
"Kamu mau kemana?" tanya Roman pada Rona yang berjalan ke sofa yang di duduki oleh Darren, sudah jelas anaknya itu akan duduk di samping Darren.
"Mau duduk." jawabnya dengan wajah yang sangat polos sedang Darren sudah bergeser agar calon istrinya itu bisa duduk di sampingnya.
"Kalian jangan deketan duduknya." Aditya menimpali yang membuat Darren dan Rona kompak melihat ke arahnya.
Sedangkan Rianti yang tengah kesal pada anak lelaki nya itu tampak terus membungkam mulutnya dengan tatapan yang tampak menunjukkan kekesalannya.
Bagaimana tidak kesal saat semalam suaminya mengatakan semua yang di minta oleh anak lelaki nya itu, mungkin jika tidak punya anak gadis ia tidak akan sedongkol seperti saat ini.
Bayangkan saja, anak gadisnya tengah sibuk menuntut ilmu di negeri orang sedangkan anak lelakinya malah sibuk menuntut untuk segera di nikahkan.
Membuat Rianti hampir saja terkena serangan jantung mendadak akibat ulah sang anak bernama Darren itu.
Bahkan sepanjang jalan menuju rumah Roman tadi ia dan Darren sudah perang dingin tanpa ada yang mau mengalah.
"Sini Rona." panggil Tania pada sang anak yang melangkah dengan malas menjauhi kekasih hatinya yang tengah menatap dirinya.
"Rona." panggil Aditya ketika Rona sudah duduk bersama dengan Mamahnya.
"Iya Om." sahut Rona sopan meski di wajahnya ada segurat kebingungan tentang kenapa Darren dan orang tuanya datang dan dengan wajah yang masing-masing terlihat tegang sama seperti dengan wajah Papahnya sejak selesai makan malam tadi.
"Kamu tau."
"Nggak Om." belum juga selesai Aditya berkata Rona sudah menjawab seraya menggelengkan kepala membuat Aditya membuang napas kencang.
"Om kamu belum selesai ngomong." omel Roman pada sang anak.
"Warisan elu Man." celoteh Aditya enteng.
Rona mengukir senyum kaku di wajahnya sambil menatap sang Papah dan Aditya bergantian.
"Dengarkan Om mau ngomong serius." seperti perkataannya wajah Aditya pun kini sudah sangat serius seraya menatap gadis yang akan menjadi menantunya itu.
Rona memberikan anggukan tanda ia mengerti dan akan melakukan apa yang barusan di minta oleh calon Ayah mertuanya itu.
"Darren ingin nikah." tiga kata yang Aditya ucapkan ternyata mampu membuat Rona kaku bagaikan sebongkah batu besar yang ada di sungai tak goyah meski terkena aliran air yang menerpanya setiap saat.
Setelah berdiam cukup lama diiringi dengan tatapan orang-orang dewasa itu akhirnya Rona mengalihkan penglihatannya pada sosok lelaki muda yang juga memberinya tatapan yang sama.
"Tega banget Kakak." tutur Rona yang entah kenapa wajahnya malah terlihat menunjukkan kesedihan membuat Darren heran dan menyangka bahwa Rona tidak ingin menikah dengannya.
"Kok tega?" tanya Darren tak mengerti.
"Kalau Kakak nikah, Rona bakal bilang semuanya sama Papah Mamah Om dan juga Tante apa yang udah Kakak lakuin ke Rona." sepertinya ada yang salah paham sekarang ini.
Dan ucapan Rona itu sukses membuat seluruh mata yang ada di ruangan itu mengarah pada satu tujuan pada sosok lelaki muda yang duduk di sofa paling pinggir.
Tatapan dengan penuh selidik sekaligus tuduhan tentang kecurigaan mereka dengan maksud yang di katakan oleh Rona barusan.
__ADS_1
"Itu yang pertama buat Rona, tapi setelah Kakak dapetin seenaknya aja Kakak mau nikah sama orang lain, Papah." berseru pada Papahnya seperti tengah mengadukan apa yang ia rasakan.
"Darren!!" bentak Aditya dengan wajah yang sangat marah kepada anaknya itu.
"Darren nggak apa-apain Rona Ayah." sahut Darren dengan wajah kepanikan yang terlihat jelas.
"Anak lu mesti tanggung jawab Dit, gue nggak mau tahu." ujar Roman dengan wajah serius.
"Tanggung jawab apa Om, Darren nggak ngapa-ngapain." kata Darren, memang dia ingin menikah dengan Rona tapi jika caranya seperti ini dia juga tidak mau karena tau apa yang akan terjadi nanti saat mereka sudah pulang ke rumah, bukan hanya Ibunya yang akan bertambah marah, Ayahnya pun akan mengamuk padanya.
"Kamu nggak dengar barusan Rona bilang apa?!" kali ini Rianti yang berkata tajam pada sang anak.
"Beneran Bu, Darren dan Rona nggak berbuat macam-macam." Darren mulai mengerti apa yang sekarang ada di dalam pikiran orang-orang dewasa itu.
"Kakak jahat banget, Rona udah bilang itu ciuman Pertama Rona. harusnya Kak Darren ngerti terus sekarang malah tiba-tiba ngomong mau nikah sama cewek lain, siapa ceweknya yang mau Kakak nikahin? si Sherin?" cerocos Rona tanpa henti yang akhirnya membuat seluruh mata di tempat itu membesar mendengarnya.
"Jadi Kak Darren apain kamu?" tanya Tania pada sang anak yang sudah berurai air mata.
Rona menunduk sesaat sebelum mengatakan hal yang sebenarnya.
"Ronaaaa." Darren menggerutu gemas mendengar betapa jujurnya wanita itu berucap tentang apa yang mereka lakukan.
"Cuma itu?" tanya Aditya dan Roman bersamaan.
"Iya." Rona mengangguk.
"Tapi Kak Darren jahat." lanjut wanita muda itu.
"Kenapa aku terus yang disalahin!" Darren mulai tidak terima.
"Emang Kakak salah, Kakak bilang itu ciuman yang ketiga Kakak, padahal buat aku itu yang pertama kali, berarti kan Kakak jahat udah selingkuh dari aku." Rona dengan tanpa bersalahnya mengadukan perbuatan Darren pada semuanya.
__ADS_1
"Ngadu aja terus Rona." seru Darren jengkel.
"Kamu tuh ya!" Rianti gemas sekali dengan sikap anaknya yang semakin hari malah makin mirip dengan suaminya.
"Marahin aja Tante, Kak Darren udah selingkuh terus sekarang malah mau nikah sama cewek lain, bikin Rona sakit hati. kalau mau nikah sama yang lain ngapain pake cium Rona."
"Astaga Rona." pekik Darren sambil menggelengkan kepalanya meminta wanita itu untuk berhenti bicara.
"Apa?!" dengan ketusnya menjawab.
"Aku tuh mau nikah sama kamu Rona!" seru Darren tegas yang detik kemudian membuat mulut Rona terkatup dengan sangat rapat.
Mata Rona berkeliling memperhatikan keempat orang dewasa yang tengah menyaksikan perdebatan antara dirinya dan juga Darren.
"Jadi Darren cuma cium Rona aja?" tanya Aditya.
"Iya Om." sahut Rona polos sedangkan Darren menutup wajahnya dengan sebelah tangan.
Aditya mengangguk-angguk diiringi desah napas yang terdengar sangat lega.
"Bagus lah, ya udah Man gue sama Rianti pulang deh, nih anak kayaknya masih mau di sini." ucap Aditya seraya melihat pada anaknya.
"Terus soal nikah gimana Yah?" tanya Darren menatap penuh harap pada sang Ayah.
"Lebih baik kamu ngomong sama Kakak kamu dulu, Ayah sama Ibu terserah Kakak kamu aja." kata Aditya yang rupanya sudah membicarakan permintaan Darren dengan Rianti.
Namun Rianti sepertinya kurang setuju jika Riana di langkah, tapi kalau Riana memang tak masalah mereka berdua akan setuju saja.
Maka dari itu Aditya meminta Darren untuk berbicara langsung pada sang Kakak yang tengah kuliah di Singapura dan saat ini tinggal bersama Eva dan Rama dan kedua anak mereka.
Darren mengangguk lambat mendengar permintaan sang Ayah juga Ibunya yang sudah pergi dengan mobilnya.
****
__ADS_1