Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 108


__ADS_3

Langit memarkirkan motornya dan masuk kedalam cafe, melihat sekeliling untuk mencari keberadaan Bayu. dilihatnya Bayu melambaikan tangannya untuk memberi tanda agar ia mendekat. Langit tersenyum dan berjalan mendekat, "sendirian aja Bay" duduk Langit meletakkan ponselnya dimeja, Bayu tersenyum mengangguk. "pesen apa" tanya Bayu saat penjaga cafe datang. "coklat panas aja" kata Langit menyerahkan menu kembali ke pelayan, Langit melihat sekeliling yang terlihat ramai dengan laki-laki yang nongkrong. "aku kira kamu sama Zivannya tadi" minum kopi Bayu, Langit menggeleng, "abis naik Semeru jadi kecapekan. biasanya dia tidur seharian" jawab Langit mengetik sesuatu diponselnya.


"aku tadi bilang mau ngabarin kalo udah sampai" kata Langit. Bayu tersenyum, "sudah bucin rupanya" tatap Bayu, Langit tertawa kecil. "udah pas sama dia" angguk Langit, Bayu mengangguk menyalakan rokok dan menghisapnya sebelum berkata. "tadi aku jalan dengan Sita" kata Bayu, Langit menatap Bayu sesaat, coklat panasnya sudah tiba. "terimakasih" angguk Langit tanpa melihat penjaga cafe yang memandang mereka berdua dengan seksama.


"aku dan Zi melihatnya tadi" angguk Langit, Bayu terkejut, "kapan, kenapa aku nggak tau" duduk tegak Bayu. "Sita melihat kami saat di lampu merah" jawab Langit menyeruput coklat panas nya, Bayu terdiam sesaat. "aku hanya mendengar curhatannya mengenai dirimu" kata Bayu, Langit mengangguk. "aku tidak bermaksud apa-apa, tapi hal itu terjadi begitu saja. karena ada kesempatan dan kita berdua mau sama mau, Lang" kata Bayu pelan menatap Langit yang hanya bersikap datar.


"aku tidak pernah menganggap nya siapa-siapa, Bay. kamu tau sendiri kan" kata Langit, Bayu tersenyum mengangguk. "aku tau, tapi dia terobsesi padamu" kata Bayu. Langit tertawa pelan, "itu bukan masalahku. sejak pertama kali aku sudah menegaskan kepadanya jika aku tidak memiliki rasa yang sama kepadanya, aku juga tidak pernah mencoba memberi harapan kepadanya, ibuku juga tidak menyukainya Bay. entah mengapa saat bertemu dengannya ibuku tidak mau aku dekat-dekat dengannya" cerita Langit. Bayu mendengarkan dengan tenang.


"apa kamu tidak merasa aneh kenapa dia curhat kepadamu padahal dia tau kamu sudah mempunyai kekasih" kata Langit heran, Bayu menganggukkan kepalanya. "aku juga tadi berpikir seperti itu, jika dia memang benar-benar menginginkanmu seharusnya dia tidak gampang begitu saja berhubungan dengan lelaki lain kan" kata Bayu.


"trus kenapa kamu juga mau" tanya Langit menatap Bayu, "namanya juga kesempatan Lang" pandang Bayu menghembuskan asap rokok ke udara. "trus bagaimana dengan kekasihmu kemarin" kata Langit, Bayu menggeleng pelan. "kami baru jalan beberapa bulan. jadi belum bisa dikatakan saling memahami satu dengan yang lain" jawab Bayu memberi alasan.


"apa kamu tidak yakin dengannya" tanya Langit menopang dagunya, Bayu mengendikkan bahunya pelan. "aku tidak tahu Lang" jawab Bayu. "apa kamu benar-benar serius dengan Zivannya, Lang" tanya Bayu, Langit menganggukkan kepalanya. "tentu, saat pertama kali melihatnya aku sudah memiliki rasa, walau dia punya seseorang" angguk Langit berterus terang. Bayu mematikan rokoknya dan menyeruput kopi hitamnya. "terus kenapa dia mau denganmu" tanya Bayu, langit tersenyum. "karena kita nggak sengaja bertemu kembali saat dia sudah sendiri, aku sering memaksanya untuk keluar dari zona nyamannya" kata Langit. Zivannya yang mendengarnya dari ponsel tersenyum sambil meringkuk ditempat tidurnya.


"berarti kamu bekerja keras untuk menaklukkan hatinya" tanya Bayu, Langit mengangguk. "ya, tidak hanya aku saja yang mau memperistrinya. ada beberapa yang juga serius meminangnya" kata Langit menghembuskan nafasnya. "kenapa akhirnya dia mau menerimamu" tanya Bayu penasaran. karena hanya aku yang dia butuhkan" kata Langit percaya diri. mereka tertawa bersama. "aku tidak pernah melihatmu seperti ini kepada seorang perempuan Lang, dulu kamu naksir dengan kakak angkatan juga hanya sekedar melihatnya tidak mau mengenalnya lebih lanjut" kata Bayu. "aku tidak akan melangkah lebih lanjut jika tidak dengan restu ibuku Bay" kata Langit menatap Bayu, mereka mengobrol tidak terasa hingga dini hari. Langit segera pulang agar esok hari bisa kembali berdinas.


pagi hari Langit bangun karena mendengar dering ponselnya. "hallo" tempel ponsel Langit dipipinya.


"masih tidur, yang. ini udah jam 6 lho, kewajibanmu terlambat" kata Zivannya. Langit membuka matanya dan melihat panggilan video dari Zivannya, Langit memindah panggilan suaranya menjadi video. "udah bangun dari tadi, Zi" tanya Langit duduk ditepi ranjangnya. "sudah, karena begadang tadi malam jadi tidak bisa tidur dengan nyenyak" lalu Zivannya berjalan ke walk closetnya.


"hmmmm" gumam Langit berjalan keluar dari kamarnya menuju kamar mandi yang ada diruangan belakang, segera melakukan kewajiban paginya yang terlambat, sesudah selesai kewajiban pagi nya, ia melihat ponselnya yang hanya terlihat kamar Zivannya yang kosong.


"udah selesai kak" lihat Zivannya tiba-tiba. "hmmmm" pandang ponsel Langit dari jauh, Zhivannya melihat kamera ponselnya dari dekat. "nggak ke kesatuan" tanya Zivannya. Langit mengangguk meraih ponselnya agar melihat Zivannya dari dekat yang hanya memakai t-shirt gombrong dan hanya memakai underwear bawah.


"yaaaanggg..... " pandang Langit membuka matanya lebar, Zivannya berjenggit kaget, "ada apa kak, kamu kenapa" dekat Zivannya ke arah ponselnya.


"kamu dimana sekarang" pandang Langit tajam. "dikamar, belum keluar dari tadi" kata Zivannya bingung. Langit menghembuskan nafasnya merasa lega, terkadang Zivannya seenaknya memakai pakaian jika sendirian. membuatnya harus ekstra memperhatikannya karena dia tidak mau Zivannya dilihat oleh orang lain.


"kamu kenapa hanya begitu" usap wajah Langit kasar karena pemandangan pagi ini membuatnya ingin menemui Zivannya dan mengurungnya di kamar saja, Zivannya mengangkat bahunya tanda tidak mengerti maksud Langit.


"aiissshhh.... pakaianmu terlalu terbuka, yang" frustasi Langit menatap Zhivannya yang berlalu ke kamar mandi. Langit menatap ponselnya lekat, Zivannya tidak menutup pintu kamar mandinya, Langit menggeram pelan. beranjak mempersiapkan baju dinasnya, beranjak keluar kamar untuk membersihkan dirinya sambil melihat ponselnya.

__ADS_1


Zivannya memakai bathrobe keluar dari bathroom, melintasi ponselnya yang masih menyala yang hanya terlihat kepala Langit saja. "baru ngapain kak" perhatikan ponsel Zivannya, Langit memandang wajah Zivannya yang memenuhi layar ponselnya. "mandi" seru Langit, Zivannya terdiam sesaat dan bergerak menjauh dari ponselnya menuju kedalam walk closetnya. Langit tertawa dan membersihkan dirinya segera. "hari ini mau kemana dulu, yang" tanya Langit sambil memakai pakaian dinasnya. Zivannya selesai memakai pakaiannya dan mengikat rambutnya model ekor kuda.


"kata ayah mau ke pak RT dulu, nanti baru diarahkan kemana aja" jawab Zivannya, Langit mengangguk. "sarapan dulu kak" tanya Zivannya. "maunya sarapan kamu, yang" tatap Langit, Zivannya menatap ponselnya.


"mau, kesini aja kalo berani. sekarang" topang dagu Zivannya. Langit tertawa mendengar tantangan Zivannya.


"beraninya kalo lagi jauh, tapi kalo dekat sama sekali tidak berkutik, dideketin aja udah takut setengah mati" cibir Langit, Zivannya tertawa menjulurkan lidahnya mengejek Langit.


"makanya kalo jauh baru bisa menggodamu, kan lebih asik kalo jauh gini. lebih menantang" kata Zivannya, Langit menggeram. Zivannya tertawa membuka laptopnya.


"kamu ngerjain apa, yang" tanya Langit melihat Zivannya yang serius. "tadi malam Dimas mengirimi project baru, aku terima aja. dari pada diam dirumah kayak orang bloon" jawab Zivannya tanpa menoleh.


"kamu kan udah janji mau mengurus surat-surat legalitas kita, yang" tanya Langit merajuk. Zivannya menghela nafasnya panjang. "iya kak, tapi kan nggak pagi banget gini. masih ada waktu untuk melakukannya, kan" angguk Zivannya. Langit memakan roti bundar yang tadi malam dibelinya sepulang dari cafe menemui Bayu.


"oh ya kak. akhir bulan aku minta ijin menemani Rara sidang tugas akhir nya" kata Zivannya. Langit menatap Zivannya, "berapa hari" tanya Langit.


"belum tahu kak, yang pasti aku selesain dulu ngurus surat-surat legalitas nya. jadi nggak terlalu menunda lama" kata Zivannya, Langit mengangguk. "nggak tau kalo sama ayah apa bisa cepat, sama kak Aga dulu waktu ngurusnya lama" keceplosan Zivannya segera menatap Langit yang tersenyum menatap Zhivannya. "tidak apa, yang. aku tau kamu tidak bermaksud apa-apa. hanya memberi gambaran bahwa prosesnya tidak bisa diperkirakan waktunya" kata Langit, Zivannya mengangguk tersenyum.


"buka aja mbak, kenapa" tanya Zivannya menatap kearah pintu kamar yang dibuka mbak Marni.


"mau diajak keluar sama tuan dan nyonya. disuruh sarapan dulu" kata Marni, Zivannya memberi tanda Ok dengan jarinya, menutup laptopnya dan beranjak dari ranjangnya keluar kamar.


"ini udah jam 7 dek, sarapan dulu. kita akan ke rumah pak RT" kata bunda, Zivannya duduk disamping bunda.


"bunda ikut juga" tanya Zivannya. "enggaklah. mana boleh sama ayah, ngganggu ayah ngobrol sama pak erte lama" jawab bunda


"emang pak erte suka nggosip bund" tanya Zivannya penasaran. "nggak juga dek, tapi kalo ketemu ayah jadi suka ngobrol yang nggak penting" jawab bunda pelan. Zivannya tertawa ditahan. "eh, nak Langit. sudah sarapan belum. ayo sini sarapan pagi" kata bunda, tidak sengaja melihat ponsel Zivannya yang memperlihatkan Langit, Langit tersenyum mengangguk.


"kapan-kapan bund, ini udah sarapan roti. nanti biar sarapan lagi sama yang lain. pingin makan bareng teman-teman di kesatuan merayakan hari ini Zivannya mau mengurus keperluan sidang nikah" senyum Langit, Zivannya meletakkan sendoknya dipiring. "nggak jadi nih, kalo kebanyakan ngomong" pandang Zivannya kesal. Langit tertawa, "coba aja ngomong sama jenderal dan ibu negara kalo berani" tantang Langit membalas Zivannya tadi. Zivannya nyengir meneruskan makannya.


"dek, bunda pesen. jangan terlalu lama menggelar acara resepsi pernikahan nanti" kata bunda, Zivannya mengangguk sambil mengunyah makanannya. "biar nanti ayah bisa pake koneksinya agar cepet ngurus keperluan ***** bengek sidang pra nikah" kata bunda menatap ayah, Zivannya dan ayah mengangguk mematuhi perintah bunda.

__ADS_1


"bunda akan nanya kak Val dan dan kak Mentari gimana baiknya mengenai acaranya nanti, jadi ibunya Langit tidak terlalu repot saat datang kemari" kata bunda, Zivannya mengangguk. "kita pake jasa perencana pernikahan kayak biasanya aja, biar kita tidak terlalu ribet" pandang bunda, Zivannya mengangguk.


"semangat, yang" seru Langit tertawa. Zivannya tersedak mendengar kalimat Langit yang menggodanya didepan kedua orangtua Aga. ayah tertawa lebar mendengar kedua anak muda itu sedang mengumbar kemesraan.


"dasar, komandan sableng sama kayak kedua kakaknya" tawa bunda mendengar Langit yang memanggil Zivannya.


ayah dan Zivannya naik motor menuju rumah pak erte untuk meminta ijin perihal surat legalitas. ayah menjelaskan secara detail siapa Zivannya dan apa hubungannya dengan keluarga Triastomo. pak erte mendengarkan dengan seksama dan sesekali mengangguk mengerti tentang apa yang dijelaskan oleh ayah. Zivannya memberikan lembaran mengenai statusnya dan mulai dicatat oleh pak erte, dengan bantuan pak erte, mereka bertiga segera menuju kantor kelurahan dan kecamatan untuk mengurus kelengkapan surat legalitas Zivannya.


hampir seharian ayah dan Zivannya keluar bersama dengan pak erte. menjelang sore Zivannya dan ayah kembali dari mengurus persyaratan surat-surat legalitas yang diperlukan untuk sidang pra nikah. bunda menyiapkan minuman untuk ayah dan Zivannya. "gimana yah" tanya bunda meletakkan secangkir teh panas dan jahe hangat untuk ayah dan Zivannya. "lumayan lelah bund, nunggu dan ngantrinya" jawab Zivannya merasa letih.


"tapi sekarang lebih cepat dari pada dulu saat Mentari mau menikah. sekarang ayah lebih berpengalaman untuk mengurus surat-surat resmi" kata ayah, bunda dan Zivannya saling berpandangan dan tersenyum mendengar perkataan ayah yang semangat untuk menyelesaikan semuanya. Zivannya meminum jahe hangatnya dan akan beranjak dari tempat duduknya saat ponselnya berdering, "yah, bund. Zi mau membersihkan diri dulu" kata Zivannya berdiri, bunda mengangguk. Zivannya segera menjawab panggilan Langit. "kenapa kak" tanya Zivannya.


"dimana, yang" tanya balik Langit.


"dirumah, baru aja nyampe dari ngurus surat-surat legalitas" buka pintu kamar Zivannya, Langit mengalihkan ke panggilan video. Zivannya segera mengubahnya.


"masih di kesatuan kak" tanya Zivannya membuka kemejanya, Langit memandang Zivannya yang sudah mulai tidak sadar jika berada dikamarnya saat menanggalkan bajunya untuk membersihkan dirinya. Zivannya masuk kamar mandi untuk membersihkan dirinya, Langit hanya menatap ponselnya lekat menunggu Zivannya keluar dari bathroom nya.


"capek, yang" lihat Langit sesaat setelah Zivannya keluar dan memakai bathrobe nya. "lumayan kak, nungguin nya lama. ayah sering ngobrol dengan pak erte yang membantu kita tadi" angguk Zivannya mengeringkan rambutnya. "udah makan siang belum tadi, yang" tanya Langit. "sudah, sama pak erte dan ayah saat menunggu berkas jadi" kata Zivannya.


"besuk ngurus lagi" tanya Langit.


"lusa, kak. karena menunggu surat yang diberi stempel resmi keluarnya lusa" geleng Zivannya, Langit mengangguk. "besuk pagi bawain sarapan ya.... yang" pandang Langit, Zivannya masuk kedalam walk closet mengganti bathrobe dengan pakaian.


"bisa seharian dong, kak keluarnya" kata Zivannya menyampaikan alasannya. Langit memandang Zivannya lama, Zivannya menghembuskan nafasnya dan mengangguk.


hai.... hai... hai.... all readers, terus dukung karyaku ya... biar tambah semangat untuk terus menulis, terimakasih banyak sebelumnya.


luv.... luv.... luv.... U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak atas dukungannya selama ini, jangan bosan untuk terus menanti kelanjutan cerita ini...


stay healthy all....

__ADS_1


__ADS_2