
matahari menghela nafasnya panjang, duduk didepan mentari dan menyentil kening istrinya, Langit melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Matahari. "ishhh, sakit" usap Zivannya memandang Langit kesal. "apa lihat-lihat, mau lagi" tanya Langit, Zivannya diam meneruskan makannya. "lho ini anaknya Bu Danti kan, katanya dua gadis ini tidak kenal. tadi memang bilangnya mengantar ibu Danti kesekolah" kata tukang soto. mentari dan Zivannya tersedak dan batuk-batuk. Langit dan matahari memandang mereka berdua tajam, menyodorkan minuman mereka. "soto dua mas, teh panas dua" kata Langit. tukang soto mengangguk.
"nggak usah drama, tadi aku panggil masih bisa, abis itu mati, dapat laporan kalian nggak kenal kita lagi" pandang Langit. Zivannya nyengir, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"tukang sotonya bilang kalo Bu Danti punya anak satu, ganteng banyak yang suka, jadi kita bilang nggak ngerti" jawab Zivannya, Langit menghela nafasnya panjang. "nggak gitu juga kali, yang" pandang Langit.
"mas Langit" dekat seseorang, mereka menoleh. "lho dek Santi, disini juga" pandang Langit, Santi tersenyum mengangguk. "baru pulang mas, kayaknya kemarin ibu nggak bilang kalo mas Langit pulang" tanya Santi, "iya mendadak pingin pulang" angguk Langit. "ini mas sotonya" angsur tukang soto, "makasih mas" angguk Langit. "nggak habis" hembus nafas Zivannya. Langit mengambil mangkuk Zivannya, "makan dek" pandang Langit.
"makasih mas, ini baru mau bungkus. sama ibu" angguk Santi, Langit melihat kebelakang Santi, beranjak menemui ibu Santi. berbincang sebentar dengan Santi dan ibunya. Zivannya melihat ponselnya yang penuh dengan pesan, "kak pulang kapan" toleh Zivannya, "Senin pagi besuk dek bareng abang" pandang mentari. jadi kita nggak jadi perawatan nih" manyun Zivannya. "kan ada kak Val, berdua aja dulu. dua minggu lagi bareng kakak" senyum Mentari. Zivannya memberi tanda Ok dengan jemarinya.
"abang tadi malam nyampe jam berapa" tanya Zivannya, "19.30 dik, kamu tidur dengan nyenyak. nggak tega banguninnya. dapat laporan kalo ada yang suka padamu ya dari kesatuan kakak, saingan tambah lagi dong" goda matahari, "beliin martabak lagi, mau jalan berdua tuh kalo di Surabaya" tambah mentari.
mereka tertawa ngakak, "tapi kemarin malam ayah dan ibu sudah memberi tahu Arka mengenai status adek" minum Mentari, "serius kak, trus Arka gimana" toleh Zivannya.
"nggak gimana-gimana dek, dia belum ngambil keputusan, kan bunda selalu bilang jika keluarga yang mendekatimu harus tahu statusmu jika ingin serius" pandang mentari, Zivannya manggut-manggut.
"semakin kesini kok malah semakin berat ya beban yang ada dipundak" hembus nafas Zivannya. "makanya, segera urus surat-surat legalitas yang diperlukan dan segera sah" duduk Langit memakan soto Zivannya dicampur dengan sotonya. Zivannya menopang dagu dengan tangan kanan melihat Langit yang ada didepannya.
"ibu kalo ngajar sampai siang kak" tanya Zivannya, Langit mengangguk. "kita kemana nih" tanya Matahari. "habis ini aku ajak ke air terjun dekat dari sini, pamit ibu dulu. motornya aku taruh disekolah aja. nanti kita balik siang jemput ibu" kata Langit. "siap" angguk matahari.
__ADS_1
"aishhh.... kalo sama abdi negara mah gini banget, apa-apa harus siaga" gumam Zivannya mengaduk minuman jeruknya, Langit tersenyum dan mengelus kepala Zivannya. "kak mentari aja biasa tuh" tatap Langit, "aku yang nggak mau terbiasa" tatap balik Zivannya. Langit tersenyum mendengar ucapan Zivannya yang keras kepala.
"Langit" seru seseorang, mereka saling berpandangan satu sama lain. "lama-lama tukang sotonya marah, karena ada jumpa fans disini" kata Mentari pelan. Langit tersenyum dan menoleh. "kamu pulang Lang" senyum seseorang, "ya, dengan keluargaku" angguk Langit. "kenalkan ini bang matahari dengan istrinya kak mentari, kakak dari istriku Zivannya" kata Langit, Zivannya tersedak. mentari menepuk punggung Zivannya pelan. "kamu sudah menikah" tanyanya terkejut.
"memangnya kenapa" kerut Langit. "tidak, aku dengar dari teman-teman kamu belum menikah" katanya, Langit tersenyum menatap Zivannya. "dari mana ri" tanya Langit, "dari rumah, ayah minta dibeliin soto didekat sekolah" jawabnya, "oohh... sampaikan salam hormatku buat ayah dan ibu mu" angguk Langit. ia mengangguk. "duduk dulu mbak, sambil nunggu pesanannya selesai" sodor bangku Zivannya. "makasih mbak, kami teman sekolah dari dasar sampai menengah" senyumnya, Langit mengangguk.
"namanya Sari, anak pengusaha kaya disini, dia kuliah di kota tempat kamu kuliah juga" kata Langit. "oh ya" terkejut Zivannya. sari tersenyum dan mengangguk.
"sudah lulus satu tahun yang lalu" jawab Sari. Zivannya mengangguk dan tersenyum. "kuliah dimana" tanya Zivannya. sari menyebut salah satu kampus keguruan. "oh ya, mau jadi guru juga seperti ibunya kak Langit" tanya Zivannya, Sari mengangguk. "kamu masih kuliah" tanya Sari, Zivannya menggeleng. "baru tiga bulan selesai" senyum Zivannya.
"waahhh.... aku kira kamu masih kuliah semester awal" tidak percaya Sari, Zivannya tersenyum. "umur berapa" tanya Sari, "22 kak" jawab Zivannya, "waahhh... masih muda banget, udah lulus. aku udah 24 lho" kata Sari, Zivannya tersenyum. tukang soto memanggil Sari karena pesanannya sudah selesai. Sari pamit mengundurkan diri, kapan-kapan akan mengobrol lagi dengan Langit.
"kayaknya terpesona sejak lama" lihat mentari, "he em... dilihat dari gelagatnya" angguk Zivannya meminum habis jeruk panasnya. "aku tahu, tapi buat apa aku peduli, yang penting kan aku tidak memberi mereka harapan yang berlebihan. justru yang aku neri harapan berlebihan malah selalu menolakku mentah-mentah" pandang Langit menatap Zhivannya.
Mentari sudah berjalan lebih dulu berada kembali ke sekolah diseberang jalan tempat mereka memarkir motor, matahari dan Langit masih asyik menghabiskan makannya dan mengobrol, Zivannya menoleh ke kanan dan ke kiri jalanan sebelum menyusul mentari, setelah dirasa cukup aman Zivannya melangkahkan kaki untuk menyeberang menuju sekolah.
tiba-tiba terdengar bunyi tabrakan yang keras, semua mata menoleh ke tengah jalan, seorang anak mengendarai motor dan terjatuh, tubuh Zivannya terpental agak jauh, langit dan matahari berlari cepat menghampiri Zivannya, mentari berteriak memanggil Zivannya dari dalam halaman sekolah. "yang" panggil Langit keras. Zivannya mengerang. "by, sakit" erang Zivannya. matahari melihat kondisi anak itu dan motor. mentari bergegas menghampiri adiknya. "dek" elus rambut Zivannya pelan.
Langit menghentikan taksi yang lewat. "kak, aku akan bawa Zi ke klinik terdekat, beritahu ibu. abang urus anak itu" kata Langit, Mentari mengangguk membuka pintu taksi. "yang, aku bawa keklinik terdekat, kuatkan tubuhmu. tetap bersamaku" bisik Langit mengangkat tubuh Zivannya pelan menuju taksi yang berhenti di dekatnya.
__ADS_1
Mentari membisikkan sesuatu kepada matahari, matahari mengangguk. Zivannya setengah sadar saat dalam perjalanan yang tidak lama. "yang" panggil Langit menaruh Zivannya di atas tempat tidur pelan, "aku nggak papa" jawab Zivannya lirih. dokter segera memeriksa keadaan Zivannya. Langit menunggu didepan ruang tunggu, menghubungi Matahari seraya mondar-mandir didepan ruangan pemeriksaan Zivannya. Langit memberikan jaminan untuk pemeriksaan Zivannya dikasir depan. tidak lama ia menerima panggilan dari ibunya.
sesekali ia berdiri, kembali duduk sambil menghembuskan nafasnya panjang, memegang dompet kecil Zivannya untuk melakukan pembayaran, dibukanya kembali dompet Zivannya yang tidak ada apapun didalamnya, apakah itu moment Zivannya bersama Aga atau dengan mamanya, atau dirinya sendiri. hanya terdapat kartu pembayaran miliknya, milik Aga dan milik Zivannya sendiri dan beberapa lembar uang cash. ia menggenggam erat dompet kecil itu erat, menggumamkan nama Tuhan dan keselamatan Zivannya.
Matahari dan Mentari segera datang setelah mengurus semuanya. "adek bagaimana" tanya mentari setengah berlari menuju Langit. Langit menggeleng, menunjuk ruangan pemeriksaan Zivannya. mereka ikut duduk disamping Langit. Mentari menggigiti kuku tangannya, matahari yang melihat istrinya sedang panik segera menggenggam tangannya erat. Langit menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi tunggu menghembuskan nafas beberapa kali, melihat langit-langit ruangan yang semuanya putih bersih, pintu pemeriksaan Zivannya akhirnya terbuka. mereka bertiga berdiri dengan segera.
"dia tidak mengalami luka dalam, hanya memar dan tergesek dengan aspal" kata dokter jaga. mereka lega mendengar penjelasan dokter. "ponsel Zivannya hancur" serah Mentari, Langit melihat layarnya yang remuk redam.
Zhivannya berjalan tertatih, Langit dan Matahari memegang kedua sisi bahu Zivannya untuk duduk. "mana yang sakit dek" lihat mentari didepan Zivannya. "semuanya kak" ringis Zivannya melihat Mentari. "pulang naik taksi yaa..." pandang Langit, Zivannya menggeleng. "pake motor aja biar cepet" geleng Zivannya, "tadi abang langsung kesini naik motor sama mentari" kata matahari. "nggak papa bang, berarti nanti taksi berhenti disekolah dulu baru lanjut kerumah kak Langit kan" pejam mata Zivannya, "hmmm" jawab matahari, Zivannya membuka matanya. "ngomong-ngomong anak itu gimana bang" tanya Zivannya. "tidak terluka hanya motornya yang sedikit rusak karena jatuh. mungkin nanti orang tuanya akan berkunjung ke rumah ibu" geleng matahari melihat Zivannya.
"sakit dek" periksa Mentari. "lumayan kak, terasa luka baru sih, untung pake sepatu boot kak, engkel kaki tidak terkilir karena terpental, hanya tangan dan kaki yang memar dan terluka karena kaget, tiba-tiba anak itu mengendarai motor dengan kencang" jawab Zivannya.
Langit menyentuh tangan Zivannya sebelah kiri. "sakit kak" ringis Zivannya. Hoodiemu sobek-sobek, ponselmu remuk redam" kata Langit, Zivannya melihat layar ponselnya yang pecah berantakan.
"hmmm, nggak papa. aku juga memang mau ganti" jawab Zivannya menghembuskan nafasnya berat. "kita pulang sekarang dek" tanya matahari. "pulang bang, kita balik setelah jam 12 siang aja ya kak, bang. selama perjalanan kita masih bisa berhenti beberapa kali, tapi masih bisa melihat jalan dengan jelas. besuk pagi kalian juga harus bertugas kembali, bisa istirahat dirumah kak Dirgantara dulu" ringis Zivannya. "sudah, jangan memikirkan kita, lihat keadaanmu aja begini" sentuh Langit, Zivannya meringis memandang Langit kesal, "jangan sentuh sembarangan" pandang Zivannya. Langit tersenyum.
"bunda nggak tau kan kak" tanya Zivannya menatap Mentari kuatir, Mentari menggeleng. "belum aku kabari, nanti malah bunda kepikiran dan minta langsung kesini kalo tau" kata Mentari, Zivannya bernafas lega. "iya kak, aku tau" angguk Zivannya. Langit membantu Zivannya untuk berjalan menuju pintu keluar klinik dan memesan taksi didepan agar mendekat, mereka berhenti sebentar disekolah tempat ibu Danti mengajar. Zivannya sendirian didalam taksi untuk menuju rumah langit setelah Langit memberitahu letak rumahnya. matahari dan mentari mengendarai motor masing-masing dibelakang taksi yang ditumpangi Zhivannya. Langit menemui ibunya terlebih dahulu. Zhivannya membayar taksi dan keluar dibantu oleh mentari dan matahari. mentari memberi gelas air putih kepada Zivannya yang segera meneguknya dengan cepat. "makasih kak" sandar ditembok Zivannya. "kamu mau mengganti baju sekarang dek" tanya mentari ikut meluruskan kaki disamping Zivannya. "nanti aja deh kak. kakak istirahat dulu, Zi tau kakak lelah dan shock melihat kejadian tadi" kata Zivannya. mentari mengangguk dan menggenggam tangan Zivannya "he em.., sesaat aku takut terjadi apa-apa padamu dek, aku nggak mau kehilangan adek lagi" pandang mentari. Zivannya mengangguk tersenyum.
hai....hai...hai.., all readers, dukung terus karyaku ini agar dapat selalu update. terimakasih banyak atas dukungannya.
__ADS_1
luv....luv....luv U all readers sekebon pisang goreng. trus jalani hari dengan penuh semangat dan menebarkan hal positif kesekitar kita...
terima kasih banyak all readers atas dukungannya selama ini...