
"Kak." Rona berbisik di telinga Darren yang tengah mengeluarkan ransel-ransel dari dalam mobil begitu mereka sampai di tempat yang katanya akan menjadi tempat camping mereka selama 4hari.
"Kenapa?" tanya Darren tanpa melihat pada Rona yang sekarang tengah melihat ke sekeliling yang memang banyak sekali kendaraan yang terparkir, tapi di balik gerbang untuk parkir itu ternyata dikelilingi oleh pepohonan yang sangat besar yang mungkin usia nya sudah puluhan atau bahkan ratusan atau mungkin ribuan tahun lamanya.
"Kita camping di sini?" tanya Rona seperti tidak percaya bahwa dirinya akan tidur di tempat yang baru di lihat saja sudah sangat menyeramkan.
"Nggak." Darren menggeleng lalu menutup pintu mobil karena ransel sudah semua di keluarkan.
Rona menarik napas lega seraya mengelus dadanya.
"Syukurlah." serunya tenang.
"Kita camping di atas." ucap Darren kemudian yang sontak membuat mata Rona membelalak merasakan betapa terkejutnya ia sekarang mendengar perkataan Darren.
"Di sini aja udah horor gimana di atas sana." ucapnya seraya merasakan bulu kuduknya berdiri semua.
"Ya emang mau camping di mana? masa di Mall, ngaco kamu mah." Darren menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kenapa nggak di belakang kampus Kakak aja, sama-sama nyeremin kok." bisik Rona yang membuat Darren menyentil keningnya dengan cukup kencang hingga membuat Rona berteriak kesakitan dan membuat teman-teman Darren melihat kepada mereka dan ada satu manusia yang langsung bergegas mendekati Rona.
"Kamu kenapa Rona?" pertanyaan dan raut wajah Rendi yang di buat panik malah membuat kening Darren mengernyit dengan tingkah laku ngeselin si playboy itu.
Tangan Rona tengah mengusap keningnya yang tadi sempat merasakan sentilan jadi Darren menarik perhatian Rendi.
"Kening kamu sakit?" tanyanya seraya menyingkirkan tangan Rona dan kini gantian tangannya yang mengelus kening gadis manis itu membuat mata Darren membelalak lebar.
Darren bersedakep memperhatikan Rendi dengan begitu tajam namun sepertinya Rendi malah dengan cueknya semakin mengelus kening Rona.
__ADS_1
Rona menatap mata Darren yang kini mendelik padanya dengan bola mata yang bergerak seperti tengah memberi kode untuk menepis tangan Rendi, Rona yang paham pun dengan cepat menjauhkan kepalanya menghindar.
"Bawa ransel lu." Darren mendorong Rendi ke arah ranselnya yang masih tergeletak di samping ban mobil.
Nella dan Sherin yang memperhatikan itu hanya bisa saling senggol lengan dengan tatapan yang sangat sinis kepada Rona yang kini tengah berusaha memakai ransel yang malah lebih besar dari tubuhnya di bantu oleh Darren.
"Kamu bawa apa aja sih Na?" tanya Darren sebab sepertinya bawaan Rona lebih banyak dari dirinya.
"Nggak tau, Rona asal masukin aja soalnya." sahutnya dengan cengiran yang tanpa bersalah bahkan setelah Darren menyentil kembali keningnya.
Sebenarnya Darren ingin membawakan ransel milik calon istrinya itu namun gadis itu malah menolak dengan segala alasan, yang katanya nggak enaklah sama yang lain dan seterusnya, jadi mau tidak mau Darren mengalah daripada harus adu mulut dengan gadis yang sudah dia tau pasti tidak akan mau mengalah dengan serangkaian pembelaan.
"Ayo Darren kita berangkat sekarang." Sherin dengan santainya menggandeng lengan Darren dan menariknya berjalan tidak membiarkan Darren berucap dan malah semakin erat memeluk lengan Darren ketika lelaki itu berusaha melepaskan tangannya.
"Masih siang tapi kenapa penghuni tempat ini sudah keluar." sungut Rona seraya makin mempercepat langkahnya.
"Saayaang." seru Rona ketika merasa sangat lelah agar semua mendengar dengan sengaja ia bersuara kencang.
Dan tentu saja rencananya itu berhasil, kini semua mata melihat padanya dan menghentikan langkah termasuk Sherin yang tengah menggandeng Darren.
"Calon suami orang itu Sher." cibir Permana yang membuat Sherin menatapnya dengan sangat tajam seperti sangat siap jika harus membunuh seorang Permana yang sering kali menyindir dirinya.
"Kenapa Na?" Darren bertanya khawatir seraya membungkuk di depan Rona yang sepertinya kelelahan.
"Aku capek." adu gadis itu dengan wajah yang memang sangat terlihat lelah.
__ADS_1
"Kan udah di bilang nggak usah ikut." jawab Darren yang dari awal memang sudah melarang Rona untuk ikut, tapi gadis itu malah dengan ngeyel dan keras kepalanya memaksa tetap ikut dan lihatlah sekarang, baru awal perjalanan saja dan belum ada setengahnya Rona sudah mengeluh.
"Kalau cuma capek manjat-manjat doang sih Rona nggak masalah Kak." bisik Rona pelan di telinga sang lelaki.
"Terus kenapa ngeluh capek barusan?" bingung Darren.
"Capek ngelihatin tuh badut deketin Kakak terus." desisnya.
"Kamu pikir Kakak nggak capek apa lihatin kamu sama Rendi?!" Darren balik menyerang Rona yang memang sejak tadi terus di dekati oleh Rendi.
"Tuh lihat matanya ke sini aja, nih kalau Kakak nggak buru-buru samperin kamu pasti dia duluan nih yang ke sini terus sok-sok perhatian sama kamu." kesal Darren seraya melirik Rendi yang tadi memang sudah bersiap akan berlari saat mendengar suara Rona.
"Cepat Ren." seru teman Darren yang menjadi ketua di acara camping itu.
Darren mengangkat jempolnya.
"Ayo jalan lagi." menarik tangan Rona yang sekarang bersungut kesal.
"Kenapa malah jadi gue yang salah?" gumamnya di samping Darren.
"Nggak usah pake gue-gue, Kakak nggak suka." kata Darren yang mendengar, sepertinya sekecil apapun suara Rona lelaki itu akan mendengar dengan jelas.
"Rona lagi nggak ngomong sama Kakak." kata Rona pelan.
"Kalau ngomongnya di samping Kakak, itu artinya kamu ngomong sama Kakak." Darren berkata sengit seraya matanya tetap fokus ke depan mengikuti langkah teman-temannya.
Rona mendengus kesal seraya memperhatikan Sherin yang terus saja menoleh ke belakang, tentunya orang di samping Rona saat inilah yang di lihat oleh wanita badut itu.
__ADS_1
****