Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 133


__ADS_3

Zivannya segera tertidur setelah merapikan alas tidur tanpa menunggu Langit, "siang jam berapa kak pulangnya" tanya Langit sambil mengusap kepala Zivannya.


"kita berangkat jam 1 an seperti biasa, setelah sampai nanti ada yang jemput. biar mobil dibawa adek dan Rara mengantar ibu pulang. mungkin disana mereka akan menginap baru besuknya pulang" kata Dirgantara.


"karena kita berangkat besuknya pagi, dia harus segera pulang kesini" kata Matahari. "berapa hari dia menemani ayah dan bunda" tanya Langit.


"mungkin 4-5 hari, semingguan. bunda udah mengurus jauh-jauh hari pernikahan kalian, semuanya di urus oleh wedding organizer. jadi tidak terlalu menguras energi" jawab Matahari.


Langit menghela nafasnya berat, Matahari tertawa kecil. "untung kamu ketemu Zi saat udah pulang dari menjaga perdamaian Lang, pasti kamu akan merasakan apa yang kurasakan dulu" kata Matahari, "hmmmm.... " sandar Langit di dinding.


"kita berkumpul bulan depan kak, bang" pandang Langit. Dirgantara dan Matahari mengangguk.


"kita akan berkumpul kembali sebagai satu keluarga Triastomo yang lengkap" senyum Dirgantara. Matahari dan Langit mengangguk.


pagi hari


bunda dan ibu membangunkan mereka untuk menjalankan kewajiban pagi, Zivannya yang terakhir bangun, anak itu jika sudah terkena alas tidur akan cepat tidur dan susah untuk dibangunkan. setelah itu mereka tidur kembali ditempat yang sama kecuali Zivannya yang nyangkut diranjangnya setelah menunaikan kewajiban pagi. "hmmmm.... anak-anak ini. udah pada gede, menikah punya anak. kelakuannya tetap aja seperti anak kecil" geleng-geleng bunda meminum teh pagi hari.


ibu tersenyum memandang mereka "tidak terasa ya bund, udah pada gede dan mau berumah tangga, anak-anak cepat sekali besar" angguk ibu Danti.


"benar bu, rasanya baru kemarin ngganti popok mereka, sekarang ngganti Pampers anak-anak mereka" senyum bunda. "semoga mereka nanti segera diberi momongan agar kita bisa segera menimang cucu" angguk ibu, bunda tersenyum mengamini doa ibu Langit.


"semoga mereka tidak jauh jika harus di pindah tugaskan, jadi kalo mau nengok tidak terlalu jauh perjalanannya" jawab bunda.


"bund, Raka sama Riki masih tidur" tanya ayah mendekat, "masih yah. ini jam berapa, lihat tuh yang gede aja masih pada tidur dengan nyenyak. nggak pada malu ada ibunya Langit disini" tunjukan bunda. ibu Danti tersenyum, "tidak apa. Langit jika pulang juga tidurnya bisa seharian, sama seperti yang lain. kalo berada dirumah pasti merasa damai" kata ibu Langit, ayah menerima kopi hitam dari bunda, "bund, Matahari sama Dimas kan harus berangkat" tanya ayah.


"nanti aja banguninnya jam 7, biar istirahat dulu, yah" toleh bunda, ayah menyeruput kopi panasnya. "ibu udah siap-siap" tanya bunda, "sudah. hanya membawa barang sedikit bund, saya berangkatnya dari rumah satu hari sebelum kesini, kata Langit biar tidak capek. ternyata kalo sudah tambah umurnya dan jarang bepergian, bikin capek bund" tawa ibu Langit, bunda tertawa. "memang bu, terkadang keinginan untuk kemana-mana masih ada. tapi nggak kuat raganya" angguk bunda.


"bang" elus bunda pelan, Matahari membuka matanya, "jam 6 lebih, abang dan Dimas harus berangkat sebelum jam 8" kata bunda, Matahari mengangguk. mengusap pipi istrinya, Mentari mengerjapkan matanya melihat suaminya dan sekitarnya. "udah pagi" duduk Mentari, Matahari mengangguk dan membantu istrinya untuk berdiri dengan pelan. Mentari menepuk bahu Valerie pelan, "jam berapa" tutup muka Valerie.


"jam 6 lebih kak, bentar lagi anak-anak juga bangun" sahut bunda, Valerie duduk sebentar, menggoyang badan Dirgantara untuk membangunkannya. Langit berjalan pelan menuju kamar Zivannya untuk membersihkan dirinya, dilihatnya kekasih hatinya tertidur dengan nyenyak diatas ranjang. Langit mengusap pipinya lembut, "yang, aku akan berangkat dinas. bangun gih, siapin bajunya dan sarapan bareng" kata Langit, Zivannya berdehem menaikkan cover bednya lebih tinggi menutupi seluruh tubuhnya. Langit naik diatas tubuh kekasihnya agar segera bangun.


"iya, aku akan bangun. berat kak lama-lama" seru Zivannya dari balik cover bednya. Langit beranjak kebathroom untuk membersihkan dirinya. Zivannya melipat cover dan berjalan ke walk closet mengambilkan pakaian dinas Langit. "udah, yang" lihat Langit menatap Zivannya yang sedang menunggunya ditepi ranjang. "pakai pakaian apa kak. aku nyiapin yang itu" jalan Zivannya ke walk closet kembali. Langit mengikuti langkah kekasihnya. "ya" angguk Langit, Zivannya meletakkan di bangku yang ada ditengah. "kalo gitu, aku keluar dulu" angguk Zivannya. Langit mengangguk mengganti handuk dengan pakaian dinasnya.


"sarapan" sodor coklat panas Zivannya dan nasi uduk yang dibungkus daun pisang dibeli Marni untuk sarapan keluarga Triastomo atas permintaan bunda. "kamu nggak makan, yang" toleh Langit, Zivannya menggeleng memperlihatkan roti selai coklatnya. "ketemu dibandara nanti" kata Langit menatap Zivannya saat hendak berangkat dinas, Zivannya mengangguk mencium punggung tangan Langit. "hati-hati dijalan" kata Zivannya, Langit tersenyum dan melangkah menuju motor kecil Zivannya melajukannya dengan kecepatan sedang.


Matahari akan berangkat setengah jam lagi, setelah menyelesaikan sarapannya. "aku nganter Dimas kebandara, setelah itu ke tempat dinas, siangnya ketemu di bandara lagi dengan Langit" kata Matahari sebelum berangkat, Mentari mengangguk.

__ADS_1


"udah mandi dek" tanya bunda, Zivannya nyengir. "belum bund, nanti aja kalo mau berangkat" jawab Zivannya. bunda menggelengkan kepalanya melihat tingkah anaknya itu. "bund, nanti ikut nggak ngantar" tanya Zivannya. "ikut, orang yang pulang cucunya sama besannya" celutuk Mentari. bunda menepuk bahu Mentari, Mentari meringis mengaduh. "pake mobil gedean berarti" tanya Zivannya menatap sambil bertopang dagu. "pake taksi online aja ya, biar nggak ribet" tanya Mentari. "sama aja kak, kita kan balik lagi kerumah, nanti juga ada Matahari dan Langit yang ikut" jawab ayah.


"lha kan mereka bawa motor yah" minum Mentari. "suruh ninggalin di kesatuan aja biar mereka pulangnya bareng" kata ayah. "yah... kak Langit kan masih dinas. kalo abang nunggu pindahan aja" kata Zivannya, "oh iya... lupa..." ingat ayah akhirnya menganggukkan kepala. Raka dan Riki sudah membersihkan diri sebelum sarapan pagi. "pagi Uti, Kakung dan nenek" senyum Raka, "pagi anak ganteng. wangi banget, siapa yang mandiin" cium bunda. "mama" jawab Riki, sekarang kakak dan adek mau kemana" tanya Uti. "pergi keliling kompleks sama onty" jawab Raka. "onty Mentari pasti" senyum-senyum Mentari. Riki menggeleng dengan mengunyah roti yang disiapkan Zivannya.


"onty Zi sama onty Rara aja. onty nanti kecapekan kan mau pergi jauh" kata Riki. "lama dong nanti kalo ketemu sama kakak berdua" kata Mentari sedih. "kalo kita libur, kita yang jenguk onty kesana" kata Raka, "beneran lho kak, nggak boleh ingkar. kalo libur sekolah main kesana" kata Mentari tersenyum, Raka mengangguk.


Dimas berpamitan kepada keluarga Triastomo, ibu Langit dan Rara. "kabari kalo udah sampai" peluk Rara, Dimas tersenyum mengangguk. Matahari dan Dimas meninggalkan halaman rumah.


"mulai sepi nih rumah, satu persatu udah pergi" hembus nafas bunda melihat kepergian mereka berdua. "tinggal penghuni dua orang terakhir yang nanti akan menempati rumah ini" pandang bunda menatap ayah, ayah tersenyum memeluk istrinya melangkah masuk kedalam rumah. "bentar lagi juga rame bund, nikahannya adek kan sebentar lagi. jadi ngumpul lagi, nggak usah kuatir bund" kata Mentari.


"kenapa nggak ada yang nikah sama orang sipil sih jadinya nggak usah pindah tugas kayak ayah" tanya bunda, "lha... bund, dapatnya jodoh abdi negara. mau gimana lagi" kata Mentari, "aku cari yang sipil nih bund" tanya Zivannya nyengir, "ishhh... mulut kalo ngomong suka seenaknya" tepuk punggung bunda, Zivannya mengaduh kesakitan, "aku tadi udah dek" julur lidah Mentari menjauh dari bunda. Zivannya tertawa kecil.


"aku ndak bund" geleng Valerie mendekati ayah dan berjalan menjauh. "ishhh... punya anak cewek tiga kok setipe semua, nggak ada yang kalem" kata bunda, ayah tertawa menjauh. "onty, ayo" tunggu Raka didepan pintu. Zivannya mengangguk dan berlari masuk rumah mengambil dompet dan Hoodie. kita mau pake motor yang mana kak" jalan Zivannya ke garasi. "naik mobil aja onty. beli yang jauh" kata Riki. "lha kita kan pulang ke Surabaya nanti siang" kata Zivannya menatap Riki. "ke tempatnya om Langit sama om Matahari aja onty. disana ada kapalnya gede" kata Riki.


Zivannya terpaku lemas, "nggak usah kesana kak, onty belum mandi" kata Zivannya. "maunya kesana onty" silang kedua tangan didada Raka, Zivannya menghela nafasnya panjang. "kalo gitu tunggu, onty siap mandi bentar aja" lari Zivannya masuk kedalam rumah. Raka dan Riki saling berpandangan dan kembali kedalam rumah. "nggak jadi pergi kak" toleh Valerie, "nunggu onty mandi bentar katanya" duduk Raka.


"lho kan cuman kedepan aja kan kak" datang Dirgantara, "kakak ingin ke tempat om Langit dan om Matahari yang ada kapalnya gede" geleng Riki. Dirgantara tertawa lebar. "bagus...." kata Dirgantara beri tanda Ok dengan jemarinya. "hmmm.... pantesan itu anak langsung ngibrit ke kamar. mandi" kata Valerie.


"kak, nanti ketemu di bandara sama mereka aja. kita capek kalo balik lagi kesini" kata Zivannya menenteng tas ranselnya." cepet amat dek" pandang Dirgantara, "ngapain lama-lama, cepat aja bisa" manyun Zivannya. Valerie geleng-geleng kepala.


"bund, jalan dulu. bu, nanti ketemu di bandara" salam pamit Zivannya. "iya" angguk ibu tersenyum. "papa dibelakang sama adek, kakak didepan sama onty" kata Dirgantara. Zivannya membuka pintu untuk Raka dan memasang seat beltnya, menutup pintu dan berjalan kesisi yang lain.


"let's go" seru Zivannya. "let's go" seru mereka berdua senang, Zivannya tersenyum dan melajukan mobilnya lebih cepat. Zivannya memperdengarkan lagu-lagu anak-anak yang ada diponselnya, mereka bertiga bernyanyi dengan riang gembira, Dirgantara tertawa mengabadikan moments kedua putranya yang sedang gembira.


"tuh lihat ma, anakmu" perlihatkan Dirgantara kepada istrinya yang ada diujung ponsel. Valerie tertawa melihat anak-anaknya bernyanyi dengan semangat. Zivannya yang mengemudikan mobil ikutan bernyanyi dan menari menirukan irama lagu.


"kelakuan istrimu Lang" tambahkan peserta video call Dirgantara, Langit mengamatinya dan tertawa. "mau kemana kak" tanya Langit. "ke kesatuanmu, dua krucil itu ngotot pingin liat kapal gede. Zivannya jadi mandi tergesa-gesa" tawa Dirgantara. Langit tertawa. "nanti langsung masuk aja. aku kabari yang jaga depan" angguk Langit, "baik" jawab Dirgantara.


"bang Matahari udah sampai situ belum" tanya Dirgantara, "belum kak" geleng Langit, Dirgantara mengangguk. "aku off dulu, mau konser" kata Dirgantara, Valerie tertawa menutup panggilan video disusul dengan Langit.


selama perjalanan mereka bernyanyi bersama.


"selamat siang" turun Zivannya untuk melapor ke petugas jaga. "siang, bu Zhivannya kan" tanya nya segera. "iya"angguk Zivannya. komandan sudah menunggu kedatangan ibu" angguknya. Zivannya mengangguk dan berjalan kembali kemobil untuk parkir ditempat yang telah ada. "hallo" salam Zivannya, "udah sampai, yang" berdiri Langit. "baru aja parkir. ini mau turun, anak-anak pingin kesini" kata Zivannya melepas seat belt Raka. Zivannya membuka pintu mobil dan memastikan semuanya sudah keluar sebelum dikunci. Raka meraih tangannya, Zivannya tersenyum dan menggenggam jemari Raka untuk berjalan menyusuri koridor bangunan kesatuan Langit.


"Zi" panggil Baskara, Zivannya menoleh melambaikan tangan, "mau ketemu komandan Langit" dekatnya. Zivannya mengangguk dan menunjuk ketiga laki-laki berbeda usia yang berjalan terus menuju ruangan Langit.


"anak tertua jenderal Triastomo" lihat Baskara, Zivannya mengangguk. "yang paling susah dihadapi adalah dua anak itu, dari minta beli ice cream depan rumah minta dengan paksa pingin kesini, papanya malah kompak suruh nganterin kesini" geleng kepala Zivannya, Baskara tersenyum.

__ADS_1


"aku kesana dulu kak, krucil menunggu" toleh Zivannya, Baskara tersenyum mengangguk. Zivannya segera berlari kearah mereka bertiga dan berjalan dengan cepat. Langit sedang membuka pintu ruangan nya saat mereka mendekat.


"om...." seru Raka melihat Langit, Langit menoleh dan terlihat Raka berlari menghampirinya, ia menangkap tubuh Raka.


"selamat datang di tempat om" angkat badan Langit, Raka tertawa senang karena tubuhnya melayang ke udara. Riki menarik celana Langit minta dilambungkan seperti kakaknya Raka. Langit melihat dan tersenyum menurunkan tubuh Raka dan meraih tubuh Riki untuk dilambungkan keudara.


Zivannya menunggu dengan bersandar di dinding. ponsel Zivannya berdering, segera menjauh sedikit dari mereka.


"hallo" salam Zivannya.


"bagaimana kabarmu" tawa Yuda.


"baik, kayaknya ceria banget nih" senyum Zivannya.


"harus nya aku yang bilang begitu, Zi. kenapa kamu tidak memberitahuku" kata Yuda.


"apa" kerut Zivannya tidak mengerti.


"sampai segitunya kamu tidak ingat kepadaku teman baikku" kata Yuda.


"jangan berputar bikin pusing" Hela nafas Zivannya.


"kamu dilamar Langit" kata Yuda tinggi.


"minggu depan aku pulang. kita ketemu nanti, luangkan waktumu yang padat untukku" senyum Zivannya. Langit menatap Zivannya yang terlihat senang mendapat panggilan diponselnya.


"baik, jika sampai kabari. kamu dengan Langit nanti" tanya Yuda, "belum tau. karena dia bisa cuti sebentar atau tidak" kata Zivannya


"aaahh... aku mengerti" angguk Yuda. "kalo begitu aku tunggu kamu pulang Zi, jangan sampai lupa untuk pulang" senyum Yuda. "pasti... see U" senyum Zivannya mematikan sambungan ponselnya.


"siapa" dekati Langit. Zivannya membuka chat ponselnya dan memperlihatkan chat video dari Yuda. "dia tau kamu melamarku kemarin kak, aku belum memberitahunya" kata Zivannya, "apa Rara mengunggah lewat media sosialnya" ingatkan Langit, Zivannya mengangguk menghela nafasnya panjang.


hai....hai...hai.. all readers terimakasih telah mengunjungi karyaku, terimakasih banyak atas dukungannya.


luv... luv...luv U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih atas semua nya


stay healthy all

__ADS_1


__ADS_2