Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 142


__ADS_3

"kak, aku tidak apa-apa. bergabunglah bersama mereka" kata Zivannya pelan, "done" geleng Langit. Zivannya menghela nafasnya panjang melihat Langit yang lebih posesif lagi jika begini, ia mengerti Langit mengenalnya lebih baik dari pada Yuda walau mereka telah lama berteman, hanya Langit yang tetap berdiri dan bersamanya saat dia selalu berusaha menjauh darinya dan sekarang hanya laki-laki yang berada disampingnya ini yang memberinya kenyamanan dan ketenangan.


"yang, aku sudah mengajukan cuti 3 hari untuk menemanimu pergi, dengan kejadian ini membuatku sedikit lebih mudah meminta ijin" kata Langit, Zivannya mengangguk. "pesona mu terlalu kuat kak, jadi aku merasa nggak nyaman diliatin banyak gadis" pandang Zivannya melihat sekeliling. Langit tersenyum manis "berarti suamimu terlalu tampan untuk dilepaskan" goda Langit. "ha... ha ... ha..." jawab Zivannya datar.


Langit tersenyum kecil, meraih pinggang Zivannya agar merapatkan tubuhnya. "lepasin tangannya, yang. ini baru berkabung" toleh Zivannya. Langit melepaskan tangannya dari pinggang Zivannya mengelus punggung Zivannya berulang kali. "hmmm..." dehem Zivannya, "aku nggak bisa, yang. jangan melarangku menyentuhmu jika kamu berada didekatku, refleks tanganku" senyum Langit, "ya.... ya.... ya...." jawab Zivannya kesal. "jika ada acara kedinasan gimana nanti kak" kata Zivannya tidak habis pikir. "ya, nggak papa, kamu kan istriku. kecuali aku menyentuh istri orang' cengir Langit, Zivannya mendorong bahu Langit agar menjauh. "nah, kan marah.... cuman ngomong doang lho, belum ngapa-ngapain istri orang" kata Langit tersenyum menggenggam jemari kekasihnya kembali.


Baskara menanti mereka berdua agar lebih dekat untuk berjalan bersama, "Bas, setelah ini kalian kembali ke Jakarta" pandang Langit. Baskara mengangguk, "siap ndan" angguk Baskara. "kamu terlihat gagah om dengan seragam ini" kata Zivannya, Langit menatap Zivannya lekat. "aku hanya mengatakannya kak, nggak menyentuh suami orang" pandang Zivannya balik, Baskara tersenyum pelan menatap Zivannya, "apa kalian bertengkar memperebutkan istri dan suami orang" tatap Baskara. "nggak kak, hanya sedang membicarakan hal nggak penting" senyum Zivannya, mereka akhirnya sampai di tempat peristirahatan terakhir Suprapto. teman-teman kesatuan Suprapto segera memposisikan dirinya untuk melakukan penghormatan terakhir. Langit memimpin upacara penghormatan, Zivannya melihat dari kejauhan memperhatikan setiap detail pelaksanaan yang dilakukan secara militer.


"Zivannya" dekat seseorang menyapanya, Zivannya menoleh mendengar namanya dipanggil. "Riko" salam Zivannya, Riko menerima uluran tangan Zivannya. "kenapa kamu kesini Zi" tanya Riko, "kamu juga ngapain kesini" tanya Zivannya balik. "mas Suprapto adalah saudaraku Zi, kami juga terkejut dan segera pulang untuk menghormati saat-saat terakhirnya" jawab Riko. Zivannya mengangguk, "kedua kakakku teman satu kesatuan kak Suprapto, ko" kata Zivannya, Riko manggut-manggut.


"tau gitu aku ngobrol aja dari tadi bersamamu, tapi kenapa aku nggak melihat mu Zi" toleh Riko, "masa sih ko, aku segede gini masih nggak kliatan" tanya Zivannya, Riko tertawa pelan menggeleng, "jam 3 pagi kami sampai disini, setelah mendapat kabar kak Suprapto nggak ada, kami langsung kesini. kalo tau kamu keluarganya maka aku akan nanya keadaan disini nya" tanya Zivannya, "nggak tau juga Zi, kamu kan nggak pernah bilang dari kesatuan mana kakak-kakak mu dinas" kata Riko, "hmmmm..... jangan lagi ada kejadian seperti ini" geleng Zivannya tidak mau hal ini kembali terjadi. mereka mengobrol cukup lama saat Langit bersama teman-teman nya yang lain, Zivannya sesekali menyeka peluh di dahinya.


"apa kamu baik-baik saja Zi" lihat Riko menatap Zivannya, "tidak begitu ko, sebelum berangkat aku demam tinggi, kayaknya datang lagi deh bentar lagi juga kakakku akan selesaikan urusannya" jawab Zivannya menggeleng pelan. Langit mencari keberadaan Zivannya yang tidak terlihat diantara para pengantar kepergian Suprapto, hingga dilihatnya sosok Zivannya yang sedang bersandar di dinding pembatas sesekali menyeka keringat dingin yang keluar dan sedang mengobrol dengan seseorang. Langit membisikkan sesuatu ke Baskara yang segera mengangguk, ia berjalan mendekati kekasihnya yang terlihat tidak baik-baik saja.


"kenapa" sentuh kepala Langit, "hanya keringat dingin kak, tidak apa-apa" pandang Zivannya menyeka peluhnya. Langit melihat sekeliling mencari tempat yang teduh. "kita kesana bentar sambil menunggu selesai" raih bahu Langit membantu Zivannya berjalan pelan. "ko, aku kesana dulu. makasih menemaniku" tatap Zivannya sebelum melangkah pergi, Riko mengangguk tersenyum. "kamu belum makan apapun setelah kemarin malam" kata Langit, Zivannya mengangguk. Langit mencari kios penjual disekitar.

__ADS_1


"apa butuh tissue" tawarkan seseorang menyodorkan sekotak kecil tissue. Langit mengangguk dan menerimanya, "terimakasih banyak" kata Langit. "sama-sama" senyumnya sedikit menjauh. "kuat" seka keringat Langit menggunakan tissue, Zivannya mengangguk pelan. "apa kita harus pulang duluan" tanya Langit menatap Zhivannya. "tunggu selesai aja kak, nanti kita sama-sama yang lain pulangnya" geleng Zivannya mengatur nafasnya, Langit mengangguk menuruti keinginan kekasihnya. "bisa sendiri sebentar, aku harus kesana dulu" kata Langit, Zhivannya menganggukkan kepalanya kembali. "aku baik-baik saja, yang. jangan terlalu kuatir, lakukan dengan baik tugasmu" kata Zivannya mengusap bahu Langit. Langit tersenyum dan berjalan kembali ke tempat tugasnya, Zivannya melihat dengan jelas semua prosesi yang dilakukan Langit dan teman-temannya.


seseorang menyodorkan teh pekat yang panas kedepan Zivannya, "ahh.... terimakasih banyak ko, malah merepotkanmu" senyum Zivannya menatap Riko yang duduk didepannya setelah mengantar kepergian Suprapto keperistirahatan terakhir nya. "langsung pulang ke Jakarta Zi" tanya Riko menyeruput teh panasnya, Zivannya melakukan hal yang sama. "tidak aku akan kekota tempat kita kuliah dulu, lebih dekat untuk kearah sana" geleng Zivannya meniup teh panasnya.


"yang..." datang Langit membawa teh panas dan obat demam, mereka menoleh bersamaan menatap Langit. "kenalkan ini Riko teman kampusku kak, ternyata dia keluarga dari kak Suprapto. tadi ketemu saat di peristirahatan, dia juga mengambilkan teh panas untukku" senyum Zivannya, Langit mengangguk dan memberi salam kepada Riko yang terlihat sedikit bingung dengan mereka berdua. "kenalin ko, dia kak Langit teman dari kak Suprapto, abangku yang kemarin ikut ke kampus juga satu kesatuan dengan kak Suprapto, tapi kemarin dia sudah pindah tugas diluar Jawa, jadi tidak bisa menghadiri penghormatan terakhir untuk kak Suprapto" senyum Zivannya, Riko mengangguk mengerti.


"minum dulu obatnya" angsur Langit, Zivannya segera menelannya dan meminum air mineral yang dibawa Langit, "makan rotinya agar tidak berdebar kencang" serah Langit, Zivannya segera menggigit pelan roti yang diberikan Langit. "aku kesana sebentar" elus kepala Langit sambil beranjak kearah teman-temannya yang sedang mengobrol bersama orangtua Suprapto, Zivannya mengangguk pelan. "keluargamu memang protektif banget Zi" lihat Riko, "karena yang dua udah menikah dan tinggal dikota lain, anak paling akhir dan perempuan. jadi begitulah..." senyum Zivannya. "yang satu dikesatuan mana Zi" tanya Riko, "udara" pandang Zivannya, Riko manggut-manggut, "ayahmu" tanya Riko, "kenapa memangnya" kerut Zivannya, "tidak apa" geleng Riko.


Zivannya meminum teh panasnya lega, "jadi kangen teh di angkringan kalo gini, rasanya sama" kata Zivannya, Riko tertawa pelan. "sering-sering ke kampus Zi, biar aku traktir" kata Riko, Zivannya tersenyum. "pinginnya sering pulang kesana tapi ayah dan bunda lebih banyak tinggal di Jakarta, kalo mau kuliah lagi boleh aja tapi nunggu dinikahin dulu katanya, biar ada yang jagain" kata Zivannya. "lha mas dosen Regan aja terpesona padamu Zi" kata Riko, Zivannya tersenyum. "masa.... biasa aja kali ko, dia kan banyak yang suka. namanya aja dosen muda jadi banyak mahasiswi yang terpesona, nggak heran sih, dia juga ganteng" kata Zivannya, Riko tertawa. "tapi kamu nggak terpesona kan" pandang Riko. "ishhh.... aku kan bukan mahasiswa lagi udah jadi pengangguran jadi bukan siapa-siapa" kibas tangan Zivannya pelan, mereka terkekeh pelan.


"apa masih pusing, yang" tanya Langit mengusap-usap punggung Zivannya, "sedikit kak, duduklah disini sebentar mengobrol dengan yang lain. biar aku bersandar dibahumu untuk tidur" dongak Zivannya, Langit mengangguk dan duduk disamping Zivannya agar bersandar dibahunya. "apa dia sakit" tanya Baskara mendekat dengan yang lain. Langit mengangguk pelan, "sebelum kemari dia demam jadi tidak ikut bang Matahari pindahan. harusnya besuk dia berangkat menyusul tapi ada peristiwa ini" jawab Langit, "udah makan belum" tanya Mahesa, "dia tidak mau, jika dipaksa malah akan keluar lebih banyak" geleng Langit, "aisshhh..... ribet banget punya istri, ndan" pandang Sapta. "kamu belum ketemu yang pas, sap. jika sudah maka kamu akan merasakannya sendiri. apapun yang dia mau pasti akan kamu berikan tidak peduli sesulit apapun itu" kata Langit, "komandan udah bucin banget rupanya" senyum Mahesa.


"benarkah, berarti kita berdua sama-sama bucin. jika aku jauh dia nggak akan kuat, jika dia jauh aku merasa lemah" senyum Langit. mereka tersenyum, "nggak pernah melihat komandan Langit begini sebelumnya, kalo ngumpul gini ada Suprapto pasti tertawa paling keras" hembus nafas Mahesa, Langit terdiam lama. "jangan sampai ada kejadian begini lagi kawan-kawan, kita harus lebih waspada saling melindungi dan berbagi rasa dengan lainnya" pandang Langit, mereka mengangguk. tak berapa lama terdengar panggilan kewajiban siang, Baskara menemani Langit yang masih menunggu Zivannya tidur.


"tadi temennya kuliah ternyata saudara Suprapto. lumayan lama ngobrolnya" hembus nafas Langit, "merasa tidak suka, ingin dia hanya untukmu" tatap Baskara, Langit mengangguk. "apa itu buruk, Bas" tanya Langit. "tidak, hal yang wajar saat menemukan orang yang benar-benar membuatmu berubah dan dia adalah gadis yang baik beruntung dirimu menemukannya" kata Baskara. "hmmmm...." gumam langit sambil mengelus punggung tangan Zivannya.

__ADS_1


"jika dia tidak bertemu Aga lebih dulu, aku pasti tidak akan mengenalnya dengan lebih baik" kata Langit lirih, "yang jadi pertanyaan apa kamu pilihan terbaik untuknya" senyum Baskara, Langit menyunggingkan senyum disudut bibirnya. "sejujurnya rasa takut lebih mendominasi saat mendekatinya, takut dia tidak mau membuka hati terhadap orang selain dia, takut dia menolakku karena kami punya pekerjaan yang sama, takut dia lebih memilih orang yang selalu ada didekatnya kapanpun, takut jika melihatnya bersama laki-laki lain yang lebih dariku" pandang Langit, "apakah banyak yang ingin bersamanya" tawa Baskara pelan, "menurutmu Bas" pandang Langit merasa tidak senang dengan ledekan Baskara yang menahan tawanya agar tidak terdengar orang lain.


"saat dia berada dikampus ada pengajar yang selalu mengharapkannya, ada teman baiknya yang selalu menerimanya, ada mantan yang mengharapkannya kembali, ada anak udara yang memperlakukannya istimewa" hembus nafas Langit merasa kesal. Baskara terkekeh pelan melihat Langit. "senang banget Bas, melihatku menderita" pandang Langit, Baskara menggeleng menyembunyikan tawanya agar tidak mengganggu Zivannya. "terus terang ndan, kami merasa senang jika komandan menderita dibuat Zivannya, karena dengan begitu kami juga melihat komandan lebih menderita daripada latihan fisik yang setiap hari kami terima" angguk Baskara terus terang. mereka saling menatap dan tersenyum lebar, "terimakasih Bas, sudah mengingatkan untuk memulai latihan fisik kembali, sudah lama kayaknya kalian libur" pandang Langit tersenyum smirk.


"silahkan ndan, asalkan Zivannya tau apa yang komandan lakukan maka kami ikhlas" angguk Baskara tersenyum, Langit mendengus pelan tidak mau berdebat dengan Baskara yang pastinya akan membuat Zivannya meradang. "ndan" datang Sapta dan yang lain sesudah melaksanakan kewajiban siangnya. Langit mengangguk menyuruh mereka untuk duduk dan meminum minumannya dulu. "yang" tepuk pipi Langit pelan, Zivannya membuka matanya menyesuaikan dengan keadaan. "pada ngumpul" kucek mata Zivannya menyesuaikan matanya, Langit mendengarkan pembicaraan yang mereka laporkan, "kalo begitu, kita akan berangkat, aku dan Zi akan mengikuti kendaraan kalian dari belakang, kita akan mencari makan siang disekitar stasiun kereta" angguk Langit, "semoga selamat sampai tujuan" pandang Langit, mereka mengangguk memberi hormat.


Langit dan yang lain segera menghampiri kedua orang tua Suprapto untuk kembali ikut berduka atas kepergian Suprapto sekalian meminta maaf jika ada kesalahan dan khilaf, juga telah merepotkan selama mereka disini. meminta ijin untuk pamit karena telah menyelesaikan tugas secara militer oleh kesatuan untuk Langit. kedua orang tua Suprapto juga mengucapkan terimakasih atas perhatian teman-teman Suprapto, meminta maaf jika selama bersama Suprapto banyak melakukan kesalahan. mereka segera menuju stasiun diantar oleh tetangga Suprapto. Zivannya memberi tanda terimakasih karena mengantar teman-teman Langit menuju stasiun kereta.


mereka menuju kesebuah kedai yang tidak jauh dari tempat mereka tiba, makan dan setelahnya mempersiapkan diri untuk naik kereta, "hati-hati dijalan teman-teman, nanti aku akan menyusul" pandang Langit sesaat setelah mereka akan masuk keperon untuk menunggu keberangkatan kereta. "hati-hati juga ndan, jaga Zivannya" salam hormat Baskara menyalami Langit dengan gaya khas. Langit mengangguk, Sapta, Mahesa dan yang lain bergantian memberikan salam hormat dan jabat tangan khas seperti Baskara. Zivannya melambaikan tangan dari agak jauh sambil menundukkan kepalanya melepas kepergian mereka, Langit menatap teman-temannya selama masih terlihat, Zivannya mendekat dan menggenggam jemari Langit untuk beranjak dari pintu masuk peron. "kita lanjutkan perjalanan" senyum Langit, Zivannya mengangguk dan melangkah dengan pelan menuju mobil mereka.


hai..... hai.... hai.... all readers, terimakasih banyak telah mendukung dengan berkunjung ke novelku...


luv.... luv.... luv.... U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak atas semua nya.


stay healthy all

__ADS_1


__ADS_2