Kamulah Pilihanku

Kamulah Pilihanku
KP M II bagian 50


__ADS_3

Gerbang yang terbuka sedikit membuat Darren bisa melihat ke arah dalam dimana rumah mertuanya berdiri kokoh, agak merasa aneh karena ini sudah bisa di bilang malam namun gerbang terbuka dan pintu rumah pun juga terbuka dengan lampu ruang tamu yang masih menyala.


Dengan mata yang memicing Darren pun mendorong motornya masuk melewati gerbang yang terbuka itu dan di sambut dengan penjaga rumah yang juga sudah cukup lama bekerja bersama sang mertua. "Loh den, sama siapa?" tanya bagus yang pasti sekarang usianya tak berbeda jauh dengan mertua dan Ayahnya Darren.


"Sendiri, lagi ada tamu ya Pak?" tanya Darren sebab dia melihat ada motor yang terparkir tak jauh dari posisinya berdiri saat ini.


Lelaki yang memakai jaket hitam itu pun mengangguk seraya menjawab. "Katanya sih temennya Non Rona." sahut lelaki itu.


"Temen Rona?" kernyitan di dahi Darren menandakan bahwa dia tengah berpikir siapa yang di maksud teman oleh Bagus.


Terdiam sebentar lalu bola matanya membesar seperti teringat akan sesuatu. "Jangan-jangan si bocah tengil nih." seru Darren lalu berjalan cepat menuju rumah utama dan meninggalkan motornya yang belum dia standar begitu saja hingga motor besar itu jatuh bebas dengan suara yang membuat langkahnya berhenti.


"Lecet dah." seru Bagus kaget sambil mencoba untuk kembali membangunkan motor itu yang tengah dalam posisi tergeletak di dekat kakinya.


Darren berhenti namun hanya melihat saja dan kembali melanjutkan langkahnya seakan tidak peduli motor kesayangannya mau lecet atau bagaimana sebab yang ada di dalam kepalanya saat ini adalah buat apa bocah tengil datang ke rumah mertuanya? sudah pasti untuk mencari Rona bukan? tidak mungkin mencari Papah mertuanya apalagi Mamah mertuanya.


Langkah Darren makin cepat seiring dengan bulatan matanya yang membesar tak terkendali kala melihat siapa yang sekarang keluar dari dalam rumah bersama dengan Papah mertuanya.


Ya Rendi, playboy kampus nan banyak tingkah buat apa datang ke rumah mertuanya malam-malam begini? tentu Darren akan menaruh curiga yang amat besar karena Rendi belum lama mengenal Rona tentu juga tidak akrab dengan orang tua Rona bukan? jadi buat apa playboy itu datang jika tidak mempunyai maksud tertentu.


"Ngapain lu di sini?!" serang Darren bahkan dia sampai lupa untuk mengucapkan salam pada Papah mertuanya yang kini berdiri di depan pintu dengan tenangnya.


"Assalamualaikum wahai anak muda." seru Roman menyindir sang menantu dan untungnya menantunya itu sangat peka hingga langsung berjalan padanya mengucapkan salam lalu mencium punggung tangannya.


"Assalamualaikum Pah." tutur Darren yang di jawab oleh mertuanya dengan cepat.


"Waalaikumsalam."


Setelah selesai dengan mertuanya Darren pun kembali memfokuskan tatapan kesalnya pada teman kampusnya yang juga tengah menatapnya.


"Lu belum jawab pertanyaan gue!" ketus Darren ingat bahwa tadi dia sempat bertanya mau apa Rendi datang ke rumah Rona.


Rendi menunjukkan wajah santai dan ketenangan yang amat luar biasa dahsyat, seperti tidak peduli bahwa tengah ada ombak besar yang akan menggulungnya hingga ke tengah lautan.


"Cuma mau tawarin Rona buat kuliah di kampus kita." sahut Rendi acuh.


"Lu jadi sales kampus sekarang?" cibir Darren sadis.


Bagi Darren ucapan Rendi itu sungguh amat konyol, buat apa playboy itu menawarkan Rona untuk kuliah di kampus yang sama dengannya? apa playboy itu memang sangat berniat untuk mendekati istrinya? sialan dan sangat kurang ajar memang, dia suaminya mana mungkin membiarkan ada lelaki lain yang mencoba untuk mendekati sang istri.

__ADS_1


Rendi berdecih lalu mengalihkan wajahnya menatap ke arah lelaki yang sejak tadi hanya menyaksikan dan mendengar saja adegan yang terjadi di depannya tanpa mau melerai atau ikut tampil pada pembicaraan dua anak muda yang satu suami dari anaknya dan yang satu menaruh rasa suka pada anaknya, yah setidaknya itulah yang Roman ketahui sejak tadi Rendi datang ke rumahnya, tanpa pemuda itu katakan pun dia sudah bisa membaca gelagat Rendi, dia pernah muda dan dia seorang mantan playboy jadi dia cukup tau seperti apa yang akan seorang lelaki tunjukan jika sedang mengincar seorang wanita, seperti yang tengah di lakukan oleh Rendi saat ini, mendatangi rumah wanita yang dia sukai lalu melakukan pendekatan, namun sayangnya Rendi tak mendapat kesempatan untuk mendekati anaknya karena kini anaknya itu sudah memiliki suami.


"Nah elu sendiri ngapain di sini? Rona nya nggak ada" Rendi berkata sinis karena yang dia tau Darren dan Rona itu memang sepasang kekasih, tidak lebih.


"Urusan gue mau kemana aja juga mau tidur sama Rona juga nggak ada urusan sama elu." sengit Darren yang membuat Rendi menatap pada Roman.


"Dengar kan Om, Darren ngomong apa barusan? dia itu nggak sopan sama Rona. baru pacaran aja udah niat tidur sama Rona." sepertinya Rendi tengah memanasi Roman yang tanpa dia tau tengah menyenggol kaki Darren untuk tidak semakin menjadi, Rona masih belum lulus sekolah pernikahan juga belum di ketahui oleh orang luar kecuali keluarga mereka saja, bukankah lebih baik jika Darren berhenti berbicara?.


"Sudah malam, kamu pulang sana, soal kuliah Rona dan kampus yang kamu tawarkan untuk Rona biar saya pikirkan lebih dulu." kata Roman pada Rendi agar pemuda itu segera pergi dari rumahnya.


Mendengar perkataan Roman yang secara terang mengusirnya itu Rendi pun hanya mendengus dengan lirikan mata yang sangat tajam pada Darren, lirikan mata penuh ancaman.


"Rendi pamit ya Om." kata Rendi kemudian.


"Lu juga pulang sekarang." dengan seenaknya Rendi malah mengajak serta Darren untuk pulang juga, Darren yang tadi tengah menyunggingkan senyum sinisnya malah jadi melotot karena ajakan darai playboy Rendi.


"Gue ada urusan, lu yang di suruh pulang bukan gue!" Darren mendelik kesal.


"Yang saya suruh pulang itu kamu RENDI." Roman berkata tegas sehingga Rendi tak bisa berkutik, bukankah dia sekarang tengah mendekati Rona, jadi setidaknya dia harus berusaha mengambil hati orang tuanya dulu bukan? begitu yang ada di dalam pikiran pemuda itu saat ini.


Rendi pun kembali mengatakan pamit lalu dengan begitu malasnya menuju motor dan dengan tidak rela nya meninggalkan Darren bersama Papah dari wanita yang dia sukai.


Kepergian Rendi diiringi dengan ekspresi kemenangan dari Darren yang bergegas cepat masuk ke dalam rumah mengikuti sang mertua.


"Hm." suara Roman yang memang menanti maksud kedatangan menantunya itu, sudah pasti ada maksud tersendiri sehingga menantunya itu datang malam-malam begini tanpa anaknya.


Darren duduk di depan mertuanya yang memang hanya sendiri sebab kemungkinan Mamah mertuanya sudah tidur di dalam kamar sana.


"Sepertinya Rona memang akan kuliah di tempat Rendi." Roman membuka mulutnya.


"Soal kuliah Rona biar Darren yang putuskan harus dimana Pah, Darren Kan suami Rona." sahut Darren yang sudah menunjukkan posisinya sebagai seorang suami.


"Tapi Papah setuju dengan yang Rendi tawarkan." jawab Roman tenang.


Mata Darren membulat tak percaya kenapa bisa mertuanya malah lebih mendengarkan si playboy Rendi ketimbang dirinya.


"Tapi Darren nggak setuju, Darren nggak bakal ijinin tuh playboy deket-deket sama istri Darren." sepertinya sudah siap untuk beradu argumen dengan sang mertua di hari keduanya sebagai seorang menantu.


Roman memutar bola matanya jengah, anaknya Aditya mulai menunjukkan taringnya sebagai seorang suami yang posesif dan pencemburu, mungkin itu yang ada di kepala Roman sekarang ini.

__ADS_1


"Bukankah kamu juga kuliah di kampus yang sama dengan Rendi itu? kamu bisa mengawasi istri kamu Darren!" tutur Roman tegas.


Darren mengecilkan matanya lalu menggaruk kepala dengan sangat bodohnya, dia baru sadar bahwa dirinya kuliah di tempat yang sama dengan Rendi, lalu kenapa dia mesti khawatir? bukankah jika Rona kuliah di tempat yang sama malah akan memudahkannya untuk mengawasi istrinya itu dari para buaya semacam Rendi itu.


"Papah sih terserah kamu, kalau kamu mau Rona kuliah di tempat lain pun Papah setuju saja, kan yang punya hak atas Rona itu kamu. tapi resikonya di kampus lain pasti akan ada pemuda semacam Rendi itu yang akan diam-diam mendekati istrimu tanpa kamu tau." tutur Roman, yang entah sebuah ancaman, peringatan atau menakut-nakuti karena senang melihat menantunya menjadi panik seperti sekarang ini.


Ekspresi Darren sungguh sangat tak biasa ketika mendengar apa yang mertuanya itu tuturkan dengan sangat tenang, pemuda semacam Rendi yang mendekati Rona jika kuliah di kampus lain tanpa pengawasan darinya sungguh tidak akan bisa dia bayangkan seperti apa cemburu yang nanti memenuhi hatinya.


"Sepertinya Darren setuju dengan apa yang Papah katakan, Rona memang lebih baik kuliah di kampus Darren." kata Darren akhirnya.


"Dasar keturunan Aditya." tukas Roman seraya menggelengkan kepala. "Kamu ngapain ke sini? Rona kenapa nggak di ajak?" Roman yang sejak tadi tau pasti ada tujuan dari menantunya itu pun mulai bertanya.


Darren cengengesan tak jelas sambil menundukkan kepalanya malu ketika ingin menanyakan perihal pengaman yang harus dia dan Rona pakai agar bisa menunda kehamilan seperti yang dia dan Rona sudah sepakati.


Setelah menunggu lama akhirnya Darren mengungkapkan maksud kedatangannya untuk hal apa.



"Kata Ayah nggak enak kalau pakai itu." mengadukan pernyataan Ayahnya pada sang mertua.


Roman menepuk dahinya dengan sangat keras. "Astaga Aditya." gemas pada temannya sendiri lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Besok bawa Rona ke rumah sakit Papah aja." kata Roman akhirnya, dia tidak mau berbicara panjang lebar sebab dia sudah sangat ngantuk dan tentunya dia juga tau saat ini Rona pasti sudah sangat kesal menunggu suaminya itu pulang.



Darren menarik napas lalu menatap wajah mertuanya dengan tatapan memelas. Roman mengerti maksud tatapan anak muda di depannya itu.



Tanpa berkata Roman meninggalkan Darren seroang diri namun tak lama lelaki itu kembali keluar dan menyerahkan sebuah bungkusan kecil. "Pakai ini dulu." katanya diiringi dengan tatapan mata dari Darren.



"Makasih Pah." binar mata Darren pun sangat terlihat jelas.


"Pulang saja, besok jangan lupa ajak Rona." tukas Roman pada sang menantu yang sudah berdiri dan mencium punggung tangannya.


Darren mengangguk cepat lalu melenggang dengan ringan merasa mendapatkan solusi yang sangat baik dari mertuanya itu.

__ADS_1


Menaiki motor dengan sunggingan senyum yang tak kunjung luntur dari bibir seksinya dengan disaksikan gelengan tak percaya dari mertua yang betapa takjub karena memiliki menantu yang memiliki sifat tak berbeda jauh dari temannya namun di tambah dengan kepolosan yang sulit dia percaya.


****


__ADS_2