Kamulah Pilihanku

Kamulah Pilihanku
bab 53


__ADS_3

Aditya masuk dan duduk dengan cepat seraya meletakkan cangkir teh ke atas meja.


"Bener nomornya si Imran ini." ujar Roman setelah ia menyamakan nomor yang kemarin juga mengirimkan pesan gambar padanya


Roman mengembalikan ponsel milik Aditya yang tadi dibawanya lalu duduk berhadapan dengan pria yang kini terlihat kesal


"Nih orang kayaknya nggak puas cuma nyari gara-gara sama elu." menggeram marah


"Gimana mau puas Dit, orang nggak gue ladenin, pernah sekali gue ladenin,malah gue yang empet sendiri"sahut Roman santai


"Lu kemana aja baru sampe, gue udah dari kemarin pagi lu suruh ke sini." omel Roman, sebab memang kemarin pagi begitu di minta untuk ke rumah temannya itu Roman langsung berangkat


"Untung gue ajak Tania, kalo nggak bisa di sangka selingkuhan bini lu gue!" melotot marah


"Ngaco lu kalo ngomong" sentak Aditya


"Lah ngaco gimana?" tanya Roman


"Lu pikir dari Jerman kesini udah kayak dari bandung ke Bekasi, yang cuma ngabisin waktu 2 jam" Aditya mengomel


"Elu yang ngaco peak, kemarin lu yang bilang lh sampe sore, tuh namanya apa kalo bukan otak lu yang kurang setengah!" balik menuding mengingatkan kembali apa yang di katakan oleh Aditya kemarin pagi


"Ya lu mikir sendiri aja Man, kan lu juga tau Jerman Indonesia berapa jauh nya." malah menyuruh temannya untuk berpikir


Roman menggeleng kepalanya heran kenapa justru dirinya yang di suruh mikir, padahal jelas-jelas yang tak punya pikiran adalah lelaki di depannya ini.


Setelah Pusing memperdebatkan siapa yang harus berpikir diantara mereka, akhirnya kedua pria itu hanya duduk menyender seraya menghembuskan napas nya seperti tengah berlomba hembusan napas siapa yang paling kencang.


"Sekarang lu mau gimana?" tanya Roman menoleh Aditya yang tengah menyeruput teh yang masih terasa hangat, terasa begitu nikmat di tenggorokannya saat teh buatan sang istri itu mengalir dengan lancarnya.


"Hajar lah." menjawab tenang namun terkesan angker


"Capek Dit, ngotorin tangan aja." kata Roman


Aditya melirik Roman mendengar jawaban yang di berikan temannya


"Lu nggak baca apa, tuh orang nyumpahin gue mati, kata-katanya juga bikin gue geli.setelah melihat istri gue langsung,berarti kan tuh orang udah mata-matain Rianti Man, dia nyari tahu istri gue,, selama ini kan dia nggak tahu gue nikah sama siapa!" berkata panjang


"Yaudah kalo gitu nggak usah lu langsung yang turun lah, entar muka lu bonyok , kan makin nggak karuan di lihat nya." masih berusaha melarang sang teman

__ADS_1


"Lu kan bisa nyuruh, si surya apa saryo tuh" ucap Roman


"Suryo monyet" membenarkan Roman yang salah dalam menyebut Suryo si pesuruh nya yang tenaganya dulu sering ia gunakan untuk memberi pelajaran pada orang yang bermasalah dengannya


"Udah ganti rupanya." Roman menggaruk kepalanya dengan raut bodoh


"Namanya emang Suryo!" Aditya menyentak kesal


Roman mengangkat sebelah tangannya meminta Aditya berhenti mengomel


"Yaudahlah siapa kek itu namanya. lu suruh dia ajalah, ngapain lu ribet-ribet" lanjut Roman dengan wajah yang terlihat serius


Aditya menggeleng cepat menolak saran yang di berikan sang teman


"Dalam kamus gue nggak ada yang namanya nyuruh orang kalau buat urusan pribadi gue!" ujar Aditya menunjukkan seolah ia seorang pria yang tidak mau di kalahkan apalagi jika orang tersebut mengusik orang terdekatnya


Namun detik berikutnya ke sombongan Aditya di patahkan oleh Roman dalam sekejap bahkan membuat Aditya bersungut marah.


"Gaya lu Dit, lu nggak inget dulu kalo lagi mabok rusuh lu nggak ketulungan, godain cewek orang sampe di gebukin sama pacar tuh cewek plus temen-temannya.lu nggak bisa ngelawan gara-gara lu mabok terus besokan nya lu suruh tuh si surya buat ngehajar orang-orang yang udah gebukin elu." Roman tertawa kencang mengejek Aditya mengingat kejadian yang sudah sangat lama


"Kurang kenceng Man...!" Aditya melotot tajam ke arah Roman saat melihat Rianti masuk ke dalam ruangan dan lantas menatap tajam sang suami, apalagi penyebabnya kalau bukan ia yang juga mendengar apa yang barusan di katakan oleh Roman


Roman membekap mulutnya sambil bola matanya berputar-putar ke kiri kanan dengan ekspresi lucu


"Ganjen." kata Rianti tajam saat ia hendak keluar dan melewati sang suami


"Bhaahahaha." tawa Roman langsung lepas begitu saja ketika pintu tertutup, mentertawakan Aditya yang masa lalunya di ketahui oleh istrinya


"Bacot Man, bacooot." bentaknya


"Nih kalau nanti malam gue tidur di kamar Riana, salah elu pokoknya.!!" berkata tajam menusuk bagai belati


"Ooh sorry, kayaknya nanti malam lu tidur di sini" sahut Roman


"Kan anak lu tadi ngambeek.." lanjut Roman sambil menaik turunkan kedua alis seiring senyumnya yang terpampang nyata


"Sialan emang lu!!" maki Aditya dengan mata sadis


"Gue mau nemuin tuh orang besok" ujar Aditya akhirnya

__ADS_1


"Apaan?" Roman menyorot Aditya seperti tak percaya


Aditya membuang napas kasar untuk kemudian menyilangkan kakinya dan menyandarkan tubuh ke sofa


"Terserah lu dah" untuk akhirnya Roman membiarkan Aditya melakukan apa yang ia mau, toh di larang juga percuma saja untuk seorang yang mempunyai watak seperti Aditya ini.


"Nanti kalo bonyok jangan nyari gue," ancam Roman


"Ngapain gue nyari elu." menjawab pelan


"Biasanya juga kan gitu, istri lu pingsan aja yang lu cari gue." Lagi-lagi mengingatkan kejadian yang sudah berlalu


"Kan lu dokter Maaan." kata Aditya dengan nada yang di buat lemah


"Dokter kandungan khusus melayani ibu hamil, bukan bapak-bapak bonyok habis berantem." Roman berkata ketus.


*******


"Kamu lagi ngapain sih , dari tadi aku perhatiin HP terus yang kamu liatin." Selfie mengeluh malihat kelakuan Imran yang sejak kemarin malam selalu saja tak lepas dari layar ponsel , Selfie tidak tahu menahu dengan apa yang tengah di lakukan oleh lelaki yang kini tinggal bersamanya


"Berisik kamu!" Imran membentak Adik dari mantan kekasih nya yang kini tengah ia manfaatkan. sebab ia merasa Selfie cukup membantunya untuk melancarkan aksinya mengganggu Aditya, dan dari Selfie pulalah ia mengetahui siapa wanita yang di nikahi oleh musuhnya kala muda itu.


Dan saat ia melihat Rianti obsesinya justru lebih kepada Rianti apalagi ketika ia tahu Aditya mengalihkan semua hartanya atas nama Rianti,makin bersemangat lah ia akhirnya,sekaligus membalas Aditya yang memang menjadi musuh abadinya hingga sekarang.


Di bentak seperti itu oleh Imran membuat Selfi terdiam, tak berani menjawab apalagi balik membentak .


Imran berjalan keluar meninggalkan Selfi begitu saja, rupanya Imran merasa tidak rela melihat Aditya dan Roman dua orang sahabat yang dulu menjadi musuhnya malah hidup bahagia dengan istri-istri mereka, sedangkan dirinya kini tak mempunyai kerjaan semenjak di pecat beberapa bulan lalu dari perusahaan tempatnya bekerja , padahal ia sudah mengabdi cukup lumayan lama.


Namun ia di pecat tentu ada alasan nya, Imran melakukan korupsi dalam jumlah sedikit namun sering dan jika di total jumlahnya tentu merugikan perusahaannya.


Beruntung ia hanya di pecat, bukan di laporkan ke polisi karena perusahaan masih menghargai jasanya yang telah bekerja cukup lama itu, dan sekarang Imran hidup dari uang yang di kirimkan Tania untuk Selfi pastinya uang itu adalah uang Roman, musuhnya itu..


Imran membaca pesan yang baru saja masuk ke ponselnya lalu memamerkan senyum liciknya karena apa yang ia rencanakan berhasil.


Pesan dari Aditya yang memang tengah ia nantikan.


Lelaki dengan cambang panjang itu meremas-remas kedua tangannya seakan ia sudah sangat tak sabar untuk melayangkan nya pada wajah Aditya.


Meski ia tahu Aditya mantan pelatih karate namun Imran tetap saja meremehkannya merasa kuat dan tentunya bisa mengalahkan Aditya dan membuatnya minimal masuk ke rumah sakit, yah paling parah jadi penghuni kuburan, pikiran Imran sudah sebegitu jauhnya, padahal tempo hari saja melawan Roman ia tak sanggup, apalagi berhadapan dengan Aditya,,.

__ADS_1


Sungguh terlalu percaya dirinya lelaki bernama Imran ini.


**********


__ADS_2