Kamulah Pilihanku

Kamulah Pilihanku
KP M II bagian 71


__ADS_3

Entah bagaimana ceritanya sampai suasana malah menjadi rusuh ketika Bimo menanggapi kecentilan Kila, bahkan pemuda itu sampai duduk di samping Kila hingga akhirnya menyadari adanya Rona di tempat itu.


Melihat ada Rona di situ membuat Bimo mulai melontarkan pernyataan-pernyataan yang menyebalkan hingga Tyo yang malah tidak terima lalu mulai menantang teman suaminya itu untuk berkelahi.


Suasana sudah semakin ramai membuat Rona tampak sangat panik, hingga akhirnya terlintas di dalam kepalanya untuk menghubungi suaminya yang kemungkinan masih ada di kampus.


Rona sedikit menjauh dari teman-temannya yang sudah adu mulut dengan Bimo dan gerombolannya yang kesemuanya lelaki tentu sangat tidak imbang karena temannya yang laki-laki hanya tiga orang.


"Aku lagi mau pulang, kamu dimana? awas aja kalau belum pulang!" Darren langsung mengancam istrinya begitu menjawab telepon.


"Aku di depan kampus Kakak," ucap Rona dengan suara yang terdengar panik.


Darren yang hendak menuju tempat parkir pun menghentikan langkahnya dengan segala pertanyaan yang muncul di dalam kepalanya, kenapa istrinya itu bisa ada di depan kampusnya.


"Ngapain?" tanya Darren heran.


"Kakak kesini dulu, ini Tyo malah lagi ribut sama Bimo," seru Rona panik ketika melihat Tyo malah sudah adu jotos dengan Bimo.


Darren pun mematikan teleponnya lalu beralih ke arah gerbang kampus, melihat ada keramaian di warung bakso membuat dia pun bergegas mendekat.


Rona melihat suaminya yang baru saja keluar dari gerbang pun segera berlari menghampiri dengan wajah yang sangat cemas.


"Kak," suara Rona sangat pelan karena ia tahu suaminya tidak akan suka dengan apa yang tengah terjadi.


"Ngapain sih Na kesini?" tanya Darren menarik nafasnya yang terasa berat.


"Tadi teman Rona ngajak makan bakso, nggak tahunya tukang baksonya disini, terus tiba-tiba temen-temen Kakak Dateng," adu Rona pada sang suami.

__ADS_1


"Kamu tunggu disini!" perintah Darren lalu berlari pada warung bakso yang tampak malah semakin ricuh.


"Rona," seru Permana yang baru saja keluar dari kampus ketika melihat ada Rona berdiri di pinggir jalan dengan wajah yang tegang.


Permana pun melayangkan pandangannya melihat Darren yang tengah berlari cepat, tanpa diberitahu pun Permana sudah bisa melihat sendiri apa yang sedang terjadi membuatnya yang sedang bersama Angga pun sontak menyusulnya.


Keduanya berlari mengejar Darren tentu saja berniat untuk membantu melerai perkelahian yang mereka sendiri pun tidak tahu apa penyebabnya.


"Angga!" seru Desi ketika Angga dan Permana muncul, wanita itu tampak tidak menyangka melihat kekasihnya juga datang.


"Kamu ngapain?" tanya Angga melihat gadis SMA yang menjadi kekasihnya satu bulanan ini.


"Makan bakso, katanya kamu kuliah pagi," kata Desi bingung.


"Kan aku bilang ada rapat buat Maba nanti," sahut Angga kesal mengetahui bahwa kekasihnya juga tengah ikut terlibat dalam kericuhan yang terjadi.


"Kamu sama Rona sana!" perintah Angga pada Desi untuk menjauh dari tempat yang sudah mulai sangat tak jelas itu, meja dengan bangku kayunya bahkan sudah terbalik karena perbuatan Tyo dan juga Bimo dengan teman-teman mereka masing-masing.


"Lu sih ngajak kesini," omel Rona pada Desi yang baru saja berdiri di sampingnya.


"Lagian lu nggak bilang Na kalau lu ada masalah sama anak kampus sini," sahut Desi.


"Lu kok bisa kenal sama cowok itu Na?" tanya Kila menatap Rona penuh pertanyaan, sejak tadi dia bingung kenapa pria yang dia godain kenal dengan Rona bahkan ia juga mendengar pria itu terus saja mengatakan hal tak jelas tentang temannya itu.


"Itu dulu temennya suami gue, tapi ribut pas kita kemah," mata Rona membulat menyadari apa yang ia bicarakan barusan, dari tatapan teman-temannya yang kini melihat dirinya dengan mulut yang terbuka sudah bisa di pastikan mereka mendengar apa yang ia katakan barusan.


"Suami? lu udah nikah?" serbu Desi yang memang berdirinya paling dekat dengan Rona.

__ADS_1


"Pacar kali maksudnya," sambar Kila mencoba untuk berpikiran positif karena menurutnya sangat tidak mungkin Rona menikah di usia yang baru 18 tahun terlebih lagi belum lulus sekolah.


Rona menatap mereka dengan penyesalan karena mulutnya yang tak bisa mengerem saat berkata.


"Please jangan sampe anak-anak yang lain tahu, apalagi pihak sekolah," tutur Rona dengan wajah memelas.


Desi dan Kila serta dua temannya bagaikan tersambar petir mendengar pengakuan Rona, teman mereka nyatanya benar-benar sudah menikah dan mereka tidak mengetahuinya.


"Beneran?" tanya mereka kompak dengan ekspresi yang sangat lucu, benar-benar tidak menyangka pada hal yang baru mereka dengar.


Rona mengangguk, "bukan karena gue hamil!" kata Rona ketika mata keempat temannya itu malah melihat pada perutnya, di dalam kepala mereka mungkin Rona menikah karena sudah hamil duluan.


"Jangan gila lu pada!" sentak Rona kesal.


"Oke, buang pikiran negatif kita," ucap Desi pada dirinya sendiri juga pada temannya yang lain.


"Jadi suami lu yang mana, ada diantara mereka itu?" tunjuk Kila pada gerombolan pria yang tadi ribut kini sudah mulai tenang meski masih saling berdiri berhadapan.


"Itu, yang pakai kemeja navy celana hitam," tunjuk Rona pada Darren yang kini malah sedang dipegangi oleh Tyo, terlihat membingungkan padahal yang tadi berantem dengan Bimo adalah Tyo lalu kenapa yang musti dipegangi adalah pria itu?


"Sialan! terlalu cakep itu buat elu Na!" pekik Kila betapa terkejut melihat suami dari temannya yang terlihat tampan sekalipun sekarang terlihat begitu emosi.


"Mulut lu Kil!" seru Rona dengan delikan matanya, temannya yang satu itu memang selalu saja seenaknya ketika berucap, seperti tidak ada saringan di dalam mulutnya untuk memilih perkataan apa yang ingin dia keluarkan.


Desi ikut menoyor kepala Desi yang baru saja seenak jidat berkata.


__ADS_1


"Jangan lu godain!" Desi memperingatkan karena dia cukup mengenal temannya itu seperti apa centilnya jika sudah melihat pria tampan, dan patut diingat keributan ini terjadi juga karena ulahnya yang dengan lenjehnya menggoda Bimo si pria mata keranjang yang mulutnya pun tidak pernah di jaga jika berkata.


****


__ADS_2