Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 122


__ADS_3

mobil melaju dengan cukup kencang, Matahari mengemudikan dengan taktis sehingga tidak banyak kendala didalam perjalanan. sunyi, sepi karena ketiga orang itu lebih banyak diam dan berbicara seperlunya karena keadaan perempuan satu-satunya yang ada di dalam mobil sedang sedikit terguncang.


Langit meminta Matahari untuk menepi sebentar agar dia pindah kebelakang menemani Zivannya yang sedang tidak baik-baik saja, Matahari mengangguk dan mencari bahu jalan yang aman untuk menepi sebentar. Langit berputar cepat kearah sisi lain mobil berpindah kebelakang dengan cepat dan meraih kepala Zivannya yang terbalut jaket untuk direbahkan dipangkuannya, Zivannya merapatkan kepalanya diperut Langit yang segera mengelus pelan rambut, pipi dan punggung Zivannya agar tenang. kedua laki-laki itu memilih untuk diam dan tidak bersuara, Zivannya tertidur tidak lama kemudian.


beberapa kali terjebak kemacetan membuat mobil harus berjalan lambat, "nggak papa bang, dia sudah tertidur jadi perjalanan tidak harus terburu-buru. kita bisa sedikit melambat" pandang Langit kedepan, Matahari mengangguk. "apa abang dan kak Mentari bisa datang satu bulan lagi" tanya Langit pelan mengusap punggung Zivannya lembut "kenapa" tanya Matahari menatap reflektor kaca yang ada dibagian kaca depan mobil. "kayaknya sebulan lagi sudah selesai sidang pra nikah, ayah menggunakan tekanan untuk mempercepat proses surat-surat" hembus nafas Langit menyandarkan tangan kanannya disandaran pintu mobil. Matahari mengangguk, "jika nggak pulang bisa-bisa aku dipecat jadi menantu keluarga Triastomo, Lang" senyum lebar Matahari, Langit menyunggingkan senyum disudut bibir kirinya.


"terimakasih bang, sudah mengijinkanku menemani mu waktu Aga tidak ada sehingga aku bertemu kembali dengan Zivannya" kata Langit, Matahari mengerutkan keningnya tidak mengerti dengan perkataan Langit, "bertemu kembali" ulang Matahari menyakinkan pendengarannya. "abang tidak salah dengar, aku sebenarnya sudah dua kali bertemu tidak sengaja dengannya, saat itu aku ketemu di bandara ketika sama-sama akan ke Jogja, tidak sengaja mengganggu kenyamanan dia duduk menunggu keberangkatan, yang kedua saat tidak sengaja bertemu dengannya dan Aga di box ajaib apartement yang sama dengan punya teman satu angkatan, namun aku tidak mempunyai pemikiran yang jauh mengenai Zivannya karena dia sudah punya Aga dan ku anggap itu sudah menjadi takdir Tuhan kita tidak bersama" jawab Langit.


"hingga abang meminta ijin dan aku ikut denganmu untuk membawa pulang adik ipar mu kembali, baru aku mengetahui bahwa itu gadis yang sama yang membuatku tidak bisa berpaling dan tidak bisa pergi menjauh" cerita Langit, "saat itu juga aku baru tahu jika dia adalah adik iparmu, gadis yang ditinggal suaminya saat bertugas" tatap Langit mengusap bibirnya dengan tangan, "hingga aku menganggapnya sebagai kesempatan kedua yang diberikan Tuhan bertemu dengannya dalam keadaan yang berbeda" kata Langit. "aku tidak merasa senang dengan kepergian Aga, itu benar-benar merubah Zivannya, tapi aku bersyukur diberi kesempatan kedua untuk menemani nya hingga nanti" kata Langit. "aku ngerti dan paham" angguk Matahari, "kami bersyukur Zi menemukan orang yang sama seperti Aga mencintai dan menyayanginya tanpa syarat" kata Matahari. Langit mengangguk pelan.


"kamu adalah bagian dari keluarga Triastomo sekarang, kak Dirgantara sudah mengatakan semuanya bukan jadi kita adalah satu keluarga. apapun akan kita pikul bersama" kata Matahari. "pasti bang, kalian adalah keluargaku setelah mengenal Zivannya" angguk Langit. Matahari mengulurkan tangan dan disambut yang sama dengan Langit. "terimakasih kasih sekali lagi bang" kata Langit, "aku juga berterimakasih karena kamu membuat adekku bahagia lagi" senyum Matahari. Langit tersenyum menghela nafasnya panjang.


"yang, sampai rumah" kata Langit menepuk pipi Zivannya pelan. Zivannya mengerjapkan matanya dan memandang Langit, "udah sampai rumah" kata Langit, Zivannya berusaha untuk duduk, "abang yang nyetir dari tadi" kata Zivannya, Langit mengangguk. Zivannya menyandarkan kepalanya ke belakang, Langit membuka pintu mobil dan menunggu Zivannya untuk keluar, Zivannya menoleh dan bergeser untuk keluar dari mobil berpegangan tangan dengan Langit. "pusing, yang" tanya Langit menyentuh kepala Zivannya, "he em"angguk Zivannya berjalan pelan menuju kedalam rumah yang sudah dibuka oleh Matahari. "dek, aku tidur dikamar satunya" ijin Matahari, Zivannya mengangguk mengambil air minum di pantry.

__ADS_1


"aku kekamar dulu kak, bersih badan. gantian nanti" pandang Zivannya. Langit mengangguk tersenyum. meletakkan tas jinjing Zivannya disudut ruang tengah. "aku langsung istirahat, Lang. penerbanganmu besuk pagi" kata Matahari. Langit mengangguk, menuju pantry membuat jahe hangat untuk dirinya dan Zi, matahari sudah masuk kedalam kamarnya. Zivannya membersihkan badannya menuju walk closet mengambil t-shirt gombrong untuk tidur, meregangkan otot tubuhnya dan menuju ranjangnya, Langit masuk dan meletakkan jahe hangat dinakas samping ranjang Zivannya. "jahe hangat, yang. aku akan membersihkan diri dulu" kata Langit mengelus kepala Zivannya.


Zivannya membuka mata dan segera duduk meraih mug jahe hangat buatan Langit, Zivannya menyeruput pelan-pelan sehingga tubuhnya terasa hangat beranjak dari ranjang menuju walk closet untuk menyiapkan pakaian Langit. "kenapa kamu bangun, yang. aku bisa ambil sendiri" dekat Langit meraih t-shirt dan memakainya, mengganti celana dengan joger rumahan. Zivannya memejamkan matanya agar tidak melihat yang tidak ingin dilihatnya untuk saat ini. Langit tersenyum mendekati Zivannya meminum jahe hangat yang berada didalam genggamannya. "merasa enakan" tatap Langit, Zivannya membuka matanya perlahan mengangguk, Langit mengecup kening Zivannya lama "aku akan merasa sedih jika kamu sedih, aku akan merasa bahagia jika kamu bahagia, yang" tangkup pipi Langit mengerucutkan bibir Zhivannya yang hanya bisa mengangguk pelan. Langit mengecup bibir Zivannya lembut.


"sejak aku melihatmu, aku tidak punya kekuatan untuk melepasmu atau menjauh darimu. kamu adalah bagian hidupku, begitu juga aku adalah bagian hidupmu. selalu ingat untuk merelakan segala kenangan bersama dia dimasa lalu. karena itu tidak akan kembali" kecup bibir Langit, Zivannya mengangguk meneteskan airmata. Langit menghapus airmata Zivannya, "biarkan dia bahagia disana dan kamu juga harus bahagia disini bersamaku. kita akan terus melanjutkan hidup yang diberikan Tuhan kepada kita dengan orang-orang disekitar yang menyayangi kita, mencintai kita dan ingin kita bahagia" kata Langit, Zivannya memejamkan mata meneteskan airmata tanpa suara mengangguk. Langit mengusap kembali airmata kekasihnya dan membawa kepalanya kedalam pelukannya, Zivannya melingkarkan tangannya dan nangis sesenggukan menahan beban berat pikiran yang selalu ada, Langit mengecupi ubun-ubun kepala Zivannya, mengusap punggung Zivannya agar kembali tenang.


"terimakasih kak, maafkan aku masih menyusahkanmu" kata Zhivannya. Langit meraih tissue dan mengusap paras Zivannya dengan bertumpu dikedua lututnya. "aku juga terimakasih kamu sudah membuka hatimu untukku, menjalani hidup denganku dengan anak-anak kita kelak" kata Langit. Zivannya mengangguk. Langit tersenyum mengecup kening Zivannya, "kita tidur. hari ini sudah cukup airmata mu keluar. besuk pagi kamu harus menemani Rara sidang, bang Matahari akan menemanimu disini" kata Langit. "abang nggak ikut pulang" tanya Zivannya. "dia disini sampai besuk baru malamnya pulang ke Jakarta. mau ketemu dengan temannya" kata Langit, Zivannya mengangguk beranjak menuju kamar mandi. Langit merebahkan dirinya dan menghembuskan nafas panjang menatap langit-langit kamar tidur Zivannya.


"terimakasih Tuhan. terimakasih atas jalanmu yang tidak pernah aku duga dan sadari saat itu" gumam Langit, Zivannya keluar dan mendapati Langit yang sudah berbaring diranjang. "aku akan keluar setelah kamu tidur, yang" kata Langit. Zivannya mengangguk merebahkan dirinya disamping Langit, memeluk pinggangnya, bersembunyi diceruk leher Langit memejamkan matanya untuk segera tidur. Langit menepuk-nepuk punggung Zivannya agar segera tidur. sejam kemudian Zivannya sudah tertidur dengan lelap, Langit menciumi ubun-ubun kekasihnya yang sebentar lagi akan menjadi istrinya sesekali dia melihat dan mengusap pipi Zivannya yang terlihat cantik saat tidur dan tenang. Langit memeluk erat tubuh Zivannya mengusapkan dagunya dikepala Zivannya memejamkan matanya untuk tidur bersama kekasihnya.


"abang nggak nyusul kak Mentari" duduk Zivannya disamping Langit menunggu keberangkatan "kenapa, kamu mau ikut kesana" tawa Matahari, Zivannya tersenyum. "kalian berdua sama aja aku yang repot nanti menghalau laki-laki" kibas tangan Matahari, Langit memberi tanda benar dengan jarinya, "jika kalian berdua pergi. yang ada bikin jantung nggak tentu" kata Matahari, Langit manggut-manggut. Zivannya melipat tangannya didepan dada, "berapa hari lagi ayah dan bun-bun datang" tanya Zivannya. "katanya dua hari lagi, saat weekend. mau jalan bersama teman-teman ayah" kata Matahari, Zivannya mengangguk.


"jam berapa Rara sidang tugas akhir nya" tanya Langit, "sekitar jam 9 kak. Dimas sudah mempersiapkan segalanya. saat dia keluar sidang nanti. jadi kita tinggal duduk manis" senyum Zivannya. "aku ikut ah dek" toleh Matahari, Zivannya memberi tanda Ok dengan jarinya. "semakin banyak, semakin baik kak. nanti beberapa orang teman yang biasa ngumpul akan ikut juga" kata Zivannya. "jangan dekat-dekat dengan laki-laki lain" ingatkan Langit, Zivannya mengangguk. "kalo sudah selesai urusannya segera pulang" pesan Langit, Zivannya mengangguk. Matahari tersenyum melihat Zivannya. "aku akan berangkat, jika sudah sampai akan aku kabari" kata Langit mengusap rambut Zivannya melihat board pengumuman keberangkatan, Zivannya mencium punggung tangan Langit yang mengecup keningnya memeluknya erat.

__ADS_1


"jaga diri baik-baik, yang. kita akan lama tidak bertemu firasatku mengatakan begitu" kata Langit lesu mengecupi ubun-ubun kepala kekasihnya, Zivannya menepuk dada Langit pelan. "komandan kok loyo" gumam Zivannya. "kamu mau coba seberapa perkasanya aku, yang" pandang Langit, Zivannya tertawa lebar. "lumayan untuk push dengan beban aku diatas" angguk Zivannya. Langit nyengir mengusap tengkuknya. "jadi berasa ada ayah dan kak Dirgantara sih disekitar" tengok kanan kiri Langit, mereka tertawa. Langit menyalami Matahari berpamitan. "hati-hati kak, jaga diri selama aku nggak ada" lambai Zivannya, Langit menoleh dan mengangguk melambaikan tangan.


"langsung kerumah Rara kan dek" raih bahu Matahari, Zivannya tersenyum mengangguk. "mau sarapan dulu nggak" tanya Matahari. "nanti bareng sama Rara, ntar dia nunggu kelamaan kak, nervous nya tambah berat" kata Zivannya. Matahari tertawa pelan mengangguk menuju parkiran melajukan mobil meninggalkan bandara menuju rumah Rara. mobil terparkir sempurna dihalaman rumah Rara. "dah datang Zi" buka pintu Dimas. Zivannya tersenyum masuk diikuti oleh Matahari.


"bang Matahari" terkejut Dimas, Matahari tersenyum dan menyalami Dimas saat masuk. "mau ikut Zi nyemangati Rara. sama pinjem motor buat ketemu temen" kata Matahari, Dimas tersenyum mengangguk. "masuk dulu bang, kita ngopi. udah disiapin bibik" kata Dimas. Zivannya sudah duduk di meja menyeruput coklat dingin. "main nongkrong aja" duduk Matahari. Zivannya nyengir, Dimas menyodorkan kopi hitam panas dari bibik. "ketemu kemarin saat sama Langit, dia pulang barusan aja. nanti sore aku pulang juga" kata Matahari. Dimas tersenyum mengangguk, bibik membawakan beberapa kue basah yang sudah dibeli Rara tadi malam.


"Rara baru ganti baju, dari tadi nunggu juga" ngerti Dimas melihat Zivannya. "abang nanti naik motor ngikut kian dibelakang, setelah Rara selesai, abang langsung ketemu teman" minum kopi Matahari, Zivannya mengangguk. "ketemu dibandara aja ya dek, nanti bawain tas abang yang ada di mobil Rara" pandang Matahari, Zivannya mengangguk. Matahari mengambil roti yang ada di meja. "jangan terlalu malam kalo tidur dek" ingatkan Matahari, Zivannya mengangguk mengunyah roti. Rara keluar dengan keadaan sudah siap. "wah... bang Matahari juga datang, ketemu dimana" salam Rara. "kemarin sama Langit. semangat ya Ra... jangan kasih kendor dosennya. kamu pasti bisa" senyum Matahari menyemangati Rara yang tertawa lebar berterimakasih atas semangatnya. Rara memeluk Zivannya hingga bergoyang kekiri dan kekanan. "semangat Ra" pandang Zivannya. Rara tertawa lebar mengangguk.


hai.... hai.... hai.... all readers terimakasih telah berkunjung di karyaku , semoga selalu suka dan menunggu chapter berikutnya hingga selesai nanti.


terimakasih banyak all readers.


luv.... luv....luv.... U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak semua.

__ADS_1


stay healthy all


__ADS_2