
kedua baby dibawa masuk kedalam ruangan rawat inap Zivannya, bunda mendekat untuk melihat secara dekat paras kedua cucu kecilnya itu. "so cute" senyum Mentari melihat putra kecil Zivannya. "si cantik juga terlihat menggemaskan" pegang tangan bunda melihat cucu perempuan pertamanya itu.
"jangan di ganggu bund, biarkan mereka tidur dengan tenang" ujar ayah pelan takut membangunkan kedua baby mungil itu.
"ish, ayah. dulu juga saat Raka dan Riki lahir juga begitu" tatap bunda horor. ayah memperlihatkan deretan giginya terpaksa ke arah istrinya itu. "duduk aja. dibawa kesini box nya biar kita bisa melihat dari dekat" kata ayah. Mentari mendorong pelan box baby ke dekat ayah duduk. "kenapa seperti Langit semua parasnya" lihat ayah seksama. Mentari memukul bahu ayahnya pelan. "biarin, yah. kan Langit ayahnya" tatap Mentari. "adek kan ibunya juga kak. kenapa nggak ada yang mirip dengan adek" bela ayah, Langit tersenyum lebar mendengar pembicaraan kedua orang terdekat keluarga kecilnya saat ini.
"jangan-jangan besuk kalo kakak punya anak juga lebih mirip dengan bang Matahari" kata ayah spontan, mereka tertawa mendengar ayah.
"kenapa ayah jadi seperti nggak rela kalo mereka mirip ayahnya" tanya bunda, ayah menghela nafasnya berat. "nggak gimana-gimana juga sih bund, sebenarnya. kan perempuan yang membawa selama 9 bulan lebih, masak nggak ada mirip-mirip nya dnegan ibu nya" topang dagu ayah di sandaran sofa belakang. mereka tertawa kecil mendengar ayah membela anak perempuannya. "nggak lihat Mentari lebih mirip siapa" lirik bunda, ayah tergelak kecil mendengar perkataan istrinya.
"ayah nih ah, suka berlebihan kalo berhubungan dengan ke tiga anak perempuannya. mereka baik-baik saja yah, karena mereka telah menjadi perempuan seutuhnya setelah melahirkan buah cinta mereka dengan pasangannya yah, jadi mereka tidak berpikir yang tidak-tidak mengenai siapa yang lebih mirip dengan siapa. apapun paras anak-anaknya mereka akan tetap merasa bahagia" terangkan bunda panjang lebar. Mentari manggut-manggut.
"makanya kak, jika nanti melahirkan jangan mirip abang" kata ayah yang membuat mereka tertawa terbahak-bahak hingga membuat kedua baby Zivannya menangis pelan. bunda segera menepuk pelan dada kedua bayi Zivannya agar mereka tenang kembali.
__ADS_1
"kebiasaan kalo ngumpul pada tertawa lebar bikin bayi nya kaget" tatap bunda kesal, ayah segera meminta maaf karena membuat kedua cucu kecilnya terganggu.
nanti malam ibu sampai Jakarta, bund. setelah Langit menghubungi tadi, ibu bergegas berangkat dari Malang" kata Langit. "ibu pasti senang punya cucu langsung lengkap gini. pasti nanti kalo pulang le Malang akan berat" angguk bunda, Langit tersenyum lebar.
setelah tujuh hari, dirumah keluarga Triastomo terlihat ramai oleh kedatangan para tamu untuk prosesi acara pemotongan rambut kedua baby. semua ditangani oleh pihak yang ahli di bidangnya, mereka yang mengarahkan dan memberi susunan acara demi acara. semua orang tampak bahagia dan gembira pada hari itu. kebahagiaan yang datang kepada keluarga kecil Langit dan Zivannya menular kepada semua orang yang hadir. Zivannya menatap kedua baby kecil yang ada dipelukan kedua perempuan hebat yang dia panggil ibu dan bunda. mereka selalu menyingkirkan keluarga lain yang ingin membawa kedua cucunya itu. Langit mengusap rambut istrinya lembut, Zivannya segera mendongak tersenyum menatap paras suaminya yang terlihat sumringah.
"terimakasih telah memberiku kebahagiaan yang lengkap dengan kehadiran mereka berdua" kecup rambut Langit, Zivannya menatap keluarga Triastomo yang mengelilingi kedua baby kecil itu.
"kita akan bersama-sama membesarkan mereka dengan baik dengan bantuan keluarga besar kita. karena mereka juga merasakan rasa bahagia yang sama dengan kita kedua orang tuanya" tatap Langit, Zivannya mengangguk tersenyum.
"kita akan memulai perjalanan menjadi orang tua seperti orangtua kita sebelumnya yang selalu memberi kasih sayang dan cinta kepada mereka berdua" kata Langit, Zivannya mengangguk.
"dengan kehadiran mereka, maka kita akan terus belajar untuk menjadi pelindung mereka selama akhir hayat kita" ucap Langit.
__ADS_1
"selamat datang kedua jagoanku yang membuat orang lain merasakan kegembiraan dan kebahagiaan. jalanmu akan selalu menerangi siapa saja yang berada di sekeliling mu. Nathan Dewantara dan Nala Dewantara" ucap Langit tegas. Zivannya tersenyum menitikkan air mata melihat mereka yang mengasihi keluarga kecilnya terlihat gembira. kebahagiaan yang tidak pernah dia bayangkan akan sejauh ini, kesedihan yang dialaminya membuatnya semakin kuat, kehilangan orang-orang yang dikasihi dalam rentang waktu tidak lama membuatnya terpuruk menjadikannya sebagai seseorang yang tidak gampang menyerah. keputusasaan yang menghampirinya dulu telah membuatnya mengerti bahwa cobaan dan rintangan yang Tuhan berikan membuatnya menjadi lebih dekat kepada sang pencipta.
segala kesedihan dan kegelapan di fase kehidupan telah dilalui oleh seorang Zivannya dengan rasa ikhlas dan sabar. dukungan orang-orang baik disekitarnya telah memberinya kekuatan bahwa masih ada orang lain yang peduli dan mencintainya dengan tulus.
keluarga adalah segalanya, tempatnya untuk membagi kebahagiaan dan kegembiraan agar semua merasa damai dan sejahtera.
hai.... hai.... hai.... all readers. tidak terasa ini adalah bagian terakhir dari kisah Langit dan Zivannya.
jangan lupa untuk tetap memberikan support like kalian terhadap karyaku ini "jika aku jodoh mu maka akan jadi milikmu"
jangan lupa juga sudah terbit novel terbaru kalang "debaran kalbu" di mangatoon. jangan lupa untuk mampir yaaa.
Luv.... Luv.... Luv.... U all readers sekebon pisang goreng.
__ADS_1
stay healthy all
jangan lupa mampir di karya kalang "debaran kalbu" yaa....