Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 167


__ADS_3

Zivannya mengetuk pintu ruangan Langit yang tersenyum melihat kedatangannya, "udah sampai, yang" senyum Langit menerima salam Zivannya yang berjalan mendekati kursinya duduk dan memeluknya erat, "kenapa nggak liat om Baskara" perhatikan Zivannya, "dia baru ada urusan keluar sebentar. dia udah tahu jika kamu akan kesini jadi pasti dia akan kembali" angguk Langit. Zivannya duduk di sofa tamu menyilangkan kedua tangannya di dada. Langit menatapnya mengerutkan keningnya.


"by, bolehkah aku berkunjung ke tiga kota, tempat ibu, rumah Jogja dan rumah mama" tanya Zivannya pelan. Langit terdiam sesaat mencerna kata-kata istrinya yang membuatnya sedikit terkejut, "kenapa tiba-tiba kamu ingin pergi, yang" tanya Langit. "aku merasa punya banyak waktu untuk menjenguk mereka bertiga, tentu saja ibu yang pertama yang akan aku kunjungi karena lebih dekat secara emosi denganmu dan itu memberiku rasa nyaman untuk menemani beliau selanjutnya ketempat mama yang ingin aku kunjungi untuk melepas emosiku hingga aku merasa lega" pandang Zivannya, "itu juga karena kakak tidak ada disampingku untuk waktu yang lama, jadi aku merasa tidak ada yang akan menungguku dirumah untuk sementara waktu" senyum Zivannya, Langit menyandarkan punggungnya di kursi untuk memikirkan permintaan istrinya itu.


"sebenarnya aku ingin dirumah tapi pasti ibu secara tidak langsung menginginkan aku untuk disana saja dalam jangka waktu yang lama, ibu pasti merindukan anak laki-lakinya kan, jadi sekalian untuk long trip in three city" jawab Zivannya. "kamu naik apa jika aku memberimu ijin" tanya Langit. "lebih nyaman dengan mengendarai kendaraan sendiri sih jika aku pergi bisa sewaktu-waktu dan kapan aja aku mau" jawab Zivannya. "kamu akan lelah nanti" tatap Langit tidak tega. "hhmm" gumam Zivannya, "kenapa kamu berpikir untuk bepergian sih, yang" usap dagu Langit tidak mau melihat istrinya pergi nanti. "tadi waktu mau berangkat kesini baru kepikiran, by. selama kamu pergi pasti hanya di rumah bunda, paling banter nanti pergi ke Mall atau di kamar" kata Zivannya nyengir, Langit mengusap parasnya beberapa kali. "nggak usah terlalu lebay ah, kak. berangkatnya juga masih lama kan" kata Zivannya. "seminggu itu waktu yang sebentar lho" pandang Langit. "hhmm" dehem Zivannya mengusap tengkuknya yang terasa pegal.


"kamu sakit, yang" dekati Langit dan memijat leher istrinya itu, "agak nggak nyaman" angguk Zivannya. "kamu udah makan belum" tanya Langit, "kan langsung kesini tadi" hela nafas Zivannya. Langit tersenyum menggigit leher istrinya gemas, Zivannya membuka matanya lebar-lebar melihat suaminya yang usil tertawa. "nggak liat tempat" tepuk punggung Zivannya kesal, Langit mengusap bekas tepukan Zivannya "panas, yang" refleks Langit mencium bibir istrinya sekilas, "Satria Langit" seru Zivannya. Langit tertawa lebar keluar ruangan di ikuti oleh Zivannya yang terlihat tambah kesal.


"ndan" salam beberapa anggota abdi negara yang lain, "mau kemana ndan" tanya Baskara yang berpapasan dengan mereka berdua "kantin lah, biar kuat menghadapi kenyataan meninggalkan istriku selama sebulan" sarkas Langit berlalu pergi, Baskara menatap Zivannya meminta jawaban kenapa Langit bersikap seperti itu, Zivannya mengangkat bahunya tanda tidak tahu, Baskara menghela nafasnya mengikuti langkah mereka berdua yang ringan menuju keluar gedung.


"apakah selama kak Langit nanti dinas di luar, aku juga mempunyai jadwal nantinya om" tanya Zivannya, "sepertinya tidak terlalu padat, bu" geleng Baskara. Zivannya tersenyum mengangguk. "terimakasih banyak, om. kak Langit baru memberitahu kemarin bahwa dia akan pergi dinas keluar selama itu, jadi aku belum sempat nanya ke mbak Indira, nah kebetulan om Baskara kelihatan duluan jadi aku nanya ke om aja soal jadwalku" toleh Zivannya, Baskara mengangguk.

__ADS_1


"nggak usah lama-lama ngobrolnya" rapatkan tubuh Langit, Zivannya menghela nafasnya melihat kelakuan Langit. "by, jangan mulai" tatap Zivannya lekat, Langit nyengir membalas tatapan istrinya yang dibuatnya kesal dari tadi.


"apa om Baskara nanti juga ikut dengan kak Langit" tanya Zivannya ingin tahu, "untuk misi ini tidak, bu. karena semua diatur oleh komandan tugas sendiri" jawab Baskara menggelengkan kepalanya. Zivannya mengangguk pelan, "jadi nanti kakak akan sendiri disana" tanya Zivannya menatap suaminya, "tidak, disana dengan teman-teman yang lain nya" senyum Langit, Zivannya mengusap airmata yang tergenang sedikit di ujung mata. Langit mengeratkan tautan jemari tangan mereka berdua memberi kekuatan, Zivannya tersenyum terpaksa agar tidak larut.


"pesen, yang" duduk Langit. Zivannya segera memesan makanan yang tidak terlalu berat untuknya. kantin sangat ramai dikunjungi oleh para abdi negara yang sedang beristirahat siang, sehingga Zivannya merasa tidak begitu nyaman disana, Langit memperhatikan setiap tingkah Zivannya yang terlihat tidak biasa. "mau di luar aja" tanya Langit pelan, Zivannya menggeleng. "it's Ok" senyumnya mengusap punggung tangan suaminya. pesanan Zivannya datang dan mereka segera makan. "kelaparan, yang" senyum Langit menyuapi istrinya yang terlihat lahap memakan makanannya, Zivannya mengangguk pelan tanpa suara mengunyah makanannya dengan tenang.


"Bas, aku dapat cuti kapan" tanya Langit. "dua hari ndan. lusa" jawab Baskara, Langit mengangguk. "dapat cuti juga" kaget Zivannya, Langit tersenyum. "kenapa aku nggak diberitahu" tanya Zivannya, "kan dia yang ngurus, yang. aku baru terima tadi pagi. tugasnya juga dia yang menerima dari pusat, aku hanya diberitahu secara lisan dulu agar bisa mempersiapkan diri" makan Langit, "berarti kalo ada apa-apa aku hubungi om Bas aja, biar lebih cepat informasinya" angguk Zivannya, "nggak boleh" geleng Langit menyuapi istrinya, Zivannya melihat notifikasi ponselnya.


"lusa kita berangkat ke Surabaya sekalian, yang. biar kamu nggak bolak-balik lagi" kata Langit. "berarti persiapannya dua hari ini aja mengemasi semua perlengkapanmu" kaget Zivannya, Langit mengangguk. "kalau begitu aku pulang aja biar siap-siap dahulu" anjak Zivannya dari tempat duduknya. "makan dulu, yang. aku nggak mau kamu sakit" tahan bahu Langit agar istrinya tetap ditempatnya. Zivannya terduduk kembali dengan terpaksa menerima suapan makan siang dari Langit yang bergantian dengannya, "nanti aku temani untuk mengemasi nya, yang" senyum Langit, Zivannya diam tidak menyahuti ucapan suaminya. mereka bertiga mengobrol dengan tenang.


Langit meraih jemari istrinya untuk beranjak dari kantin, "kita pulang sebentar lagi, biar kendaraan dinasku disini aja. kita naik motor yang kamu pakai" senyum Langit. "ngapain ikut pulang, masih siang kan. selesaikan urusan yang harus selesai hari ini. aku temani" senyum Zivannya menoleh. "tadi aku beli beberapa makanan kecil" serah paperbag Baskara saat kembali dari motornya. Zivannya akan meraihnya namun Langit segera mengambilnya. "makasih banyak kak" angguk Zivannya.

__ADS_1


mereka masuk keruangan Langit kembali dan segera melakukan pekerjaan mereka yang tertunda karena makan siang. "yang" panggil Langit tanpa melihat istrinya, Zivannya tidak menyahut panggilan Langit hingga membuat suaminya itu segera memalingkan wajahnya untuk melihat istrinya, Zivannya tertidur dengan nyenyak bersandar dengan bantalan di lengan sofa, ia segera beranjak untuk meraih mantel panjang dinasnya dan menutupi bahu dan punggung istrinya agar tidak terlihat. "apakah kita ada tamu hari ini" tanya Langit sesaat kemudian. "ada ndan, sebentar lagi. apakah kita temui di ruangan sebelah saja" tanya Baskara mengerti, "baiklah. kita harus siap-siap sebelumnya. apa saja yang dibutuhkan maka siapkanlah" angguk Langit, Baskara mengangguk dan segera menyiapkan beberapa dokumen yang akan dibutuhkan oleh Langit. tidur Zivannya tidak terusik dengan kinerja kedua laki-laki dalam mode senyap itu.


waktu menunjukkan pukul 4 sore saat dia terbangun dan melihat sekeliling memperhatikan keberadaan di sekitarnya. suasana sepi, tidak tampak keberadaan dua laki-laki yang sedang bekerja tadi. Zivannya meraih ponsel dan melihat pesan yang ditinggal kan oleh Langit, ia beranjak kedalam kamar mandi di dalam ruangan suaminya membersihkan diri agar terlihat lebih segar, "udah bangun, yang" senyum Langit membuka pintu ruangannya, Zivannya segera mendongak menatap suaminya, meletakkan ponselnya di meja.


"pulang sekarang" tanya Zivannya. "he em, ada yang mau dibeli dulu nggak sebelum pulang" tanya Langit. "makanan paling biar nggak keluar lagi" jawab Zivannya. "lha ntar abis kewajiban petang, kita harus keluar ketemu dengan teman-teman" kata Langit, Zivannya menghela nafasnya panjang. "kalo gitu pulang aja dulu biar kamu istirahat" kata Zivannya. "kalo besuk-besuk nggak ketemu kamu, aku malah banyak istirahat, yang. nggak ada aktifitas bersamamu maka itu waktunya aku istirahat" pandang Langit, Zivannya menggelengkan kepalanya keluar dari ruangan Langit agar tidak mendengar perkataan suaminya lagi.


"yang" tawa Langit melihat tingkah istrinya pergi begitu saja. "apa kabar bu" senyum Indira, "mbak, baik. putri mbak Indira gimana, sehat" senyum Zivannya menoleh ke samping saat Indira menyapanya. "baik bu, apa ibu juga mau pulang" angguk Indira. "iya, mbak. jemput kak Langit" angguk Zivannya. "salam buat putrinya ya mbak" senyum Zivannya, Indira tersenyum "siap bu, terimakasih sudah mengingat putri saya" angguk Indira. Zivannya mengangguk tersenyum. Langit mendekati mereka, Indira segera mengundurkan diri.


"kak, kita makan dulu" tanya Zivannya, Langit meraih jemari istrinya, "baik" angguk Langit bergegas keluar dari bangunan kesatuannya. "kenapa buru-buru" tanya Zivannya, "aku harus menghadap ke komandan tugas ke luar sekarang" kata Langit. "mendadak, yang. baru aja dapat panggilan" kata Langit, "aku berarti pulang nih" kata Zivannya. "nggak lah, nemenin sampai selesai" pakaikan helmet Langit, Zivannya segera naik dibelakang Langit. "aku agak kencang mengendarai motornya, yang. pegangan yang erat" pinta Langit, Zivannya melingkarkan lengan tangannya di lingkaran pinggang Langit agar tidak mengganggu Langit berkendara. Langit segera melajukan motor dengan kecepatan lebih untuk segera menemui komandan lapangan yang menugaskannya kali ini.


terimakasih semuanya, sudah berkunjung ke karyaku. maafkan jika lama tidak update dikarenakan sakit. maaf semuanya.

__ADS_1


__ADS_2