
kedua motor melaju dengan sedikit cepat, ayah berpegangan pada Zivannya agar stabil. Matahari melajukan motor susul menyusul dengan Zivannya, beberapa orang terlihat menggelengkan kepala saat mereka mendahului kendaraan yang lain dalam posisi yang kencang. Matahari berkali-kali memberi tanda dengan jemarinya ketika Zivannya dengan mudah melibas beberapa kendaraan yang ada didepannya. Mentari mengabadikan moments lewat ponsel nya saat mereka pergi dan pulang.
motor masuk ke halaman rumah dan terparkir sempurna didalam garasi. ayah menepuk-nepuk pundak Zivannya saat akan turun. melepas helmetnya dan menaruh ditempatnya segera masuk untuk memberi laporan pada istrinya.
"jam 1 kurang 5 menit bund" senyum Matahari memasuki ruangan tengah yang digunakan untuk berkumpul keluarga. ayah keluar dari kamar setelah berganti dengan t-shirt dan celana pendek rumahan. "aduh, ternyata kalo adek ngebut ngeri juga" kata ayah minum jahe yang telah disediakan bunda. "udah dibilang nggak usah ikut, ayah nggak mau ndengerin" tatap bunda, ayah tertawa. "masak Zi sendirian, bund ya sia-sia kalo nggak ada temennya mumpung pawangnya nggak ada" jawab ayah.
"sedikit cepat karena harus segera pulang yah, kalo telat nggak boleh riding lagi gimana" duduk Zivannya menyalami Dirgantara, Valerie dan bundanya. "ganti baju sana dek" tepuk bahu bunda. Zivannya nyengir dan beranjak dari duduknya. "gantengku mana kak" tanya Zivannya, "tidur dek. ini udah jam berapa, jangan usil" kata Valerie saat Zivannya akan kekamar krucil. Zivannya tertawa dan berbalik melangkah kearah kamarnya.
"apa sih kak" lihat layar Zivannya.
"kamu udah pulang" tanya Langit.
"udah, barusan. ini mau ganti baju, tidur sana aku mau ganti baju dulu" kata Zivannya melepaskan jaket, pakaian celana dan sepatunya.
"hmmmm ... kebiasaan kan anak ini pasti begitu kalo ganti baju, nggak nyadar kalo diliatin" hembus nafas Langit.
"lho masih disini kak" tanya Zivannya melihat ponselnya yang masih menyala. "udah malam kak, aku tidur dulu" salam Zivannya segera mematikan ponselnya dan tidur dengan nyenyak, "jam berapa bund" buka mata Zivannya pelan saat bunda mengelus rambutnya, "jam 5, kewajiban dulu" kata bunda, Zivannya mengangguk. bunda segera keluar kamarnya, Zivannya melangkah untuk melaksanakan kewajiban.
"belum pada bangun, bund" minum air mineral Zivannya melihat sekeliling yang masih sepi, "tadi sudah untuk melaksanakan kewajibannya. tidur lagi karena masih ngantuk" senyum bunda. "jangan lupa dek, nanti dandan bareng kakak-kakak mu yang lain jam 7an. mereka akan mempersiapkan semuanya" kata bunda. "siap, bund" angguk Zivannya masuk kembali kedalam kamar dan tidur lagi karena masih mengantuk. rumah keluarga Triastomo sudah terlihat ramai sejak pagi, lebih sibuk dan lebih hidup dari pada hari-hari biasanya beberapa orang tampak hilir mudik mengurus segala keperluan yang akan menjadi kejutan bagi Zivannya, sampai acara berlangsung pun ia tidak tahu jika semuanya telah dipersiapkan keluarga Aga untuknya memulai hidup baru dengan Langit.
jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi namun Zivannya masih tertidur dengan nyenyak., Raka masuk kedalam kamar aunty nya karena sudah beberapa kali mengetuk pintu tapi tidak segera dibukakan. "onty" tepuk pipi Raka agak keras. "hmmm" buka mata Zivannya melihat siapa yang membangunkannya. "gantengnya onty, udah bangun" pandang Zivannya mengelus punggung tangan Raka, "Uti bilang suruh siap-siap. nanti tamunya keburu datang" kata Raka menatap Zivannya yang terlihat kusut. Zivannya mengangguk dan membuka cover bednya untuk berjalan kekamar mandi. "kak Raka mau nunggu disini" tanya Zivannya sebelum masuk memberitahukan dirinya, "iya, nunggu onty aja" kata Raka, Zivannya tersenyum bergegas membersihkan dirinya sebelum ada suara menggelegar bundanya menyuruh semuanya untuk cepat-cepat membereskan keperluan. Zivannya memakai kemeja dan celana joger agar mudah dilepaskan setelah berdandan. "aduh dek. cepetan jalannya keburu pada datang tamunya" tatap bunda geregetan melihat semuanya yang masih belum beres. Zivannya mengangguk menggenggam tangan Raka untuk mengikutinya keruangan tempat untuk di touch penata.
"nah, ini yang terakhir untuk dibikin cantik kan" senyum stylist. Zivannya tersenyum seger duduk untuk segera diberi sentuhan make up. "jarang dandan kan" senyum stylist melihat paras Zivannya dari kaca besar didepannya, Zivannya mengangguk. "terlihat dari kulitnya yang bersih. flawless kan" senyum stylist. Zivannya kembali menganggukkan kepalanya. dia segera merubah Zivannya agar terlihat lebih terlihat auranya. "dek, nanti pakai kebaya ini" kata Valerie menggantungkan kebaya ditempat yang bisa terlihat. "ya kak" pejam mata Zivannya menjawab Valerie. "ketiganya cantik semua, nggak usah terlalu banyak sentuhan juga sudah terlihat berbeda. apa keluarganya cewek semua dapat laki-laki abdi negara semua" tanya stylist, "anak yang pertama suami dari yang nganter baju miss, yang kedua cewek dan aku" jawab Zivannya, aku kira tiga-tiganya anaknya cewek semua" tawa stylist. "semuanya kebetulan jadi abdi negara yang laki-laki miss" jawab Zivannya. "seneng ya punya keluarga abdi negara" pandang stylist. "lebih disiplin sih Miss, jadi harus teratur" senyum Zivannya, stylist tertawa. mereka berbincang-bincang selama Zivannya disentuh stylist, setelah agak lama make up Zivannya selesai dikerjakan berganti dengan penataan rambut yang dibuat sederhana namun cantik. "kenapa pake kebaya" pandang Zivannya heran melihat para asisten stylist memakaikan satu set kebaya padanya.
__ADS_1
"mungkin tamunya penting. jadi harus terlihat lebih menghargai kak" senyum asisten stylist. "bener"angguk Zivannya tersenyum mengangguk tanpa mau berpikir yang macam-macam. "kalo kliennya seperti kakak gini, jadi seneng ngerjainnya" kata asisten yang lain. "kenapa tuh kak" kepo Zivannya tersenyum. "nggak ribet, nyantai banget jadi kita yang bantuin juga tertular santainya" senyumnya. "lha bunda udah ngode agar cepat tuh" tawa Zivannya kecil melihat bundanya yang menggandeng kedua cucunya untuk kedepan, mereka tersenyum.
"kedua kakaknya yang tadi juga tidak ribet, nurut-nurut aja ketika di touch tadi. yang ngegemesin dua krucil tadi ganteng banget, dikasih make up dikit nggak protes" tawa lebar asisten. "he em ... pingin aku karungin bawa pulang" tawa yang lain. "lha, bahaya kak. Uti nya nanti yang maju" senyum Zivannya, mereka tertawa "yaahhh... kenapa pake heels sih kak"tatap Zivannya. "pendek dek nggak yang tinggi, keburu bunda yang njemput nih, aku panggilan bunda aja apa" takuti Dirgantara. "jangan, bahaya" kerucut mulut Zivannya menggeleng pelan.
"udah jam 9 lebih dek" kata Matahari. "iya, bawel. orang yang punya acara abang kenapa aku yang diburu-buru" hembus nafas Zivannya berjalan pelan. "kan kamu yang paling terakhir berdandan, makanya kalo tidur jangan telat" goda Matahari, "ishh bang, kan tadi malam jalan berempat" toleh Zivannya, Matahari tertawa pelan. "he em, nggak ngajak-ngajak lagi. telat dikit aja udah main tinggal" kata Dirgantara. "lah, kakak nggak ngabari kalo mau pulang. biasanya ngabarin dulu, datengnya malam lagi, ntar malam lagi kak, mumpung Kaka disini dan abang juga belum berangkat" senyum-senyum Zivannya memberi usul. "siap, dek. kakak jabanin" angguk Dirgantara mantap. "main setuju aja, ijin sama bunda noh" pandang Matahari. "gampang, biar Mentari yang ijin"naik turunkan alis Dirgantara.
Matahari dan Dirgantara menggenggam jemari Zivannya membantunya berjalan, di pertengahan jalan, Valerie dan Mentari mengambil alih menggenggam jemari Zivannya untuk dibawa ketengah acara, Matahari dan Dirgantara berdiri dibelakang mereka bertiga. Zivannya menatap kedepan terkejut saat melihat kearah depan, ada Langit disana yang tersenyum lebar menatap kedatangan Zivannya dan kakak-kakaknya. Rara melambaikan tangan nya tertawa lebar melihat keterkejutan Zivannya yang tampak diwajahnya.
Zivannya duduk diantara kedua orang tua Aga, menatap keduanya penuh tanya. bunda tersenyum menepuk punggung tangan Zivannya dan menggenggamnya erat. ayah mengangguk dan menggenggam tangannya yang lain. Langit yang berdiri dihadapannya terlihat gagah memakai pakaian batik yang seragam dengan keluarganya. Rara, Dimas dan rekan-rekan Langit berada dibelakang Langit dan ibunya.
Zivannya menundukkan pandangannya agar airmata tidak jatuh hingga merusak moments yang dipersiapkan bundanya dengan baik, bunda terlihat berkaca-kaca saat pembawa acara memulai acaranya, Mentari mengulurkan tissue diantara Zivannya dan bunda, Zivannya mengambil tissue dan menyerahkannya kepada bunda dulu, ia mengambil tissue dan menekan pelan bawah kelopak korneanya agar airmata tidak jatuh kebawah. Langit terlihat selalu tersenyum, tidak hilang dari parasnya sejak tadi. dia tahu Zivannya sama sekali tidak mengetahui acara hari ini, karena mereka membuat kejutan yang tidak disangka-sangka oleh kekasihnya.
acara demi acara berlangsung, perwakilan dua keluarga saling memperkenalkan diri, mengenal satu sama lain hingga tiba saatnya bagi Langit sendiri untuk berbicara dan meminta Zivannya menjadi istrinya, Zivannya diminta menjawabnya, Zivannya menatap ayah dan bundanya yang mengangguk untuk memberi kesempatan kepada Zivannya.
Langit menghela nafasnya panjang dan menatap Zivannya kembali, "saat melihatmu secara tidak sengaja waktu dibandara, aku tidak berharap mengenalmu lebih jauh karena kamu sudah memiliki seseorang yang jauh lebih mencintaimu dan menyayangimu daripada aku kala itu hingga akhirnya secara tidak sengaja kita dipertemukan kembali lewat bang Matahari" senyum Langit. Zivannya menatap Langit lekat.
"aku percaya kita dipertemukan kembali karena takdir Tuhan memberiku kesempatan kedua untuk memiliki dirimu. jadi.... ijinkan aku untuk mengisi kekosongan hatimu, ijinkan aku menyayangi dan mencintai dirimu dengan segala yang ada didalam dirimu. aku memang tidak bisa menghapus masa lalumu dengan segala kenangan indah bersamanya, tapi aku dapat menyakinkan dirimu untuk membuat kenangan indah dimasa depan bersamaku" tatap Langit lekat. seketika suasana menjadi hening setelah Langit mengutarakan hatinya.
"jadi... maukah kamu sayangku, cintaku, pujaan hatiku Zivannya Fritscha Triastomo untuk menjadi pendampingku, menjadi tulang rusukku yang hilang, menjadi ibu dari anak-anakku, tentu saja aku yang menanam benihnya dan kamu yang membawanya" goda Langit. mereka tertawa lebar mendengar ucapan Langit yang terakhir.
"gas pol ndan" semangati Suprapto. "pasti, nggak kamu suruh aku juga maunya langsung gas pol Suprapto... puas kamu" toleh Langit. mereka tertawa terbahak-bahak kembali hingga pembawa jalannya acara sampai terpingkal-pingkal dan lupa sesaat akan tugasnya. "maaf jenderal. kami semua siap menerima hukumannya nanti" kata Langit, mereka kembali tertawa menatap ayah yang tertawa mengarahkan jemarinya kearah Langit.
"jawab... jawab.... jawab...." sorak sorai semuanya. Zivannya menatap bunda yang terlihat menghapus airmatanya tersenyum mengangguk kepadanya, ayah, Mentari, Matahari, Dirgantara dan Valerie tersenyum menatap Zhivannya.
__ADS_1
Zivannya menghela nafasnya menatap Langit kembali. "apa kamu Satria Langit Dewantara mau menerimaku apa adanya dan menemaniku sampai nanti tiba waktunya aku pergi bertemu dengan mereka yang menyayangiku lebih dulu diatas sana" tanya Zivannya balik. Langit menatap Zivannya tersenyum dan menganggukkan kepalanya mantap. "sebelum kita sama-sama dipanggil nanti, kita akan bersama membangun keluarga kita seperti orang tua kita membesarkan kita dengan penuh kasih dan sayang" senyum Langit. Zivannya tersenyum mengangguk "baiklah kak, kalo begitu aku akan melangkah bersamamu dimasa nanti" kata Zivannya mantap, Langit tersenyum lebar dan secara refleks bergerak maju memeluk Zivannya. riuhan segera membahana sesaat setelah melihat kelakuan Langit yang bucin banget ke Zivannya.
"kenapa, apa salahku" tatap Langit tanpa ekspresi, mereka tertawa lebar bersama. suasana kembali mencair, hangat dan sangat intim. Langit dan Zivannya saling menyematkan cincin dijari manis mereka sebagai tanda ada ikatan diantara mereka berdua, kedua keluarga saling berpelukan menandakan bahwa mereka adalah keluarga sekarang, Rara memeluk sahabatnya dan menitikkan airmata saat melihat Zivannya yang juga menitikkan airmatanya.
"terimakasih Ra, Dim. kalian selalu ada disaat penting dalam hidupku. terimakasih banyak" kata Zivannya memeluk kembali Rara. Dimas mengelus kedua bahu gadis itu. "kami selalu ada disampingmu Zi, jangan lupakan kami kapanpun" tangis Rara, "Ra.... "ingatkan Dimas menghapus airmata kekasihnya itu. Rara mengangguk berusaha menghentikan tangisnya. "kenapa kalian tau acara ini" kerut Zivannya. "bunda memberitahu saat dibandara ketika kamu mau kembali kesini" jawab Rara.
"aku malah nggak tau lho, kenapa kamu nggak bilang sama aku sih Ra, sampai tadi aku taunya acara ini buat syukuran kepindahan abang dan kakak tugas dinas" kerucut mulut Zivannya.
Rara tertawa kecil. "kalo aku beritahu nggak seru dong, bunda yang ngrencanain semuanya. aku nggak mungkin ngebocorin surprise lamaran ini kan. yaaa.... kalo kamu didekat ku maka akan sulit aku menyimpannya, untungnya kamu udah pulang" kata Rara, Zivannya tersenyum memeluk Rara.
"terimakasih banyak guys, nanti abis acara ini nginep disini nggak ada penolakan" jawab Zivannya. "pasti, tadi udah bawa tas jinjingnya di mobil rombongan dari kak Langit. tadi pagi aku sampai di Jakarta dan langsung dijemput oleh teman kak Langit dan Dimas" angguk-angguk Rara. Zivannya mengusap bahu Rara mengerti.
"yang" panggil Langit, Zivannya menoleh dan mengangguk. "kalian ngobrol sama kakak dan abang, aku mau temui keluarga kak Langit dulu" pandang Zivannya, Rara mengangguk melambaikan tangan. Zivannya berjalan pelan menuju Langit yang sedang mengobrol dengan kedua orang tuanya dan ibunya, duduk disamping Langit.
"dek, bunda dan ibunya nak Langit sudah mengambil keputusan akan melaksanakan akad dan wujud syukur kita atas pernikahanmu kurang dari sebulan lagi, gimana" tanya bunda, Zivannya mengangguk. "Zi ngikut bunda sama ibu aja" jawabnya pelan. bunda tersenyum, "nanti semuanya akan diurus oleh wedding organizer. jadi kita tinggal mengikuti aja rundown acara yang mereka buat" pandang bunda, Zivannya dan Langit mengangguk bersamaan, bunda akan selalu berkoordinasi dengan wedding organizer nya" senyum bunda, mereka mengangguk.
"jadi tidak ada yang perlu dikuatirkan lagi kalo begitu" angguk bunda, Langit dan ibu Danti mengangguk setuju. "untuk acara di Malang nanti juga akan meminta tolong wedding organizer yang ada disana, seminggu setelah acara disini, akan ada acara ngunduh mantu namanya di Malang" kata ibu. bunda mengangguk. "benar, nanti kita akan bersama-sama membahasnya" angguk bunda, Zivannya mengangguk. "baik bund, ibu" jawab Zivannya.
hai... hai.... hai.... all readers terimakasih telah berkunjung ke karyaku, terimakasih banyak atas dukungannya.
luv..... luv..... luv... U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak atas semua nya.
stay healthy all
__ADS_1