Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 162


__ADS_3

"kita ke rumahku karena lebih dekat dengan bandara kalau hanya t-shirt untuk ganti baju ada banyak, tenang aja" masuk mobil Rara, "orang tuamu memang nggak dirumah Ra, apa nggak ikut tadi" tanya Baskara, " nggak, tidak usah membahas hal yang nggak penting malah bikin badmood nanti" geleng Rara mengibaskan tangannya di udara. Zivannya meletakkan rangkaian bunga di belakang "makanan ringannya aku kasih ke ponakan Niko tadi" kata Rara, Zivannya mengangguk tersenyum.


"kamu juga ikut pulang Zi nanti" toleh Rara. "boleh nggak" tanya Langit cepat sebelum istrinya membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan Rara. "boleh sih kak, tapi pertanyaannya apakah dia mau ikut pulang sekarang karena besuk kita mau ngumpul bareng dulu" senyum Rara. Zivannya mengangguk menatap suaminya, "boleh, alamat tidur sendirian lagi nih" jawab Langit pelan mengusap dagunya berulang kali, "tidak apa-apa ndan, dulu juga tidur sendiri baik-baik aja kan" kata Rara, "hhhmmm" dehem Langit pelan. Yuda dan Bagaskara tertawa pelan didepan, "kalian akan ngerasa jika sudah punya istri dan ditinggal pergi belum lama menikah" tatap Langit kesal.


"jika nanti bisa, tidak akan aku biarkan dia pergi nanti ndan" kata Bagaskara spontan, "emang pasangan kalian seperti burung pake dikurung, kurung aja burung mu sendiri bereskan" gumam Rara sarkas tidak suka dengan candaan mereka. "lha kan emang harus nurut sama suami, Ra" lihat reflektor mirror Yuda dari depan.


"benar, tapi bukan membenarkan laki-laki untuk membuat istrinya merasakan kepedihan, hal itu akan membuat suaminya justru bertindak yang tidak adil pada perempuan dan akhirnya akan digugat cerai" jawab Rara lugas, Zivannya mengangguk. "dan didalam ajaran pun kita harus saling menghargai, hargailah istrimu karena dia adalah tulang rusukmu yang bengkok dan ibu dari anak-anakmu" tambah Rara seraya melihat keluar kaca jendela, Zivannya mengusap bahu Rara yang masih memakai kebaya lengkap setelah wisuda, Rara menoleh dan tersenyum. "aku baik-baik saja Zi, terlalu banyak badai dalam hidup kita jadi kalo urusan begini aku masih sanggup untuk tegak berdiri" jawab Rara menepuk punggung tangan sahabatnya.


"aku justru bersyukur karena bisa menemani mu saat kamu masih bisa berdiri tegak walau tertatih-tatih waktu badai topan menerpa hidupmu waktu itu Zi, jadi aku bisa dengan mudah berdiri sekarang dengan tatapan ke depan bukan lagi kebelakang. kamu jauh lebih kuat dariku Zi disaat itupun kamu masih bisa membuka mata dan berjalan walau dengan kepedihan yang teramat sangat, jika aku menyerah sekarang maka aku adalah pengecut yang tidak menghargai waktu dan perjuanganku melihatmu dulu" tatap Rara menitikkan air mata, Zivannya mengangguk mengambilkan tissue agar tidak merusak touch paras Rara.


"jadi ijinkan aku untuk berjuang demi kebahagiaan ku sendiri dengan keluar dari rumah itu, tidak ada yang harus disesali karena memang jalan hidup menggariskan aku seperti ini. kita punya materi yang berbeda dalam menghadapi persoalan bukan" tawa Rara sambil menangis, Zivannya tersenyum memeluk sahabatnya yang justru menangis sesenggukan tidak dapat menahan kekecewaan yang ada dihatinya.


"apa kamu mau traveling lagi setelah ini" usap punggung Zivannya, "mungkin karena keberangkatan magang nya dua minggu lagi" jawab Rara "kemana destinasi nya" pandang Zivannya "ingin ke luar aja menikmati hidup" hapus airmata Rara, Zivannya mengangguk menghapus airmatanya juga.

__ADS_1


"maafkan aku karena tidak bisa menemanimu saat kamu sendiri begini" pandang Zivannya "heyy, justru aku merasa jika kamu sekarang ikut maka itu akan membebaniku melihatmu kembali merasakan kegilaan ku Zi, masih terpatri di memori ku bagaimana kamu mengurusku saat kita keluar malam dan seringkali aku meracau tidak sadarkan diri, bagaimana kamu membuatku tersadar bahwa aku tidak sendiri masih ada kamu dan mamamu yang membuatku tetap waras" geleng Rara, Zivannya tertawa menitikkan air mata lagi. mereka tertawa dalam kesedihan.


ketiga laki-laki itu hanya terdiam melihat kedua perempuan itu mengeluarkan segala rasa yang ada dihatinya tanpa bermaksud ikut campur, mereka lebih banyak memperhatikan tingkah laku kedua sahabat itu saat bercerita dan mengobrol banyak hal, hingga mereka sampai dirumah Rara dan segera membersihkan diri karena waktu sudah sore, Zivannya tertidur beralas kaki bagian atas suaminya. mereka duduk mengobrol diruang TV menghabiskan hari bersama, "apa dia kurang tidur" tanya Baskara. Rara menggeleng, "kita sampai dini hari dan bangun siang hari" jawab Rara. "tapi dia tidak pernah melupakan kewajibannya kepada Tuhan dan ada suaminya selalu mengingatkannya" tatap Rara ke arah Zivannya yang tertidur lelap dengan cover bed menutupi seluruh tubuhnya.


"herannya dia tidur nyenyak kalo ada orang-orang terdekatnya, jika dia sendiri atau naik gunung malah tidak bisa langsung tidur" tatap Rara, Langit mengangguk membenarkan. "keluarganya sampai hapal dengan kelakuannya, terkadang malah kuatir jika dia pergi jauh begini takutnya tertidur tanpa ada orang yang ada disampingnya" jawab Langit. "dia punya semacam alarm saat dia sendiri" senyum Rara meminum teh hangatnya, "apa dia sering menginap disini" tanya Baskara. "tentu karena dia satu-satunya sahabat yang aku punya walau dengan paksaan" tawa Rara. "orangnya selalu merasa tidak enak dengan orang lain, ngerasa tidak mau membuat repot orang lain" geleng Rara menghembuskan nafas.


Langit menatap istrinya yang tidak terlihat karena tertutup rapat cover bednya, mengusap badannya pelan. "terimakasih banyak Ra telah menjaga Zivannya selama ini" kata Langit, "salah kak, justru aku yang mengucapkan terimakasih karena mengembalikan Zivannya seperti sedia kala lagi, jika tidak entah apa dia akan kembali atau tidak" geleng Rara menekuk kakinya dan menyandarkan kepalanya disana. "hhhmmm" gumam Langit pelan memejamkan matanya.


"Ra, aku pinjam kendaraan nya dulu ada teman yang mau aku temui" datang Yuda, "pake aja Da, biasanya juga gitu, ntar aku pake yang lain buat nganter jadi tenang aja" angguk Rara menoleh, "siip deh, makasih. bang selamat sampai tujuan nanti, jika nanti aku nggak bisa pulang dan mengantar" pandang Yuda, Baskara mengangguk memberi tanda Ok dengan jemarinya. "mas mau jalan nggak, tapi aku nggak mau kamu memakai pakaian dinas mu" geleng Rara. Langit dan Bagaskara tertawa, "kenapa, padahal banyak yang ingin jadi kekasih dengan seragam ini" naik turunkan alis mata Baskara. "tidak, kita tidak tertarik dengan hal itu" geleng Rara, "pada akhirnya Zivannya malah menikah dengan abdi negara" kata Bagaskara, Rara tertawa. "itu karena takdir mas sejauh apapun dia pergi pasti akan kembali, sedekat apapun dia jika bukan jodohnya nggak akan bisa mendekat" jawab Rara. "seperti kita yang dulu jauh sekarang dekat" kata Bagaskara tersenyum. "tidak, aku tidak mau dekat dengan abdi negara, berteman it's oke but married no" geleng kepala Rara mengibaskan tangannya ke udara.


Langit menemani istrinya tidur dengan memeluknya erat karena sudah tiga hari dirinya tidak memeluk istrinya saat tidur dan itu membuatnya tersiksa. "Zi" ketuk Rara, Zivannya berjalan membuka pintu kamar. "kak Langit pulang kan" tanya Rara. "hhmmm, orangnya dimana" tanya Zivannya menutup matanya. "isshhh anak ini dia tidur denganmu kan, ayo ah ntar telat ke bandaranya kasihan mereka besuk pagi harus dinas" sentil kening Rara, Zivannya mengerutkan mulutnya.


"by, pulang nggak" tanya Zivannya "hhhmmm" gerak Langit pelan, Zivannya mengusap rambut suaminya. "ayo by, sekarang udah jam 7 ntar ketinggalan" kata Zivannya "ikut pulang, yang" toleh Langit. "besuk malam aku pulangnya kalo nggak pagi sekalian" kata Zivannya, Langit berdehem pelan beranjak dari tidurnya dan membersihkan dirinya, Zivannya membereskan ranjang dan menyiapkan pakaian Langit bergantian dengan Langit membersihkan dirinya, "yang pake gaun aja" geleng Langit. "aku nggak bawa by" pandang Zivannya. Langit mendekat memeluk istrinya, "kamu terlihat cantik mengenakan apapun dan akan terlihat lebih cantik jika tidak mengenakan apapun saat kita berdua" kecup bibir Langit. Zivannya tersenyum melingkarkan tangannya dileher suaminya dan mencium bibirnya intens. "yang" desah nafas Langit.

__ADS_1


"kenapa kan ini yang kamu mau by" gesek hidung Zivannya ke hidung suaminya, "tapi jangan begini juga, yang. kamu menyiksaku lama" remas tengkuk Langit, Zivannya tersenyum lebar mengecup hidung suaminya "udah ah, nanti dicari om Baskara" jawab Zivannya mencoba mengurai dekapan Langit.v"pulang, yang" rengek Langit menciumi leher istrinya, Zivannya menjauhkan wajah suaminya. "abis acara ntar pulang by" pandang Zivannya, Langit tersenyum lebar. "baiklah" angguk Langit berhasil membuat Zivannya segera pulang, "nah kan gitu bikin aku lebih tenang" senyum Langit mengusap kedua bahu istrinya.


"kebiasaan kalo berdua lama banget" pandang Rara menopang dagunya di bodi pintu mobil. "makanya segera punya suami maka akan tahu caranya mendapat pahala dengan cepat" jawab Zivannya sarkas, Baskara tertawa terbahak-bahak mendengar sarkasme Zivannya "benar bu" angguknya cepat. "apanya yang benar, cepetan berangkat jika ada kalian berdua banyak maunya" tatap Rara galak, "baiklah sayangku" ucap Baskara cepat. "apaan sayang sayang" lebarkan mata Rara mendengar ucapan Bagaskara. Zivannya menahan ketawa dengan menutup mulutnya cepat mendengar Rara yang sedang dalam mood jeleknya.


"kapan-kapan main ke kesatuan Ra, melihatku memakai baju wanita abdi negara" kata Zivannya. "tidak, terimakasih. jika aku akan menemui mu diluar saja, aku tidak mau terlibat dengan kesatuan apapun itu, sudah cukup bagiku" geleng Rara menyandarkan kepalanya di head rest menatap keluar melihat jalanan yang ramai oleh kendaraan roda dua yang keluar malam itu "kangen dengan motor mu Zi, kemana-mana pake itu saat kuliah" lihat Rara, Zivannya menoleh menyandarkan kepalanya juga "motor itu sudah nggak ada juga motor mama" hembus nafas Zivannya, Langit meraih jemari istrinya dan meremasnya pelan.


"tidak ada lagi bangun pagi untuk berangkat kuliah mendengar dosen berkata panjang kali lebar" terawang Rara melihat keluar, "tidak ada lagi menyelesaikan tugas hingga semalaman" kata Zivannya pelan. "tidak ada lagi anak-anak pada ngobrol yang nggak penting dan cenderung gosipin anak-anak fakultas lain" senyum Rara, Zivannya tertawa kecil. "tidak ada lagi Dimas yang selalu ada" hembus nafas Zivannya, "yaaa, ternyata kita belum dewasa untuk melihat perubahan" angguk Rara. "mau healing kesana aja Ra ketemuan dengan Dimas" senyum smirk Zivannya, Rara tertawa. "jangan" seru dua laki-laki itu cepat tidak mau kedua perempuan itu pergi terlalu jauh dari jangkauan mereka lagi.


"lihat kan Zi, kenapa kita selalu menghindar dan selalu bertemu dengan laki-laki abdi negara" gumam Rara "hhhmmm" lihat keluar Zivannya tanpa sekalipun melihat kedua laki-laki yang menemani mereka


hai ...... hai...... hai ...... all readers terimakasih telah berkunjung ke karyaku, terimakasih banyak atas dukungannya selama ini.


luv..... luv ..... luv ...... U all readers sekebon pisang goreng, terimakasih banyak semuanya

__ADS_1


stay healthy all


__ADS_2