
mereka tiba didepan penginapan, Zivannya membayar dengan uang didompet Langit. Zivannya menghubungi Dimas, Dimas keluar dari kamar. Zivannya melambaikan tangan ketika melihat Dimas. Dimas tersenyum ber hi-five dengan Zhivannya. "delay berapa jam" tanya Dimas. "1 jam doang" jawab Zivannya.
"Rara dari tadi ribut aja. nanya kamu udah datang belum, aku hubungi nggak bisa. jangan-jangan nggak bisa datang" tirukan Dimas, Zhivannya tertawa tanpa suara.
"aku mau kekamar" pandang Zivannya pucat.
"apa, kenapa" tanya Dimas.
"my monthly" cengir Zivannya, Dimas segera berlari dan mengambil kunci Zivannya, Langit membawa koper Zivannya dan mengikuti langkah Zivannya. Dimas memandang Langit sesaat dan tersenyum membukakan pintu.
"aku tunggu diluar" kata Langit. Zivannya mengangguk dan menutup pintu.
"hallo kak" salam Dimas.
"Dimas" senyum Langit.
"mau kekamarku dulu untuk menunggu Zi" tanya Dimas, Langit menggeleng.
"aku tunggu Zivannya disini aja, nggak papa" jawab Langit Dimas mengangguk tersenyum.
"Zivannya tidak bilang jika bersama kak Langit" kata Dimas. Langit tertawa garing.
"dia juga nggak tau kalo aku antar sampai sini, kalo tau bakal pindah flight dia" kata Langit. Dimas tertawa mengangguk.
"masih belum membuka hatinya kah" tanya Dimas. langit tersenyum mengangguk.
"sabar kak, pasti nanti dia akan membuka hatinya. dulu kak Aga juga lama baru Zi bisa menerima" ceplos Dimas segera diam.
Langit tersenyum menepuk bahu Dimas, "nggak papa dim, it's oke. berarti Zi nggak gampang luluh oleh rayuan lelaki" kata Langit, Dimas tertawa. "yang ngrayu banyak kak, yang berharap juga banyak. tapi yang bisa mengambil hati baru kak Aga, mungkin kak Langit juga tidak akan lama. jika sabar pasti Zi akan luluh. tapi herannya kenapa abdi negara semua" ceplos Dimas. Langit tertawa, "mungkin karena merasa aman" kata Langit. Dimas menggeleng, "mungkin kak, dulu Zi disukai Yuda yang anak anggota dewan juga tidak bergeming. punya pacar Bima yang anak orang terkaya juga nggak gila harta, disukai Regan yang nggak hanya pintar tapi juga tajir nggak noleh tuh kak" kata Dimas.
"kamu mau bikin aku panas dim" pandang Langit. Dimas tersenyum, "bukan kak, hanya menceritakan perjalanan Zivannya. banyak teman kampus yang suka dan terang-terangan menyatakan cinta juga nggak membuat Zi jatuh cinta kak" kata Dimas.
"kenapa Aga bisa" tanya langit penasaran. "karena kak Aga nggak ngebiarin Zivannya sendiri" senyum Dimas. " maksudnya" kerut kening Langit. Dimas menghela nafasnya dan duduk didepan kamarnya yang berhadapan dengan Zivannya.
"Zi, tidak pernah mau dekat dengan lelaki semenjak dikhianati Bima yang memilih sahabatnya saat masih sekolah dan menghamilinya, Yuda yang bersahabat dengan Farhan sepupunya yang membantunya menghajar Bima tiba-tiba, tanpa sepengetahuan Zivannya. makanya Zi berusaha cari beasiswa dan kuliah dikampus kita. aku dekat dengan Zi karena Rara, itu pun dengan waktu yang lama. karena nitip salam buat Rara jika bukan karena Rara maka aku bukan siapa-siapa hingga kita jadi sahabatan" senyum lebar Dimas, Langit tersenyum.
"kak Aga kenal Zi juga nggak sengaja saat melakukan penangkapan tersangka didalam kampus dan Zi sempat menghilang menghindar dari kak Aga karena kesalahpahaman tentang gadis lain" kata Dimas.
"oohh... iya bang Matahari dan kak mentari juga cerita" kata Langit mengangguk, Dimas mengangguk.
__ADS_1
"kak Aga seperti orang yang nggak karuan saat Zi menghilang" tawa Dimas. "sama, tiga bulan ini aku tersiksa" gumam Langit, Dimas menoleh, "benarkah" tanya Dimas tidak percaya.
Langit mengangguk dan memberitahu jika dirinya dan Zivannya mempunyai kesepakatan untuk memberi waktu bagi mereka memahami perasaan masing-masing selama enam bulan. tapi ayah Aga memintanya untuk makan malam kemarin dan akhirnya bertemu dengan Zivannya setelah tiga bulan tidak saling bertemu. Dimas tertawa ngakak.
"kamu kayaknya senang ya Dim melihatku tersiksa begitu" pandang Langit, Dimas melambaikan tangannya didepan mukanya.
"sama persis seperti kak Aga juga, emangnya Zi nggak cerita" tawa Dimas. Langit menggeleng.
"Zi lebih banyak menangis dan menolakku dim" hembus nafas Langit. Dimas seketika berhenti tertawa. "maaf kak, aku tidak bermaksud apa-apa" kata Dimas. Langit tersenyum dan menepuk pundak Dimas. Zivannya membuka pintu lebar, "ngobrol didalam aja. aku mau tidur" pucat Zivannya.
"apa mau aku belikan sesuatu, yang" berdiri Langit dan mendekat. Zivannya menggeleng dan menuju tempat tidurnya, Dimas mengerutkan keningnya mendengar sebutan Langit kepada Zivannya.
"kalo mau balik, balik aja. aku nggak papa, besuk seharian juga nggak kemana-mana" rebahan Zivannya. "kalo begitu, nanti habis kewajiban petang, aku pamit pulang, yang" letak ransel Langit. Zivannya berdehem.
"pamit dulu sebelum pulang, bangunin aku" kata Zivannya, Langit mengusap pipi Zivannya. Dimas melihat interaksi mereka berdua.
"apa kalian sudah selangkah lebih dekat" tanya Dimas, langit duduk dikursi.
"mungkin, apa karena panggilanku untuk dia" hembus nafas Langit. Dimas mengangguk. Langit tersenyum.
"itu karena dia protes tapi tidak aku hiraukan hari ini, aku nggak mau dia menjauh lagi, entah itu laki-laki lain, gadis lain atau penolakannya yang membuatku kesal" kata Langit. Dimas manggut-manggut.
"kenapa kau percaya padaku, setidaknya masih ada laki-laki lain yang menyukai Zivannya" tanya Langit. "bukan aku kak yang menjalaninya, jadi aku melihat cara dan sikap Zivannya memperlakukan cowok. belajar dari Rara untuk memahami mereka berdua. jika Zi lebih banyak diam dan menghindar. Rara lebih banyak ketus dan menolak" langit menopang dagu dengan kedua tangannya.
"aku masih menunggu tiga bulan lagi untuk mendengar perasaan Zivannya dim, aku tidak berani berharap banyak dia menerimaku dan melupakan Aga" pandang Langit kearah Zivannya yang tidur.
"setidaknya dia tidak menolakmu saat dia dipanggil spesial olehmu, diantar dan menangis di depanmu kak" kata Dimas menyemangati. langit tersenyum samar.
"ya.... itu sisi yang menyenangkan. sisi yang menyakitkan adalah ketika dalam satu ruangan dia bisa berinteraksi dengan yang lain, melihatku saja tidak apalagi berbicara denganku saat itu. menolakku terang-terangan dan menghindar jika ada perempuan lain mendekati ku" kata Langit.
"pribadi Zi cenderung tertutup kak, dia lebih baik tersenyum daripada memperlihatkan tangisan didepan orang. jadi menurutku sikap Zi jauh lebih banyak berubah saat bersamamu" kata Dimas. "makasih dim, mau berbagi hal mengenai Zivannya denganku" toleh Langit. "sama-sama kak, aku berhutang banyak dengan Zi karena dia, aku dan Rara lebih dekat. aku tidak mau teman baikku terpuruk kembali, menyakitkan melihatnya seperti kemarin-kemarin" kata Dimas. Langit mengangguk.
"yang...." usap rambut Langit, Zivannya mengerjapkan matanya. "jam berapa kak" tanya Zivannya menyesuaikan dengan cahaya.
"jam 6.45" jawab Langit. Zivannya duduk dan terdiam. "kakak mau berangkat sekarang" pandang Zivannya, Langit mengangguk.
"mau diantar kebandara" tanya Zivannya, "kamu memang bisa bangun..." senyum Langit. "bisa, tunggu sebentar" kata Zivannya beranjak kekamar mandi.
"aku sendiri aja, yang. kamu istirahat aja" sentuh bahu Langit. "tidak apa kak. aku dengan Dimas akan mengantarmu, nggak begitu jauh juga bandaranya" kata Zivannya memakai boot dan Hoodienya. langit menatap Zivannya, yang sedang bersiap. gadis ramping semampai dengan kulit putih yang menarik perhatian laki-laki. "Dimas sudah menunggu didepan kak" toleh Zivannya. Langit mengangguk dan berdiri Zivannya menyodorkan dompet Langit. "ini kak" kata Zivannya, langit menerimanya, membukanya dan mengambil kartu dari dalam dompetnya.
__ADS_1
"pake ini Zi, pendapatan ku sebagai abdi negara ada disini" serah Langit, Zivannya menggeleng. "aku masih punya dua kartu kak, punyaku dan punya kak Aga" geleng Zivannya.
"pegang dan pake ini" kata Langit tersenyum. Zivannya mengambil dan memasukkannya kekantong.
"jika aku nggak mendapat laporan kamu menggunakan kartu itu maka aku akan datang kesini dan membawamu pulang" kata Langit mendekati Zivannya, Zivannya mengangguk dan memberi tanda Ok berjalan menuju pintu, langit meraih tangan Zivannya dan menyesap bibir lembut Zivannya, membuka mulut Zivannya menggunakan lidahnya. Langit menautkan kedua kening mereka, mengusap bibir Zivannya yang penuh dengan jejak mereka. Langit menggeram pelan merapatkan tubuh mereka. "jaga diri baik-baik Zi, jangan ada yang berani menyentuhmu selain diriku" kata Langit. selalu beri aku kabar, itu berarti kamu baik-baik saja" pandang Langit lekat, Zivannya mengangguk.
Dimas sudah berada dilobi penginapan, "aku sudah memesan taksi. kita berangkat sekarang" toleh Dimas, Zivannya mengangguk dan masuk kedalam taksi yang ada didepan halaman penginapan. "besuk ada jadwal apa dim" tanya Langit.
"nggak ada kak, kita istirahat dulu" kata Dimas. "perusahaan akan menyediakan transportasi yang kita butuhkan. aku lebih memilih memakai motor untuk menghafal jalan" kata Dimas. Langit mengangguk menatap Zivannya yang sedang melihat keluar menghafal bangunan penting. Langit meraih jemari Zivannya, Zivannya menoleh tersenyum, kembali memandang keluar.
tiba di bandara keadaan agak ramai, langit melakukan check-in dan menunggu diruang tunggu.
Zivannya duduk dan mengecek ponselnya, Zi mengerutkan keningnya melihat wallpaper ponselnya yang berubah dengan moments Langit tersenyum menyentuh ujung hidungnya dan dirinya yang sedang terlelap dibahu Langit. Zivannya memandang Langit dan memperlihatkan nya pada Langit yang hanya bisa tersenyum simpul.
"kita jam berapa dim, ketemu dengan perwakilan perusahaan" toleh Zivannya menaikkan jumper hoodie nya. "jam 9" jawab Dimas memperlihatkan jadwal diponselnya, Zivannya mengangguk dan meminta Dimas mengirim dichatnya.
"Rara menghubungiku Zi" perlihatkan ponsel Dimas.
"Zivannya" seru Rara bersemangat. Zivannya menjauhkan ponsel Dimas.
"harusnya aku ikut aja nih sama kalian" kerucut mulut Rara.
"sini Ra, ada kak langit juga" angguk Zivannya, Rara membulatkan matanya lebar. Dimas mengangguk, Rara menutup mulutnya dan berteriak kencang dikejauhan, Dimas tertawa, Zivannya menggelengkan kepalanya. Langit melihat layar ponsel yang dipegang Zivannya.
"dia kenapa" tanya Langit. "tidak percaya kalo kamu ada disini" kata Zivannya pelan. "trus anaknya mana" tanya Langit. "sedang menenangkan diri saking shock nya" jawab Zivannya. Rara melihat Langit dilayar ponsel Dimas. "hai Ra" lambai Langit. Rara nyengir "sore kak" sapa Rara.
"diantar kak Langit Zi" selidik Rara, Zivannya mengangguk. Rara tertawa lebar. "ishh gerak cepat nih komandan satu lagi. heran deh, kenapa para komandan suka sama kamu ya Zi" pikir-pikir Rara. Langit menatap Zivannya yang diam.
"kak Langit berapa hari disana" tanya Rara. "ini akan pulang. baru dibandara" jawab Langit, "yah... Zivannya sendirian dong. ketemu komandan sana" goda Rara. Langit tersenyum mengusap kepala Zivannya yang tertutup jumper hoodie.
"jika berani, coba aja" pandang Langit menatap Zivannya. Rara histeris.
hai.....hai...hai.... all readers..
dukung terus karyaku ya.. terimakasih sebelumnya.
luv....luv..luv U all....
terimakasih atas dukungannya...
__ADS_1