur dan berbincang-bincang walau sebentar. kedua kakak saya selalu bergantian menelepon setiap hari agar saya tetap sadar dan waras" kata Zivannya.
"apa kamu seperti berada diruangan kosong" tanya ibu. Zivannya menatap ibu langit dan mengangguk. "ibu juga pernah berada di masa itu anakku dan ibu juga butuh waktu lama untuk memahami rahasia hidup Tuhan buat ibu. ternyata ibu diberi anak yang luar biasa dan sekarang ini juga diberi anak perempuan yang juga sangat luar biasa" senyum ibu. Zivannya tersenyum memeluk ibu Langit hangat. "terimakasih bu, mau mendengar masa lalu Zivannya dan menerima Zivannya dengan status baru Zi" kata Zivannya. ibu menggeleng, "status hanya diberikan oleh orang nak, bukan dari Tuhan. jika kamu tidak kuat maka kamu akan semakin terpuruk, beruntung kamu selalu dikelilingi oleh keluarga yang baik, teman dan saudara yang baik" kata ibu Danti. Zivannya mengangguk. "dan tentu saja calon imam yang baik plus tampan" kata Langit, Zivannya tertawa mengangguk.
"tentu kak, kamu adalah imam yang baik dan tampan" angguk Zivannya, Langit tertawa. "tumben mengakui, biasanya tidak" kata Langit. "iya, daripada kelamaan dan banyak drama" kata Zivannya cepat. Langit meraih tubuh Zivannya dan mengacak rambutnya. "kak, kebiasaan ihhh.... rambutku berantakan lagi, di Jogja aku potong pendek" kata Zivannya, Langit tersenyum "kalo berani coba saja, nggak akan aku kasih liat temanmu lagi" kata Langit balik. Zivannya menghela nafasnya menatap Langit.
"jangan saling mencari kesalahan masing-masing. kita semua punya kekurangan. jangan perlihatkan kekurangan pasangan pada seorang lain hanya akan membuat orang memasuki celah diantara kalian berdua dan pada akhirnya akan membuat kalian saling membenci satu sama lain" pesan ibu.
Zivannya dan Langit mengangguk, "kalian harus saling menguatkan satu sama lain, ajari anak-anak kalian dengan cinta dan kasih sayang keluarga. sepahit apapun masalah yang kalian hadapi, seburuk apapun cobaan yang kalian lalui pasti akan ada sinar yang menunjukkan jalan" kata ibu, Zivannya mengangguk mengusap air matanya yang menetes.
Langit menyentil kening Zivannya, "nangis lagi, udah ah... siap-siap kita harus berangkat udah mau kewajiban petang" kata Langit, Zivannya mengangguk melepaskan diri dari pelukan Langit, "oh ya kak, pakaianmu aku tinggal dirumah ibu atau mau pake tas sendiri" berhenti Zivannya berbalik menatap Langit, "sendiri aja" kata Langit, Zivannya segera masuk dan berbenah.
__ADS_1
"bu, Langit pamit untuk berangkat. Langit akan mengantar Zivannya ke tempat temannya, setelah itu Langit akan berangkat dinas" kata Langit, ibu mengangguk menepuk bahu putranya. "hati-hati dijalan, Lang. jaga Zivannya baik-baik akan banyak godaan dan rayuan saat kalian akan menikah, itu bisa menjadi ujian bagi kalian untuk terus melangkah atau berhenti" kata ibu. Langit mengangguk mencium kedua tangan ibunya, "terimakasih atas segalanya bu, Langit tidak tau harus membalasnya dengan apa" kata Langit, ibu menggeleng tersenyum. "kehadiranmu sudah menjadi balasan bagi ibu untuk terus hidup, Lang. sekarang kamu akan mempunyai keluarga dan anak-anak mu nanti akan selalu diterima disini" kata ibu. Langit tersenyum memeluk ibunya. "ibu adalah perempuan pertama yang terpenting bagiku dan sekarang ada Zivannya yang juga penting bagiku. kalian berdua adalah perempuan yang sama-sama berarti untukku" kata Langit, ibu mengelus punggung Langit dan mencium kedua pipinya. "sering-sering menengok ibu nak, jika ibu sempat akan datang berkunjung kesana" kata ibu Danti, Langit mengangguk.
Zivannya memeluk ibu Langit mengucapkan selamat tinggal karena harus pulang. taksi membawa mereka pergi meninggalkan halaman rumah ibu Langit menuju ke stasiun kereta yang akan membawa mereka ketujuan yang berbeda. Langit menuju loket sesampainya di stasiun kereta, memesan tiket yang akan segera berangkat ke Jogja.
Zivannya menyerahkan uang dan menerima tiketnya, Langit setengah berlari menarik tangan Zivannya untuk segera mengikutinya. mereka mencari gerbong tempat duduk, "wuihhhh... seru...." senyum Zivannya menghembuskan nafas seraya menghempaskan nafasnya duduk disamping Langit. Langit mengelus punggung Zivannya, "eehhhh..... tunggu.... tunggu.... ada yang nggak bener. kenapa kakak disini" tanya Zivannya menatap Langit. "aduuhhh....lupa, yang. keretanya udah jalan lagi" tepuk kening Langit tersadar, Zivannya memukul pelan bahu kekasihnya. "nggak usah kebanyakan drama" kata Zivannya, Langit tertawa kecil melihat ekspresi wajah Zivannya. "nikmati perjalanan berdua" raih pinggang Langit agar lebih rapat. "banyak orang kak, jaga tangan" tepuk punggung tangan Zivannya, Langit melepas tangannya. "aku akan mengantarmu dulu sebelum pulang" kata Langit. Zivannya mengangguk. meletakkan kepalanya dibahu Langit, "mau tidur, yang" kata Zivannya memejamkan matanya. Langit mengecup rambut Zivannya pelan membiarkan Zivannya berisitirahat sebentar sebelum bertemu dengan teman-teman baiknya.
Langit mengeluarkan tiket saat ada pemeriksaan oleh petugas jaga, Langit menunjuk Zivannya yang tertidur ketika petugas menanyakan tiketnya. gerbong saling bergesekan menimbulkan suara yang khas. langit menatap lorong kereta yang penuh dengan orang-orang yang sepertinya, suasana perjalanan yang lama tidak dilakukan Langit jika tidak bertemu dengan Zivannya, dia menatap bangku kereta yang di isi kebanyakan anak kuliahan yang akan belajar ditempat yang mereka tuju.
lampu yang agak temaram membuat beberapa orang merebahkan badannya untuk beristirahat, gerbong sedikit lengang saat memasuki jalur kereta yang kanan kirinya sawah menghijau. walau malam tapi siluet bulan menampakkan bayangan tanaman hijau dan sedikit bangunan di kanan kirinya. Langit mengambil Hoodie dan meletakkan dipangkuannya agar kepala Zivannya dapat diletakkan di kaki bagian atasnya. Langit menutup muka dan badan bagian atas dengan Hoodie Zivannya agar dapat tidur dengan nyenyak.
Langit mengistirahatkan matanya juga, Zivannya mengusap bahu Langit. Langit membuka matanya perlahan menoleh menatap Zivannya, "sudah sampai, yang" tanya Langit, "bentar lagi. kita harus siap-siap" kata Zivannya, Langit mengusap wajahnya dengan tissue basah yang disodorkan Zivannya, meminum air mineral.
hai ... hai..... hai.... all readers terus dukung karyaku... terimakasih banyak sudah mampir di karyaku.
luv... luv... luv... U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak atas dukungannya selama ini.
__ADS_1
stay healthy all...