Kamulah Pilihanku

Kamulah Pilihanku
KP M II bagian 89


__ADS_3

Setelah keributan dengan Rendi benar saja setelah itu keduanya langsung di panggil dan mendapatkan peringatan yang cukup tegas, terlebih kepada Darren yang sebelumnya juga sempat berkelahi dengan Bimo.


Kedua mahasiswa itu tidak diperkenankan untuk mengikuti mata kuliah hari itu, karena tidak ada yang akan Darren lakukan di kampus lebih baik dia memilih untuk pulang ke apartemennya.


Rona yang baru saja akan ke dapur langsung beralih ke arah pintu masuk kala mendengar suara pintu yang terbuka.


"Loh Kakak nggak kuliah?" tanya Rona belum melihat wajah suaminya karena pria itu yang memunggungi.


Baru ketika Darren selesai menutup pintu wanita itu sangat terkejut melihat wajah suaminya yang terlihat lebih kacau dari sebelumnya.


"Kakak kenapa?" Rona dengan panik menghampiri sang suami.


"Berantem lagi?" tak ada jawaban dari suaminya membuat dia menebak sendiri apa yang telah terjadi.


"Aduh jangan di tekan gitu Na," protes Darren kala tangan istrinya tak sengaja menekan pipinya yang membiru seraya menjauhkan kepalanya dari jangkauan tangan sang istri.


"Lagian Kakak ini kenapa sih kuliah jadi malah berantem terus, nanti kalau Ayah tau pasti bakalan marah," sungut Rona sangat heran sebab baru beberapa hari suaminya sudah dua kali berkelahi.


"Yang mulai itu pengagum kamu Na, yang nggak terima aku nikahin kamu," sanggah Darren tak terima malah di salahkan.


Kening Rona mengerut tak mengerti kenapa jadi dia yang di bawa-bawa oleh suaminya itu, lalu apa maksudnya dengan kata pengagum? sungguh menambah pikiran orang saja.


"Kak RENDI kamu sayang yang ribut sama aku kali ini," jelas Darren mengetahui istrinya sedang tak mengerti dengan keterangan yang dia katakan tadi.


Terlihat sangat kesal sampai menekan dengan jelas nama Rendi agar Rona mendengarnya.


"Kenapa sih dia kayak gitu? maksudnya apa kok sampai mukulin kamu Kak?" tanya Rona tak mengerti.


"Ya karena dia suka sama kamu, masa gitu aja nggak ngerti," sindir Darren seraya duduk di sofa menyandarkan kepalanya sambil menarik nafas panjang.


"Kok Kakak ngomongnya kayak gitu?!" Rona tampak tidak senang dengan jawaban yang Darren berikan.


"Ya kan memang dia suka sama kamu, kalau nggak percaya tanya aja sana sendiri." Darren malah dengan sangat asalnya memberi usul sedangkan dia tau sendiri bagaimana polosnya istrinya itu.

__ADS_1


"Ya udah aku telepon dia kalau gitu!" kata Rona.


Perkataan Rona membuat Darren blingsatan pria itu segera menarik tangan istrinya hingga terduduk di atas sofa sampingnya Darren pun langsung menjatuhkan Kepalanya di atas paha Rona dan mengangkat kedua kakinya naik ke sandaran lengan sofa itu.


"Kamu mau bikin aku ngamuk lagi ya?!" Darren menatap wajah sang istri yang memang akan selalu saja berhasil membuatnya cemburu jika ada pria yang menyebut namanya apalagi sampai berusaha untuk mendekatinya.


"Tadi kan Kakak sendiri yang suruh aku untuk tanya," jawab Rona enggan disalahkan.


"Ya tapi nggak usah di lakukan juga Rona, kamu jangan kayak anak kecil deh, semua yang di suruh kamu lakuin, harusnya mikir itu di suruh beneran apa cuma sekedar pelengkap kata saja," jelas Darren pada istri kecilnya yang meskipun dia sayang dan cintai namun juga kadang sangat menyebalkan baginya.


Rona mengelus luka yang ada di wajah suaminya itu dengan sedikit meringis karena ia malah seolah merasakan ngilu dengan luka yang dihasilkan akibat perkelahian itu.


"Kak," panggil Rona pada Darren yang memejamkan matanya.


"Hm," Sahut Darren pelan.


"Bisa nggak jangan berantem-berantem lagi, kepala kamu ini kena pukul terus aku takut malah ada luka dalam nantinya," lirih Rona dengan nada suaranya yang terdengar sangat cemas.


Tentu ke khawatiran yang sangat wajar dari seorang istri terhadap suaminya.


"Ngaco kamu nih, nggak bakal ada apa-apa Na, Nih lihat aku nggak kenapa-kenapa, cuma emang ketampanan aku jadi berkurang gara-gara memar." Darren malah dengan sangat narsis berkata menenangkan istrinya yang dari matanya saja sudah sangat jelas bagaimana takutnya wanita itu bila ada sesuatu yang tidak mereka inginkan terjadi.


"Kakak bisa nggak sih sedikit aja pahamin perasaan aku, ketakutan aku, jangan malah ketawa-ketawa kayak gini!" Rona marah melihat suaminya malah menganggap remeh dan mentertawakan dirinya.


Darren segera duduk ketika mendapati istrinya sudah mulai terbawa emosi, kesal atas sikapnya.


"Iya, iya maafin Kakak, Kakak janji mulai hari ini nggak akan ribut-ribut lagi apalagi sampai berkelahi dengan orang lain," kata Darren.


"Beneran? Kakak janji nggak akan kayak gini lagi?"


"Janji asalkan mereka nggak bawa-bawa kamu ataupun mengatakan hal yang tidak mengenakkan tentang kamu, Kakak nggak akan melakukan apapun."


"Apapun Kak! apapun yang mereka lakukan Kakak tidak usah mendengarkannya, termasuk saat mereka menghina aku, jangan pernah berkelahi dengan mereka!" lirih Rona sudah mulai menangis.

__ADS_1


Kenapa sangat susah sekali berbicara dengan suaminya ini.


"Aku hanya tidak mau mereka mengatakan hal yang tidak pernah kamu lakukan Na."


"Tapi aku juga tidak mau Kakak terus terluka seperti ini!" sentak Rona.


"Lihat luka ini! Kakak pikir aku senang lihat Kakak selalu pulang dengan wajah seperti ini?!" Rona menggeleng kepalanya, "nggak Kak, aku nggak suka!" suara Rona sangat bergetar.


Darren terdiam tidak lagi bersuara apapun, dia menarik kepala istrinya untuk bersandar di dadanya lalu mengelus dengan lembut meyakinkan bahwa tidak akan terjadi apapun dengannya.


Sedangkan Rona terus memikirkan bagaimana bila luka itu nantinya malah akan menimbulkan penyakit untuk suaminya tanpa mereka sadari, bukankah semua bisa saja terjadi? terlebih lagi ini bukan yang pertama kalinya.


"Aku cuma minta Kakak untuk berhenti, tolong kendalikan emosi Kakak, aku benar-benar takut Kak," lirih Rona disertai dengan isakan tangisnya yang makin menjadi.


"Kakak janji ini terakhir kalinya, Kakak tidak akan pulang dengan wajah seperti ini lagi, Kakak janji."


Rona masih sesenggukan mencurahkan ketakutan yang tiba-tiba saja muncul di kepalanya ketika melihat wajah suaminya itu.


"Sudah ya, jangan nangis lagi," pinta Darren lalu menciumi puncak kepala wanita di dalam dekapannya itu.


Sedikit demi sedikit akhirnya suara tangisan Rona mulai mereda dan kini tinggal tersisa mata serta hidungnya yang memerah.


Darren mengangkat wajah Rona lalu menunjukkan senyumannya dengan alis yang dia mainkan naik turun menggoda istrinya itu agar tersenyum.


"Jangan senyum-senyum gitu, aku nggak suka," ketus Rona seraya mengusap air mata yang masih tersisa di kedua pipinya.


"Terus sukanya apa?" Darren malah meledek sang istri.


Bukannya menjawab Rona malah berlari ke dalam kamar membuat Darren bingung, lalu sesaat kemudian wanita itu kembali keluar.


"Kakak mandi dulu, aku sudah siapkan airnya, nanti setelah mandi baru obati lukanya," jelas Rona seraya menuju pada sang suami lalu menarik tangan suaminya itu agar berdiri.


Darren mengikuti langkah sang istri masuk ke dalam kamar dengan sesekali mengerjapkan kedua matanya ketika merasakan pandangannya sedikit buram.

__ADS_1


Di kamar mandi Rona membantunya untuk membuka baju yang Darren pakai, dan dengan jahilnya Darren malah mendorong tubuh Rona hingga terduduk di atas kloset.


****


__ADS_2