
Untuk ketiga kalinya Darren hanya bisa duduk diam di dalam mobil ketika sudah berada di depan minimarket dia tak juga turun karena sejak tadi di dalam minimarket itu banyak sekali pengunjungnya dan terlihat sangat antri.
"Ini emangnya awal bulan ya, kok orang pada sibuk ngeborong." gerutu Darren sendiri, sudah tiga minimarket yang dia datangi banyak sekali orangnya, lalu dia pun tadi juga sempat ke apotik namun karena yang jaganya seorang wanita muda dia pun tak jadi membeli apa yang sudah dia niatkan.
Malu, apalagi ketika wanita itu malah terus melihat dirinya dengan sangat intens membuat dia jadi salah tingkah sendiri hingga akhirnya memilih untuk pergi dari apotik itu.
"Ayah pasti punya stok." gumamnya seperti mendapatkan solusi atas permasalahan yang dia hadapi. "Minta sama Ayah aja kalau gitu." akhirnya memilih opsi minta pada Ayahnya itu.
Sebelum pergi ke rumah orang tuanya Darren menyempatkan diri untuk menghubungi Rona, takut kalau dia pulang telat hanya untuk gelembung balon berbagai rasa yang malah membuat istrinya menunggu cemas.
"Halo Na." katanya kala suara cempreng istrinya terdengar.
"Kenapa Kak?" seru Rona cepat seraya tangannya tak bisa diam menekan-nekan remot menukar saluran TV.
"Aku mau ke rumah Ayah dulu ya, mau ambil motor." karena memang selain meminta balon dia juga ingin menukar kendaraan roda empat yang kini dia pakai dengan roda dua andalannya.
"Loh terus mobilnya gimana?" bingung Rona.
"Ya di tinggal, kita pakai motor aja biar duduknya nggak jauhan." terang Darren sambil tertawa.
"Ya udah terserah Kakak aja, tapi jangan lama-lama ya." pinta wanita yang tiduran di atas karpet berwarna hitam bercorak.
"Iya baby. ya udah aku langsung jalan nih." tukas Darren. "Love you." sambungnya.
"Love you to." Rona membalas kata cinta dari suaminya dengan wajah yang sangat sumringah dan bahagia, meskipun Darren mesum dan menyebalkan tapi tetap saja ia tidak bisa menyembunyikan rasa cintanya yang sangat besar pada lelaki itu.
Darren langsung tancap gas menuju rumah orang tuanya begitu selesai berbicara dengan sang istri, perlu memakan waktu setengah jam untuk bisa sampai di rumah masa kecilnya, rumah yang akan selalu menyimpan segala cerita indah tentangnya juga orang tuanya serta Kakak satu-satunya.
Mobilnya langsung nyelonong masuk begitu penjaga yang sudah bekerja cukup lama di rumahnya itu membuka pintu gerbang berukuran tinggi.
"Malam Pak." seru Darren pada Pak Aji dengan senyum ramah dan sopan yang dia miliki.
"Malam juga Den." jawab Aji yang juga ikut memamerkan senyumnya.
Mobil pun dengan leluasa parkir di garasi yang masih terbuka dengan motor besar yang biasa dia kendarai berdampingan dengan mobil milik sang Ayah.
Rianti yang mendengar ada suara mobil berhenti di dalam garasi pun melongok dari pintu yang terhubung ke dekat dapur.
"Belum sehari udah muncul aja di sini, Rona mana?" tanya sang Ibu ketika sang anak turun dari mobil dan berjalan ke arahnya seraya memainkan kunci mobil yang dia pegang.
__ADS_1
"Emangnya Darren udah nggak boleh ke sini. Rona di apartemen." sahut Darren seraya merangkul tubuh sang Ibu.
"Kok di tinggal? kenapa nggak di ajak aja." oceh Rianti.
"Tadi mau ke minimarket tapi yang mau di beli nggak ada ya udah mampir aja." menjawab ringan padahal jawabannya itu sangat tak masuk akal, bukankan jarak apartemen ke rumah orang tuanya itu cukup memakan waktu, minimarket juga pasti lebih dekat di apartemen ketimbang ke rumah orang tuanya ini.
"Alasan." cibir Rianti yang tau bahwa anaknya itu hanya tengah ngelantur dan mencari alasan saja.
"Hehehe." Darren malah tertawa konyol sambil bergelayut manja pada Ibunya. "Ayah mana Bu?" tanyanya kemudian.
"Nah kan." celetuk Rianti seperti sudah mengira bahwa tujuan anaknya itu datang adalah suaminya.
"Di ruang kerja, ya udah sana temui Ayah, Ibu mau tidur." seru Rianti lalu menjauh guna menaiki tangga menuju kamarnya.
"Assalamualaikum." ucap Darren seraya membuka pintu dan melongokkan kepala serta sebagian tubuhnya menjulur ke dalam ruangan.
"Waalaikumsalam." jawab Aditya mengalihkan pandangannya dari layar laptop yang sejak tadi memusingkan kepalanya karena tuntutan pekerjaan yang harus segera dia selesaikan malam itu juga.
Darren sudah menunjukkan wajah dengan bibir yang melengkung tersenyum.
Aditya membuang nafas lalu bersandar di kursi kerjanya dengan tatapan yang menanti apa yang ingin disampaikan oleh sang anak, meskipun Darren belum mengatakan apapun namun dia sebagai Ayah tampaknya sudah cukup mengerti pasti ada sesuatu yang diinginkan oleh anaknya itu.
"Kalau mau ngomong cepat, kerjaan Ayah masih belum selesai." tukas Aditya.
Aditya membuang nafas kasar. "Makanya cepetan lulus kuliah, biar kamu yang gantiin Ayah." sambar Aditya cepat membuat Darren menutup mulutnya rapat.
Tidak ada tanggapan dari sang anak membuat Aditya mendengus sebal. "Jangan lama-lama di sini, kasihan Rona sendiri." Aditya mengingatkan anaknya karena kini sang anak memang sudah menjadi kepala keluarga dari seorang wanita.
Darren mengangguk sambil menggaruk kepalanya dan mengacak rambutnya hingga jadi berantakan. "Ayah punya stok nggak?" sepertinya tidak perlu basa-basi apapun lagi pada sang Ayah, dan hanya berharap bahwa Ayahnya itu akan langsung mengerti dengan yang dia katakan.
Namun sepertinya Darren lupa, bahwa Ayahnya itu tergolong orang yang sulit di tebak, orang lain mengira dia bisa mengerti dengan cepat tapi nyatanya malam ini Darren mendapatkan kerutan di dahi sang Ayah sebagai tanda jika Ayahnya itu tidak mengerti dengan apa yang sedang dia katakan.
"Stok uang? banyak mau berapa? baru juga mulai udah kelimpungan aja." sindir Aditya seenaknya.
__ADS_1
Darren memutar matanya mendengar pertanyaan sang Ayah yang malah menyangka dia tengah kekurangan uang.
"Bukan Ayah." sergah Darren cepat agar Ayahnya tidak semakin ngelantur.
"Terus apa?" usut Aditya tak mengerti.
"Pengaman, Ayah ada stok nggak?" tanya Darren akhirnya yang langsung di mengerti oleh sang Ayah.
"Modal dong, mau gituan masa minta sama Ayah. lagian pengantin baru masa pakai pengaman?" bingung Aditya merasa aneh.
"Tadi Darren mau beli tapi malu, Rona juga masih belum mau punya anak Ayah, habis ini kan dia mau kuliah terus Darren juga masih belum lulus." terang Darren.
Aditya menggeleng-gelengkan kepalanya. Papah mertua kamu itu Dokter kandungan, lebih baik kalian konsultasi dulu sama dia, kontrasepsi apa yang baik untuk pasangan pengantin baru seperti kalian ini, lagian emangnya yakin mau pakai pengaman gituan?" tanya Aditya dengan wajah yang terlihat sangat serius.
Darren pun jadi ikut serius lalu bertanya. "Memangnya kalau Darren pakai pengaman kenapa?" tanya anak yang selalu tidak mau kalah pada Ayahnya itu.
Aditya memajukan tubuhnya lalu berbisik. "Enggak enak." sangat pelan namun dari ekspresi yang Darren tunjukkan membuat Aditya menahan tawanya.
"Ayah bohong nih." seru Darren tak mau terima.
"Kan Ayah lebih pengalaman daripada kamu." sahut Aditya seraya menaik turunkan alisnya menggoda sang Anak yang kini bingung karena perbuatannya.
__ADS_1
Sepertinya setelah ini Darren akan memilih konsultasi dulu pada Papah mertuanya seperti yang di sarankan oleh sang Ayah.
****