
Zivannya menatap teman-teman Fauzan dan Yuda yang juga menjadi teman-temannya karena keseringan ngumpul bareng. beberapa gadis yang juga datang ke cafe memperhatikan dan melirik Yuda yang terlihat mempesona. Yuda yang terlihat cuek tidak melihat gadis-gadis yang melirik nya malu-malu atau melihatnya tanpa berkedip, hanya duduk disebelah Zivannya.
"da, gadis-gadis itu selalu melirikmu lho, kamu nggak tebar pesona gitu siapa tau ada yang nyangkut" celutuk Zivannya, Yuda mendengus pelan.
"nggak tebar pesona aja udah banyak yang liatin. lha ini cuma satu orang yang aku tebarin pesona aja sama sekali nggak melirik tuh, gimana coba... kurang apa aku" tanya Yuda, Zivannya memutar bola matanya kesal.
"kurang ikhtiar" jawab teman didepannya, Zivannya memberi tanda Ok dengan jarinya. seorang gadis memberanikan diri untuk mendekati mereka dan menyapa untuk mengenal Yuda lebih lanjut, Yuda hanya tersenyum dan menunjuk Zivannya yang ada disebelahnya.
"ishhh.... nggak Fauzan nggak kamu sama aja... mengkambing hitamkan diriku untuk menghindari mereka. apa aku semacam jimat pelindung" gumam Zivannya kesal melihat kelakuan Yuda yang malah tertawa merasa senang dengan penderitaan Zivannya.
Zivannya segera memesan makanan berkuah yang pedas yang membuatnya tidak mengantuk lagi.
"Zi seharian ini kamu makan pedas terus lho, nggak sakit perut apa" topang dagu Yuda dimeja menoleh kearah Zivannya yang menggeleng. mereka ngobrol hingga dinihari, itupun Yuda harus memaksa Zivannya untuk pulang. "tidur, bangun siang. istirahat yang cukup maka kamu akan menghargai sakitnya mama" pandang Yuda, Zivannya terdiam dan mengangguk pelan.
"nggak harus begini pelarianmu Zi, sudah cukup kamu menyiksa dirimu sendiri, kasihan mama jika melihatmu berkata ikhlas tapi lain dihati" kata Yuda sarkas. Zivannya menatap keluar kaca yang terbuka, bertopang dagu menghirup udara malam yang dingin.
"aku akan beristirahat sampai Minggu sore, jangan kuatir nanti aku akan mencari makan disekitar rumah" kata Zivannya lirih.
"bagus, jangan jadiin kehilangan membuatmu hilang akal. nggak sekali ini kamu kehilangan Zi, ingat itu" kata Yuda keras, Zivannya mengangguk mengerti.
"Aku pulang dulu, jangan kemana-mana. jika mau kemana-mana hubungi aku, maka akan aku antar" pandang Yuda, Zivannya mengangguk dan melambaikan tangannya mengantar kepergian Yuda, Zivannya membersihkan dirinya dan tidur segera setelah kepalanya nempel dibantal.
pagi menjelang, kepala Zivannya sedikit pusing karena tidurnya belum cukup. setelah melaksanakan kewajibannya, ia membuka jendela agar udara berganti. kembali kekamar dan tidur hingga menjelang sore. selama tiga hari, Zivannya selalu berada dirumah untuk beristirahat dan menata rumah agar bersih walau akan ditinggalkan lama untuk kuliah.
Selasa siang, Zivannya memenuhi janji bertemu dengan bapaknya Aris untuk mengambil berkas legalitas yang dibutuhkan Zivannya, setelahnya berpamitan ke tempat peristirahatan terakhir keluarganya, papa mama dan adeknya untuk pergi belajar beberapa lama. Zivannya menata baju yang tinggal beberapa dilemari pakaian mamanya, meyelimuti barang yang belum ditutup karena nanti tidak akan terpakai lama.
"pulang jam berapa yang" lihat Aga dilayar ponselnya Zivannya menghela nafasnya panjang. "besuk Kamis by" kata Zivannya, Aga mengusap dagunya kasar.
"kenapa mundur lagi" kata Aga pelan, Zivannya menyelesaikan pekerjaannya, mengecek keadaan rumah sebelum dirinya benar-benar meninggalkan rumah.
"by, aku mau kerumah om Hadi dulu" pandang Zivannya keluar rumah.
"jangan dimatikan biarkan aku menemanimu" pandang Aga, "kamu baru dinas kan" kata Zivannya melangkah ketetangga samping rumah untuk berpamitan akan belajar lagi, jika nanti akan ada peringatan kepergian mamanya, Zivannya akan kembali.
Zivannya kemudian menuju rumah om Hadi. mobil memasuki halaman rumah om Hadi yang cukup besar dan diparkir didepan rumah, Zivannya mengetuk pintu namun tidak ada orang yang membukakan pintu kemudian dia melihat sekeliling rumah yang terlihat sepi, Zivannya segera menghubungi om Hadi, ternyata keluarga om Hadi sedang berada di Bandung, dirumah keluarga Sony, tunangan Aisya. Zivannya pamitan karena harus pergi untuk kuliah. tak lama mobil melaju meninggalkan halaman rumah om Hadi.
"hallo Yuda" salam Zivannya.
"hei, udah cukup istirahatnya Zi. kenapa baru mengubungiku sekarang" pandang Yuda meminum kopi hitamnya.
__ADS_1
"ya... udah cukup untuk melakukan perjalanan jauh kembali" angguk Zivannya menepi.
"kamu dimana sekarang" kerut Yuda melihat Zivannya keluar dari mobilnya.
"makan soto depan sekolah, aku belum makan siang. mau pulang untuk belajar lagi" jawab Zivannya berjalan mendekat kedai soto pinggir jalan langganannya.
"tunggu aku sebentar disana, jangan kemana-mana dulu" kata Yuda menyambar kunci motor trailnya di gantungan kunci.
Zivannya memesan satu soto dengan porsi sedikit dikurangi nasinya dan segelas jeruk panas dan teh panas. mang soto segera membuat soto pesanan Zivannya, tak lama Yuda sudah datang dan memarkir motornya sembarangan. "parkir yang benar yud, ngalangin orang mau masuk" tatap Zivannya kesal. Yuda segera membenarkan letak motor trailnya.
"ahhh..." duduk Yuda didepan Zivannya. "mau sarapan soto nggak" senyum Zivannya, Yuda melihat jam tangannya.
"ini jam 11.40 siang Zivannya Fritscha" dekatkan jam Yuda kewajah Zivannya.
"iya tau, nggak lapar tadi soalnya" jauhkan Zivannya dengan tangan kirinya. Yuda menyeruput teh panasnya.
"kamu beneran mau pulang hari ini Zi" tatap Yuda, Zivannya mengangguk menyantap sotonya.
"kapan kamu balik lagi" tanya Yuda menatap soto Zivannya.
"2 mingguan lagi yud, kan mama ada acara 40 hari" kata Zivannya, Yuda mengangguk.
"ohhh... oke kalo begitu, apa besuk aku jemput aja, nggak usah bawa kendaraan sendiri" kata Yuda
"jaga kesehatan Yuda, jangan kebanyakan begadang. aku tidak mau melihatmu lebih tua dariku saat nanti waktunya telah tiba" kata Zivannya.
"apaan... waktu apa... jangan aneh-aneh dong Zi" kata Yuda mengerutkan alisnya. Zivannya tersenyum lebar.
"waktunya kamu duduk di pelaminan, eh salah... berdiri di altar" senyum Zivannya. Yuda mengetuk kening Zivannya dengan kunci motornya.
"kamu sendirian nyetirnya" tanya Yuda, Zivannya mengangguk, "aku temenin ya, nggak baik perempuan nyetir sendiri jauh-jauh" kata Yuda, Zivannya menatap Yuda yang rese.
"kamu pikir, kami kaum perempuan itu lemah" perlihatkan lengan Zivannya seperti adu otot lengan, Yuda menahan tawanya saat melihat tingkah Zivannya.
"bukan, aku nggak bilang gitu, kalo sendiri gampang ngantuk karena nggak ada yang diajak ngobrol selama perjalanan kan. kalo ada temannya lebih hidup dalam perjalanan" geleng Yuda, Zivannya menggeleng. hingga tak terasa mereka mengobrol lumayan lama.
"hati-hati dijalan Zi, sampai ketemu dua minggu lagi teman baikku" senyum Yuda melambaikan tangan kepada Zivannya yang mengendarai mobilnya pelan menjauh dari Yuda. Zivannya mempercepat laju kendaraannya saat sudah menjauh dari Yuda, tanpa banyak kata Zivannya menatap setiap sudut kota, sebelum meninggalkan kota tempat kelahirannya untuk waktu yang cukup lama. mobil berjalan dengan kecepatan sedang karena Zivannya merasa tidak ada yang harus dikejar dalam perjalanan kali ini, beberapa kali ia berhenti untuk menunaikan kewajiban ataupun makan, sesaat berisitirahat ditaman yang dia lewati hanya untuk melihat keramaian orang, malam hari Zivannya sudah sampai dibatas kota tempatnya menimba ilmu, Zivannya berhenti dilampu merah seraya menghirup udara kota dari kaca jendela yang terbuka, yang akan menjadi tempat tinggal keduanya sekarang.
"hallo by" salam Zivannya, Aga melihat Zivannya dalam suasana gelap.
__ADS_1
"kamu dimana yang, suasananya temaram" kerut Aga. "baru dijalan by, mau cari makan" jawab Zivannya.
Zivannya melajukan mobilnya agak cepat menuju kesatuan Aga. "dimana sekarang by" tanya Zivannya berbelok ke kiri kearah Aga.
"ya dikesatuan yang, kamu kan belum mau pulang. ngapain dikamar sendirian" kata Aga kesal, Zivannya memasuki pelataran kesatuan dinas Aga dan segera keluar untuk melapor kepada polisi yang bertugas jaga malam ini, "malam pak, mohon ijin bertanya, bisa ketemu dengan pak Bagaskara" senyum Zivannya. Aga menoleh cepat dan melihat Zivannya berada dihalaman depan kesatuannya, Aga seketika berlari keluar untuk menemui Zivannya yang sedang berbicara dengan petugas jaga, petugas jaga segera memberi hormat kepada Aga saat sudah dekat.
Aga berdehem melihat Zivannya yang membalikkan badannya menatap Aga, nyengir. "tunggu disini, aahhh.... tidak ikut aku masuk sebentar" balik badan Aga kembali meraih jemari Zivannya untuk mengikutinya masuk. petugas jaga yang melihat tingkah Aga sedikit heran karena komandannya dekat dengan seorang gadis yang baru mereka lihat, bukan gadis-gadis yang sering kemari mencarinya.
Zivannya segera mematikan panggilan chatnya dengan Aga tadi, mengikuti langkah Aga yang seperti menyeretnya untuk segera masuk. beberapa polisi menatap mereka saat melintas. banyak yang bertanya siapa gadis yang bersama komandannya, jarang melihat Zivannya menemui komandan Bagaskara.
Aga menutup pintu kantornya cepat sesaat setelah Zivannya masuk memeluk Zivannya erat dan mencium bibirnya penuh dengan kerinduan. Aga mengatur nafasnya yang memburu, menyatukan kening mereka berdua, mengusap bibir Zivannya yang sedikit membengkak.
"kita pulang sekarang" tatap Aga sayu. Zivannya menjauhkan dirinya dari Aga.
"aku lapar by, sudah jam 9 sekarang, belum makan dari sore" jalan Zivannya.
"apapun maumu yang penting kamu sudah pulang, itu membuatku tenang. memikirkanmu saat jauh membuatku menderita" buka pintu Aga, mereka melangkah keluar.
"aku pulang dulu, dah ada yang jemput" senyum aga sumringah. mereka mengangguk hormat, menggoda Aga hingga keluar halaman. Zivannya mengangguk hormat pada mereka yang menggoda Aga karena dirinya, sebelum masuk kedalam mobil. Aga melajukan mobil sedikit lebih cepat agar Zivannya segera makan malam.
"udah makan by" tanya Zivannya menoleh menatap Aga yang menggelengkan kepalanya mengelus rambut Zivannya. "disini aja, sebelum pulang makan disini dulu" kata Zivannya menunjuk cafe yang berada tidak jauh lagi di depan mereka, Aga segera memarkirkan mobilnya, membantu Zivannya untuk membuka seat beltnya.
"heran deh aku, kenapa kalo kak Aga yang mengemudi, susah buka seat beltnya, kalo aku yang nyetir mudah tuh bukainnya" pandang Zivannya nggak ngerti.
"kamu manggil suamimu apa" tangkup pipi Aga tidak suka, "hubby" kerucut bibir Zivannya. Aga mengecupnya pelan.
"kebiasaan nggak liat tempat sih by, kita nggak harus mengumbar didepan umum kan" kata Zivannya menjauhkan bibir Aga dari wajahnya. Aga nyengir, "lupa yang, khilaf bawaannya kalo sama kamu" buka pintu Aga. Zivannya membuka pintu penumpang dan berjalan meraih jemari Aga yang menunggunya. duduk ditengah dan memesan makanan yang berbeda dengan Aga, agar bisa mencicipi keduanya.
"jam berapa kamu berangkat, kenapa nggak bilang kalo pulang" tatap Aga kesal, Zivannya nyengir.
"nggak tahan denger suara seseorang yang selalu memintaku pulang, padahal aku sudah pulang dan berada dirumah" jawab Zivannya, Aga tergelak mengusap punggung tangan Zivannya, "makan by" kata Zivannya saat pesanan makanan yang mereka minta datang.
Aga menyuapi istrinya untuk mencoba makanannya, Zivannya mengangguk dan gantian menyuapi aga dengan makanannya. Zivannya makan dengan lahap, seperti orang yang tidak pernah diberi makan satu bulan.
hai hai hai... para readers, love you all sekebon pisang, biar bisa dibuat pisang goreng yang banyak hehehehehe.. selamat menikmati cerita kedua kalang di sini. jadi mohon maaf jika ada banyak kesalahan dalam merangkai kata dan kalimat.
ciehhh... udah kayak mau tampil dikondangan aja nih hahahaha...
dukung yaaa... karya kedua ku.
__ADS_1
love...love...love all sekebon pisang biar bisa bikin pisang goreng banyak..
thanks a lot pisang sekebon...😘