
Rona yang kesal melihat wajah Sherin langsung turun dari motor sang suami membuat Darren terkejut apalagi ketika istrinya itu berjalan cepat menghampiri Sherin dan berdiri di depan wanita yang mendapat julukan badut dari sang istri, apalagi kalau bukan karena dandanan Sherin yang sangat berlebihan sekali.
"Lu itu bisa bawa mobil nggak?!" Rona langsung saja melabrak Sherin karena tak terima dengan apa yang sudah wanita itu perbuat.
Seenaknya saja wanita badut itu memotong jalan mereka tanpa berpikir akibat yang akan terjadi akibat perbuatannya itu sangatlah membahayakan mereka berdua.
"Kalau nggak bisa bawa mobil nggak mungkin gua bawa nih mobil!" jawab Sherin tak mau mengalah bahkan sama sekali tidak berniat untuk meminta maaf atas apa yang ia perbuat.
"Gila lu ya!?" maki Rona yang kali ini justru membuat wanita di samping Sherin tak senang.
Rona yang tak mengenal wanita itu siapa malah mendapatkan tatapan yang begitu menyeramkan dari wanita yang ia perkirakan seusia dengan Mamanya karena tak senang dengan apa yang ia lakukan.
"Hei!" seru Melly menunjuk Rona seperti memberi peringatan untuk tidak terus memaki anaknya.
"Kenapa Tante?! nggak suka? kenyataannya dia emang salah, bawa mobil nggak pake OTAK!" marah Rona dengan sangat berani.
"Kurang ajar kamu ya!" Melly melotot seraya mengangkat tangannya hendak menampar Rona namun Darren lebih cepat menahannya.
"Jangan berani memukul istri saya!" tegas Darren mencengkeram tangan wanita yang wajahnya sudah tampak sangat merah.
"Kalian berdua sudah berbuat salah kenapa tidak meminta maaf malah ingin bertindak kasar!" kata Darren dengan rahangnya yang mengeras menahan kegeraman yang sejak tadi dia rasakan namun melihat lawannya adalah dua orang wanita mau tidak mau dia berusaha untuk menahan amarahnya yang padahal sejak tadi sudah sangat dia ingin luapkan ketika dua wanita sialan itu hampir saja mencelakainya dengan sang istri.
Melly terdiam dengan mata yang mempertegas penglihatannya pada pemuda yang disukai oleh sang anak, dengan jarak sedekat ini ia makin merasa tidak asing dengan wajah di depannya saat ini.
"Siapa Ayahmu?!" tanya Melly.
Darren merasa wanita di depannya ini sangatlah tidak tahu diri sudah membuat orang lain kesal lalu sekarang malah dengan sangat entengnya bertanya siapa Ayahnya.
Apa wanita ini memang sama seperti Sherin? sama-sama tidak punya otak untuk berpikir agar mengucapkan kata maaf atas kelakuan mereka.
"Kenapa malah menanyakan siapa Ayah saya, apa tidak sebaiknya meminta maaf!" sentak Darren menghempaskan tangan wanita yang dia lihat mempunyai kemiripan dengan Sherin.
Darren pun menduga wanita itu masih ada hubungan dengan Sherin karena jangankan wajah, sifatnya saja mempunyai kesamaan.
Meski baru kali ini bertemu Darren sudah menyimpulkan bahwa dua wanita di depannya ini memang memiliki perangai yang sangat buruk, lihat saja apa yang mereka lakukan tadi.
"Darren!" seru Sherin terkejut dengan sikap kasar Darren pada Mamanya.
"Mama nggak apa-apa kan?" Sherin tampak cemas apalagi ketika melihat Mamanya yang kini malah terdiam.
"Oh Mamanya, pantas saja tingkahnya sama," desis Rona mencibir dua wanita yang menoleh padanya secara bersamaan.
"Kenapa? nggak seneng? kenyataannya kayak gitu kok, lihat saja apa yang sudah kalian lakukan, bukannya minta maaf malah ngoceh ngalir ngidul tak jelas seolah tidak pernah melakukan apapun!" seru Rona yang sangat mengetahui jika dua Ibu anak itu sengaja melakukan hal gila tadi.
__ADS_1
"Nggak sopan lu!" maki Sherin tak terima dengan pernyataan Rona, apalagi ketika wanita di depannya itu malah ikut memarahi Mamanya.
"Aditya Erlangga!" kata Melly membuat Sherin yang tadi sedang mengoceh berhenti lalu menatapnya.
Sedangkan Darren yang Rona menunjukkan wajah yang bingung mendengar wanita itu menyebutkan nama Ayahnya.
"Ayo Rona," Darren menarik tangan istrinya sudah tak lagi ingin menanggapi kedua wanita yang masing-masing menampakkan ekspresi yang berbeda.
Melly memicingkan kedua matanya menatap anak dari seorang pria yang dia yakini adalah mantan kekasihnya, perubahan raut wajah Darren ketika mendengar ia menyebut nama Aditya Erlangga sudah bisa membuktikan bahwa dia memang anak dari pria yang dulu sudah dia khianati namun akhirnya pria itu pulalah yang membuat ia menjadi wanita yang rela melakukan apapun untuk bisa kembali bersama dengannya.
Ketika sudah naik ke atas motornya Darren kembali menatap wajah wanita yang masih melihat dirinya lekat-lekat.
Aneh! Darren merasa sangat aneh ketika di dalam kepalanya kini timbul pertanyaan, siapa sebenarnya Mamanya Sherin itu? kenapa kenal dengan Ayahnya? lalu ada hubungan apa di masa lalu? karena sejak kecil Darren merasa tidak pernah melihat wajah sang wanita yang rambutnya berwarna golden brown.
Sampai Darren dan Rona menghilang dengan motor yang mereka naiki, Melly dan anaknya masih berada di tempat tadi dengan kulit wajah Melly yang menjadi pias membuat sang Anak menjadi bertanya-tanya sendiri di dalam hatinya.
"Mama kenapa?" tanya Sherin yang akhirnya memilih untuk bertanya guna mengobati rasa penasaran yang kini menerpa dirinya.
"Kita bicara sambil jalan saja," ucap Melly lalu masuk ke dalam mobil.
Sherin mengernyit bingung namun ia tetap mengikuti perkataan Mamanya itu, ia kembali duduk di kursi pengemudi, memasang sabuk pengaman lalu mulai menjalankan mobil kembali ke jalan raya.
Sejenak terjadi keheningan di dalam mobil merah itu dengan tatapan Melly yang terus tertuju pada jalanan di depannya, wanita itu merasa dunia ini benar-benar sangat sempit karena setelah belasan dua puluhan tahun berlalu ia malah dipertemukan dengan anak dari pria yang dulu sangat ia cintai.
"Hah?" Sherin mengerut tak mengerti akan maksud pertanyaan wanita di sebelahnya ini.
Setelah meredakan kagetnya Sherin pun tampak berpikir sebentar sebelum menjawab pertanyaan dari sang Mama, apalagi ketika ia melihat Mamanya tampak menunggu jawaban darinya.
"Pernah, dulu Sherin dan teman-teman yang lain sering datang ke rumah Darren untuk mengerjakan tugas, tapi sudah cukup lama setelah muncul wanita bernama Rona kami tak pernah lagi ke rumah Darren, bahkan kami semua malah di anggap musuh oleh Darren. Sherin sangat yakin itu semua karena perbuatan Rona! wanita itu wajahnya saja yang terlihat lugu namun hatinya sangat jahat, jahat! dia sudah merebut Darren dari Sherin Ma." Sherin tampak emosional saat mengatakan semuanya.
Wanita itu bahkan menuduh Rona dengan hal yang sama sekali tidak Rona lakukan, padahal penyebab Darren membenci teman-temannya itu karena perbuatan mereka sendiri, dan sekarang dengan tanpa bersalahnya Sherin malah menjelek-jelekkan Rona di depan Mamanya yang tanpa ia lakukan hal itupun akan selalu mendukung apa yang ia lakukan, sekalipun ia melakukan hal salah.
Melly menatap pada sang anak yang tampak mencengkeram erat stir mobil hingga punggung tangannya memutih.
"Bagaimana wajahnya?" tanya Melly mulai sangat penasaran bagaimana penampilan Aditya saat ini.
Sherin menghela nafasnya sesaat lalu menjawab pertanyaan dari sang Mama, "meski sudah tua, tapi Sherin akui wajah Ayahnya Darren itu masih tampan, bahkan saat pertama kali melihatnya Sherin tidak mengira itu Kakak atau Om nya Darren," timpal Sherin mengingat pertama kali ia melihat Aditya.
"Sejak dulu dia memang sangat tampan," sahut Melly membuat Sherin menginjak rem mendadak.
"Mama kenal sama Ayahnya Darren?" usut Sherin dengan wajah yang sangat terkejut, ia tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan, Maminya memuji kalau Ayahnya Darren itu tampan? bukankah artinya Mamanya itu mengenal pria bernama Aditya? raut wajah Sherin penuh pertanyaan yang akan membuatnya mati penasaran jika tidak segera di jawab oleh sang Mama.
"Dia mantan pacar Mama."
__ADS_1
Pengakuan Melly sontak membuat Sherin membekap mulutnya sendiri dengan kedua mata yang membeliak tak menyangka, ia sungguh terkejut dan juga syok dengan pengakuan dari Mamanya itu.
"Om Aditya mantan pacar Mama?" tanya Sherin seolah tidak yakin dengan apa yang tadi terdengar di telinganya.
Melly mengangguk perlahan menunjukkan seraut wajah penuh kekecewaan yang tertangkap jelas di mata sang anak.
"Ayahnya Darren meninggalkan Mami karena wanita lain, wanita itu merusak kebahagiaan yang tengah kami rencanakan bersama," Melly mulai membohongi anaknya menunjukkan bahwa ialah wanita yang tersakiti selama ini.
Sungguh Melly sangat berhasil melakukan itu sampai Sherin pun memukul stir mobilnya.
"Apa wanita itu adalah Ibunya Darren?" tanya Sherin penasaran.
Dan ketika mendapati Mamanya mengangguk lemah, iapun mengumpat tak terima betapa nasib Mamanya itu sekarang seolah ia alami.
Bukankah saat ini pria yang ia cintai juga di rebut oleh Rona? bahkan keduanya juga sudah menikah, meskipun statusnya berbeda dengan sang Mama namun tetap saja Darren adalah pria yang ia cintai, batin Sherin sangat tidak terima kisah Mamanya terulang kembali padanya.
Kisah sang Mama yang pada kenyataannya hanyalah sebuah karangan bebas yang dilakukan hanya untuk menyudutkan Rianti demi membalas sakit hati yang ia rasakan dan sampai saat inipun masih terasa jelas.
"Maka dari itu Mama minta pada kamu untuk memperjuangkan apa yang kamu inginkan. perjuangkan pria yang kamu cintai, jangan sepertinya Mama yang hanya jadi pecundang dan memilih menikah dengan Papamu yang usianya bahkan terpaut jauh dengan Mama, kamu pun sangat tahu bagaimana menderitanya Mama menjalani rumah tangga dengan pria tua. bahkan pria itu meninggal dan menjadikan Mamamu ini seorang janda yang harus mati-matian menangani segala bisnisnya," ucap Melly mengompori anaknya sendiri demi membalaskan dendamnya yang sudah bertahun-tahun itu.
Dendam yang sangat tidak wajar karena dirinyalah yang banyak membuat masalah dengan Aditya bahkan sampai merencanakan hal gila dan jahat terhadap Rianti.
Lalu sekarang dengan gilanya dia malah menaruh dendam dengan keluarga yang sebenarnya tidak bersalah apapun padanya juga menghasut anaknya sendiri.
Sherin menatap sang Mama lalu mengangguk karena memang ia tidak ingin kisah Mamanya itu berulang padanya, terasa sangat miris jika nasib Ibu dan anak harus mengalami hal yang sama.
Sama-sama ditinggalkan oleh pria yang mereka cintai karena wanita lain.
Melly mengulas senyum seraya berkata, "Mama akan selalu membantu kamu," katanya yakin.
Sherin pun kembali melajukan mobilnya dengan sesekali menghembuskan nafas guna menormalkan paru-parunya yang sejak tadi terasa sangat sesak mengetahui kisah cinta Mamanya yang begitu tragis, hingga ia bertekad untuk membalaskan sakit hati Mamanya itu tanpa ia tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Karena ia seorang anak yang akan senantiasa percaya pada perkataan orang tuanya ketimbang mempercayai orang lain, sekalipun orang itu mengatakan hal yang sebenarnya. Sherin tidak akan mau percaya.
*****
__ADS_1