Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 83


__ADS_3

"aissshhh..... apa ada yang aku lewatkan mengenai kalian berdua, apa ada yang tidak aku ketahui" kata Rara geregetan. "nothing Ra" geleng Zivannya.


"nggak mungkin kalo tiba-tiba kayak gini..." geleng-geleng kepala Rara, Zivannya memutar bola matanya jengah.


"yang.... "panggil Langit, Zivannya menoleh menatap Langit. Rara membulatkan matanya mendengar panggilan Langit.


"pesawatku ready" kata Langit tersenyum. mereka berdiri Zivannya menyerahkan ponsel Dimas. "titip Zivannya ya Dim" kata Langit menyalami Dimas. "pasti kak, jangan kuatir" senyum Dimas membalas Langit. "hati-hati kak, makasih sudah diantar" senyum Zivannya. Langit memeluk Zivannya dan mencium keningnya lama. "jaga diri, yang. jangan lirik cowok lain. jaga jarak" usap kepala Langit. Zivannya berdehem.


Langit melambaikan tangannya sebelum benar-benar menghilang dari pandangan Zivannya yang membalas lambaiannya.


"cerita sekarang juga" kata Rara melipat kedua tangannya didadanya. mereka berjalan menuju taksi yang ada di bandara.


"kemarin malam sebelum berangkat ayah mengundangnya makan malam dan dia janji akan mengantarku kesini. hanya itu Ra" jawab Zivannya, Rara menunggu Zivannya meneruskan ceritanya. "trus apa, aku harus cerita apa. aku belum memberinya jawaban, ingatkan dia memberiku waktu 6 bulan untuk memikirkan perasaanku. jadi aku masih punya waktu untuk memikirkan hal itu bukan" kata Zivannya.


"aisshhh dia memanggilku dengan panggilan itu hari ini saat dibandara Jakarta Ra, didepan orang. masak aku harus berdebat dengannya didepan orang untuk sebutan itu. aku sudah protes dan mengingatkannya berulang kali, tapi dia tetep aja gitu, ya udah aku lebih baik diam" angkat bahu Zivannya.


"aku sudah berusaha menolaknya buk, tapi dianya kekeh aja. aku sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, capek aku Ra" pandang keluar Zivannya. "and it's my first periode, it just hurt" kata Zivannya, Rara melenguh sesaat.


"ya udah, istirahat gih. besuk kita sambung lagi, aku juga udah ngantuk walo penasaran. jika aku bisa nanti akan kesana nyusul kalian. nyesel aku kuliah nggak bener-bener" sungut Rara mematikan ponsel Dimas. Zivannya dan Dimas saling berpandangan dan tersenyum.


"kenapa dia nyeselnya sekarang ya Zi, kemarin-kemarin dia ngapain kalo kuliah" kata Dimas, "iseng dim. maklum nggak punya adik ato kakak jadi nggak ngerasa ada saingan" turun Zivannya dari taksi dan membayarnya.


"emang kita punya sodara. sama aja, makanya kita cocok bertiga" kata Dimas. Zivannya menepuk bahu Dimas, segera masuk kamar.


3,5 Bulan


Zivannya dan Dimas selalu melakukan perjalanan menuju tempat pembangunan, terkadang bersama rekan-rekan satu teamnya atau hanya berdua saja. perjalanan yang memakan waktu sekitar dua jam penuh dengan cerita, terkadang saking banyaknya cerita dan pengalaman membuat Zivannya betah berlama-lama ngobrol dan bercanda dengan pria-pria yang rata-rata sudah berkeluarga.


"Zi, kita main kekota yuk" ajak Doni salah satu pekerja.


"Ayuk ah bang, ntar Zi traktir makan deh. pingin makan kepiting nih. berapa orang yang bisa" kata Zivannya.


"asik... banyak lah, kalo makan-makan selalu ready. mumpung besuk kita banyak yang libur" kata Doni.


"asiap, nanti kita pake mobil perusahaan aja. mas Rendi yang pegang kuncinya" kata Dimas, Doni tersenyum.


"besuk kita ready pasti" angkat ibu jari Doni.


"aku ketemu mas Rendi dulu bilang, kalo besuk kita mau pinjem mobil ato truk aja" kata Zivannya, doni di mengangguk.


"mas" ketuk Zivannya dipintu ruangan. "gimana Zi" pandang Rendi melihat Zivannya. "mau minta tolong. kami mau kekota besuk, jika boleh mau pinjem kendaraan yang ada" kata Zivannya.


"siap, mau apa aja boleh. pada mau kekota semua" senyum Rendi. "sebagian sih mas. mau healing katanya" senyum Zivannya.

__ADS_1


Rendi tertawa dan mengangguk. "baiklah, besuk ambil aja yang ada" kata Rendi.


"makasih sebelumnya mas, mas Rendi nggak ikut sekalian" tanya Zivannya.


"nggak, kemarin kan baru seminggu aku pulang" geleng Rendi, Zivannya memberikan tanda dengan ibu jarinya.


"kita berapa orang nih" keluar Zivannya dari ruangan Rendi mengambil kunci.


"16 orang, nggak semuanya boleh ikut. kita gantian" kata Doni, Zivannya menyerahkan kunci. "aku naik motor aja bang, sama Dimas. soalnya aku yang didepan" cengir Zivannya. "kebiasaan, jadi hitam tuh kulit, cowokmu nanti pangling liat kau berubah gelap" senyum Doni. Zivannya tersenyum.


"kapan kamu pulang Zi" tanya Doni.


"3 hari lagi bang, memangnya kenapa" makan Zivannya.


"ah, nggak. cuman nanya. kamu kan nggak pernah pulang" kata Doni minum, "nanggung bang kalo pulang. cuman beberapa bulan ini. kalo setahun pulang pas lebaran aja" senyum Zivannya. Doni tertawa.


"senang rasanya ada kamu jadi nggak berasa kerja" kata Doni, Zivannya tersenyum.


"kalo dapat panggilan lagi bang dari perusahaan, pasti ikutan lagi. siapa tau bisa ketemu Abang dan yang lain lagi" kata Dimas.


"semoga ya dim, siapa tau kita kerjasama lagi. tapi ngomong-ngomong kalian beneran nggak pacaran kan, akrab banget lho" goda Doni menatap Dimas dan Zivannya yang selalu kompak.


Dimas tertawa. "nggak bang, takut... Zi bodyguard nya abdi negara semua" kata Dimas.


"oh ya, baru tau nih. kalian nggak pernah cerita sih jadi nggak tau keluarga Zi kayak gimana" kata Doni. "biasa aja bang, Dimas sama Rara temen baik sejak kuliah sama-sama nggak ada yang istimewa dikeluargaku. keluarga biasa aja' geleng Zivannya makan.


"nggak ada pacar kamu Zi" tanya Doni. "emang tampang kayak Zi gini ada yang mau bang" goda Zivannya. "banyak" seru mereka, tertawa bersama sambil makan dan bercanda.


"aahhh.... kenyang banget nih kepiting disini memang nggak tergantikan" kenyang Zivannya.


"jadi kangen kalo besuk udah nggak kesini lagi" senyum Zivannya menatap piringnya.


"kalo ada waktu kan bisa kesini. siapa tau kerja disini lagi" kata Doni. "iya bang, moga aja" angguk Zivannya tertawa.


"kalo boleh sama keluarganya bang, maklum anak bungsu, jadi agak dipingit" kata Dimas. Zivannya tertawa. "iya... ya... jadi anak bungsu sekarang, biasanya sendiri. bener.... bener... aku lupa lho dim" pandang Zivannya. ponsel Zivannya berdering.


"hallo kak" salam Zivannya.


"dimana dek" kata Mentari.


"baru makan kak dengan teman-teman, dikota memang kakak dimana" tanya Zivannya.


"onty" lari Raka, mereka menoleh. "waa... gantengnya onty" senyum Zivannya membuka tangannya lebar memeluk Raka yang tertawa.

__ADS_1


"kenapa nggak bilang kalo mau kesini kak" tanya Zivannya menciumi pipi gembul Raka.


"kalo diberitahu pasti ada aja alasannya" senyum bunda mengelus punggung Zivannya.


Zivannya memeluk bundanya erat dan mencium punggung tangannya.


"kenapa nggak ada yang bilang kalo mau kesini" kata Zivannya meneteskan airmata.


"malu sama semuanya" senyum bunda mengusap bahu Zivannya. Zivannya tertawa mengusap air yang turun dari matanya. "ayah ikut nggak" tanya Zivannya.


"pasti, tuh baru mau turun dari mobil" kata bunda. Zivannya tertawa. Ayah, mentari, matahari dan Langit. terlihat berjalan dengan gagah menuju Zivannya. "wah tambah item" tawa matahari. Zivannya memeluk kedua kakaknya, mencium tangan ayah dan memeluknya erat.


"lama tidak bertemu dek. tambah gendut" usap-usap kepala ayah, Zivannya mengangguk tertawa.


"bang, kenalin ini ayah dan bunda Zi, Abang dan kakak Zi, keponakan Zi dari kakak satunya, teman dekat Zi" tawa Zivannya. mereka memberi hormat kepada keluarga Zivannya. "hallo apa kabar semua, saya ayahnya Zivannya. terimakasih sudah membantu menjaga Zivannya selama disini, pasti anaknya suka ngerepotin" tawa Ayah.


"ah, tidak pak. Zi malah sering membantu kami dan mentraktir kami makan. seperti sekarang ini" kata Doni sedikit menunduk hormat kepada ayah. Ayah tertawa mendengarnya. "silahkan dilanjut. kami kesebelah sana. pingin nyicipi masakan enak disini" kata ayah menuju meja yang agak ditepi jauh dari mereka. Doni mengangguk tersenyum. Zivannya melihat Langit yang tersenyum lebar.


"kak" salam Zivannya. Langit mengangguk memeluk Zivannya dan mengecup keningnya sesaat. "mundur dari jadwal, yang" kata Langit. Zivannya nyengir dan mengangguk.


"aku kesana dulu, selesaikan makanmu bersama teman-temanmu" kata langit. Zivannya tertawa dan menghampiri teman-temannya.


"baru aja diomongin udah datang aja keluargamu Zi" tawa Doni. Zivannya tertawa mengangguk.


"maaf bang, Zi jadi nggak enak" usap tengkuk Zivannya. Doni melambaikan tangannya dimuka.


"kenapa, malah senang rasanya keluargamu mendukungmu selalu. jadi anak gadis memang beda" tawa Doni, Zivannya tertawa. Dimas kembali dari menyapa keluarga Zivannya.


kalo begitu kami jalan-jalan dulu Zi, nikmati pertemuan dengan keluargamu. nikmati hari-hari terakhirnya disini bersama mereka" kata Doni. "makasih banyak bang, hati-hati dijalan. Zi nanti nggak pulang dulu, mau ngumpul bersama keluarga" kata Zivannya Doni mengangguk tersenyum.


mereka segera pamit kepada keluarga Zivannya dan keluar dari rumah makan untuk melanjutkan melihat kota. Zivannya membereskan pembayaran makanan mereka tadi, Dimas meminta ijin untuk bersama dengan Doni dan yang lain melihat-lihat kota sebelum kembali ke mess pekerja, Zivannya mengangguk dan melambaikan tangan kearah Dimas. Zivannya menghampiri keluarganya dan duduk disamping Langit. "kenapa nggak bilang bund, kalo mau kesini" tanya Zivannya meminum air mineral kemasan. "lha dari kemarin dihubungi nggak bisa dek" makan bunda, "ah iya bund... lupa, sinyalnya sulit di tengah sana" angguk Zivannya sadar, "kak Raka sendirian ikut" tanya Zivannya menatap Raka yang sedang disuapi bunda. "Raka sudah ngerengek dari kemarin pingin ketemu kamu Zi" kata Mentari. Zivannya mengelus rambut Raka.


"lha kenapa bisa bang matahari sama kak Langit ikut" tanya Zivannya. "mereka pingin ikut" kata Ayah. matahari tertawa, "ikut ayah aja" kata matahari, Zivannya tertawa.


"kenapa pulangnya mundur lama dek" pandang bunda. Zivannya mengangguk, "ada ekstra pekerjaan bund, karena tambahan bangunan. jadi Zi sedikit memperpanjang waktu. semuanya juga sama bund. itung-itung nambah uang jajan" cengir Zivannya. "uang jajanmu kurang dek" tanya Ayah menatap Langit, Langit tersenyum. Zivannya menggeleng, "ishhh ayah... malu tau Zi, kak Langit udah ngasih


banyak di kartu kecil" geleng Zivannya, matahari bersiul menggoda Zivannya. "cie...cie... yang sudah selangkah lebih maju nih" dehem Matahari. mereka tertawa, "ayah sih setuju aja, tinggal menunggu keluarga Langit datang kerumah" selesai makan Ayah. Zivannya tersedak dan segera meminum air mineralnya. "bunda juga, tidak ada halangan" angguk bunda. Mentari memberi finger heart. "ish... yang, tanganmu itu lho" kata matahari, "kenapa, aku memberi mereka persetujuan juga lho" kerut mentari.


"tapi kan tanda itu hanya untukku" kata Matahari. "ishhh...." kerucut mulut Mentari. matahari dan Zivannya tertawa. "lama nggak bercanda ma abang jadi tambah gokil nih abang" kata Zivannya.


"kita mau liburan kemana nih hari ini" kata Mentari. Zivannya menyebut beberapa destinasi wisata. mentari setuju untuk segera kesana.


hai...hai...hai.... all readers, dukung terus karyaku ini... selalu dukung agar terus update.

__ADS_1


luv....luv...luv... U all.... terimakasih banyak semuanya.


terimakasih banyak atas dukungannya.


__ADS_2