
"Kok rapi banget." celetuk Rona kala mendapati suaminya sudah rapi dengan pakaian yang lumayan formal, meski hanya kemeja dengan celana bahan warna hitam tanpa perlu memakai dasi, namun bagi Rona itu terlalu luar biasa terlebih lagi penampilan Darren yang sehari-harinya berpakaian santai hanya kaos dan Hoodie dan dipadukan dengan celana jeans yang di bagian lututnya tak jelas bentuknya, bukankah penampilan sehari-hari pemuda itu sangat berbeda jauh dengan Ayahnya? yang meskipun berada di rumah akan selalu memakai pakaian dengan bentuk yang terbilang jelas, tidak robek-robek seperti itu.
Darren menangkup wajah istrinya dengan gemas. "Aku kan harus ke kantor, baby!" dengan mimik yang lucu lalu setelah menyelesaikan kalimatnya pemuda itu malah memajukan bibirnya bagaikan seekor ikan kekurangan air dan mengecup sekilas bibir merah di depannya.
Darren mengambil jaket dari dalam lemari. "Kita berangkat sekarang." katanya seraya melenggang ke luar kamar.
"Oke." sahut Rona yang juga mengambil tas sekolahnya lalu memasukkan HP serta bedak juga sisir peralatan andalan bagi remaja seusianya, sungguh tingkah anak sekolahan zaman sekarang.
Darren yang tengah berdiri di ruang tengah guna mengecek HPnya tak sengaja di tabrak oleh Rona yang memang akan selalu berlari jika merasa tengah di tunggu, apalagi yang menunggunya saat ini adalah pemuda keturunan dari Aditya Erlangga yang terkenal akan ketidak sabarannya.
"Pelan-pelan Na." suara berat Darren memperingatkan wanita baru saja menabraknya dan kini sudah berdiri di sampingnya seraya merangkul lengan pemuda yang hari ini sungguh sangat memberikan pesona yang luar biasa berlebihan, penampilan urakan saja sudah sebegitu mengagumkan apalagi penampilan seperti ini? bisa kita lihat Rona takkan mampu untuk membiarkan suaminya itu berkeliaran seorang diri, tapi sepertinya meski dengan berat hati ia harus membiarkan Darren bebas dari pengawasannya karena pemuda itu memang harus bekerja untuk menghidupi mereka berdua.
"Ayo suamiku kita jalan." kata Rona dengan wajah mendongak dan ekspresi yang sangat centil.
Darren yang baru selesai mengantongi HPnya menoleh lalu dengan dahi mengernyit memegang kedua bahu Rona dan menggeser tubuh wanita itu hingga mereka berhadapan.
Rona memasang tampang bingung termasuk ketika Darren malah seperti sebuah alat yang tengah memindai dirinya dengan tatapan dari ujung rambut hingga ke kakinya.
"Kamu kalau sekolah kayak gini?" tanya Darren membuat Rona jadi memperhatikan dirinya sendiri, menunduk melihat penampilannya, tidak ada yang salah, dia memakai seragam sekolah yang biasa dia pakai dulu dan dengan sepatu yang wajar untuk anak sekolahan menengah atas seperti dirinya, bukan sepatu lancip yang sering di pakai tante-tante berdandanan menor.
Sangat wajar dan manusiawi, lalu apa maksud dari pertanyaan Darren barusan?.
Merasa tidak ada yang aneh dengan dirinya Rona pun mengangguk. "Ya emang kayak gini. memangnya harus gimana?" malah balik bertanya sebab ia juga tak paham dengan apa yang dipikirkan oleh suaminya itu. "Ada masalah?" sambung Rona dengan alis yang naik sebelah.
"Ini penuh masalah." menyahut namun terdengar seperti sebuah gerutuan sebab di saat mulutnya bergerak kakinya juga ikut bergerak kembali masuk ke dalam kamar, selang semenit kemudian sudah kembali keluar dengan membawa Hoodie hitam kesayangannya.
__ADS_1
"Pakai!" katanya tegas memberikan Hoodie itu ke tangan istrinya.
"Kok harus pakai ini?!" bukannya segera memakai Hoodie itu, mulut Rona malah mengajukan pertanyaan.
Darren menarik napas kasar sebelum berucap. "Baju kamu kekecilan, udah kayak anak TK begitu!" bentak Darren yang memang mendapati lekukan istrinya begitu mencolok dengan kemeja sekolah yang ketatnya melebihi KTP. Darren bingung apa wanita itu tidak kesulitan bernapas dengan pakaian yang lebih mirip seperti tengah mengepres tubuhnya.
"Tapi ini kan ngetren Kak." sahut Rona namun tetap menurut untuk memakai Hoodie itu melapisi tubuhnya.
Bibirnya terus mengomel dengan tangan yang kini bergerak mengincar rok Abu-abu yang di pakai Rona, rok yang tadinya di pakai Rona sampai pinggang dengan nyolot Darren tarik ke bawah, namun nyatanya rok itu tetap saja terlihat sangat mini.
"Ck." berdecak kesal. "Ada rok lain yang lebih manusiawi dari ini nggak?!" tanya Darren dengan mata buas.
__ADS_1
Rona menggeleng pelan, karena memang dia hanya membawa satu setel saja seragam sekolah, dan lagi Darren pun membiarkan Rona menunggunya di depan pintu kamar sedangkan dia pergi ke arah dapur, entah apa yang sekarang pria itu cari.
Darren kembali dengan gunting di tangan kanannya, membuat Rona hanya bisa pasrah tanpa bisa berbuat apa-apa, menunggu suaminya melakukan apapun yang pria itu mau.
Saat suaminya mulai berjongkok di depannya Rona sudah bisa menebak apa yang pria itu akan lakukan dan detik berikutnya Darren mulai sibuk membuka lipatan yang di jahit di ujung rok yang Rona pakai.
Darren kembali berdiri setelah menyelesaikan pekerjaan dadakannya di pagi hari itu, merasa cukup puas karena rok yang sudah terlihat lebih panjang dari sebelumnya.
"Jalan sekarang, aku kesiangan." katanya kemudian seraya melemparkan gunting secara asal yang untungnya mendarak ke atas meja ketika melewati ruang tamu.
"Kak Kakak yang buat kita kesiangan." protes Rona sambil mengekori sang suami.
"Pakaian kamu yang bikin ulah." ketus Darren tanpa menoleh.
Rona sudah tak bisa menjawab lagi namun dari hentakkan kakinya dapat di pastikan bahwa ia dongkol dengan suaminya itu, bukankah sekarang roknya jadi terlihat sangat jelek karena bekas lipatan serta jahitan yang di buka oleh suaminya menyebalkan nya itu.
__ADS_1
*****