Kamulah Pilihanku

Kamulah Pilihanku
KP M II bagian 41


__ADS_3

Lihatlah betapa semangatnya Darren ketika telinganya mendengar suara ketukan dari arah pintu senyumnya terus saja mengembang sempurna di bibirnya yang berwarna pink alami karena memang sampai saat ini dia tidak pernah menghisap rokok tidak seperti teman-temannya yang bahkan bisa menghabiskan satu bungkus rokok dalam sehari.


Langkahnya begitu ringan kala menuju pintu, sudah bisa membayangkan bahwa malam pertamanya akan segera terlaksana.


"Pintunya kan nggak aku kunci saya.." kata-katanya terputus kala mendapati wajah siapa yang ada di balik pintu sekarang ini.


"Kok nggak di terusin?" ledek sang Papah mertua karena dia tahu kalimat apa yang terputus dari mulut menantunya itu, apalagi ketika dia mendapati Darren yang tengah melongok ke sana sini, tentu saja mencari istrinya.


Darren tertawa kaku seraya menggaruk tengkuknya. "Papah kok belum tidur?" basa-basi Darren pada lelaki yang tadi siang tangannya dia jabat dengan sangat erat.


"Ini mau tidur." dan dengan tenangnya menggeser tubuh Darren agar dia bisa masuk ke dalam kamar di tengah keterkejutan sang menantu yang masih berdiri bingung di depan pintu dengan tangan yang kali ini menggaruk lehernya tak jelas.


Darren masih saja melongokkan kepalanya keluar pintu guna mencari sosok sang istri yang tadi meninggalkannya.


"Nggak usah di cari, Rona tidur sama Mamahnya." kata Roman ketika sudah berselonjor santai di ranjang pengantin yang sudah tidak ada lagi bunga di atasnya karena perbuatan Darren tadi yang menyingkirkan bunga itu karena kesal menunggu sang istri tak juga kunjung kembali.


"Rona minta Papah temenin kamu di sini." sambung Roman.


Sang Papah mertua tersenyum menyebalkan mendapati betapa kagetnya raut wajah Darren kali ini, ini malam pertamanya tapi Rona malah meninggalkannya sendiri, tidak, bukan sendiri ini malah lebih parah karena malah meminta Papahnya untuk menemani suaminya.

__ADS_1


"Ronaa." Darren menggeram gemas dalam hatinya namun tidak berani menunjukkan pada sang mertua yang sudah nampak asik dengan posisinya di atas ranjang yang seharusnya menjadi saksi penyatuan antara dirinya dan sang istri.


Tapi sekarang? lihatlah bukan seorang wanita cantik yang ada di atas ranjang, melainkan seorang lelaki yang beberapa hari lalu sempat begitu marah dan kecewa padanya atas apa yang sudah dia lakukan terhadap Rona.


"Kamu nggak mau tidur? udah malam ini." seru Roman ketika Darren tak juga beranjak dari pintu kamar.


Darren mendesah panjang sebelum melangkahkan kakinya, konyol, sungguh Darren merasa sangat konyol dengan kelakuan Rona bisa-bisanya dia harus tidur dengan Papah mertuanya.


"Ngapain tarik napas begitu? nggak senang Papah tidur di sini?!" tanya Roman membuat Darren gelagapan dan langsung menggeleng cepat.


"Nggak Pah, Darren cuma capek aja kok, hehe." berusaha tertawa dengan batin yang terus berbicara mempertanyakan kenapa mertuanya ini begitu sensitif padanya, padahal dia hanya menarik napas saja, meski sebenarnya memang ada rasa jengkel, itupun jengkel terhadap Rona bukan sang mertua.


"Ya kalau capek tidur, kenapa malah diri aja, tadi siang emangnya nggak puas berdiri?!" nah kan terlihat sekali betapa sensitifnya Roman ini.


Dalam hatinya Roman tertawa puas melihat tingkah anak dari Aditya itu, sungguh bukan maunya membuat Darren seperti itu tapi semua yang dia lihat sejak tadi membuat dia terhibur, penderitaan sang menantu karena gagal malam pertama sungguh akan menjadi lelucon yang menggelikan nantinya.



Sudah hampir tengah malam di saat Roman merasa tidurnya sangat terganggu karena ulah menantunya yang tidur tak bisa diam, bergerak kesana-kemari tampak sangat gelisah membuatnya kesal bukan kepalang.

__ADS_1



"Darren." seru Roman yang membuat Darren tersentak dan duduk menatap sang mertua.



"Kenapa Pah?" tanyanya panik, bagaimana tidak panik jika suara mertuanya terdengar sangat keras.


Roman mendengus kesal dengan tatapan yang mengerikan. "Kamu nggak bisa tidur?" tanya Roman membuat Darren bernapas lega, karena sang mertua hanya menanyakan hal itu tadi dia pikir Papah mertuanya itu akan mengamuk karena perbuatannya yang sudah mengganggu tidur.


"Nggak bisa Pah." Darren terus terang dan berharap mertuanya menanyakan 'kenapa dia tidak bisa tidur' lalu dengan yakin Darren akan menjawab karena ingin tidur bersama Rona, setidaknya itulah yang ada di dalam pikiran Darren agar Papah mertuanya mau memaksa Rona untuk tidur dengannya.


Tapi sepertinya rencana Darren hanyalah sebuah rencana saja tanpa bisa di realisasikan karena pertanyaan yang Darren harapkan tidak keluar dari mulut sang mertua.


"Ya sudah temani Papah main catur kalau begitu, gara-gara kamu Papah juga jadi nggak bisa tidur." pungkas Roman lalu keluar dari kamar dan kembali dengan papan catur kesayangannya.



Wajah Darren sungguh betapa melasnya saat ini, ingin tidur dengan istri tapi malah di ajak main catur yang pastinya malah akan menambah pusing kepalanya bertambah.

__ADS_1


"Rona kamu nggak kasihan sama suami kamu." keluh Darren dalam hatinya ketika Roman sudah menggelar papan catur di depannya.


****


__ADS_2