Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 86


__ADS_3

Langit menatap Zivannya yang sedang menatap keluar gerai secara seksama "yang, kamu belum menjawab pertanyaanku" kata Langit. Zivannya serius melihat seseorang yang melintas. "Zivannya Fritscha" sentuh kepala Langit. Zivannya tersadar dan menoleh "maafkan kak, aku melihat seseorang yang aku kenal tadi" kata Zivannya cepat. "siapa" kerut Langit.


"kak Sony suami kak Aisya. sepertinya dia tadi lewat dengan wanita lain" kata Zivannya. Langit menatap Zivannya. "jangan pedulikan rumah tangga orang lain, mereka bisa menyelesaikan masalah mereka sendiri. jika mereka bercerita atau meminta bantuanmu maka kamu boleh membantunya" usap pipi Langit, Zivannya mengangguk dan memakan ice creamnya kembali. "kamu potong rambut kan yang" lihat Langit.


"iya kak, aku potong sendiri. jadi tidak beraturan. nanti di rumah kak Valerie pasti akan disuruh rapikan dan perawatan" angguk Zivannya.


"Have you finished your period" tanya Langit. "belum kak, mungkin 2 hari lagi. biasanya semingguan" kata Zivannya. "rapiin rambutnya setelah selesai my period" ngerti Zivannya, Langit mengangguk. "berarti kamu lama ditempat kak Dirgantara, Zivannya menatap langit mengangguk. "biasanya juga seminggu dua minggu" jawab Zivannya. "kamu tambah coklat" pandang Langit. "ehem.... eksotis kan" tawa Zivannya. Langit tersenyum lebar.


"onty" lambai Raka berlari. "hai gantengnya onty" peluk Zivannya. "om nggak disapa" senyum Langit mengusap kepala Raka. Raka menyalami punggung tangan Langit. "ishhh... om nggak dipeluk" tawa Langit memeluk Zivannya dari belakang, Raka tertawa dalam pelukan Zivannya. Langit membantu menarik koper keluarga Zivannya. "kita langsung aja" kata mentari, mereka bergerak menuju gate penerbangan. Raka berada dipelukan Zivannya. "onty, ada teman papa yang selalu nanyain onty lho" kata Raka tiba-tiba. "oh ya... siapa kak. onty pernah ketemu nggak" tanya Zivannya. "nggak tau. tapi om sering kerumah" geleng Raka. "ganteng kayak kakak nggak" tanya Zivannya. "ganteng kakak lah" geleng Raka. Zivannya tertawa. Langit meraih tangan Zivannya untuk merapat kesebelah keluarganya disana. "nama om nya siapa" tanya Zivannya. "mmm...." coba ingat-ingat Raka.


"namanya Aksa, dari kesatuan kak dirgantara. dia melihatmu waktu kamu dirumahnya setelah kelulusan mu waktu itu" jawab Langit tegas, Zivannya menoleh menatapnya.


"aku tidak tau dia, tau darimana kak" kerut Zivannya. "tau dari kak Dirgantara. ketika aku menemukannya untuk meminta ijinnya mendekati dan melamarmu" pandang Langit. Zivannya membelalakkan matanya. "apa, kenapa kamu nggak bilang" tanya Zivannya. "dia membiarkan kamu memilih dengan siapa kamu ingin akhiri kesendirianmu" lesu Langit. "apa kak Valerie tidak memberitahu kak dirgantara" tanya Zivannya menghela nafasnya panjang. "kak val sudah laporan sebelumnya dengan suaminya Zi, makanya kak dirgantara tidak bisa memberi jawaban dengan siapa kamu akan melabuhkan hati kembali. itu pun jika kamu mau membuka hati kembali. jika tidak maka tidak boleh ada paksaan" genggam jemari Langit. "makanya aku uring-uringan sejak kamu nggak mau melihatku, nggak mau membuka hatimu untukku dan berusaha melarikan diri dariku" jawab Langit.


"kamu takut aku lebih memilih dia dari pada kamu" tanya Zivannya tersenyum. "tidak, aku tidak takut. yang aku khawatirkan malah akan membuat kegaduhan" pandang Langit. Zivannya tersenyum lebar. Raka turun dan berlari kearah Ayah. "dengan persetujuan hampir seluruh keluargaku kenapa kamu masih ragu, seharusnya kamu tenang karena selangkah lebih maju daripada dia" tanya Zivannya. Langit menghembuskan nafas. "kamu yang membuatku kadang ragu denganmu, jika kamu tidak membuka hatimu walau keluargamu memberi lampu hijau itu tidak ada artinya kalo kamu nggak mau denganku dan lebih memilih orang lain" bisik Langit.


"kamu nggak pernah mengungkapkan apa artinya aku bagimu, apa kamu mencintaiku" bisik Langit lagi. "ahhh.... begitu rupanya" angguk Zivannya.


"apa" kerut Langit, Zivannya mengangkat bahu dan menyandarkan tubuhnya kebelakang.


"dek, penerbangan sebentar lagi akan berangkat" toleh mentari. Zivannya menoleh dan mengangguk, mengikuti langkah mentari dan keluarganya. Langit tidak melepaskan genggaman tangannya dan menyamakan langkah dengan kaki kecil pujaan hatinya. Zivannya mendapat kursi didekat jendela, Langit berada disisinya. "mau tidur, yang" tanya langit, Zivannya menggeleng, melihat keluar jendela.

__ADS_1


"kenapa" sentuh leher Langit, Zivannya memejamkan matanya, "just wanna home" jawab Zivannya lirih. "mine or yours" senyum Langit. "rumahku sendiri, lebih merasa nyaman" hembus nafas Zivannya.


"itu berarti dekat dengan Yuda" kata Langit. Zivannya tersenyum samar. "dia tidak pernah tahu jika aku pulang. tidak ada yang tahu, jika aku tidak beritahu sendiri, pingin naik gunung, pulang dan sendiri" hembus nafas Zivannya.


"aku akan menemanimu" kata Langit pelan. Zivannya menoleh, "tentu, kak Aga juga dulu bilang begitu akan selalu ada untukku dan menemaniku, apa kamu juga akan mengatakan hal yang sama tapi kenyataannya meninggalkanku juga" pandang Zivannya melihat orang-orang yang mulai tenang. Langit menoleh dan mengecup pipi Zivannya sekilas.


"welcome to my world" bisik Langit. Zivannya menghela nafasnya panjang. "first of all kak, kamu pasti menyentuhku jika kita sekarang bertemu, second kamu manggil aku dengan sebutan yang, ketiga kamu selalu muncul dan menghubungiku sesukamu, ke empat kamu terlalu posesif" kata Zivannya pelan.


"karena aku jatuh hati kepadamu Zivannya Fritscha" jawab Langit lembut. "yaa.... it's simple answer" lambai tangan Zivannya didepan mukanya. Langit meraih jemari Zivannya dan membawanya kedadanya. "kamu wanita satu-satunya disini, disini dan disini" sentuh didada kiri dan kanan langit serta dikepalanya. Zivannya menarik tangannya namun ditahan oleh Langit. "seperti ini kebiasanmu yang bikin aku ragu" kata Langit. Zivannya terdiam.


"just don't ruin my heart" desah Zivannya pelan, Langit tersenyum dan mengangguk.


"Ok, jaga pandangan dari laki-laki lain, yang. aku nggak mau mereka menggodamu, Aksa nanti yang akan menjemput kita, karena dia tau kamu pulang hari ini" usap kepala Langit lembut, Zivannya menghalau tangan Langit. Langit nyengir mengusap pipi Zivannya. "hentikan" pandang Zivannya, langit menggeleng. Zivannya meraih tangan Langit dan menggigit punggung tangannya. "aishh... " lihat tangan Langit. "memerah ini, yang" sodorkan tangan Langit ke pipi Zivannya. Zivannya tertawa "rasain, usil aja" jawab Zivannya. Langit menggigit pipi Zivannya, "auuu.... sakit" elus pipi Zivannya. "nah.... sakit kan" ledek Langit, Zivannya meringis. Langit mengusap pipi Zivannya yang tampak memerah. Langit meraih menautkan jemari mereka memejamkan matanya. Zivannya memandang keluar melihat awan yang sangat putih. "kak, kenapa nggak nunggu di Surabaya aja" kata Zivannya, Langit menoleh "kenapa" tanya Langit. "kan capek bolak-balik dari kemarin" kata Zivannya, "kamu capek melihatku, yang" tanya Langit.


"issshhh nih anak, aku nanya apa, jawab nya apa" desis Zivannya. "nggak capek, melihatmu membuat rasa capekku hilang" senyum Langit mencium jemari Zivannya.


tiba dibandara Surabaya.


Zivannya meraih tangan Raka dan melangkah keluar dari pesawat menuju lorong panjang untuk keluar dari gate kedatangan.


"Raka" lambai seseorang, Raka menunjuk seorang pemuda yang tersenyum menatap mereka. Zivannya menghampiri ayah dan bunda mengatakan ada yang menjemput mereka. ayah mendekat dan menyalami pemuda itu, bunda menggandeng Raka, Zivannya,mentari dan langit menarik koper keluarga. Arka tersenyum melihat Zivannya, "hallo Zivannya" senyum Arka mengulurkan tangan, Zivannya tersenyum menyambutnya. "hai, dengan siapa" senyum Zivannya. "Arka, panggil saja Arka. aku hanya selisih satu tahun diatasmu" senyum Arka, Zivannya mengangguk tersenyum. "baiklah, Arka. terimakasih karena telah menjemput kami, biasanya kak dirgantara yang menjemput atau kami bisa pesan online. kamu tidak usah repot menjemput kita" senyum Zivannya. Arka menggeleng dan tersenyum, "tidak, aku yang meminta untuk menjemputmu" jawab Arka. "aahhh... baiklah terimakasih" angguk Zivannya. Langit memasukkan semua koper kedalam mobil Dirgantara. "semua barang udah masuk. kita berangkat sekarang" senyum Langit. "ok, let's go home" seru Zivannya. Raka menaikkan tangannya keatas bersemangat. Zivannya duduk dibelakang bersama Raka dan Langit.

__ADS_1


"onty, nanti sampai rumah jangan pergi dengan mama dan onty mentari lama ya" pandang Raka. "kenapa kak" tanya Zivannya. "onty main sama Raka aja, ditaman kayak biasanya. nanti om-om tentara pasti pada mendekat dan bisa main bola bareng" kata Raka. Zivannya tersenyum memberi tanda Ok. Langit berdehem pelan. "aishhh.... anak bungsu bunda bikin pusing" geleng kepala bunda, "tenang bund, lumayan buat bawain calon mertua martabak, kue legit" tawa mentari. "daripada sebelumnya harus melihat preman" pandang Ayah.


"udah selesai yah, kan sekarang sama bang Matahari pilihan ayah" kata mentari. "apa kak Valerie juga pilihan ayah dan bunda" tanya Zivannya, "tentu saja dek, kamu juga pilihan bunda dan ayah" angguk ayah. "kalo kakak karena mengenal yang berbeda dari kalangan keluarga" senyum Mentari, Zhivannya mendekat. "yah, bolehkah aku memilih yang bukan dari kalangan militer" tanya Zhivannya, Arka dan Langit tersedak dan batuk-batuk. "boleh, asal menyayangimu dengan baik" angguk Ayah tersenyum melirik kedua pemuda yang kebakaran jenggot. Zhivannya tersenyum dan memberi tanda Ok atas jawaban ayah. Mentari tertawa lebar, "salute dek, cari yang terbaik" angguk mentari. "susah njagainnya kak kalo yang terbaik, mending yang biasa aja biar nggak banyak saingannya" geleng Zivannya. Langit membekap mulut Zhivannya. mereka tertawa, "hawa panas nih" ledek mentari. "bisa-bisa over heat nih mobil kakak" senyum bunda. "apa kita keluar dulu biar adem mesinnya" komporin ayah. "ntar aja yah, kita riding" geleng Zhivannya. "aaahhhh....iya dek, lupa ayah kalo ada motor kakak, let's trip berarti bund" semangat ayah. bunda mengangguk menghela nafas. Zhivannya menyandarkan tubuhnya kebelakang melihat Raka yang asik bermain game di gadget, melihat jalanan yang padat. langit meraih jemari Zivannya. Zivannya menggenggam erat jemari Langit tanpa menoleh, Langit tersenyum dan melihat kearah depan.


"hallo" jawab Zivannya saat mendengar ponselnya bergetar.


"tentu, mau ketemu kapan" angguk Zivannya.


"aku pulang kesurabaya dengan ayah dan bunda. tentu, nanti kabari jika sudah sampai. iya, tentu saja. belum nyampe bu.... ini dalam perjalanan kerumah kakak" hembus nafas Zivannya.


"ishhh... ngenalin siapa, ahh... nggak mau... nggak.... berapa kali lagi mau ngenalin anak orang Ra, ya... ya.... it's fine. terserah deh... ya...ya... nggak, terpaksa bu... see U di Surabaya" senyum Zivannya menutup ponselnya.


"Rara mau kesurabaya Minggu depan bund, sama saudaranya cewek. nanti ngajak ketemuan kalo sudah sampai, pingin dikenalin sama abdi negara katanya" kata Zivannya. mentari tertawa.


"masih ada stok nggak yah" tanya Mentari. "lha ini dua anak muda gagah, Arka dan Langit. mereka belum punya wanita yang menemani kan" kata ayah. "aahh... bisa yah, nanti Zi atur" senyum Zivannya, Langit memandang keluar kaca jendela, Arka melihat Zivannya dari kaca mirror.


"mobil memasuki rumah dinas Dirgantara. Zivannya dan Langit menurunkan koper dari bagasi, Arka membantunya. mereka masuk, Zivannya membersihkan badan segera. "ahhh.... seger banget" minum Zhivannya meluruskan kaki di ruang tengah keluarga. "udah pulang Arka nya" bisik Zivannya, masih didepan bareng ayah dan yang lain" senyum Mentari beranjak kekamar mandi bergantian dengan Zivannya. "kak, nggak ganti dulu" tanya Zivannya disamping ayah, ada yang didalam nggak" tanya Langit. "ada kak mentari" angguk Zivannya melintas keluar rumah.


"kak, mana motornya" lihat kedepan Zivannya. "dipake Arka sebentar untuk ke depan" jawab Valerie. Zivannya mengangguk menghampiri motor gede dirgantara. "dek" datang Dirgantara memarkirkan motornya. Zivannya meraih punggung tangan dirgantara, "dah lama sampai" tanya dirgantara. "belum, sama kak Langit juga" kata Zivannya, "aahhh... dia jemput juga" senyum Dirgantara, Zhivannya mengangguk mengikuti langkah Dirgantara kedalam. dirgantara menyalami punggung tangan kedua orang tua tercintanya. "mentari mana" toleh dirgantara. "barusan masuk kamar mandi kak" minum Zhivannya, Langit menarik tangan Zivannya untuk duduk saat minum. Langit menyalami dirgantara. "kamu ikut juga dek" senyum dirgantara


hai....hai....hai....all readers dukung terus karyaku ini ya... agar semangat untuk selalu terus update. terimakasih sebelumnya..

__ADS_1


luv...luv...luv U all readers, selain sehat dan bersemangat untuk menjalani hari. luv U all sekebon pisang ... terimakasih semuanya...


__ADS_2