Kamulah Pilihanku

Kamulah Pilihanku
KP M II bagian 65


__ADS_3

Mulut Rona mengerucut menyaksikan suaminya yang terlihat sangat sensitif, suaminya itu seakan tengah menunjukkan sisi lain dirinya yang tidak di ketahui oleh Rona.


Sisi seorang lelaki posesif dan pencemburu kini perlahan mulai terlihat jelas, sangat jauh berbeda dari Darren yang dulu Rona kenal bahkan harus membuat Rona mati-matian mengerjar lelaki yang dulu begitu acuh bahkan terkesan ketus padanya, tapi kini setelah menikah meski sifat acuh dan ketus tetap ada namun sekarang malah di tambah dengan sifat posesif dan pemarah yang tidak Rona pahami.


"Kamu kenapa sih Kak, baru pulang kok sudah marah-marah nggak jelas," kata Rona ketika ia yang baru selesai mandi mendapati suaminya melempar handphone miliknya.


Rona merasa aneh karena tadi saat berada di kantin kampus saja suaminya itu masih bersikap mesra dengannya bahkan memanggilnya dengan kata sayang, sungguh terasa aneh jika ketika sampai di apartemen suaminya malah menunjukkan wajah dingin disertai dengan tingkah lakunya yang terlihat jelas jika suaminya itu tengah marah.


Darren melihat wajah istrinya yang masih tampak basah setelah mandi, wajah Rona menyiratkan kebingungan yang sangat jelas, Darren mengernyit heran bisa-bisanya istrinya itu benar-benar melupakan kejadian saat dia memergoki istrinya itu tengah di bonceng oleh teman sekolahnya yang memang kerap memancing keributan dengannya.


"Kamu beneran lupa sama apa yang udah kamu buat sampai bikin aku kesel?!" tanya Darren dengan raut wajah tak percaya, seorang Rona yang baru berusia 18 tahun sudah mengalami kepikunan, bukankah hal yang sangat tidak mungkin.


Rona menggeleng dengan tampilan wajah yang sangat polos, wanita itu sungguh sangat konyol, suaminya sudah sedemikian emosi karena cemburu yang menumpuk, lalu istrinya itu malah menggeleng dengan polosnya?


Astaga! haruskah Darren berteriak di telinga istrinya itu agar sadar kalau dia tak suka istrinya berdekatan dengan laki-laki lain apalagi sampai duduk berboncengan di motor yang pastinya tubuh mereka akan saling bergesekan.


"Sudahlah aku mau tidur!" sentak Darren lalu beranjak menuju kamar dengan mulutnya yang masih berceloteh, "kalau aku bonceng cewek lain jangan marah! nggak peka banget jadi orang!" seru Darren.


Mata Rona membeliak mendengar celotehan dari sang suami, wanita itupun sontak menepuk keningnya menyadari kebodohannya, kenapa ia bisa sampai lupa pada kejadian tadi siang saat Darren menghentikannya ketika tengah berboncengan bersama Tyo.


Rona pun baru menyadari kalau sejak tadi suaminya marah karena hal itu, langsung saja Rona bergegas mengejar suaminya yang sudah masuk ke dalam kamar, membuka pintu yang tadi di tutup dengan sangat keras.


"Kaaak," panggil Rona dengan suara yang terdengar manja, matanya melihat ke arah tempat tidur dimana Darren tengah menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut, tidak ada yang terlihat bahkan kepalanya pun ikut terbenam di dalamnya.


Rona melangkah maju seraya menutup pintu di belakangnya dengan sangat hati-hati tidak mau menimbulkan suara karena hal itu mungkin akan memancing suaminya kembali berkicau bagaikan seekor burung yang tengah di perlombakan.


"Maaf Kak, aku baru inget," kata Rona sambil menarik ujung selimut yang menutupi semua tubuh suaminya, tapi Darren malah mencengkeram selimut itu hingga usaha Rona untuk menariknya tidak berhasil.


"Orang udah naik darah dia malah baru sadar, ngaco!" gerutu Darren dari balik selimut.


"Maafin loh Kak, kan aku lupa," tutur wanita yang memakai setelan tidur selutut itu dengan gambar kartun, sungguh sangat kekanakan di usia pernikahan mereka yang baru beberapa hari seharusnya Rona memakai baju tidur yang seksi agar bisa menggoda suaminya, tentu suaminya itu pasti akan bersemangat menerima maafnya.

__ADS_1


Tapi sayangnya Rona yang masih belum mengerti semua itu tidak bisa berpikir sampai sejauh itu, ia masih cukup amatir untuk bisa berpikiran nakal di depan suaminya, meski tidak di pungkiri akibat film yang pernah ia tonton otaknya terkadang memikirkan hal-hal bodoh yang tak jelas tanpa bisa mempraktekannya.


Mulut Darren bergerak mengikuti perkataan Rona terlihat sangat mengejek dengan gerakan bibir yang berlebihan.


Kurang lebih 5menit Rona berdiri sambil meminta maaf, tapi Darren tak juga membuka selimutnya, jangankan membuka selimut untuk menjawab saja pria itu seolah tidak bisa, tidak ada gerakan juga suara yang di lihat maupun di dengar oleh Rona.


Suaminya itu ngambek macam anak kecil, membuat Rona akhirnya kehilangan sabarnya, ia mulai gemas dan kesal.


Secepat kilat Rona naik ke atas tubuh Darren yang tertutup selimut tanpa berbicara lebih dulu membuat Darren terbeliak kaget matanya membuka lebar merasakan tubuh istrinya kini duduk di atas tubuhnya yang tertelungkup.


"Ngeselin banget sih." Rona kali ini Rona mencoba untuk membuka selimut yang menutupi kepala sang suami, berusaha keras untuk menariknya namun di bawah sana tangan Darren semakin kuat menggenggam selimut itu.



Keduanya saling tarik menarik hingga akhirnya Rona merasa kelelahan terdengar dari nafasnya yang tersengal dan tangannya yang melepas selimut yang tidak terbuka sedikitpun.




Rona menatap buas bagaikan singa betina yang kelaparan, sangat tidak terima karena tidak berhasil membuat suaminya itu keluar dari persembunyiannya.


Tak kehilangan akal Rona tangan Rona pun mulai menyusup dari ke bawah selimut yang ada di pinggang Darren, dengan lincahnya mulai menggelitik pinggang sang suami.


Darren mencoba bertahan namun dia tipe orang yang tidak bisa menahan geli apalagi di bagian pinggangnya, dia sangat sensitif di bagian tubuhnya yang satu itu, tubuhnya mulai bergerak ke sana kemari karena ulah sang istri.



"Berhenti Na, geli," seru Darren mulai tak tahan seraya menggeliat tak jelas bagaikan seekor cacing yang terkena panas.


__ADS_1


"Nggak bakal berhenti!" tekan Rona semakin kesenangan karena ia berhasil.



"Nanti aku pipis." dengan konyolnya malah berkata seperti itu yang malah makin membuat Rina bersemangat.



"Ya udah pipis aja," seru Rona masih saja dengan gerakan tangannya di pinggang pria yang makin tak tahan.



"Ampun Na, aku nggak kuat, ampun!" teriak Darren tak kuasa lagi menahan geli di tubuhnya.


Dia merasakan anggota badannya bereaksi akibat perbuatan dari wanita di atas tubuhnya yang kini malah tertawa kencang ketika suara baritonenya merengek meminta ampun hanya karena sebuah kelitikan.


"Buka makanya," ujar Rona jelas.



"Iya," sahut Darren dengan tarikan nafas yang tak beraturan tampak jelas bahwa pria itu benar-benar tidak tahan dengan perbuatan Rona.



Darren membuka selimutnya lalu dengan gerakan cepat dia memutar tubuhnya dan kini gantian menindih wanita yang sejak tadi mengerjainya.



Kini gantian Darren yang berada di atas tubuh Rona dengan seringaian di wajahnya, alis matanya bahkan bergerak naik turun membuat Rona menganga dengan tatapan mata ngeri.


__ADS_1


\*\*\*\*\*


__ADS_2