Kamulah Pilihanku

Kamulah Pilihanku
Bab 63


__ADS_3

Tengah malam saat ada sepasang suami istri tengah memadu kasih di balik selimut, suara dering ponsel yang lupa di matikan membuat pergerakan terhenti sesaat.


Kepala Aditya mengintip dari balik selimut dengan rambut yang terlihat acak-acakan dan wajah yang berhiaskan keringat.


"Aku lupa matiin HP." berkata pada istrinya yang juga ikut melihat ponsel di atas meja dekat ranjang terus menyala dengan suara yang keras.


"Yaudah biarin ajalah." katanya kemudian kembali masuk ke dalam selimut.


"Nanti juga mati sendiri." lanjutnya untuk kemudian melanjutkan aktifitas yang terhenti saat baru akan memasang senjatanya.


"Nah mati kan." bernapas lega saat dering ponsel berhenti.


Namun dugaannya salah karena tak lama hening suara ponselnya kembali berbunyi.


Rianti sudah memasang wajah panik.


"Angkat dulu mas." pinta sang istri.


"Nanti aja, tanggung sayank." tak mau menuruti permintaan istrinya.


"Nanti Daren bangun mas." takut anaknya terbangun karena suara ponsel milik sang ayah.


"Nanti juga mati sendiri kalau nggak di angkat, lagian juga paling orang iseng , nggak mungkin urusan kerjaan telepon malam-malam begini." masih tidak mau memperdulikan suara ponselnya yang memenuhi ruangan.


"Tuh mati kan." berkata senang saat suara ponsel tak lagi terdengar.


"Lanjutin ya?" bertanya lembut seraya memandang wajah istrinya.


Rianti mengangguk , ia pasrah saja mengikuti perkataan suaminya yang sepertinya sudah begitu tidak tahan.


Baru akan melanjutkan suara ponselnya kembali berbunyi membuat dada Aditya naik turun menahan kesal.


"Mas jawab dulu sana." memaksa sang suami untuk segera menjawab telepon dari pada keburu anaknya yang bangun karena berisiknya suara ponsel dari sang suami.


Dengan kasar Aditya menyingkirkan selimut lalu bergeser turun dari tubuh sang istri meraih ponsel di atas meja yang dering nya malah terasa semakin keras di telinga.


"Roman sayank." menunjukkan siapa yang sejak tadi yang telah membuat pusing kepala atas bawahnya.


"Yaudah jawab." pinta Rianti yang di sambut gelengan kepala Aditya.


"Angkat!" berkata tajam penuh penekanan.


Aditya memanyunkan bibirnya melihat betapa judes nya wajah sang istri saat memintanya untuk menjawab telepon.


"Apaan siih lu Man, nggak bisa apa ya tiap malam nggak ganggu gue, perasaan tiap gue lagi mau tancap gas lu nelepon mulu." langsung mengomeli Roman begitu saja.


"Lah siapa suruh lu gituan tiap gue telepon." tak mau di salahkan.


"Gila emang lu!" mengomel.


"Berisik mas." Rianti mendelik ketika suaminya tak bisa mengontrol suara omelan yang cukup keras.


"di luar aja sana." meminta suaminya untuk keluar dari kamar.


"Iyaa." menurut dengan suara lemas.


Aditya turun dari ranjang lalu mencari celana pendeknya yang tadi ia lemparkan lalu memakai.


"Yank." memanggil sang istri.


"Kenapa?" tanya Rianti tanpa melihat sang suami.


"Ih nengok dulu sini." meminta sang itu melihat ke arahnya, lalu ketika sang istri sudah menoleh telunjuk Aditya menunjuk bagian bawah miliknya.


"Masih bangun." katanya yang sontak membuat Rianti tertawa kencang.


Melihat istrinya tertawa Aditya jadi ikut mentertawakan sesuatu yang sepertinya memang masih kokoh berdiri karena terlihat menonjol di celananya.


Dengan ponsel yang di tempelkan di telinganya.


"Emang kurang kerjaan banget lu Man." melanjutkan omelan nya sambil berjalan keluar kamar.


"Kalo nggak penting juga nggak bakal gue gangguin elu malam-malam begini." suara Roman memang terdengar berbeda tidak seperti biasanya.


Aditya duduk di ruang keluarga berselonjor kaki di atas karpet.

__ADS_1


"Ck, dulu juga nggak penting tetap aja ngerusuhin gue." seperti tak sadar diri bahwa dia sendiri juga cukup sering mengganggu Roman dengan segala urusan serta masalah pribadinya.


"Iya dah Dit iya." memilih untuk mengalah saja.


"Tania ada di rumah lu nggak?" mengatakan tujuannya kenapa sampai mengganggu olah raga malam yang tengah di lakukan oleh Aditya.


"Lah." Aditya tampak bingung tak tahu harus menjawab apa.


"Lah, Lah, Lah, ada nggak?" mengulang kata yang di lontarkan oleh Aditya.


"Nggak ada lah ngaco, Elu lakinya ngapa jadi nyariin bini lu di rumah gue." menyahut sengit.


"Ini gue pulang nggak ada dia." suaranya sudah terdengar panik.


"Di kamar mandi kali." menjawab asal.


"Yaelah kalau ada juga nggak bakal gue repot-repot telepon ELU!!" menekan kata elu karena cukup geregetan dengan Aditya.


"Ya mana gue tau." menggaruk kepalanya.


"Coba lu cek baju nya ada apa nggak."


"Kalau nggak ada gimana?" wajah Roman tampak pucat membayangkan istrinya kabur dengan perut yang membuncit tanpa ia tahu penyebabnya.


"Kalau nggak ada berarti kabur." menjawab enteng tak perduli bahwa jawabannya itu sudah membuat seluruh tubuh Roman bergetar tak sanggup membayangkan di tinggal kabur oleh Istri serta calon anaknya.


"Sok tau lu." masih tak percaya dengan perkataan Aditya.


"Yaelah Man, kan gue pengalaman, dulu juga kan Rianti sering kabur." malah membawa-bawa istrinya yang sangat kebetulan tengah berjalan ke arahnya.


"Ngapain bawa-bawa aku?" menatap sinis sang suami.


"Hehehe." malah terkekeh melihat wajah istrinya.


"Bajunya ada Dit." ucap Roman ketika matanya melihat tumpukan baju sang istri yang masih tersusun rapi di dalam lemari.


"Berarti lagi shoping kali." kata Aditya seraya matanya mengikuti sang istri yang berjalan masuk ke dapur.


"Yank bawain minum." berteriak pada istrinya.


"Nih." Rianti menyodorkan gelas berisi air pada sang suami.


"Rianti ya?" tanya Roman ketika mendengar suara istri dari temannya.


"Iya, kenapa?" kata Aditya.


"Tanyain dia sempet ketemu sama Tania nggak hari ini?"


"Yank,kata Roman kamu hari ini ketemu sama Tania apa nggak?" bertanya pada sang istri yang baru akan menaiki anak tangga.


"Nggak." sahut Rianti kencang.


"Tuh denger sendiri kan nggak katanya." berbicara pada Roman.


"Lagian siapa suruh pake ketemu sama mantan diem-diem, emang enak di tinggal." Rianti mengoceh sendiri bahkan tak sadar jika sang suami mendengar apa yang di ucapkan oleh mulutnya.


Kening Aditya mengernyit mendengar ocehan Rianti yang terdengar jelas di telinganya.


"Man." memanggil temannya.


"Apa?"


"Gue kayaknya curiga sama Rianti." kini mencurigai istrinya.


"Curiga kenapa?" tanya Roman yang tak mendengar apa yang di dengar oleh Aditya dari mulut Rianti barusan.


"Lagian siapa suruh pake ketemu sama mantan diem-diem emang enak di tinggal." mengulangi perkataan Rianti yang tadi pada Roman.


"Lu ketemu sama Ninda?" tanyanya kemudian.


"Iya, kan gue mau ketemuin dia dan anaknya sama Karza, ini pas pulang si Tania udah nggak ada di rumah." mengadu pada Aditya.


"Emang Tania tahu Ninda itu mantan lu?" mulai mengusut berusaha mencari permasalahan yang tak di sadari oleh Roman.


"Tahu.sempet ketemu di mall terus gue kenalin mereka, Ninda juga kan pasien gua." sepertinya Roman masih belum juga sadar.

__ADS_1


"Lu nggak bilang apa-apa sama Tania soal Karza?" terus saja bertanya.


"Enggak, gua kan lagi jarang ngomong sama dia gara-gara masalah adek nya sama Imran."


"Hadeeeh bego di piara." malah mengatai temannya sendiri.


"Apaan si?" semakin tak mengerti dengan ucapan Aditya.


"Nih ya gue jelasin, pasang telinga lu baik-baik." Aditya berkata tajam.


Roman terlihat diam dengan memasang telinganya menunggu apa yang mau di katakan oleh Aditya padanya.


"Tania, istri lu kayaknya ngeliat elu ketemu sama Ninda, itu dugaan gue sekarang ini, dia ngerasa elu selingkuh ya udah dia kabur dari rumah , rasain dah lu." Aditya menyentak kesal pada ponsel yang tengah di pegang nya.


"Lu jangan nakutin gua Dit." sergah Roman kesal sudah panik sedemikian rupa bukannya di tenangkan malah temannya itu justru makin menambah kecemasan nya makin menjadi.


"Lu pikir gue setan , nakutin elu!" Aditya malah jadi kesal.


"Lu cari sana istri lu." mengomeli Roman.


"Makanya kalau ada apa-apa tuh ngomong ama istri biar nggak kesalahan kayak gini, repot sendiri kan lu? mana istri lagi hamil, tidur dimana coba tuh dia, rumahnya kan jauh, nggak mungkin juga dia ke tempat adek nya." memarahi Roman yang tidak jujur pada Tania dari awal.


"Ribet-ribet ngurusin mantan eh istri malah minggat." masih tak mau berhenti juga mulutnya untuk mengoceh.


"Diem Dit ah, bantuin apa kek malah ngomel aja dari tadi." mengeluh kan sikap temannya yang sejak tadi tak hentinya marah-marah padanya.


"Lah mau lu gue ngapain emangnya? keliling gitu buat nyari Tania? males amat mending gue lanjut kelon." Aditya berkata sengit.


"Aduuuh Dit." Roman menggaruk-garuk kepalanya sambil mondar mandir di dalam kamar.


"Ngapa lu aduh-aduh, ketampol pintu?" pertanyaan ngeselin meluncur begitu saja dari mulut nya, padahal Roman tengah mengeluhkan dirinya yang begitu berisiknya mengomel seperti wanita tengah datang bulan begitu sensitif jika emosi nya tersulut sedikit saja.


"Bantuin gue pleaasse." kali ini suaranya terdengar begitu memohon.


"Nggak mau gue." tolak Aditya.


"Yaelah Dit.."


"Gua kan sering bantuin elu." Aditya sudah mendahului Roman mengucapkan apa yang biasa di katakan Roman jika sedang butuh bantuannya.


"Basi nyet." kesal Aditya.


"Demi calon anak gua Dit."


"Yaelah pake bawa-bawa anak lagi." gerutu Aditya.


"Yaudah gue mesti ngapain?"


"Tadi lu bilang lu curiga sama Rianti kan?" tanya Roman.


"Terus?"


"Dari awal gua rasa istri lu emang tahu di mana Tania sekarang, cuma kayaknya mereka berdua itu sekongkol." ujar Roman.


"Dan gua yakin istri lu nggak bakal mau kasih tahu di mana Tania."


"Oh itu sudah jelas." sahut Aditya.


"Lu tolong bantuin gua bujukin istri lu biar dia buka mulut."


"Nah gue kan yang kena, ini urusan kepala bawah aja ke tunda gara-gara elu sekarang masih harus ngebujuk dia buat masalah elu." omel Aditya.


"Siapa lagi yang bisa bantuin gua kalau bukan elu Dit."


"Iya yaudah iya!" membentak kesal.


"Yaudah matiin sekarang gue mau ngomong sama Rianti dulu." kata Aditya sewot.


"Oke." Roman mematikan teleponnya.


Aditya pun bersiap untuk masuk kamar menemui sang istri dan berusaha untuk membuat istrinya mau mengatakan di mana Tania berada sekarang.


Sebenarnya mereka bisa saja menghubungi Suryo untuk mencari Tania, tapi pada kenyataannya kepanikan Roman membuat dirinya tak bisa berpikir logis , serta Aditya yang sibuk mengomel pun sampai tidak kepikiran untuk menyuruh Suryo saja. sungguh dua lelaki yang kadang kelakuannya tak masuk akal jika sedang mengalami peristiwa genting semacam ini.


***********

__ADS_1


__ADS_2