Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter143


__ADS_3

Zivannya masuk untuk mengemudikan mobil karena dia yang lebih tahu jalan yang harus mereka lalui, dengan segera melajukan mobil melintasi jalan yang terbilang sepi setelah makan siang. Langit memejamkan matanya untuk mengistirahatkan tubuhnya sejenak, Zivannya memperdengarkan musik yang lembut ditelinga hingga membuat Langit terlelap dengan cepat. Zivannya menoleh tersenyum memandang kekasihnya yang dapat berisitirahat, sambil bersenandung kecil mengikuti irama musik ia mengikuti arahan yang diatur oleh petugas abdi negara yang sedang mengatur lalu lintas di titik-titik tertentu. ia berhenti tepat ketika anak-anak sekolah dasar sedang menyeberang untuk pulang, tersenyum melambaikan tangan ketika puluhan anak sedang menyeberang jalan didepan sekolah secara bersamaan, pemandangan yang jarang dia dapatkan sekarang. anak-anak itu membalas lambaian tangan Zivannya dengan tertawa riang, saling berbisik melihat orang yang tidak mereka kenal melambaikan tangan. setelah petugas keamanan mempersilahkan kendaraan untuk melaju, Zivannya segera melajukan mobilnya dengan kecepatan yang sedang.


tiba dibatas kota tempatnya dulu menimba ilmu di perguruan tinggi, Zivannya membuka kaca jendela lebar, menghirup udara yang terasa berbeda, menjulurkan tangannya keluar sesaat. "welcome home Zi" senyum Zivannya terhadap dirinya sendiri menikmati kebebasan terhadap dirinya dikota yang penuh sejuta kenangan didalam hatinya. Langit terbangun sesaat kemudian, "sampai mana, yang" tanya Langit, "kota gudeg" senyum Zivannya sumringah, Langit menoleh menatap Zivannya. "hmmm.... berapa lama aku tidur" tanya Langit, "lumayan" senyum Zivannya berhenti dilampu merah, Langit meraih air mineral yang ada didepannya. "kita akan berhenti sebentar disitu kak, ada jahe hangat diangkringan yang ngangenin" isyarat telunjuk Zivannya, "apapun yang kamu suka, aku ikut" angguk Langit. Zivannya mengangguk melajukan mobil kembali setelah lampu hijau.


Zivannya menepikan mobilnya dibalik tembok angkringan sehingga tidak menggangu pengendara lain dan menghalangi pengunjung lain ketika sedang berada didalamnya, ia segera keluar bersama Langit untuk memesan minuman, "jahe hangatnya dua mas" senyum Zivannya duduk, Langit mengikuti Zivannya. "hmmm.... let's see... kita pilih menu ini" ambil bungkusan kertas Zivannya, mengambil sendok dan membukanya, "sering kesini, yang" tanya Langit meraih sendok dari Zivannya, "tidak juga, jika kembali kesini, pasti kesini. dekat dengan rumah Rara kalo dari sini" kata Zivannya menerima suapan Langit, penjaga memberikan dua jahe hangat pesanan Zivannya. "makasih mas" angguk Zivannya segera menyeruputnya pelan. "mau yang lain kak" kata Zivannya mengambil bungkusan lainnya dan membukanya.


Langit mengangguk dan kembali makan berdua dengan Zivannya, angkringan terlihat penuh dengan beberapa orang yang juga sedang menikmati suasana menjelang sore. Zivannya mengambil tusukan sate telur puyuh memakannya segera, "ambilin" pegang tangan Langit, Zivannya nyengir kembali meraih tusukan sate, meletakkannya didalam bungkusan. "aku makannya udah" kata Zivannya, Langit mengangguk makan kembali, "ambilin lagi yang lain, yang" senyum Langit. "ishhh.... ketagihan" ambilkan Zivannya, Langit mengangguk dan membukanya. Zivannya menghabiskan jahe hangatnya, "aduh.... bocor gelasnya, air didalamnya nggak tersisa" senyum Zivannya lebar, Langit menyodorkan jahe hangatnya. "teh panas satu mas" pesan Zivannya kembali, penjaga angkringan mengangguk dan membuatkannya kembali, Langit mengobrol banyak dengan penjaga angkringan


"udah makannya kak" pandang Zivannya. Langit mengangguk, "makan apa aja tadi, biar dihitung sekalian" kata Zivannya. Langit menyebutkan makanan apa aja yang tadi diambilnya, Zivannya menambahkan beberapa makanan yang tadi diambilnya, mengeluarkan uang untuk melakukan pembayaran. "aahhh.... kenyang. ngantuk banget nih tentang tangan Zivannya keatas ketika akan beranjak dari tempat duduknya. "gantian sini" raih kunci Langit dari tangan Zivannya, "kak, pulang ganti baju. keluar lagi ya.." kata Zivannya, "tidak. besuk pagi aja, kita punya waktu seharian besuk untuk main" kata Langit. Zivannya mengerucutkan mulutnya. "jangan begitu, yang. kebiasaan kalo didepan orang begitu, aku nggak bisa memakan bibirmu kalo begitu" buka alarm mobil Langit, Zivannya nyengir masuk kedalam. mobil meninggalkan tempat angkringan batas kota.


Zivannya segera menyandarkan tubuhnya kebelakang. "lewat jalan legenda, yang" tanya Langit, "tentu kak. jangan terlewatkan" kata Zivannya, Langit tersenyum mengelus kaki atas Zhivannya. "kamu terlihat berbeda jika di kota ini" pandang Langit, Zivannya menatap Langit. "benarkah" tanya Zivannya, Langit mengangguk. ia menatap keluar jendela melihat beberapa orang yang lalu lalang di jalanan melihat dan mendengar suara hiruk pikuk yang berbeda dari Jakarta, sama-sama penuh dengan kesibukan namun terasa berbeda, "aku nyaman jika ada kamu disitu kak" gumam Zivannya sambil terus menatap jalanan, "aku tau, perubahannya sudah mulai terlihat jika kamu selesai bepergian maka akan dengan cepat tertidur jika aku di dekatmu atau kalo tidak kamu akan sakit setelah bepergian" angguk-angguk Langit, "benarkah" tawa Zivannya pelan, Langit tersenyum lebar. "apa kamu tau, yang. aku pun merasakan yang sama denganmu jika kamu sedang pergi" kata Langit. Zivannya terdiam, "kamu mengerti maksudku kan, yang" kata Langit, "apa aku tidak boleh bepergian tanpamu" toleh Zivannya, Langit menggeleng "bukan, tapi aku ingin ketika kamu berencana untuk pergi kemana. beritahu aku dulu, agar aku menyiapkan hatiku untuk kamu bawa" kata Langit, mereka berdua tertawa bersama. "aku mencintaimu Zivannya Fritscha Dewantara" pandang Langit, "aku juga menyayangimu Satria Langit Dewantara" elus pipi Zivannya. Langit mengangguk mengecup telapak tangan Zivannya. "kita akan memulai hidup bersama sepanjang hayat beberapa minggu lagi, yang. aku harap kita akan selalu berbagi segalanya" pandang Langit, Zivannya mengangguk. "aku akan mengikuti apapun yang kamu katakan dan berikan kepadaku kak" angguk Zivannya, Langit tersenyum menatap kekasihnya.


"jadi apakah kita akan berlibur berdua sebelum menikah" rentang tangan Zivannya keatas. "hmmmm..... ini termasuk libur yang berharga bukan" senyum Langit, Zivannya mengangguk. "berarti aku harus siap untuk ditinggal lagi dalam waktu yang lama bukan" kata Zivannya, "yangggg......" kata Langit mengelus kepalanya. "apa" toleh Zivannya, "kamu kan tau" senyum Langit. "iya, aku tau. saking taunya, aku nggak mau di tinggal" ujar Zivannya pelan, Langit menggenggam jemari Zivannya erat. "kita akan selalu dapat melewatinya berdua" kecup punggung tangan Langit, Zivannya terdiam lama tidak mau menanggapi perkataan Langit yang terkadang membuatnya nyeri di dada.


tiba dirumah, Zivannya membuka pintu gerbang agar mobil masuk, membuka pintu rumah. memberi salam segera masuk, Langit menutup pintu sesaat setelah melepas sepatu dan membawa tas jinjing Zivannya. "kak, aku membersihkan diriku dulu, mau pake kamar mandi luar atau disini juga" tanya Zivannya, "bareng aja, yang" kata Langit merajuk, "boleh, tapi jangan harap aku muncul saat pernikahan" pandang Zivannya serius. "nggak, jangan" pandang Langit menatap kekasihnya lekat. Zivannya segera meraih tas jinjing dan mengeluarkan pakaian kotor. mengeluarkan pakaian bersih yang terpisah. segera membawanya kebelakang, kembali kedalam kamar untuk membersihkan dirinya. Langit melepas seragamnya, "kak, udah. gantian" keluar Zivannya dari kamar. "pakaiannya udah aku siapin" lalu Zivannya kedapur untuk membuat minuman. Langit segera membersihkan dirinya karena waktu juga semakin malam, Zivannya berada dibelakang saat Langit menghampirinya memberikan pakaian kotornya. ia segera memasukkannya kedalam box cuci untuk dibersihkan.

__ADS_1


"minumnya kak" duduk Zivannya disamping Langit, "hmmm...." raih jemari Langit agar Zivannya duduk dipangkuan nya. "kenapa" elus kepala Zivannya menatap Langit. "aku memikirkanmu jika terjadi sesuatu padaku" tatap Langit, Zivannya segera menutup mulut Langit sebelum berbicara terlalu jauh. "sudah kak, aku tidak mau mendengar apapun lagi. cukup kita jalani dengan baik berdua, selebihnya Tuhan yang menggerakkan tangannya" pandang Zivannya berkaca-kaca, Langit mengangguk memeluk Zivannya erat. "maafkan aku, yang.... maaf.... aku tidak akan membuatmu sedih" serak Langit. Zivannya terdiam memeluk Langit. Langit membenamkan kepalanya di dada Zivannya. "yang.... kamu membangkitkan sesuatu" cengir Langit, Zivannya membelalakkan matanya lebar. "ishhh.... udah ah... aku mau jemur baju" tepuk bahu Zhivannya mencoba melepaskan diri dari dekapan Langit. "kamu harus bertanggung jawab, yang" rajuk Langit menahan tubuh kekasihnya agar tetap berada di pangkuannya. "yang.... dia semakin tak terkendali" tawa Langit memejamkan matanya menahan keinginan. Zivannya mencium bibir Langit melingkarkan tangannya dileher Langit, Langit membuka matanya menatap Zivannya yang juga memejamkan matanya, Langit mengabsen setiap inci mulut kekasihnya mengangkat t-shirt yang menutupi benda kenyal kesukaannya. "hmmm...." desah Zivannya pelan menikmati sentuhan Langit yang memabukkan. Langit menahan tubuh kekasihnya seraya menyesap benda candunya, memberikan sentuhan yang memabukkan, Zivannya mengeluarkan gumaman yang pelan saat Langit menyentuh nya. "kak" kata Zivannya lemas kehilangan tenaga. Langit segera mengangkat tubuh Zivannya seperti koala masuk kedalam kamar, merebahkan tubuh Zivannya dan kembali memberikan sentuhannya. Langit menggeram panjang saat mencapai sesuatu sambil memejamkan matanya dan ambruk diatas tubuh kekasihnya, "yang" deru nafas Langit pelan. "hmmm..." gumam Zivannya menyugar rambut kekasihnya yang cepak, "bisakah jangan jauh dariku" ujar Langit pelan, Zivannya tersenyum mengusap kepala Langit. "aku tidak akan lari darimu" jawab Zivannya pelan. Langit menatap Zivannya mencium lembut bibir nya. "aku tidak akan meninggalkanmu, yang" senyum Langit mengusap pipi Zivannya yang tersenyum manis mengangguk. "aishh.... mandi lagi kan" hembus nafas Langit memunguti bajunya yang berserakan saat dia melempar bajunya tadi, Zivannya memakai t-shirt nya dan segera tertidur. Langit melihat Zivannya yang sudah terlelap saat keluar dari kamar, tersenyum mengecup pipi kekasihnya yang tirus. ia menuju kebelakang untuk menjemur pakaian yang tadi mereka tinggalkan.


panggilan kewajiban pagi membangunkan tidur Zivannya yang nyenyak, bergerak pelan mengelus tangan Langit yang melingkar diperutnya. "hmmm.... udah ada panggilan" kerjap mata Langit, Zivannya mengangguk mengikat ekor kuda rambutnya beranjak turun dari tempat tidur untuk mengambil air suci. Langit terduduk ditepi ranjang, bergantian dengan Zivannya. mereka segera keluar rumah untuk melaksanakan kewajiban pagi bersama dengan tetangga yang lainnya. selesai kewajiban, Zivannya menyapa tetangga yang mengenalnya dan berbincang-bincang sebentar dengan mereka, Langit menunggunya selesai menyapa para tetangga. "yang... mau sekalian kesana atau nanti saja" tanya Langit. "nanti aja kak, sekalian kita berangkat ke tempat kakek dan nenek serta om Hadi" geleng Zivannya, Langit mengangguk mengiyakan. mereka kembali kerumah, "mau beli makanan nggak, yang" tanya Langit. Zivannya menggeleng membuat coklat panas untuk Langit, "aku masih kenyang kak" duduk Zivannya.


Zivannya kembali menutup pintu rumah, menyentuh papan pintu sebelum meninggalkan rumah itu kembali untuk waktu yang agak lama, Langit mengeluarkan mobil dari halaman, Zivannya menutup pagar kembali, menguncinya dengan pengaman tambahan. ia masuk, Langit melajukan mobil menuju keperistirahatan terakhir Aga, Zivannya menghapus airmatanya saat akan masuk ke area peristirahatan. Langit meraih jemari Zivannya untuk menguatkan hatinya, mereka melangkah mendekat ke tempat Aga berbaring selamanya. "kak, aku datang bersama kak Langit menemuimu" usap batu nisan Zivannya seraya menaburkan bunga diatas pusara Aga.


"hallo, ini pertemuan kita yang ke empat. satu kali saat kita di box ajaib saat kamu masih bersama Zivannya, saat aku ikut membawamu pulang untuk menemui Zivannya terakhir kali nya, saat bersama bang Matahari dan Zivannya kemarin dan hari ini aku menemui mu kembali untuk meneruskanmu menemani Zivannya sampai maut memisahkan kita, aku berharap engkau juga bahagia melihat kami berdua akan hidup bersama dan bahagia. semoga anak-anak kita akan meneruskan keinginan kita semua" kata Langit. Zivannya tersenyum menangis secara bersamaan. Langit merengkuh kepala Zivannya kedalam pelukannya mengusap punggung Zivannya berulangkali. mereka segera memanjatkan doa untuk Aga, Zivannya mencium batu nisan laki-laki yang lebih dulu memberikan cinta kepadanya, laki-laki yang menemaninya sepanjang usianya, Langit membantu Zivannya untuk berdiri dan berjalan menjauh dari pusara Bagaskara.


Zivannya meraih tissue dan menutup matanya agar tidak terus menurunkan air matanya, Langit mengusap bahu Zivannya, mobil melaju meninggalkan kota tempat Aga beristirahat menuju kota tempat keluarganya beristirahat. Zivannya tertidur dengan sendirinya setelah beberapa saat, Langit menghela nafasnya melihat betapa dirinya tidak sendiri menanggung beban dalam hidup, ternyata gadis belahan jiwanya juga tidak kalah menderita seperti dirinya. tidak ada manusia yang sempurna, dibalik kebahagiaan setiap kehidupan ada penderitaan yang tidak semua orang tahu, kulit yang tampak berkilau diluar, ternyata menyimpan luka terbuka didalam, sore hari mereka tiba dikota tempat kelahiran Zivannya, "mau makan dulu atau langsung kerumah om Hadi, kak" toleh Zivannya, langsung aja, nanti setelah kita bicara baru nyari makan dengan Farhan, ketemu Yuda juga" kata Langit Zivannya mengangguk membelok kearah rumah om Hadi. ponsel Zivannya berdering "Yuda, kayaknya dia liat kita melintas tadi.... "perlihatkan ponsel Zivannya, Langit tersenyum. "laki-laki itu punya feeling kuat mengenai mu, yang" pandang Langit. Zivannya mengendikkan bahunya tidak tahu, "kamu sudah sampai" tanya Yuda tanpa basa-basi.


"dari bau mu" tawa Yuda.


"ha.... ha.... ha...." datar Zivannya, Langit mengelus kepala Zivannya.


"dengan bang Langit kan" tanya Yuda, Zivannya menoleh. "ya... kita ketemu nanti, Da" kata Langit, Yuda tertawa.

__ADS_1


"pasti, bang. nanti aku jemput aja dirumah Farhan, setelah kalian menyelesaikan urusan dengan keluarga" kata Yuda.


"kamu juga keluargaku Da, nggak usah lebay deh. justru kamu keluargaku daripada mereka" kata Zivannya sarkas, Yuda tertawa.


"tunggu aku disana, jangan kemana-mana" tutup Yuda.


"memangnya aku akan kemana, jika sudah berbicara dengan mereka hanya akan menjadi pendengar yang baik dan tidak akan berani membantah" kata Zivannya, Langit tersenyum mengusap kepala Zivannya berulangkali. mobil Zivannya terparkir sempurna dihalaman rumah om Hadi. mereka turun dan melangkah menuju pintu, Langit membunyikan dering pintu. seseorang membukakan pintu.


"cari siapa" tanyanya membuka pintu lebar. "mbok, ada om Hadi" senyum Zivannya melongokkan kepala disamping Langit yang berdiri tegak didepan pintu. "oohh... silahkan masuk mbak Zivannya, bapak ada di dalam. ayo... silahkan masuk" senyum mbok mempersilahkan mereka berdua masuk. "siapa mbok" seru kakek dari dalam. Zivannya menoleh menatap Langit sesaat, Langit mengangguk.


hai.... hai... hai... all readers terimakasih banyak telah berkunjung ke karyaku. terimakasih banyak atas dukungannya.


luv..... luv.... luv.... U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak semuanya.


stay healthy all

__ADS_1


__ADS_2