
Langit beranjak menuju kamar mandi yang ada di kamar Zivannya, dilihatnya Zivannya masih tertidur dengan nyenyak. ia segera masuk untuk membersihkan dirinya. keluar dari kamar mandi, dilihatnya Zivannya mengerjapkan matanya melihat siapa yang ada dikamarnya.
"siapin sarapan, yang" pandang Langit mengelap rambutnya menggunakan towel kecil Zivannya, Zivannya membuka cover bed nya beranjak untuk membersihkan dirinya bergantian dengan Langit. Zivannya keluar dari bathroom ketika Langit masih merapikan pakaian dinasnya kemudian berlalu masuk ke dalam walk closet, Zivannya sedang mengambil pakaian saat Langit masuk menyusulnya yang langsung memeluk Zivannya dari belakang.
"kak, udah jam 8 kurang" kata Zivannya mengingatkan, Langit hanya berdehem membalikkan tubuh Zivannya agar dirinya dapat mencium bibir kekasihnya. Zivannya menahan dada Langit agar menjauh. "kerja" pandangnya menatap Langit yang mengangguk patuh, merapatkan tubuh Zivannya kembali menyesap bibir Zivannya yang basah oleh jejak mereka. "tentu saja aku akan bekerja, jika tidak kamu tidak akan bisa aku ajak kemanapun" usap bibir Langit lembut, Zivannya mengatur nafasnya menatap Langit yang tersenyum melihatnya, menurunkan sedikit bathrobe yang dikenakan Zivannya dan memberikan tanda dibelahan benda kenyal kesukaannya. "tapi sebelum itu, biarkan aku menerima semangat kerja dari mu, yang" kata Langit, Zivannya melenguh pelan menahan getaran yang ditimbulkan oleh sentuhan Langit yang lembut dan menghanyutkan.
"yang...." sentuh pipi Langit lembut. Zivannya membuka matanya. "pake bajumu. aku tunggu dimeja makan" kata Langit, Zivannya mengangguk pelan, segera berbalik untuk mengambil kembali pakaiannya yang belum jadi diambilnya tadi. Langit menunggu di kamar Zivannya dengan pintu yang terbuka. "lho kak, katanya nunggu di luar" terkejut Zivannya saat melihat Langit yang masih duduk ditepi ranjang sambil melihat ponselnya. Zivannya melangkah keluar kamar di ikuti Langit dibelakangnya, dilihatnya mbok telah menyiapkan sarapan karena makanan sudah tertata rapi dimeja, Zivannya melangkah ke dapur membuatkan coklat panas untuk Langit meletakkan nya diatas meja makan didepannya, mengambilkan sarapan pagi kemudian duduk disamping Langit.
"ayah pulang" seru ayah masuk kedalam rumah. Zivannya tersenyum menuangkan air putih untuk ayahnya. "hari ini kita lanjut dek, ayah mandi terus kita berangkat" kata ayah duduk untuk sarapan. Zivannya mengambilkan piring ayah dan mengisi dengan lauk yang diminta ayah. "berdua aja atau sama bunda, yah" tanya Zivannya menerima suapan Langit. "bertiga aja, nanti kalo udah selesai kita bisa jalan sekalian" kata ayah mulai sarapan, Zivannya memberi tanda Ok dengan jempolnya.
"sekalian ayah juga mau ketemu dengan teman yang anaknya baru pulang pendidikan" kata ayah. "yah... " hembus nafas Zivannya, "apa, kenapa. ayah hanya bilang gitu aja. nggak berusaha untuk menjodohkan mu lagi" geleng ayah, Langit tersenyum. "kamu sudah memilih Langit. jadi mau seganteng apapun, mau setinggi apapun kedudukannya kamu tetap memilih Langit" pandang ayah kalem. "padahal ini nggak kalah ganteng dari Langit lho, lebih tinggi dikit dari Langit" goda ayah.
Langit batuk-batuk mendengar komentar ayah, Zivannya tertawa pelan. "dari darat" kata ayah, Zivannya mengangguk menopang dagunya menatap ayah. "usianya sama denganmu jadi mungkin kalian bisa jadi sahabat" kata ayah. Zivannya mengangguk, Langit minum menatap Zivannya lama. Zivannya tersenyum nyengir menatap Langit. "sama kayak Arka, Yuda, Dimas" kata Zivannya menenangkan Langit yang mengangguk mengerti. "apa dia bisa memiliki kesempatan untuk mendapatkan mu dek" lirik ayah. Langit tersedak dan meminum air putih dengan cepat. ayah tertawa tertahan melihat ekspresi Langit yang salah tingkah. "udah ah, yah. godain kak Langit melulu. nggak berangkat nanti dia kalo begini" minum Zivannya menyudahi sarapannya. ayah tertawa lebar mengangguk.
"ayah mandi deh, trus kita berangkat, pake mobilmu aja dek, kamu yang nyetir" jawab ayah berlalu menuju kamar. Langit menatap Zivannya lesu. "udah ah, kak. kebiasaan laki-laki dikeluarga Triastomo menggoda satu sama lain, kayak nggak ngerti aja. ayah nggak pernah mengenalkan pada sembarang pria, karena ayah tau saat pertama melihatmu, kamu yang dapat menjaga diriku" pandang Zivannya lekat, Langit tersenyum ceria. beranjak dari tempatnya menuju keluar rumah untuk berangkat dinas. Zivannya mengekori langkah langit dan menunggu Langit memakai jaketnya. "besuk ketemuan, yang" kata Langit. Zivannya mengangguk dan mencium punggung tangan Langit. motor melaju meninggalkan halaman rumah keluarga.
seminggu telah berlalu, Langit tidak bisa bertemu Zivannya sesuai dengan janjinya, Zivannya sibuk dengan urusan surat legalitas untuk sidang pra nikah dan Langit disibukkan dengan beberapa tugas luar dan proses kepindahan Matahari. seminggu ini keluarga Triastomo sering berkumpul dirumah, perpindahan Matahari dan Mentari sebulan lagi akan dilaksanakan, Dirgantara dan Valerie berkunjung saat weekend agar mereka dapat makan dan bercengkrama bersama. Zivannya menemani kedua keponakan gantengnya kemana saja selama di Jakarta. mereka berdua ikut kemana aja Zivannya pergi, walau sedang mengurus surat-surat legalitas nya untuk menikah bersama Langit.
__ADS_1
Kamis siang, Langit menampakan dirinya dirumah keluarga Triastomo saat Zivannya sedang pergi bersama kedua keponakannya keliling kompleks rumah, mereka berjalan masuk saat Langit menunggu mereka didepan garasi, "om Langit" seru Raka dan Riki yang melihat Langit membuka tangannya ketika kedua bocah laki-laki itu berlari. "aaaahhh.... laki-laki hebat om Langit. lama tidak bertemu, apa kalian senang selalu dengan onty Zi" senyum Langit mengusap kedua keponakan Zivannya. mereka mengangguk bersemangat menceritakan pengalamannya dengan onty Zi dan onty Mentari.
Langit mengangguk membawa mereka masuk dengan menggandeng tangan kedua bocah itu. Zivannya tersenyum dari belakang menyusul ke tiga laki-laki beda usia. bunda memeluk kedua cucunya yang telah sejak pagi pergi dengan Zivannya. Langit menyalami punggung tangan bunda. "nak Langit, baru datang" tanya bunda memeluk Langit erat, Langit tersenyum mengangguk. Zivannya melepas sneakers nya dan berjalan ke kamar untuk membersihkan dirinya, kedua bocah kecil itu sudah bersama dengan Uti nya yang antusias mendengar cerita keduanya. Langit menatap Zivannya yang masuk kedalam kamarnya tanpa melihat kearahnya.
"den Langit mau dibikinkan coklat panas" tanya Marni mendekat, "jeruk dingin aja mbak, saya tunggu" angguk Langit, Marni segera ke dapur membuatkan minuman dan menyerahkan dengan cepat ke Langit. Langit beranjak dari tempat duduknya membawa minuman dan masuk kedalam kamar Zivannya, meletakkan minuman di nakas samping ranjang. Zivannya sedang berada di bathroom membersihkan dirinya.
"lho kak, kenapa disini, aku akan menemui mu setelah selesai bersih-bersih" kaget Zivannya, Langit melangkah menuju kearah Zivannya memeluk tubuhnya erat sambil mengangkat tubuh Zivannya sedikit ke atas. "aku kangen, yang" hirup aroma tubuh Langit. Zivannya melingkarkan tangannya ke leher Langit memandang kekasihnya yang terlihat lebih tampan saat lama tidak terlihat.
"ada banyak orang dirumah, jangan macam-macam kak. aku nggak mau kedua bocah itu melihat sesuatu yang tidak seharusnya" usap rambut Zivannya, Langit mencium lembut bibir Zivannya, mereka saling memberi dan menerima. Langit membawa Zivannya ke dalam walk closet tanpa melepaskan dekapannya. "apa kamu juga kangen padaku, yang" tatap Langit mengusap bibir Zivannya, Zivannya menganggukkan menatap Langit.
Langit mengatur nafasnya setelah beberapa saat, Zivannya mengusap wajah Langit mencium keningnya sesaat dan beranjak mengambil pakaian ganti untuk Langit sambil merapikan bathrobe yang sudah tidak rapi lagi akibat ulah mereka berdua. Langit menatap Zivannya yang mengulurkan pakaian untuknya, meraihnya dan segera masuk ke bathroom ruang tidur Zivannya.
setelah Langit membersihkan dirinya, Zivannya segera memakai pakaiannya dan segera keluar untuk memakan sesuatu. Raka dan Riki segera berhamburan ke arah Zivannya ketika Zivannya duduk di ruang makan. "onty, om Langit mana" tanya Riki. "baru mandi, bau asem. kan abis kerja" elus pipi Zivannya memakan kue basah Riki duduk disamping Zivannya dan ikut makan makanan kecil yang dimakan onty nya. Raka menatap sekeliling mencari Langit, tidak lama Langit keluar setelah mandi. "udah mandi, om" lihat Raka tersenyum, Langit mengusap kepala Raka mengangguk. "kata onty, om bau asem abis kerja" kata Riki, Langit mengangguk tersenyum. mbok membawakan jahe hangat untuk Langit, "makasih mbok" senyum Langit, "om Langit mau membawa onty ke rumah nenek, ibunya om Langit. rumah nenek dekat dengan rumah papa Dirgantara. apa kalian mau ikut" senyum Langit, Zivannya menatap Langit sesaat. "ah, iya. aku lupa kak" ingat Zivannya. "tapi Uti mau pergi ke Jogja bersama Kakung" jawab Raka.
Langit mengangguk, "kalo begitu ketemu onty di sana setelah dari rumah nenek Danti. oke boys..." senyum Langit. Raka mengangguk mengerti, "mau kemana dek" datang bunda duduk disamping Raka, "Langit mau minta ijin membawa Zivannya ke rumah ibu, bund. minggu kemarin ibu memberitahu Langit, tapi karena kesibukan Langit baru bisa datang kesini sekarang" kata Langit. "boleh, bunda juga tau kalo Zivannya memang harus kesana, kemarin bunda sempat mengobrol dengan ibu mu, Lang. jadi bunda mengijinkan kamu membawa Zivannya kesana" angguk bunda tersenyum.
Langit menatap bunda cepat mengerutkan keningnya tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi diantara kedua orang tua itu.
__ADS_1
"nggak usah di bahas, terkadang kita sebagai orang tua lebih banyak melihat dan mendengar untuk kebaikan semuanya" jawab bunda, Langit hanya menganggukkan kepalanya mendengar ucapan bunda menatap Zivannya yang juga tidak tahu apa yang terjadi. Zivannya mengemas beberapa pakaian untuk dibawa menginap ke rumah orang tua Langit. "yang, bajunya mau sekalian disini juga nggak" pandang Zivannya, Langit menoleh mengangguk dan kembali sibuk dengan ponselnya. Zivannya mengambil beberapa pakaian Langit dan menatanya berdampingan dengan bajunya di dalam ransel tanggungnya. "mau kemana, yang" lihat Langit saat melihat Zivannya keluar dari kamar.
"mau kedapur bentar, ngambil minum kak" berbalik Zivannya menatap Langit dan segera pergi ke dapur.
"onty, pergi kedepan bentar ya.. mau beli permen" tarik baju Riki, Zivannya tersenyum meraih tangan Riki menuju keluar, mereka membeli permen yang berada disamping dua rumah dari rumah keluarga Triastomo.
Langit mencari keberadaan Zivannya didalam rumah, "dari mana, boy" elus kepala Langit melihat mereka dari luar rumah. "abis beli permen didepan om, tadi Riki dianter onty Zi" masuk Riki. Zivannya tersenyum meminta punggung Langit untuk dirinya naik. Langit tertawa dan menahan pantat Zivannya membawanya masuk. "tadi waktu minum, Riki minta beli permen. kakak juga baru sibuk dengan ponsel jadi aku antar bentar" kata Zivannya ditelinga Langit.
"maaf, yang. aku benar-benar baru disibukkan dengan kepindahan bang Matahari. dia menduduki posisi penting di kesatuan jadi aku harus segera dapat penggantinya" jawab Langit, Zivannya mengangguk mengecup pipi Langit sesaat. "om Langit, aku mau.... " seru Riki ketika melihat Zivannya diangkat dibelakang oleh Langit, "ok, boy" senyum Langit menurunkan tubuh Zivannya berganti dengan Riki. Zivannya tertawa lebar melihat Riki yang berseru kegirangan karena Langit membawanya terbang.
Raka melihat dari ruang tengah dimana dia menonton TV, Zivannya beranjak menghampirinya dan memeluknya dari samping. "kak, nonton apa" tanya Zivannya menaruh dagunya dikepala Raka. "antariksa, onty" jawab Raka. mau jadi seperti papa yang ada di udara juga" tanya Zivannya. Raka menggeleng, "pinginnya jadi pasukan khusus angkatan laut" jawab Raka, Zivannya menghela nafasnya mencium ubun-ubun kepala Raka, "akan bertambah satu lagi anggota abdi negara di generasi kedua keluarga Triastomo" gumam Zivannya.
hai....hai....hai.... all readers. terus dukung dikaryaku ya....
luv....luv....luv.... U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak atas dukungannya selama ini.
stay healthy all
__ADS_1